Madu

Madu
Episode.60 (SEASON 2)


__ADS_3

Dua bulan berlalu...


Hari ini aku harus ke makam Mas Fahmi. Diriku memutuskan untuk kembali dengan mantan suamiku Mas Fatih. Meskipun semua ini sangat lah berat. Tapi, rasanya benar apa yang diucapkan Ibu padaku. Aku tidak boleh egois, harus memikirkan juga bagaimana nasib kedua anakku yang masih sangat membutuhkan figur seorang Ayah. Bayangkan saja, dua bulan lamanya aku merasa bimbang dan dilema. Antara mengikuti saran dari Ibu mertuaku atau tetap mempertahankan cintaku yang sangat kuat untuk Mas Fahmi. Karena Yusril dan Marwah lah, akhirnya aku memutuskan untuk menerima Mas Fatih kembali dalam hidupku. Tangis berhari-hari tidak pernah terlewatkan. Entah mengapa, rasanya sakit sekali akan menikah lagi dengan Mas Fatih. Seperti diriku yang akan mengkhianati Mas Fahmi. Selama enam puluh hari aku selalu berdoa untuk diberikan jalan keluar dan petunjuk. Ada satu malam dimana aku bermimpi bertemu dengan Mas Fahmi. Laki-laki yang sangat aku cintai. Di mimpiku, Mas Fahmi sangat tampan. Menggunakan baju koko berwarna putih dengan celana bahan berwarna merah. Rambutnya seperti biasa, tersisir rapih. Wajah nya bersih bersinar. Di mimpi itu, Mas Fahmi tersenyum hangat padaku cukup lama. Tersenyum penuh dengan kebahagiaan, setelah itu Mas Fahmi melambaikan tangan padaku dan kemudian pergi begitu saja. Aku tidak tahu, apa artinya mimpi itu.


"Ibu, apa Ibu sedang sibuk? ".


" Tidak nak. Ada apa?. Apa ada yang diperlukan untuk acara kada kamu dengan nak Fatih besok? ".


"Ti-tidak Bu. Hanya Aisyah ingin bercerita tentang mimpi".


" Mimpi?! , memang nya kamu mimpi apa nak? ".


" Bu, dua bulan lamanya. Aisyah dalam kebimbangan juga kebingungan. Semenjak Ibu mengatakan itu semua pada Aisyah. Dua bulan bukan waktu yang cepat jika hanya untuk mengambil sebuah keputusan. Tangis pun sudah sering menghiasi Aisyah. Setiap malah, Aisyah selalu shalat istikharah. Meminta dan merengek untuk diberikan pilihan yang tepat, untuk meminta petunjuk dan jalan. Enam puluh hari Bu, tapi ada satu malam. Dimana Aisyah bermimpi, mimpi bertemu dengan putra Ibu. Di mimpi Aisyah disana Mas Fahmi mengenakan baju koko berwarna putih juga dengan celana bahan panjang berwarna hitam. Ibu tahu, Mas Fahmi sangat tampan Bu. Di mimpi itu, Mas Fahmi hanya tersenyum penuh kebahagiaan pada Aisyah, kemudian melambaikan tangan pelan. Setelah itu pergi begitu saja. Aisyah langsung terbangun dan menangis Bu. Aisyah tidak mengerti, apa maksud dari mimpi itu. Aisyah baru sempat menceritakan mimpi ini pada Ibu".


Lebih baik aku menceritakan mimpi ini pada Ibu Mas Fahmi. Sebelum semua terlambat. Besok adalah hari akad pernikahanku dengan Mas Fatih. Aku memang meminta pada Mas Fatih untuk tidak melakukan acara lamaran, juga tidak mengundang banyak orang dalam acara akad besok. Acara sederhana, tanpa ada suatu yang mewah dan meriah itu yang aku inginkan. Lagi pula, dalam sebuah pernikahan yang terpenting adalah acara yang berjalan dengan lancar dan penuh khidmad. Tidak perlu mewah juga tidak perlu mengundang banyak orang hingga beribu-ribu. Lagi pula, status aku dan Mas Fatih adalah seorang janda dan duda. Rasanya tidak etis jika harus di lakukan acara yang mewah dan meriah.


"Nak, itu artinya Fahmi juga merestui pernikahan dirimu dengan Fatih. Ibu justru sangat bahagia mendengar kamu bermimpi seindah itu sayang. Kamu tidak perlu banyak pikiran yah. Besok adalah hari bahagia kamu. Percayalah, doa Ibu untukmu tidak akan pernah berhenti mengalir Aisyah. Bagi Ibu, kamu akan tetap menjadi menantu terbaik yang pernah Ibu miliki".


