
Alhamdulillah, rasanya nikmat sehat itu luar biasa. Hampir seminggu aku masuk rumah sakit. Hari ini, akhirnya aku bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Sejujurnya, baru kali ini aku sakit yang lumayan parah. Bahkan aku sampai tidak sadarkan diri didalam mobil yang kukendarai. Jika tidak ada yang menolong diriku, mungkin nyawaku tidak akan tertolong. Terkurung didalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri, ditambah kondisi mobil yang tertutup rapat dan mesin yang mati. Pastilah kondisi nya sangat mematikan. Kekurangan oksigen dan tidak ada sirkulasi udara. Bagaimana manusia bisa bernafas dalam kondisi seperti itu.
"Mas, jangan di ulangi yah. Kalau Aisyah bilang jangan berangkat ya jangan yah. Kalau misalkan badan Mas Fahmi sedang tidak enak. Baiknya istirahat. Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja. Badan Mas kan juga punya hak untuk beristirahat. Aisyah tidak mau Mas sakit lagi. Apalagi kemarin hampir seminggu nginep di hotel yang semua orang nggak pengen".
" Hmmm... iya sayang. Maaf mas nggak nurut sama kamu. Aisyah kan tahu sendiri. Mas orang nya kaya gimana. Biasanya juga kan minum jamu langsung sembuh".
"Iya kan kemarin beda kondisi Mas Fahmi".
"Iya sayang. Oh iya, Cantik. Mas Fahmi minta maaf yah. Sebelum akhirnya Mas masuk rumah sakit. Mas ngomong yang ngga enak ke kamu. Kayaknya Mas kualat deh. Gara-gara ngomong kaya gitu ke istri Mas yang cantik. Jadinya Mas masuk rumah sakit kan. Untung saja ada orang baik yang nolongin Mas. Kalau ngga, mungkin Mas sudah tinggal nama saja. Dan istri mas yang cantik ini sudah nikah lagi".
"Tuh kan, baru juga minta maaf. Mas sudah ngomong aneh-aneh lagi".
Aku sangat suka, melihat wajah cemberut Aisyah. Dia masih seperti anak Sekolah Menengah Atas. Masih muda, imut, juga menggemaskan. Seperti sekarang saat sedang merajuk dan ngambek.
" Hehehe.. Mas bercanda sayang. Oh iya dek. Siapa ya orang baik yang sudah menolong nyawa Mas? ".
" Itu dia Mas. Aisyah juga tidak tahu siapa Mas. Bahkan saat itu, kata mbak perawat yang mengurus Mas saat pertama datang ke rumah sakit bilang, kalau yang bawa Mas ke rumah sakit adalah seorang laki-laki dan bahkan dia juga yang mengambil ruangan VVIP untuk Mas, plus sudah dibayar lunas".
"MasyaAllah. Mas ingin bertemu orang itu sayang. Ingin meminta maaf padanya karena telah merepotkan, dan berterimakasih karena telah menolong Mas. Emmm.. memang nya, petugas rumah sakit nya ngga bilang siapa namanya? ".
" Enggak Mas. Orang itu hanya meninggalkan nomor Aisyah pada mbak perawat itu".
"Yasudahlah, nanti jika sudah waktu nya bertemu juga akan bertemu dengan orang baik itu. Yasudah ya sayang, Mas pamit berangkat kerja dulu".
" Iya Mas. Hati-hati yah".
"Iya sayang. Assalamualaikum".
" Wa'alaikumussalam Mas Fahmi".
Aku masuk kedalam mobil, dan memacu mobil yang aku gunakan dengan kecepatan sedang. Dari sepion mobil, aku melihat istriku yang masih setia menunggu di depan pintu sampai mobil yang aku gunakan tidak lagi terlihat. Hal kecil yang dilakukan oleh Aisyah, mampu menjadi pupuk dalam hubungan rumah tangga ku. Hingga bunga-bunga cintaku terus tumbuh subur untuk Aisyah. Sering aku lihat, banyak istri yang tidak melakukan apa yang seperti Aisyah lakukan. Kebanyakan, langsung menutup pintu rumah atau bahkan tidak ikut mengantarkan sampai depan pintu depan. Tapi aku tidak menyalahkan, karena memang kebiasaan dan kondisi setiap orang berbeda. Intinya, bagiku hal sekecil itu sangat membuat diriku bahagia dan merasa paling beruntung karena memiliki istri seperti Aisyah.
"Siapa kira-kira. Laki-laki yang sudah membantu dan menolong nyawaku. Dia bahkan membayar semua tagihan rumah sakit. Memilihkan ruang VVIP untuk perawatan diriku. Ruang VVIP sangat lah mahal, pasti orang yang menolong diriku juga termasuk orang yang berpunya. Apa mungkin itu Fa.. Fatih?".
