
Hari ini, aku membawa putra yang sangat kucintai. Muhammad Fatih untuk pertama kalinya berobat ke salah satu kenalan dokter teman saat aku masih praktek dulu. Dia merupakan dokter spesialis kejiwaan yang sudah puluhan tahun berpraktek. Hari ini aku memilih menggunakan taksi online saja. Aku sudah lama tidak pernah mengendarai mobil, setelah memilih pensiun dini dari praktek menjadi seorang dokter. Rasanya masih kaku, dan kembali lagi sama seperti saat pertama kalinya belajar mengendarai mobil sendiri. Aku dan putraku Fatih, berangkat dari rumah sekitar pukul delapan pagi. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit memakan waktu hingga satu jam, itupun jika tidak macet. Jika Jakarta sedang macet-macetnya. Bisa memakan waktu lebih hingga tiga puluh menitan. Sepanjang jalan, putraku satu-satunya hanya melamun dan menghadap ke arah samping. Dia melihat pemandangan diluar melalui jendela mobil. Aku terus memperhatikannya. Terkadang dia menangis, terkadang dia tersenyum, pun terkadang hanya diam melamun dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dalam pikirannya ketika begitu lama dalam kondisi melamun.
"Fatih?,". Ucapku pelan padanya. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan putraku. Setidaknya agar dia tidak terus menerus melamun sepanjang jalan menuju ke rumah sakit. Aku tidak berkata atau bercerita kepada Fatih, bahwa saat ini aku sedang membawanya untuk menuju ke rumah sakit dan berobat. Pun tadi, aku terpaksa harus membohongi dirinya. Fatih menolak untuk aku ajak keluar. Hingga akhirnya, dia bertanya padaku. Apakah jika dia keluar, maka dia akan bisa berjumpa dengan Aisyah?. Aku terpaksa menjawab iya, semua demi kebaikan putraku.
Hanya berobat harapanku satu-satunya untuk bisa mengembalikan putraku seperti dulu. Hanya itu pula usaha yang bisa aku lakukan sebagai bundanya. Semoga ikhtiarku untuk putraku satu-satunya bisa dimudahkan. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika kehilangan Fatih.
"Bunda?,". Tiba-tiba Fatih memanggilku.
"Iya nak?, ada apa?,". Aku dengan sigap langsung memperhatikan putraku.
"Masih lama tidak Bun?,". Ucap Fatih lagi padaku.
"Sebentar lagi nak. Jalanan juga sedikit macet. Ada apa putraku?,". Tanyaku lagi.
"Bun?, apa Fatih sudah rapih?. Fatih sudah tampan belum?.
Aku melihat putraku yang tiba-tiba menanyakan penampilannya. Fatih bahkan merapihkan rambutnya yang sebenarnya sudah rapih dengan tangannya. Aku bingung dengan sikap putraku, untuk apa dia menanyakan penampilannya?.
"Fatih sayang, kamu putra Bunda satu-satunya. Kamu sangat tampan sayang. Kamu ganteng nak. Kamu juga sudah wangi dan rapih. Memang nya kenapa nak?,". Tanyaku pada Fatih.
"Bunda gimana?, kita kan mau bertemu Aisyah. Jadi Fatih harus terlihat tampan dan rapih di depan Aisyah Bun,". Ucap Fatih dengan sorot mata yang penuh keyakinan, bahwa dia benar akan bertemu dengan Aisyah, mantan istrinya.
"Oh iya, maaf Bunda lupa,". Ucapku datar sembari membuang muka kearah samping jendela. Aku tidak ingin putraku melihat diriku yang sedang berkaca-kaca menahan air mata agar tak jatuh.
" Pak sopir, bisakah lebih cepat jalannya?,". Ucap Fatih yang tiba-tiba meminta sopir taksi untuk memacu kendaraannya lebih kencang.
"Kenapa nak?, jalanan sedang macet sayang. Fatih kenapa?,". Tanyaku pada Fatih.
"Bun, kasian Aisyah Bun. Dia sudah menunggu dari tadi. Kasian dia harus nunggu Bunda dan Fatih terlalu lama,".
"Sabar ya mas. Jalanan sedang ramai, dan macet,". Ucap sopir taksi kepada Fatih anakku.
