
Sudah satu bulan lebih Fatih putraku menjalani terapi dan pengobatan rutin. Memang ada sedikit perubahan, dia jadi mudah istirahat, makan juga jadi teratur. Tapi dia masih saja melamun dan menangis. Tentunya dengan menyebut-nyebut nama Aisyah. Fatih putraku juga belum bisa diajak komunikasi seperti dulu. Setiap diajak mengobrol atau ditanya. Dia akan selalu diam, dan kemudian pergi begitu saja. Sampai detik ini, aku belum mengikuti arahan dan saran dari dokter Heru. Padahal setiap mengantar Fatih putraku untuk kontrol dan terapi selalu saja dokter Heru menyarankan agar mempertemukan Aisyah dengan Fatih. Aku masih trauma dari kejadian dulu. Aku tidak ingin bermudah-mudahan mengambil keputusan lagi. Aku tidak ingin menghancurkan segalanya lagi. Aku seorang ibu, aku tidak ingin menyakiti putraku. Tapi aku juga terjebak. Kenapa Tuhan selalu memberikan dua pilihan yang sangat sulit untukku?. Aku sungguh ingin menyerah rasanya. Aku tidak tega terus menerus melihat kondisi putraku satu-satunya seperti itu.
"Bun, mana foto yang saat itu Fatih titipkan kepada Bunda?,". Tiba-tiba putraku datang dari arah belakang.
"Foto apa nak?, Bunda tidak menyimpan foto apapun nak,". Ucapku berbohong. Aku tidak ingin memberikan foto pernikahan Fatih dengan Aisyah padanya. Aku hanya membantu putraku untuk bisa menerima kenyataan yang ada, bahwa Aisyah bukan lagi miliknya.
"Bun?!. Fatih tidak akan rela jika foto itu hilang Bun. Kemana fotonya Bunda?!. Saat itu Fatih titipkan pada Bunda. Dimana Bunda menaruh Foto Aisyah dan Fatih?,". Sorot mata putraku begitu tajam. Dia sangat menginginkan aku mengembalikan foto pernikahannya dengan Aisyah dulu.
"Bunda tidak tahu nak. Untuk apa Bunda menyembunyikan fotomu dengan Aisyah?,". Ucapku pada putraku yang semakin mengenaskan karena kehilangan foto yang sering dia ajak ngobrol, dan tidur.
"Hiks... hiks.. hikkss...,. Bunda itu foto Fatih dengan Aisyah Bun,".
Aku melihat kedua bola mata anakku mengeluarkan bulir-bulir air matanya. Fatih kemudian berjalan sambil menangis dan menuju ke kamarnya lagi. Aku tidak tega melihat Fatih menangis, tapi aku lebih tidak tega lagi jika putraku terus-terusan terjebak oleh bayangan masa lalunya. Aku tidak mengejar Fatih. Aku membiarkan putraku sendiri didalam kamar. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan pukul dua belas siang. Sebentar lagi adzan dzuhur. Lebih baik aku mengambil wudhu dan shalat. Alhamdulillah, semenjak kejadian pahit yang dialamiku dan putraku Fatih. Aku yang dulunya shalat tidak penuh, kini mulai belajar untuk shalat lima waktu. Akupun belajar mengenakan jilbab setiap harinya. Terutama ketika akan keluar rumah dan ada tamu laki-laki yang datang bertamu. Aku selalu memohon kepada Allah, agar aku senantiasa diberikan kekuatan dan hidayah Nya, untuk bisa lebih baik dan mendekatkan diri pada Nya. Akupun tidak pernah putus berdoa untuk putraku satu-satunya Muhammad Fatih. Aku meminta pada Nya, kesembuhan jasmani dan rohani putraku Fatih.
Setelah shalat dzuhur, aku memutuskan untuk tidur siang. Karena aku pernah membaca, bahwa tidur siang itu sunnah. Dan syaitan tidak pernah melakukan tidur siang. Jika tidak salah, itu adalah hadist Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Aku baru merasakan, bahwa Allah begitu sangat mencinta hamba-Nya. Betapa Nabi kita Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, begitu sangat menyayangi umatnya. Segala macam hal di kehidupan manusia, memiliki aturan yang jelas.
"Bismillah...,". Ucapku yang kemudian tertidur.
Aku terbangun sekitar jam setengah tiga sore. Badan rasanya begitu nikmat sekali bisa merasakan tidur siang. Aku tidak mendengar suara Fatih. Apa mungkin dia sedang tertidur sekarang?. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Aku menuangkan air putih dalam gelas dan meneguknya hingga habis. Setelah minum, aku memutuskan untuk melihat Fatih dikamarnya.
"Toookkk... tokkk... toookkk.. Fatih?,". Aku mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam sana.
