
"Innalillahi wa innalillahi rojiun".
Semua orang menangis. Juga termasuk diriku dan semua orang yang mengenal suamiku. Duniaku hancur, rasanya sangat gelap. Aku tidak pernah menyangka. Allah akan mengambil Mas Fahmi secepat ini. Ibarat kedua kaki, mungkin saat ini aku sudah lumpuh. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun. Rasanya menyakitkan sekali kehilangan seorang suami untuk selamanya. Aku masih belum siap. Menangis, menjeritpun Mas Fahmi sudah Allah panggil untuk kembali.
"Aisyah, sudah nak. Ikhlaskan Fahmi pergi".
Ibu menenangkan diriku. Memeluk diriku erat.
Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Bagaimana mungkin aku bisa tegar, melihat orang yang paling aku cinta harus terbujur kaku didepan mataku. Aku sudah menangis dan berteriak agar mas Fahmi kembali bangun. Tapi Mas Fahmi hanya diam saja dan tidak bergerak.
" Abi, bangun Abi. Wawa mau main sama Abi. Abi kan belum ketemu sama adik bayi. Abi bangun. hiikkks... hiikkks... ".
Hatiku rasanya teriris mendengar raungan dan tangis Marwah yang memeluk jasad Abi nya. Anak kecil yang harus menjadi yatim dalam waktu yang sangat cepat. Disaat banyak anak diluar sana masih memiliki seorang figur ayah. Putriku harus kehilangan Abi nya dalam waktu yang secepat ini. Bagaimana nanti aku menjelaskan pada anak kedua ku saat dia lahir ke dunia. Apa yang akan aku jawab, jika dia menanyakan kemana Abi nya berada. Sungguh, rasanya aku tidak akan kuat menghadapi hari yang akan datang. Bagaimana bisa aku menghadapi kehidupan ke depan tanpa Mas Fahmi. Sosok laki-laki yang sangat luar biasa. Perpisahan paling menyakitkan adalah perpisahan berbeda alam. Perpisahan yang tidak akan bisa lagi melihat senyum nya, melihat canda tawa nya, juga melihat kembali sorot mata bahagia nya.
"Ya Allah, kenapa secepat ini Engkau ambil suami hamba. Hiks.. hiks.. ".
Ucapku disela tangis.
Marwah terus memeluk tubuh Abi nya yang terbujur kaku. Marwah mengajak Abi nya bercanda, lalu kemudian menangis lagi ketika tidak mendapat respon dari Abi nya. Gadis kecil yang lugu, dia bahkan terus menjerit dan membangunkan Abi nya. Aku hanya mampu duduk di pojok sembari menangis. Tenagaku rasanya hampir habis. Air mataku terus mengalir begitu mendengar kabar, bahwa suamiku telah kalah. Mas Fahmi sempat sadarkan diri, tapi beberapa jam kemudian kondisinya kembali drop dan kritis. Secercah harapan yang kembali dalam hidupku tiba-tiba kembali hancur dan kembali gelap gulita. Suamiku masih diambang ketidakpastian menanti takdir nya. Mas Fahmi bahkan sempat melirik ke arahku. Dia meneteskan air mata ketika melihat diriku kala itu. Itu terjadi, beberapa menit sebelum akhirnya Mas Fahmi tidak sadarkan diri lagi. Ketika itu, diriku hanya mampu melambaikan tangan pelan, dan memberi senyum untuk laki-laki yang sangat kucintai. Aku kira, Mas Fahmi akan sembuh dan kembali berkumpul dengan ku. Ternyata suamiku memilih untuk kembali ke Rabb nya. Suamiku pulang, dengan tanpa senyum diwajahnya nya lagi. Dia tertidur sangat lama, badannya dingin, juga kaku.
"Ibu, Mas Fahmi Bu... ".
Aku terus menangis layaknya bayi di pelukan Ibu mertuaku. Wanita tegar ini bahkan tidak meneteskan setetes pun air mata. Meskipun aku tahu, hidupnya hancur. Ibu pasti sangat tersiksa atas kepergian putranya. Setelah kepergian bapak mertuaku, kini Ibu mertuaku harus ikhlas kehilangan putra yang sangat dicintai nya. Semua ini tidak mudah, detik ini bahkan aku masih berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Hanya mimpi buruk dan tidak akan menjadi kenyataan. Rintik gerimis seperti nya mengiringi duka yang sedang melanda jiwa. Biasanya gerimis seperti ini, aku dan Mas Fahmi sedang asyik bercanda di depan teras ataupun di taman belakang rumah. Sembari menyeruput secangkir teh hangat. Tapi semua itu tidak akan pernah terulang lagi. Partner hidupku kini memilih untuk mendahului kembali pada Rabb Nya.