"Iya tapi pak, kasian istri saya. Dia menunggu terlalu lama nanti pak,". Ucap Fatih lagi kepada sopir taksi. Dia sangat yakin bahwa Aisyah akan menunggunya.
"Sudah pak, tidak usah di tanggapi. Yang penting selamat sampai tujuan,". Ucapku datar pada sopir taksi yang kemudian melirik ke arah sepion depan.
"Baik Bu,". Jawabannya sambil terus fokus membawa mobilnya.
Aku melihat putraku yang tiba-tiba tertidur. Dia sangat tampan. Aku tidak tega melihat kondisinya yang semakin hari semakin memprihatinkan. Aku menyeka air mataku yang sudah tidak mampu lagi ku bendung. Aku sesenggukan sambil berkali-kali mengelus-elus rambut putraku satu-satunya.
"Semoga kamu segera sadar dan pulih nak. Bunda rindu kamu. Bunda sudah sendiri, dan tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu putraku. Jadilah laki-laki yang kuat nak, laki-laki yang tegar menghadapi segala macam badai dan ujian kehidupan yang ada. Doa bunda selalu menyertaimu Fatih. Bunda ingin anak bunda satu-satunya selalu sehat dan bahagia di kehidupannya. Kuatkanlah hatimu putraku,". Ucapku dalam hati.
Jalanan Jakarta selalu macat dan padat. Cuaca terik dan panas menjadi pelengkap yang selalu setia menemani kemacetan Jakarta. Terkadang ingin rasanya pindah ke kota lain, yang tidak terlalu padat dan panas seperti Jakarta. Sudah empat puluhan tahun lebih aku tinggal di Jakarta. Mungkin jika nanti putraku sudah sembuh, ada baiknya aku membicarakan ingin dengannya. Tentunya menunggu semua dalam keadaan yang stabil dan baik-baik saja. Aku ingin menyampaikan dan mengutarakan keinginanku pada putraku satu-satunya, bahwa Bundanya ingin tinggal di kota yang tenang dan nyaman dimasa tuanya. Semoga saja Fatih mau diajak oleh Bundanya untuk pindah ke kota lain. Tujuan lainnya adalah untuk meninggalkan segala kenangan buruk dan pahit yang pernah terukir di kota Jakarta selama ini. Ingin membuang jauh-jauh segala duka lara yang pernah ada, mengikhlaskan segalanya yang mengecewakan jiwa dan menumpahkan banyak air mata. Membangun kembali kisah indah dari awal, dikota lain yang lebih tenang dan menentramkan.
__ADS_1
"Bu, sudah sampai di rumah sakitnya,".
Suara sopir taksi membangunkanku dari lamunan yang sangat panjang. Benar saja, Aku dan putraku Fatih telah sampai di rumah sakit yang kita tuju. Aku melirik ke arah putraku yang masih tertidur sangat pulas.
"Oh iya pak, maaf. Sebentar pak, saya bangunkan putra saya dulu,". Ucapku pada sopir taksi online yang menunggu aku dan Fatih untuk keluar dari mobilnya.
"Iyah bu,". Jawab sopir taksi padaku.
"Nak..., Fatih. Bangun nak. Kita sudah sampai,". Aku membangunkan Fatih yang masih terlelap tidur.
"Iya Bun, sudah sampai ya?. Asyik, sebentar lagi bertemu dengan Aisyahku,". Ucap Fatih yang langsung terbangun dan kemudian bergegas turun dari dalam mobil.
Aku menyerahkan beberapa lembar uang, untuk membayar tip kepada sopir taksi online. Aku terburu-buru karena Fatih sudah lebih dulu turun dari dalam mobil.
"Terimakasih pak,". Ucapku sembari menutup pintu mobil taksi online yang baru saja aku tumpangi.
Aku mengejar dan menggandeng Fatih yang jalan begitu cepat menuju kearah rumah sakit. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya itu. Dia seperti orang yang terburu-buru.
"Bunda?, apa Aisyah nya Fatih sedang sakit Bun?. Kenapa kita dirumah sakit Bun?,". Ucap Fatih yang terlihat sangat cemas, begitu mengetahui dirinya kubawa menuju rumah sakit.