Aku memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar putraku. Aku tidak mendengar apapun ketika memasuki kamar anakku. Aku berjalan pelan, dan aku melihat putraku satu-satunya sedang menyiapkan sebuah tali. Entah digunakan untuk apa tali itu.
"Fatih?,". Ucapku menghampiri putraku.
"Ya Bun,". Jawabannya datar, tanpa melihat kearahku.
"Kamu sedang apa nak?, untuk apa tali ini?,". Tanyaku kebingungan.
"Bunda?, sudah sering Bunda bilang pada Fatih. Jika Fatih bisa bertemu dengan Aisyah. Nyatanya sudah sangat lama sekali Bun, Fatih sama sekali tidak bisa bertemu dengan Aisyah. Padahal Fatih sudah menurut pada Bunda. Fatih ikut bolak-balik ke rumah sakit, masuk diruangan yang sama, bertemu dengan dokter yang sama, dan obat-obatan yang sama Bun. Tapi Fatih tidak sekalipun bertemu dengan Aisyah Bun. Dan terakhir foto satu-satunya Fatih dan Aisyah hilang entah kemana Bun,". Ucap Fatih dengan tatapan kosong, dan terus fokus dengan tali yang sedang ada ditangannya.
__ADS_1
Aku tidak tega mendengar semua curahan hati putraku. Aku tidak bisa membayangkan, seberapa hancur perasaannya. Fatih semangat pergi kerumah sakit, karena dia sangat berharap bisa bertemu dengan Asiyah mantan istrinya. Aku menguatkan hati dan perasaanku, agar tidak menangis didepan Fatih. Aku sudah terlalu sering menitikkan air mata dihadapan Fatih. Sebagai Bundanya, aku harus tetap terlihat kuat, semoga itu bisa membantu psikologi Fatih sedikit lebih baik, dan semoga dengan tidak menangisnya aku dihadapan Fatih, bisa memberikan efek positif bagi perkembangan psikisnya.
"Lalu untuk apa tali ini putraku?,". Tanyaku lagi yang masih belum mendapatkan jawaban apapun dari Fatih.
"Fatih nyiapin tali ini, buat digantungkan di sana Bun,". Ucap anakku sembari menggerakkan tangannya menunjuk ke salah satu sudut. Aku mengikuti arah tangan Fatih putraku, yang menunjukkan ke arah kayu yang lumayan tinggi. Kayu itu dulunya digunakan untuk mengikat kelambu.
"Lalu untuk apa nak?,". Aku masih tidak mengerti.
"Bun, Fatih mau mencoba menggantung disana. Barangkali jika Fatih gantung disana, Fatih bisa bertemu lagi dengan Asiyah Bun,". Ucapnya dengan senyuman yang mengembang.
Aku bergidik medengar ucapan putraku satu-satunya. Rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Hatiku benar-benar hancur, aku merinding mendengar ucapan dan melihat senyuman putraku satu-satunya. Aku sudah tidak mampu membendung air mataku. Aku menangis sekeras-kerasnya, aku memeluk tubuh putraku, dan membuang tali itu jauh-jauh dari Fatih. Aku tidak ingin kehilangan putraku. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa. Aku harus segera menghubungi dokter Heru. Sikap Fatih semakin tidak karuan. Dia bahkan nekat melakukan hal yang mengerikan hanya karena ingin bertemu dengan mantan istrinya. Hidupku hancur melihat putraku sendiri. Semua ini gara-gara laki-laki biadab itu. Semoga Allah membalas dengan balasan yang setimpal.
"Hiks... hik... hiks.., Fatih putra Bunda. Dengarkan sayang. Fatih tidak boleh menggantung disana ya. Nanti kalo Fatih menggantung disana, Bunda sedih nak. Nanti Bunda ngga bisa bertemu dengan kamu lagi. Nanti Bunda sendirian disini. Fatih jangan melakukan itu ya nak. Bunda masih ingin bersama Fatih. Fatih jangan dekat-dekat tali lagi ya. Kasian Bunda, Fatih jangan ada pikiran buat menggantung lagi ya nak, itu sakit sayang. Nanti Fatih ngga bisa satu rumah dengan Bunda lagi, nanti kamu tidak bisa melihat Bunda lagi,". Aku menjelaskan semuanya pada putraku. Aku masih menangis dan memeluk erat tubuh putraku satu-satunya.
Aku merasakan, baju yang aku kenakan basah. Putraku Fatih menangis di pelukan Bundanya.
"Iya sayang, Bunda mengerti nak. Bebanmu begitu besar karena kehilangan perempuan sebaik Aisyah. Bunda paham nak, Bunda juga kehilangan Aisyah. Fatih harus kuat nak. Doa Bunda tidak pernah putus untuk Fatih,". Bisikku pelan di telinga putraku.