"Umi, bantuin Wawa untuk bangunin Abi, Umi tolong".
Marwah terus merengek padaku. Memintaku agar membantunya membangunkan tubuh Abi nya yang terbujur kaku.
" Biarkan Abi tidur nak. Abi sedang kecapean".
"Umi, Marwah ingin bercerita pada Abi. Ada banyak yang belum Wawa ceritakan pada Abi. Abi kenapa tidak mau bangun. Hikks... hikss... ".
" Sssttt... sudah nak. Jangan berisik, Abi sedang tidur. Cerita saja nanti kalau Abi sudah bangun".
"Umi, bantu Wawa. Abi kenapa diam saja".
__ADS_1
Diriku rasanya setengah tidak sadar. Suamiku sekarang sedang tertidur. Sangat pulas sekali, sampai-sampai suara Wawa tidak terdengar.
"Oma, kenapa Abi nya Wawa diam saja Oma. Wawa ingin bicara. Oma tolong bangunkan Abi".
" Cucu Oma yang cantik. Benar kata Umi nak. Abi nya Wawa sudah tidur. Tidur dan tidak akan bisa bangun lagi".
"Tapi kenapa Oma. Wawa, Umi, juga Oma pasti akan bangun setelah tidur. Kenapa Abi tidak juga bangun?. Oma, apa Abi meninggal?! ".
" Iya cucuku, Abi sudah meninggal nak. Abi nya Wawa sudah bahagia bertemu sama Allah. Wawa harus jadi anak yang kuat yah. Meskipun Wawa tidak lagi punya Abi. Wawa harus tetap ceria yah nak. Sebentar lagi adik bayi Wawa akan lahir. Wawa harus jadi kakak yang kuat".
Aku melirik ke arah Ibu, yang akhirnya meneteskan air mata nya juga. Ibu seperti nya tidak kuat menahan duka lara nya lagi. Apalagi Ibu harus menjelaskan pada cucu nya yang masih kecil. Bahwa Abi dari cucu nya telah meninggal dunia. Itu tidak mudah, tapi Marwah harus mengerti. Bahwa Abi nya tidak bisa hidup kembali. Marwah tidak akan bisa merasakan kasih sayang dari Abi nya lagi. Dia akan menjadi anak yang sedikit berbeda di antara teman-temannya yang masih memiliki orang tua yang lengkap. Mungkin, Marwah juga akan merasa iri suatu saat nanti. Ketika melihat teman-teman seusia nya bermain dan di antar jemput oleh Ayah nya. Tidak sanggup rasanya membayangkan bagaimana kehidupan keluarga ku ke depan tanpa sosok Mas Fahmi.
"Maaass....!!. Jangan tinggalkan Asiyah. Bagaimana bisa Aisyah menjalani hari-hari Aisyah tanpa Mas Fahmi!!. Mas Fahmi sudah janji kan, akan mengajak Asiyah dan Wawa untuk belanja perlengkapan bayi. Kenapa Mas malah mengingkari janjinya. Hikks.. hikks... ".
Aku terdiam kemudian tiba-tiba menjerit dan menangis dengan sangat keras. Rasanya benar-benar menyakitkan. Hidupku lumpuh, hancur lulu lantah. Kehamilan ku semakin besar, betapa pedihnya menjalani persalinan tanpa sosok suami.
Akun tidak sedang meratapi mayit. Karena aku tahu itu tidak diperbolehkan dalam agamaku. Tidak, diriku tidak sedang menolak takdir. Hanya saja aku masih belum bisa menerima. Belum bisa tidak sama dengan tidak mau menerima.
"Aisyah, kuatkan dirimu nak. Kasihan anak-anakmu. Kasihanilah juga suami mu Fahmi. Fahmi bisa disiksa karena ratapan dari keluarganya nak. Ingatlah nak, Rasulullah pernah bilang Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya. (HR. Bukhari 1291 & Muslim 927). Jangan seperti ini sayang, kasihan putra Bunda. Ikhlaskan kuatkan".
Belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku. Ibu mertuaku memeluk diriku dan Marwah. Kita bertiga saling menguatkan satu sama lain. Mensupport satu sama lain. Sampai pada akhirnya aku sedikit bisa mengontrol diriku. Aku bisa sedikit lebih tenang, meksipun dengan duka yang masih menganga.
