
Semenjak kejadian ditaman, sikap Aisyah sangat berbeda denganku. Dia lebih sering menyendiri dan diam. Bahkan dia juga tidak mau aku sentuh sebelum aku mau menuruti permintaannya agar aku mau menikah lagi. Tidak pernah ada sambutan hangat darinya lagi, tidak ada senyuman indah dari bibirnya lagi, semua kehangatan darinya mendadak hilang.
Sungguh, sedikitpun aku tidak pernah ada keinginan untuk memiliki dua istri. Aku sudah sangat bersyukur dengan hadirnya Aisyah dalam hidupku. Tapi aku juga tidak kuat, rumah tangga tanpa ada kehangatan terasa sangat hambar sekali. Aku harus bagaimana ya Allah?.
"Lu kenapa melamun terus Tih?,". Tiba-tiba Alex teman satu kantorku mengagetkan diriku.
"Aku lagi ada masalah sama biniku Lex,".
"Kenapa?, bini lu?, marah gara-gara uang belanja yang elu kasih kurang?, atau karena elu kurang membuat puas ketika sedang di ranjang?, hahaha,".
"Ngga, bukan itu masalahnya,". Jawabku datar.
"Lalu apa bro?, sampe segitunya amat lu,".
"Masalahnya, istriku tiba-tiba menyuruhku bahkan memaksaku untuk menikah lagi Lex. Padahal aku sama sekali tidak menginginkan itu. Aku udah merasa cukup dengan hadirnya istriku dalam hidupku,".
__ADS_1
"Wooow....., luar biasa!,".
"Apanya yang luar biasa?!,". Tanyaku kebingungan mendengar respon Alex.
"Ya iya lah bro, sekarang ngapain si elu bikin masalah seperti itu jadi beban. Sampe melamun terus kaya gitu. Harusnya elu seneng bro, bini lu dengan senang hati nyuruh elu buat nikah lagi. Dimana-mana tuh, jarang sekali ada istri yang nyuruh suaminya untuk menikahi perempuan lain. Hebat emang istri lu,".
"Tapi Lex, aku tidak ingin. Aku terlalu cinta dengan istriku. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati dan perasaannya. Aku ngga pengen nikah lagi,".
"Payah amat lu jadi laki. Kalau gue jadi elu nih ya, langsung aja aku jawab iya. Siapa si yang ga mau punya istri muda ya kan?, hasrat elu bisa terpenuhi dengan dua perempuan istri lu sendiri. Gue juga mau banget lah, kalau bini gue nyuruh gue buat nambah istri. Lagi pula kan istri elu yang nyuruh kan, bukan elu yang minta. Jadi ga bakal lah bini lu sakit hati,".
"Aku bingung Lex, sungguh aku sama sekali ga ingin menikah lagi Lex. Tapi istriku makin aneh sikapnya. Dia diam aja, bahkan ngga mau aku sentuh jika aku belum memenuhi permintaannya untuk menikah lagi. Gue bingung harus gimana?, sedang udah beberapa hari ini aku tidak pernah merasakan kehangatan dari istriku Lex. Dia tidak pernah lagi tersenyum padaku, atau menyambutku. Bisa dibilang istriku melakukan aksi mogok melayaniku jika aku tidak mau menikah lagi,".
"Aku takut Lex, aku ga mau ngecewain istriku, ga mau nyakitin perasaan dia Lex. Aku sangat sayang dengannya,".
"Lu tuh cowok, jangan melow gitu deh. Syukurin aja, kali aja ini bonus dari Tuhan karena elu udah jadi suami yang baik. Tuhan kasih istri muda lewat istri elu. Terima aja, lagi pula nih ya, gue sudah dapat testimoni dari temen gue yang bahkan punya istri lebih dari dua, katanya enak bro. Kesana-kemari ada yang ngurusin, dan yang terpenting, kalau elu lagi bosen sama bini pertama atau kedua. Elu bisa minta ke bini ketiga, begitu juga sebaliknya. Udah terima aja bro,".