"Hikks... hiks.. ".


Aku menangis dan memeluk Ibu sangat erat. Meskipun aku menikah dengan Mas Fatih, Ibu akan tetap ikut denganku. Itu salah satu syarat yang aku ajukan pada Mas Fatih. Aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu sendirian di rumah Ini. Kebahagiaan ku tidak akan lengkap jika Ibu tidak bersamaku.


"Ibu, Aisyah akan ke makam Mas Fahmi. Aisyah ingin curhat banyak sama Mas Fahmi. Nanti sekalian mau bawa Marwah dan Yusril". Ucapku menyeka air mata dan melepas pelukan pada Ibu.


" Jam berapa nak? ".


" Nanti, jam dua siang Bu. Nunggu pesanan kue di ambil".


"Aisyah, ada baiknya Fatih juga ikut ke makam Fahmi. Setidaknya dia Ikut berpamitan dengan Abi nya anak-anak".


" Entah Bu, barangkali Mas Fatih sedang sibuk Bu. Aisyah takut menganggu ".


" Coba saja dulu di hubungi. Siapa tahu bisa ikut ke makam bersama kamu dengan anak-anak ".


" Baiklah Bu. Kalau begitu, Aisyah coba telepon Mas Fatih dulu yah Bu".


"Iya putriku".


Aku melempar senyum pada Ibu, kemudian beranjak meninggalkan nya. Aku berjalan menuju ruang tamu, setelah mengambil ponsel yang aku letakkan di atas kasur. Apa yang Ibu bilang benar, Mas Fatih juga baiknya harus ikut ke makam Mas Fahmi. Biar bagaimana pun, Mas Fatih tetap harus ijin dan berpamitan pada Mas Fahmi. Semoga saja Mas Fatih sedang tidak sibuk. Rasanya masih canggung, aku bahkan belum pernah berkomunikasi intens setelah mengiyakan bahwa mau menerima dirinya dalam hidupku lagi. Selain tidak ada waktu karena terlalu sibuk dengan bisnis kue dan catering yang aku jalani, rasanya aku tidak terlalu ingin banyak berhubungan dulu dengan Mas Fatih sebelum akad. Baik Mas Fatih maupun aku, kami bahkan tidak pernah saling mengirimi pesan. Jikapun ada hal yang harus aku sampaikan, pastilah aku selalu meminta tolong pada Ibu sebagai perantaranya. Ini kali pertama aku menghubungi Mas Fatih tanpa meminta bantuan dari Ibu. Biarlah, lagi pula, besok aku sudah akan melangsungkan akad dengannya.


"Tuuut... tuuut... tuuut... ".


Telepon berdering, masih menunggu jawaban dari orang yang di hubungi.


" Hallo.. Assalamu'alaikum ".


" Wa-wallaikummusalam".


Jawabku gugup.


"Iyah, ada apa Aisyah? ".


" Apa Mas hari ini sibuk? ".


" Memang nya ada apa?. Ada sesuatu yang kamu butuhkan untuk acara besok? ".


" Ti-tidak. Hanya saja, aku ingin mengajak Mas untuk datang ke Makam Mas Fahmi. Aku berniat ingin ke makam Mas Fahmi bersama Marwah dan Yusril. Setidaknya untuk berpamitan dan memberi kabar tentang acara yang akan kita lakukan besok. Itu juga jika, Mas berkenan. Aku tidak memaksa".

__ADS_1


"Oh, iya baiklah. Jam berapa?. Tadi juga, niatnya aku ingin membicarakan hal ini denganmu. Tapi aku tidak berani menyampaikan nya padamu. Aku takut kamu tidak berkenan dan malah jadi salah paham".


" Jam dua siang".


"Dua puluh menit lagi. Baiklah aku akan bersiap ke sana. Ada lagi selain hal ini yang ingin kamu sampaikan padaku? ".


" Tidak ada kok. Kalau begitu aku tutup telepon nya yah".


"Tunggu Aisyah?! ".


" Ada apa?! ".


" Tidak ada apa-apa sih, hanya mau bilang. Aku sangat mencintaimu. Terimakasih mau menerima diriku lagi".


"Baiklah, aku tutup telepon nya. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam ".


Aku mematikan sambungan telepon ku dengan Mas Fatih. Entahlah, jika saja aku bisa menjawab ucapan Mas Fatih barusan. Ingin rasanya aku menjawab, bahwa aku menerima dia kembali menjadi suamiku karena anak-anak. Seandainya Marwah tidak memberikan restu, aku tidak akan pernah maju. Tapi sayangnya, gadis berusia tujuh tahun itu sangat lah dewasa. Padahal saat aku menyampaikan hal ini pada Marwah, aku sangat takut dan sangat hati-hati menyampaikan nya. Teringat jelas di memori ingatanku, apa yang diucapkan Wawa ketika Umi nya meminta ijin untuk menikah lagi.