"Sudahlah, kita hanya sedang menunggu giliran. Saat ini Allah memilih Fahmi yang lebih dahulu bertemu dengan Nya. Cepat atau lambat, kita juga akan menyusul Fahmi nak. Saat ini, suami mu hanya butuh doa dari kita. Fahmi tidak butuh ratapan dan tangisan dari kita, Aisyah. Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk mengantar kepergian suami mu, ikhlaskan dia. Sebentar lagi proses pemakaman Fahmi nak. Lihatlah wajah suamimu untuk terakhir kali. Ajak Marwah untuk melihat Abi nya untuk yang terakhir kalinya juga. Pesan Ibu, jangan menangis ketika kamu mendekati jenazah suami mu".
Kepalaku ku anggukkan pelan, tanda mengerti apa yang Ibu barusan ucapkan padaku. Aku menguatkan segalanya untuk melihat tubuh suamiku untuk yang terakhir kalinya. Sebelum pada akhirnya, tubuh laki-laki yang sangat aku cintai ini akan tertutup oleh gumpalan tanah. Marwah kecil ku gendong, aku berjalan dengan gontai menuju jenazah Mas Fahmi terbaring. Para pelayat semakin banyak yang datang silih berganti. Suamiku orang baik, itu terbukti dari banyak nya para pelayat yang hari ini datang ikut mengucapkan bela sungkawa padaku dan juga Ibu mertuaku. Sisa air mata di wajahku dan wajah Marwah ku hapus dengan telapak tanganku. Aku duduk, menurunkan Marwah dari gendongan ku. Selembar kain yang menutupi wajah suamiku, kubuka dengan pelan. Meskipun dengan tangan yang gemetar hebat. Hatiku ku kuatkan sekuat-kuatnya untuk melihat dan mencium suamiku untuk yang terakhir kalinya. Wajah Mas Fahmi sangat teduh, persis seperti orang yang sedang tertidur. Sudut bibir nya seperti sedang menyuguhkan sebuah senyuman padaku, pada Marwah, juga pada calon anak kedua nya didalam perutku. Aku mengusap pelan rambut yang selama hampir tujuh tahun ini sering aku sisiri. Aku terbiasa menyisir rambut Mas Fahmi, karena itu salah satu bentuk romantisme suami istri. Ini terakhir kalinya aku mengusap rambut ini. Tanganku turun mengusap pipi Mas Fahmi. Wajah ini yang selalu menyuguhkan senyuman bahagia padaku. Dan terakhir aku mencium kening Mas Fahmi untuk yang terakhir kalinya.
"Marwah, putriku. Cium pipi Abi nak. Nanti Marwah sudah tidak bisa mencium Abi lagi jika tidak sekarang".
Aku menyuruh Marwah untuk mencium jenazah Abi nya untuk yang terakhir kalinya. Marwah hanya diam, dan mengikuti perintah dariku. Putriku sangat kuat, Marwah bahkan tidak menangis ketika mencium pipi Abi nya yang terbujur kaku.
"Assalamu'alaikum Abi, selamat jalan. Abi bahagia yah di surga sama Allah. Marwah sangat sayang sama Abi. Abi, nanti kita bertemu lagi yah di surga nya Allah. Abi tenang saja, nanti Wawa akan menjaga adik bayi. Wawa akan sayang sama Umi, Oma, juga sama adik Bayi. Wawa sudah tidak menangis. Kata Oma, kalau Wawa terus menangis. Nanti Abi akan dimarahi sama Allah. Jadi Wawa tidak mau menangis, Wawa tidak mau Abi dimarahi sama Allah".
Remuk sudah. Hancur sekali mendengar semua ucapan Marwah didepan jenazah Abi nya. Entah harus bangga atau bersedih. Marwah sangat dewasa, dia bahkan bisa sekuat itu. Sedangkan diriku, aku sangat rapuh. Sedari tadi air mataku mendesak untuk keluar, lagi-lagi aku teringat pesan Ibu barusan padaku. Aku tidak boleh menangis didepan jenazah Mas Fahmi.
"Sudah ya nak. Umi tutup lagi, wajah Abi".
__ADS_1
Ucapku pada Marwah. Aku tidak mampu berlama-lama memandangi wajah Mas Fahmi yang sangat pucat.
" Baiklah Umi, biar Abi tidur nyenyak".
Kedua tanganku bergerak, menarik kembali kain untuk menutup wajah Mas Fahmi. Beberapa kerabat sudah bersiap untuk memandikan jenazah suamiku. Aku memilih untuk tidak ikut memandikan jenazah Mas Fahmi. Tidak kuat rasanya, aku takut tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
"Duduklah nak".