Gumamku dalam hati, sembari terus menerka siapa orang yang sudah berbaik hati menolong diriku. Tapi apakah mungkin Fatih yang sudah menolong diriku?. Dia bahkan sangat mencintai istriku, bisa dibilang dia adalah saingan diriku. Mana mungkin Fatih orang yang sudah menolong nyawaku. Jika benar Fatih, harusnya dia membiarkan saja diriku mati kekurangan nafas didalam mobil saat itu. Dengan begitu dia bisa bebas mendekati istriku. Tidak, ini tidak mungkin Fatih. Aku yakin ada orang lain yang menolong diriku.
"Derrttt... derrttt".
Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk pada handphone ku. Tapi ini adalah nomor baru. Beberapa hari yang lalu ada nomor kurangajar yang sudah meneror diriku. Tapi nomor itu bahkan sudah aku blokir. Dan deretan angka nya sangat berbeda dengan nomor misterius itu.
"Hallo".
" Oh, Hallo. Terimakasih banyak sudah memblokir nomorku".
"Kamu lagi!. Mau kamu apa. Kenapa terus mengganggu diriku".
" Jangan marah. Harusnya kamu berterimakasih pada diriku untuk kedua kalinya! ".
" Atas dasar apa, aku harus berterimakasih padamu!! ".
" Hahahaha.. aku tahu Fahmi. Kamu itu hampir jadi mayat jika tidak aku tolong saat dirimu tidak sadarkan diri di dalam mobil! ".
" Ma-maksud dirimu?! ".
" Apalagi?!. Kamu dan istrimu pasti bertanya-tanya kan. Siapa orang yang sudah menolong dirimu. Ya itu adalah aku. Laki-laki yang sudah membawamu ke rumah sakit, dan memilih ruangan terbaik untuk perawatan dirimu. Bahkan aku juga yang sudah melunasi semua biaya nya!! ".
" Tidak, tidak mungkin orang seperti dirimu yang sudah menolong nyawaku!. Aku tidak percaya!! ".
" Itu terserah dirimu mau percaya atau tidak Fahmi. Apa kamu akan memblokir nomorku lagi setelah tahu aku orang yang menolong nyawa mu?! ".
"Jika memang kamu yang menolong diriku. Ayo kita ketemu. Aku ingin melihat siapa sebenarnya kamu!! ".
" Sebegitu penasaran nya dirimu padaku. Baiklah, kita ketemu sekarang juga di parkiran depan Mall dekat jalan Gajah Mada".
__ADS_1
"Oke. Aku langsung meluncur kesana!! ".
" Tuuutt. tuuut... tuuut ".
Sambungan telepon ku matikan. Aku langsung menginjak gas mobil yang aku gunakan. Rasanya sudah tidak sabar diriku, ingin segera mengetahui siapa sebenarnya orang dibalik telepon misterius itu. Kenapa harus orang seperti dia yang menolong nyawaku. Jika begini caranya, bagaimana aku bisa membalas kebaikan pada orang yang bahkan tidak memiliki etika.
"Hallo, Assalamu'alaikum".
" Hallo, Waalaikumsalam Mas".
"Sayang, ini Mas akan bertemu dengan laki-laki yang sudah menolong nyawa Mas".
"Alhamdulillah, kok Mas bisa tahu siapa orang nya?".
" Nanti Mas ceritakan kalau memang sudah ketemu dengan orang nya ya sayang. Mas hanya mau kasih kabar ke kamu saja ".
" Oh, iya Mas. Aisyah tunggu kabar selanjutnya yah Mas. Mas Fahmi hati-hati ".
" Iya Aisyah".
Aku memencet tombol berwarna merah. Sedetik kemudian sambungan telepon dengan Aisyah terputus. Untung saja, orang itu mengajak bertemu di tempat yang tidak terlalu jauh. Jadi tidak memakan waktu lama untuk sampai kesana. Sepanjang perjalanan, aku masih terus memikirkan. Siapa sebenarnya sosok yang sudah berkali-kali menghubungi diriku melalui telepon.
"Hallo. Aku sudah sampai".
Aku langsung menghubungi nomor baru yang tadi mengaku menjadi orang yang sudah menyelamatkan diriku. Tapi nomor itu tidak berkata apapun padaku.
"Tokkkk... tookkk ".
Aku melihat seseorang mengetuk kaca mobilku. Dan memperhatikan orang yang kini berada didepan pintu mobilku. Sepertinya bukan ini orang nya, dia seperti salah satu pelayan di mall Gajah Mada ini. Pakaian yang digunakan seperti seragam. Aku masih menunggu apa yang akan orang ini lakukan padaku. Dan ada urusan apa denganku.