"Sudah, kita masuk dulu ya nak,". Ucapku sembari menggandeng tangan Fatih masuk menuju kedalam lobby rumah sakit.
Sepanjang lorong rumah sakit, banyak sekali teman tenaga kesehatan yang menyapaku dan mengatakan kerinduannya padaku. Aku dulu sempat berpraktek di rumah sakit ini selama kurang lebih tiga tahunan. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dari berpraktek sebagai seorang dokter. Aku langsung bergegas dan mempercepat langkahku menuju ke ruang praktek teman sejawat dokter spesialis kejiwaan. Tanpa harus mengantri, aku langsung bertemu dengan teman lama di ruang prakteknya.
"Siang juga dokter Layla, lama tak jumpa dok". Jawab dokter Heru kepadaku.
"Bun, mana Aisyah Bun?,". Tanya Fatih padaku.
"Dok, seperti yang sudah kuceritakan melalui chatt kemarin. Beginilah adanya. Mohon bantuannya dok,". Ucapku pada dokter Heru.
"Akan aku bantu semampuku dok,". Ucapnya.
"Baiklah, biar putramu kuperiksa dulu ya dok. Silahkan dokter Layla menunggu dulu saja disini,". Ucap dokter Heru yang kemudian menggandeng tangan putraku menuju ruang prakteknya.
"Dokter, mau diajak kemana saya?,". Tanya Fatih pada dokter Heru yang tidak mendapatkan jawaban apapun.
Aku duduk, cemas menunggu hasil pemeriksaan Fatih. Kira-kira sekitar satu jam lebih, Fatih mendapatkan observasi yang begitu ketat dari dokter Heru. Saking banyaknya pasien yang mendaftar untuk dapat diperiksa oleh dokter Heru. Dokter Heru selalu membatasi jumlah pasien yang bisa dia terima setiap harinya. Aku melihat dokter Heru yang keluar dari ruang observasi.
"Gimana dokter Heru?,". Tanyaku cemas.
"Putra kamu mengalami stress berat, sehingga mengenai salah satu saraf pusat nya. Itu yang mengakibatkan psikisnya jadi terganggu,". Jelas dokter Heru padaku.
"Lalu bagaimana dok?, apa bisa disembuhkan?,". Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Untuk saat ini, sudah kuberikan terapi pada putra anda dokter Layla. Paling nanti akan kuresepkan beberapa obat yang bisa memperbaiki sistem saraf pusatnya. Termasuk kuberikan obat penenang untuk putramu,". Ucapku dokter Heru sembari menuliskan resep untuk Fatih.
"Syukurlah, jika memang masih bisa disembuhkan,". Ucapku dengan perasaan lega.
"Tapi, ini harus dilakukan pengobatan dan terapi yang rutin dokter Layla. Dan kalau boleh tau, dimana sekarang mantan istrinya yang bernama Aisyah itu?. Putramu hanya menyebut-nyebut nama Aisyah,".
"Mantan menantuku sekarang berada di Solo dokter Heru. Putraku sangat terpukul karena kehilangan Aisyah dalam hidupnya,". Jelasku pada dokter Heru.
"Sebenarnya, kehadiran Aisyah itu cukup membantu untuk pemulihan psikologis dari putramu dok. Karena, apa yang membuat beban pikiran itulah yang harus diatasi. Jika memang keadaan psikis anak anda terganggu karena kehilangan seseorang, maka akan sangat membantu sekali jika orang itu bisa hadir untuk menemui putra anda. Meskipun walau hanya hadir sekali saja didepan putra anda dok. Karena itu benar-benar dapat mendukung keberhasilan pengobatan psikis putra anda dokter Layla,". Dokter Heru menjelaskan panjang lebar mengenai bagaimana dan apa yang dapat cepat memulihkan putraku Fatih seperti dulu.
"Menghadirkan Aisyah?, apa tidak ada cara lain dokter Heru?,". Tanyaku penuh harap.
Aku tidak mungkin membawa Aisyah untuk bertemu dengan Fatih. Itu akan menyakiti hati Aisyah, suaminya yang baru, serta kedua orang tua nya. Aku tidak ingin menyakiti Aisyah untuk yang kedua kalinya. Gadis itu berhak bahagia. Jika ada cara lain selain menghadirkan Aisyah dihadapan anakku Fatih, maka aku akan lebih memilih cara itu.