"Tidak apa-apa Umi. Wawa tidak melarang Umi untuk menikah dengan Ayah nya Ilham. Jadinya, adik Wawa punya Abi lagi. Kasian Yusril Umi, nanti pasti akan bertanya kemana Abi. Jika Umi menikah lagi, maka Yusril akan merasakan digendong oleh Abi sama seperti dengan Wawa dulu. Meskipun Abi nya berbeda".


Kurang lebih, itulah jawaban yang keluar dari mulut Marwah. Seketika badanku gemetar hebat, merinding juga sangat tersayat-sayat mendengar ucapan gadis kecil ini. Marwah benar-benar tumbuh menjadi gadis yang dewasa, dia bahkan begitu sangat menyayangi adiknya. Marwah bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi Yusril adik nya, yang bahkan tidak pernah bisa merasakan sentuhan dari Abi nya. Saat itu, air mataku tidak lagi terbendung. Aku menangis sejadi-jadinya sembari memeluk Marwah. Marwah hanya membalas pelukan diriku, dan kemudian mengusap air mataku menggunakan kedua tangannya.


"Aisyah, seperti nya Fatih sudah datang nak".


Tiba-tiba Ibu datang menghampiri diriku yang sedang melamun. Benar saja, sebuah mobil berwarna abu-abu terparkir didepan rumah. Aku bahkan belum bersiap. Aku terlalu hanyut dalam lamunan sampai begitu lamanya.


" Oh iya Bu, Aisyah akan siap-siap dan mengajak Marwah dan Yusril. Ibu, minta tolong sampaikan pada Mas Fatih. Untuk menunggu sebentar".


"Baiklah nak, nanti Ibu sampaikan. Bersiaplah, jangan membuat orang lain menunggu terlalu lama".


Aku memperhatikan tubuh Ibu yang berbalik meninggalkan diriku. Aku bangun dan langsung bersiap-siap.


"Marwah, Nak?! ".


" Iyah Umi, ada apa Umi? ".


" Nak, ayok siap-siap. Umi mau ajak Wawa dan Yusril ke makam Abi nak".


"Asyik, mau main ke rumah Abi. Wawa juga sangat rindu Abi. Umi itu mobil siapa? ".


" Oh, itu mobil Ayah nya Ilham nak".


"Ayah nya Ilham juga ikut ke makam Abi ya? ".


" Iya putriku, Umi dan Ayah nya Ilham mau pamit sama Abi. Sekaligus mau memberi tahu kabar ini pada Abi nak".


"Oh begitu, yasudah Wawa siap-siap dulu yah Umi".


" Iya nak, jangan lama-lama yah".


"Iyah Umi".


Aku bergegas menuju kamar Yusril, putraku sedang asyik bermain dengan mainan baru nya yang dibelikan oleh Oma nya. Yusril langsung berjalan menghambur ke arahku. Memeluk diriku erat, dia begitu sangat senang ketika melihat kehadiran diriku. Anak kecil ini, yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari Abi nya.


"Yusril putra Umi, semoga saja kelak. Yusril akan jadi anak yang soleh dan juga sukses dunia akhirat ya nak. Pasti Abi sangat bangga karena memiliki jagoan seperti Yusril". Ucapku lirih sembari menyeka air mata.

__ADS_1


Tepat pukul dua siang lebih sepuluh menit, aku, Wawa, juga putraku Yusril telah siap. Kami bertiga berjalan menuju teras depan, dimana Ibu dan Mas Fatih berada. Jujur saja, sebenarnya aku merasa canggung. Tapi yasudah lah, lagi-lagi demi anak-anak.


"Sudah siap? ".


Tanya Mas Fatih padaku yang masih menggendong Yusril.


" Sudah".


Jawabku pendek.


"Sini, biar Yusril aku yang gendong. Boleh? ".


Aku tidak menjawab, hanya menurunkan Yusril dari gendonganku. Mas Fatih dengan sigap langsung mengambil alih Yusril dariku. Yusril nampak bahagia di gendong oleh Mas Fatih. Apa anak sekecil dia sudah bisa merasakan, bahwa laki-laki yang saat ini menggendong dirinya sebentar lagi akan menjadi Abi sambung untung nya. Entah, yang jelas aku melihat Yusril sangat senang digendong oleh Mas Fatih.