" Maaf, dengan pak Fahmi ya. Ini saya dapat perintah untuk memberikan kertas ini pada bapak".
"Maaf dari siapa ya? ".
"Oh, iya. Terimakasih".
Aku menerima selembar kertas yang dilipat rapih. Entahlah, aku tidak mengerti. Kenapa pelayan mall ini memberikan diriku kertas. Bahkan pelayan mall itu tidak tahu nama orang yang sudah menitipkan kertas ini padanya.
"Dertt... derrt... ".
Belum sempat aku membuka dan membaca kertas ini. Ponsel genggam ku berdering kencang. Sebuah panggilan masuk dari nomor baru yang mengajak diriku bertemu. Kenapa sampai sekarang dia tidak muncul juga.
" Hallo!. Kamu dimana. Saya sudah menunggu di parkiran mall Gajah Mada".
"Kamu sudah menerima kertas nya kan. Sekarang tugas kamu sekarang adalah, membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan nya. Kamu akan tahu, siapa sebenarnya orang yang sudah berjasa dalam hidupmu. Kamu akan tahu, dengan siapa kamu berhutang nyawa".
"Hey, hallo!".
Telepon dimatikan begitu saja. Aku sudah berusaha untuk menghubungi kembali. Tapi nomorku di blokir. Kertas yang aku letakkan di pangkuan ku, seketika langsung aku buka lipatan nya. Di kertas ini hanya tertulis sebuah nomor, dan perintah agar aku mengubungi nomor tersebut. Kenapa semuanya seperti teka-teki. Siapa sebenarnya orang yang telah menolong diriku. Kenapa orang tadi, tidak langsung menyebutkan saja siapa nama nya. Dan kenapa aku harus menghubungi nomor ini. Sudahlah, ada baiknya aku mengikuti perintah di surat ini. Jari-jariku memencet deretan angka yang akan aku gunakan untuk menelepon.
"Tuuuut.... tuuuut... tuuuut".
Aku masih menunggu telepon dariku di terima oleh si pemilik nomor telepon ini. Entahlah, aku sudah lelah menerka dan memikirkan siapa orang nya. Jika pun aku tidak bisa bertemu untuk mengucapkan rasa terimakasihku, setidaknya doa ku menjadi sarana untuk orang baik yang sudah menyelamatkan nyawaku.
" Hallo".
"Ha-Hallo?!. maaf boleh saya tahu ini siapa? ".
"Oh saya dokter Layla. Maaf ada apa ya? ".
Dokter Layla?. Apa ini orang yang sama dengan Bunda mantan suami istriku Aisyah. Namanya juga Layla, dia juga seorang dokter. Rasanya sangat kaget, semoga saja ini orang yang berbeda dari yang aku pikirkan barusan.
" Dokter Layla?! ".
__ADS_1
" Iya saya dokter Layla. Maaf ada apa ya? ".
" Oh, eh kalau saya boleh tahu. Apa dokter memiliki seorang anak?! ".
" Untuk apa bertanya demikian?. Maaf anda belum menjawab pertanyaan saya. Siapa ya? ".
" Sa-saya Fahmi ".
" Fahmi?. Apa ini Fahmi suami nya Aisyah?! ".
Degup jantung ku semakin kencang. Bahkan orang yang bernama dokter Layla juga mengetahui bahwa aku adalah suami dari Aisyah. Sepertinya dugaanku benar adanya, dokter Layla adalah orang yang sama dengan Bunda Layla, mantan mertua istriku.
"Bagaimana anda bisa tahu?! ".
" Bagaimana mungkin aku tidak tahu nak. Aku Bunda Layla. Bunda nya Fatih. Ada apa nak Fatih?. Apa kamu sudah mengambil keputusan mengenai pembicaraan kita waktu itu? ".
" Ti-tidak. Ada seseorang yang memberikan nomor ini padaku. Dan aku tidak menyangka, kalau ini adalah nomor telepon Bunda Layla ".
" Oh, rupanya orang itu sudah memberikan nomorku padamu. Iya ini nomor telepon Bunda nak".
"Ma-maksud nya?!. Orang itu siapa?! ".
" Kamu pasti ingin tahu kan, siapa orang yang sudah menyelamatkan nyawa kamu".
"Iya, bisa Bunda beri tahu siapa orang nya?. Siapa orang yang sudah menyelamatkan nyawaku. Aku ingin bertemu dan berbicara dengannya. Aku berhutang nyawa padanya".
" Orang yang kamu cari itu, sekarang sedang berbicara denga mu Fahmi".