"Tidak ada cara lain, dokter Layla. Hadirnya seseorang yang sangat diingkan oleh putra anda, benar-benar bisa menjadi obat yang mujarab. Jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk mendatangkan mantan istri dari putramu, maka anda harus sabar menjalani pengobatan ini. Karena terapi ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak cukup hanya satu atau dua bulan saja,". Jelas dokter Heru lagi.
"Butuh waktu berapa tahun dok?, agar psikis putraku bisa kembali seperti dulu?,". Tanyaku dengan perasaan yang bimbang dan tidak karuan.
"Aku tidak bisa mengatakan pastinya dokter Layla. Itu tergantung dari dalam dan kemauan dari putra anda juga. Karena recovery untuk gangguan psikis itu tidak bisa di pastikan kapannya. Makanya saya sarankan pada anda, untuk bisa menghadirkan mantan menantu anda dokter Layla, walaupun hanya sekali saja. Berikan waktu pada putra anda untuk mengingat bersama mantan istrinya,". Ucap dokter Heru padaku.
"Baiklah dok, terimakasih atas bantuannya dok. Apa Fatih bisa saya ajak pulang sekarang?,". Tanyaku pada dokter Heru.
"Silahkan dokter Layla. Masuk saja ke dalam ruang observasi, dan ini resepnya dok. Oh iya, saya tinggal dulu ya. Saya ada jam visite pasien ke bangsal,". Jelasnya padaku.
" Baik dok, selamat bertugas,".
Aku memandangi tubuh dokter Heru yang keluar dari ruang praktek nya untuk melakukan visite ke pasien yang ada di bangsal kejiwaan. Aku memasuki ruang observasi. Aku melihat putra yang sangat kucintai terduduk di kursi yang disediakan didalam ruang observasi. Tatapannya penuh dengan derita, aku melihat putraku satu-satunya menitikkan air matanya. Hatiku hancur sebagai seorang ibu melihat kenyataan yang ada didepan mata. Aku seorang dokter, tapi aku gagal menjaga putraku satu-satunya. Aku menyeka air mataku dan kemudian mendekati Fatih.
"Anakku?,". Tanyaku pelan sembari memegang lengan tangannya.
"Bunda?, Fatih sedih Bun,". Ucapnya sembari melihat kearahku.
"Iya nak, Bunda mengerti. Kamu harus kuat yah. Putra Bunda tidak boleh kalah dengan keadaan,". Aku memeluk Fatih erat. Putraku harus sembuh dan kuat.
"Bun, Fatih tidak bisa bertemu dengan Aisyah ya Bun?. Hiks... hik.. hikk,". Ucap Fatih padaku.
"Sudah, ayok pulang nak. Kita bicarakan tentang Asiyah dirumah yah. Kamu harus banyak istirahat ya nak,". Ucapku sembari memegang tangan putraku.
Setelah menebus obat untuk Fatih. Aku kembali menuju rumah. Juga menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan pulang, aku melamun dan memikirkan tentang saran yang direkomendasikan oleh dokter Heru padaku. Tentang membawa Aisyah bertemu dengan putraku Fatih. Aku harus bagaimana?, aku benar-benar terjebak lagi disituasi yang sulit. Aku trauma, aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah lagi. Apa yang harus aku lakukan sebagai seorang ibu?.
Aku melirik ke arah Fatih. Dia tertidur sangat pulas. Saat ini aku lebih senang dan tenang melihat Fatih tertidur, dari pada melihat putraku terus melamun dan menangis. Itu menghancurkan perasaanku. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?. Haruskah aku meminta tolong kepada Aisyah dan memintanya untuk datang menemui putraku?. Atau aku bersabar dengan pengobatan dan terapi yang ada meskipun tidak tahu harus berapa lama anakku satu-satunya bisa kembali seperti sediakala?.
Jalanan Jakarta, sudah sedikit lengang. Aku masih berkutat dengan pikiranku. Tentang haruskah aku mengikuti saran dari dokter Heru atau tidak. Aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya sebagai seorang ibu. Semoga ada jalan keluarnya.
__ADS_1