"Ibu, ada baiknya Ibu juga ikut dengan kami. Bukan apa-apa. Aisyah tidak ingin ada fitnah Bu"


Ucapku pada Ibu yang masih duduk. Meminta Ibu untuk ikut bersama aku dan Mas Fatih ke makam adalah jalan terbaik untuk menghindari omongan yang tidak benar. Apalagi aku dan Mas Fatih belum resmi menikah. Meskipun ada Marwah dan Yusril, tetap saja. Mereka hanyalah anak-anak saja.


"Benar apa yang dikatakan Aisyah. Ibu ikut saja dengan kami yah". Ucap Mas Fahmi ikut menimpali ucapan ku.


"Baiklah, Ibu akan ikut juga bersama kalian".


Kami berlima berjalan menuju makam Mas Fahmi. Sepanjang jalan, aku hanya diam sambil menggandeng Wawa. Sedang Mas Fatih asyik bercanda dengan putraku Yusril. Rasanya kakiku sangat berat, rasa sakit itu muncul lagi. Kenangan bersama Mas Fahmi kembali berhamburan di pikiranku. Kenapa rasanya sangat berat untuk melanjutkan rencana pernikahan diriku dengan Mas Fatih. Padahal akad nikah akan diadakan besok pagi. Rasanya seperti Mas Fahmi masih ada di sisiku, kenapa aku seperti sedang mengkhianati Mas Fahmi?. Entah mengapa rasanya kembali menjadi ragu. Aku sedikit melirik ke arah Mas Fatih, pria ini yang dulu menjadi suamiku. Dari sorot matanya, Mas Fatih benar-benar menerima Wawa dan Yusril sebagai anak tiri nya. Ketulusan dan cinta yang besar untukku tergambar jelas. Tapi perasaan apa ini?. Apa mungkin rasa ini muncul karena godaan syaitan saja?. Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti.


"Ayah nya Ilham, kenapa Ilham tidak ikut? ".


Tiba-tiba Wawa memecah keheningan dan rasa canggung yang ada, dengan bertanya pada calon Abi sambung nya. Menanyakan keberadaan teman lama nya yang sebentar lagi akan menjadi saudara tirinya.


" Oh, iya nak. Ilham sedang tidur siang. Jadi tidak bisa ikut kesini".


"Ayah nya Ilham, sebentar lagi kan akan menikah dengan Umi. Nanti, Wawa panggil nya apa? ".


" Terserah Wawa saja nak. Mau panggil apa, atau panggil saja sama seperti Ayah Wawa".


"Berarti, Wawa dan Yusril panggil Ayah nya Ilham jadi Abi saja ya. Biar sama seperti Abi Fahmi"


"Iyah nak. Nggak papa".


"Itu rumah Abi nya Wawa".


Marwah menunjuk sebuah makam, dan langsung berlari ke arah makam Abi nya. Marwah biasa menyebut makam Abi nya sebagai rumah. Marwah terlihat begitu sangat bahagia. Dia bahkan langsung memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Abi nya.


Sedih sekali rasanya melihat pemandangan ini.


"Assalamu'alaikum sayang".


Ucapku begitu sampai di makam Mas Fahmi. Aku tetap memanggil Mas Fahmi sayang, meksipun itu didepan Mas Fatih. Sepertinya Mas Fatih juga tidak keberatan, itu terbukti dari ekspresi wajah nya yang biasa saja dan tidak terlihat cemburu.


" Assalamu'alaikum Abi. Abi, Wawa datang bersama Oma, adik Yusril, Umi, juga Ayah nya Ilham. Abi, Umi dan Ayah nya Ilham besok akan menikah. Abi jangan sedih yah, meskipun nanti Umi menikah dengan Ayah nya Ilham. Umi akan tetap cinta dengan Abi. Betul kan Umi? ".


Marwah langsung menyampaikan semua maksud kedatangan dirinya bersama keluarga nya ke makam Abi nya. Padahal, baik aku, Mas Fatih, juga Ibu belum ada yang membuka satu kata pun. Marwah meminta jawaban dariku, bahwa aku akan tetap mencintai Abi nya, sekalipun aku menikah lagi.


" Iyah putriku. Umi akan tetap mencintai Abi sampai kapan pun".


Jawabku mantap.


"Tuh kan Abi. Abi harus senang yah".

__ADS_1


Ucap Marwah lagi, dengan terus mengelus lembut nisan Abi nya.


Acara nyekar sekaligus berpamitan pada Mas Fahmi di tutup dengan doa bersama. Aku juga Mas Fatih, bahkan Ibu sudah menyampaikan pada Mas Fahmi. Semoga saja, ini adalah keputusan yang tidak salah.


__ADS_2