"Maksudnya?! ".
" Iya nak, Bunda yang sebenarnya sudah menolong kamu".
"Tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi. Perawat rumah sakit Fatmawati bilang, kalau orang yang membawa ke rumah sakit adalah seorang laki-laki!".
" Baiklah jika kamu tidak percaya, biar Bunda ceritakan semuanya. Jadi saat itu, Bunda sedang tidak sengaja berjalan di area dimana mobil kamu berhenti. Awalnya Bunda juga tidak tahu, kalau itu adalah kamu didalamnya. Saat itu, Bunda akan bertanya tentang jalan menuju kelurahan Galuh Karya. Karena Bunda sedang ada keperluan. Jadilah saat itu, Bunda mengetuk jendela mobil kamu. Dan betapa kaget nya Bunda, melihat orang yang didalam mobil adalah kamu. Bunda sangat panik, Bunda sudah berusaha mengetuk pintu mobil mu keras, tapi kamu tidak juga bergerak. Rupanya saat itu kamu sedang tidak sadarkan diri didalam mobil dengan keadaan mesin yang mati dan jendela yang tertutup rapat. Nah, akhirnya Bunda meminta tolong pada laki-laki yang tadi menghubungi dirimu dan memberikan nomor Bunda, Bunda juga tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Bunda membayar mahal orang itu, agar mau menolong dan membawa kamu ke rumah sakit Fatmawati. Sejujurnya, Bunda lah orang dibalik selamat nya nyawa kamu Fahmi".
Takdir lagi-lagi menjebak diriku. Kali ini jebakannya sangat menakutkan. Bagaimana bisa semuanya terjadi. Disaat ada orang yang memohon agar aku melepaskan Aisyah untuk putra nya. Sekarang aku berhutang nyawa pada orang yang sama. Rasanya sangat tidak adik. Bagaimana aku menceritakan pada Aisyah nanti. Bahwa orang baik yang beberapa hari ini di cari-cari oleh dirinya dan diriku adalah Bunda Layla, mantan mertua Aisyah sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Jujur, aku masih tidak menyangka. Bahwa Bunda Layla lah yang menyelamatkan nyawaku juga membayar semua biaya pengobatan diriku.
"Ja-jadi, Bunda yang sudah menolong diriku? ".
" Iyah nak".
"Te-terimakasih banyak Bunda. Sudah menolong diriku".
" Seperti nya apa yang sudah Bunda lakukan pada dirimu, tidak akan cukup dengan ucapan terimakasih saja Fahmi".
"Maksud Bunda?! ".
"Nak Fahmi, Bunda sudah menyelamatkan dirimu dari maut yang sudah hampir membawamu. Kamu berhutang nyawa pada Bunda, apa semua itu akan cukup ditebus dengan ucapan terimakasih saja?. Bukannya Bunda tidak ikhlas untuk menolong dirimu, hanya saja Bunda ingin diapresiasi lebih, lebih dari sekedar ucapan terimakasih saja Fahmi".
"Lalu, apa yang harus saya lakukan agar bisa menebus perbuatan baik Bunda padaku? ".
Tenggorokan ku rasanya sangat sakit ketika bertanya demikian. Aku tidak mengerti dengan apa yang Bunda katakan padaku. Apa maksud nya hutang nyawa tidak cukup dibalas dengan ucapan terimakasih saja?.
" Hanya ada satu permintaan dari Bunda nak, agar kamu bisa menebus hutang nyawamu pada Bunda".
"Permintaan?!. Apa itu?! ".
" Bunda minta, lepaskan Aisyah untuk Fatih nak. Hanya dengan itu, Bunda akan merasa kalau kamu sudah menebus hutang nyawa mu pada Bunda".
Aku tidak menjawab apapun. Rasanya sangat sakit. Aku tidak mampu lagi untuk melanjutkan pembicaraan dengan Bunda dari mantan suami istriku. Sambungan telepon langsung aku putus begitu saja tanpa ucapan pamit atau permisi. Kenapa lagi-lagi aku dicoba dengan cobaan yang sangat berat. Kenapa harus melepaskan Aisyah untuk laki-laki lain, sebagai ucapan terimakasih dan membalas diriku yang berhutang nyawa karena telah diselamatkan dari insiden yang bahkan bisa merenggut nyawaku.
"Semua ini, apa rencana dari mu Fatih?. Kamu ingin merebut Aisyah dariku dengan cara demikian?. Kamu ingin Aisyah kembali dalam dekapanmu dengan meminta bantuan pada Bunda mu sendiri? ".
__ADS_1
Ucapku lirih, ditengah rintik hujan yang jatuh membasahi bumi Yogyakarta.