__ADS_1
"Cobalah, nanti aku pikir-pikir lagi Lex. Makasih ya buat masukannya. Sorry, aku jadi cerita ke kamu. Aku bingung harus berbagi dengan siapa,".
"Jangan kelamaan mikir lu. Dikasih enak malah galau. Heran gue sama elu. Oke santai aja bro, kalau ada apa-apa bilang aja sama gue, yaudah gue mau pergi dulu ya, mau balik. ada keperluan dirumah,".
"Oke Lex, hati-hati ya,".
"Oke bro,".
Sedari tadi aku hanya diam, memutar-mutar kursi tempat dudukku. Aku memikirkan semua kata-kata Alex barusan. Ada benarnya juga, kenapa aku harus galau dan menolak untuk memiliki istri muda?, padahal diluar sana banyak laki-laki sampai selingkuh dari istrinya untuk bisa punya istri lagi?, sedangkan aku, istriku sendiri yang meminta bahkan memaksaku. Jadi tidak mungkin aku akan menyakiti atau mengecewakan Aisyah kan?, tapi jauh didalam hati kecilku, aku tidak mampu mencintai wanita lain selain Aisyah. Aku bingung, benar-benar semua ini menghancurkanku perlahan.
Semalam, aku mencoba mencari tahu lewat handphone milik Aisyah, ketika dia tertidur. Tapi apa?!, handphonenya dia ganti passwordnya. Jujur aku marah dan kecewa, Aisyah mengganti password handphonenya tanpa sepengetahuan aku. Apa yang dia sembunyikan dariku?, kenapa Aisyah mengganti password handphonenya tidak memberi tahu diriku?, apa jangan-jangan Aisyah memiliki laki-laki lain selain aku?, atau ada chatt mesra dirinya dengan laki-laki lain tanpa aku tau, dan dia mengganti password handphonenya agar aku tidak bisa membuka dan mengetahuinya?!, lama-lama aku semakin tidak tahan dengan sikap Aisyah yang menyakiti dan mengabaikanku.
Mungkin Aisyah sudah selingkuh dengan laki-laki lain, hingga password handphonenya dia ganti, bahkan parahnya dia sampai memaksaku untuk menikah lagi. Mungkin maksudnya agar ketika dia menikah lagi dengan laki-laki selingkuhannya, dan meminta cerai dariku, aku juga sudah punya penggantinya. Sungguh picik sekali istriku ternyata. Pantas saja sikapnya pun berubah kepadaku. Dingin tanpa ada kehangatan sedikit pun. Aku tertipu?!, ternyata Aisyah tidak sebaik Bundaku yang selalu setia dengan Ayah, bahkan Bunda sering mengorbankan dirinya demi Ayah. Tapi Aisyah mengorbankan aku demi kebahagiaannya sendiri. Aisyah benar-benar keterlaluan. Harusnya dia bisa mencontoh Bunda. Bukan malah jadi penjahat seperti ini.
".... Praaaangg....,". Sebuah kaca jatuh berhamburan dimeja kerjaku. Aku sudah tak tahan menahan emosiku kepada Aisyah, aku mengepalkan tanganku keras dan memukul dengan kuat kaca itu.
__ADS_1
Aku rasa, aku harus mengikuti saran dari Alex. Aku harus menerima dengan senang hati tawaran Aisyah untuk menikah lagi. Aku bisa memiliki istri yang lebih baik dari dirinya, aku ingin memiliki istri seperti Bunda. Tapi Aisyah jauh dari itu. Aku menyesal, ternyata Aisyah wanita yang kejam. Oke, aku akan turuti permintaanmu Aisyah. Akan aku korbankan dan aku bagi cintaku yang besar untukmu dengan perempuan lain yang akan menjadi adik madumu. Semoga kau tidak pernah menyesal telah menyakiti hatiku hingga seperti kaca yang baru saja aku hancurkan Aisyah.
Rasanya aku bercerita pada orang yang tepat. Thanks Alex, ucapku lirih. Aku mengambil tasku, dan pergi meninggalkan pecahan kaca itu begitu saja. Aku harus segera pulang dan bertemu Aisyah.