" Iyah Ibu".
Aku duduk dengan memangku Marwah. Tubuh Mas Fahmi dibawa untuk dimandikan. Proses pemandian jenazah Mas Fahmi, berlangsung kurang lebih sekitar tigapuluh menit. Semua kenangan bersama Mas Fahmi di rumah ini, kembali bertebaran. Dan lagi-lagi aku harus terus menyadarkan diriku sendiri. Menegaskan lagi pada diriku, bahwa suamiku kini telah meninggal dunia.
"Kenapa secepat ini kamu meninggalkan aku dan anak-anak sayang".
Ucapku lirih.
" Aisyah, ayok nak. Jenazah Fahmi sudah selesai di mandikan dan di salatkan. Kamu masih mampu berjalan ke pemakaman atau tidak?. Jika tidak, jangan di paksakan. Kamu di rumah saja".
"Tidak Bu, Aisyah dan Marwah ikut ke pemakaman. Aisyah kuat Ibu. Aisyah ingin mengantar suami Aisyah di peristirahatan terakhir nya. Aisyah ingin mengantar suami Aisyah".
" Baiklah nak. Ayo".
Aku berjalan berdampingan dengan Ibu. Sedang Marwah di gendong oleh salah satu kerabat keluarga yang juga ikut dalam proses pemakaman jenazah Mas Fahmi. Jarak dari rumah menuju pemakaman umum tidak terlalu jauh. Setidaknya, aku masih mampu untuk berjalan dalam kondisi sedang hamil ditambah fisik yang sebenarnya sudah mulai menunjukkan protes. Tidak sekejap pun aku bisa tertidur. Rasanya mataku tidak mau kehilangan sedetik pun momen untuk menemani Mas Fahmi di saat-saat terakhir kebersamaan ku dengan suamiku di dunia. Meskipun sebenarnya aku sendiri merasa sangat ketakutan dan lumayan trauma. Para pelayat banyak juga yang ikut mengantar jenazah suamiku hingga ke pemakaman. Aku menyaksikan sendiri, waktu-waktu dimana tubuh suamiku dimasukan kedalam luang lahat. Aku memeluk Marwah yang menangis melihat tubuh Abi nya di masukkan kedalam tanah. Berusaha menguatkan putriku, meskipun diriku sendiri sangat lah rapuh dan sangat hancur tidak karuan. Para penggali kubur, sedikit demi sedikit menimpa tubuh suamiku dengan tanah. Hingga akhirnya, tubuh laki-laki yang selama tujuh tahun menemani hidupku, tertutup tanah sepenuh nya. Aku sudah tidak bisa lagi melihat tubuh Mas Fahmi. Semuanya hanya akan tinggal kenangan. Kenangan yang seumur hidup tidak akan pernah bisa aku lupakan.
"Ini nak, taburi rumah Abi yang baru dengan bunga".
Ucapku pada Marwah. Anak ini tidak banyak bertanya. Dia mengambil segenggam kelopak bunga mawar merah, dan menabur nya di atas makam Abi nya. Itu dilakukan tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.
" Abi, ini Wawa kasih bunga yah tempat baru nya. Biar Abi seneng ".
Ucap Marwah sambil terus menabur bunga pada gundukan tanah, makam Abi nya.
Beberapa pelayat mulai pergi satu persatu. Hingga hanya tersisa tiga orang saja. Aku, Ibu, dan Marwah. Kami bertiga melepaskan Mas Fahmi dengan iringan doa dan sedikit air mata. Banyak orang yang berkata, obat kerinduan adalah dengan menemui orang nya. Tapi rinduku pada suamiku, hanya bisa ku salurkan bukan melalui bertemu, tapi hanya dengan sebuah doa yang tidak akan pernah bosan aku langit kan agar bisa mengobati rindu tak berujung ku pada suamiku, Mas Fahmi.
"Selamat jalan cintaku. Aisyah sangat beruntung karena telah menjadi istri dari laki-laki sebaik Mas Fahmi. Tenang dan bahagialah di Surga. Akan Aisyah jaga anak-anak kita. Akan Aisyah jaga pula, Ibu. Aisyah, Marwah, calon anak kedua kita, dan Ibu sangat mencintai dirimu Mas Fahmi".
__ADS_1
Ucapku lirih sembari mencium batu nisan yang bertuliskan Fahmi Al-Farizi bin Hanggar Prayitno.