Aku memilih tidak menjawab pertanyaan Fatih. Aku dan Fatih masih berpelukan dan menangis bersama. Aku sangat bersyukur pada Allah, kalau saja aku telat masuk kedalam kamar Fatih. Mungkin saat ini aku sudah melihat mayat putraku menggantung di seutas tali. Aku tidak bisa membayangkan sedikitpun jika aku kehilangan putraku dengan cara yang begitu tragis. Astaghfirullah.
"Nak, kamu minum obatnya ya sayang, lalu istirahat yah,". Ucapku sembari melepaskan pelukanku dari tubuh putraku. Aku mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi putraku. Aku menyiapkan obat yang harus diminum oleh anakku.
Fatih tertidur, sesaat setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter Heru. Aku menarik selimut, dan menyelemuti tubuh putraku yang sangat kucintai. Aku memperhatikan wajah putraku satu-satunya yang sedang tertidur dengan pulasnya. Berkali-kali rambut Fatih, ku usap dengan pela. Tak terasa air mataku jatuh dipipi lagi. Aku menyeka air mataku, dan kemudian beranjak dari kamar Fatih. Aku belum menunaikan shalat ashar, dan setelah itu akan menghubungi dokter Heru. Menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
Kira-kira sekitar pukul empat sore. Aku duduk diteras depan rumah. Aku menelepon dokter Heru melalui panggilan WhatsApp.
"Hallo, selamat sore dokter Heru. Maaf menggangu waktu santainya,". Ucapku melalui pesawat telepon.
"Hallo dokter Layla. Santai saja, bagaiman dok?,". Tanya dokter Heru dari seberang telepon.
"Dok, tadi putraku Fatih, tiba-tiba sedang menyiapkan seutas tali. Aku menanyakan padanya, untuk apa tali itu?. Lalu anakku menjawab, bahwa dia ingin menggantung ditali itu agar bisa bertemu dengan Aisyah mantan istrinya. Jujur, saya sangat shock dokter Heru. Kenapa putraku semakin aneh perilakunya, bahkan ada pikiran untuk melakukan hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku?,". Jelasku pada dokter Heru.
__ADS_1
"Hmmmm...., bertahap dok. Saya sudah bilang padamu dokter Layla. Bawalah Aisyah untuk bertemu dengan putra anda. Setidaknya sekali saja, meskipun itu juga tidak lama. Recovery dari pengobatan tidak bisa langsung dilihat hasilnya. Itu memerlukan waktu jangka panjang. Sedangkan orang yang sedang dalam pukulan berat pada psikisnya bisa saja melakukan hal-hal diluar dugaan kita yang sehat,".
"Dokter Heru?, apakah ada kemungkinan putraku akan melakukan dan berpikiran dengan hal yang serupa kedepan?,". Tanyaku cemas.
"Itu yang barusan saya bilang dok. Putra anda sedang mengalami stress berat, hingga psikisnya terganggu. Itu bisa membuat putra anda melakukan hal-hal yang putra anda merasa, itu adalah cara untuk bisa bertemu dengan hal yang membuat dirinya mengalami stress dan beban berat,". Dokter Heru menjelaskan padaku. Dan lagi-lagi alternatif terbaik adalah membawa Asiyah untuk bertemu dengan Fatih.
"Lalu saya harus bagaimana dok?, saya saat ini masih shock dengan kejadian tadi".
"Untuk saat ini, tetap berikan terapi pengobatan seperti biasa. Dan lebih memperhatikan gerak-gerik putra anda dokter Layla. Jangan sampai Fatih putra anda lepas kontrol dari anda. Karena ditakutkan dia akan melakukan hal-hal yang diluar dugaan seperti tadi. Tolong awasi terus anakmu dok,".
"Oke. Baiklah dokter. Tadi sudah saya berikan obat nya. Dan sekarang putraku sedang tidur,".
"Syukurlah,".
"Oke dok, terimakasih banyak dokter Heru atas segala kebaikan anda untuk saya dan putra saya,". Ucapku berterimakasih kepada dokter Heru melalui telepon.
"Santai saja dokter Layla. Jangan sungkan-sungkan jika ada sesuatu hal yang ingin ditangan atau terjadi. Aku berharap semoga putra anda lekas pulih dok,".
"Aamiin, terimakasih doanya dok. Baiklah, kumatikan dulu telepon nya dok. Selamat sore,".
"Sama-sama dokter Layla. Selamat sore juga,". Ucap dokter Heru lagi padaku.
"Tuuuttt.... tuutt.. tutty,". Telepon terputus.
Aku masih terduduk diteras depan rumah. Aku masih melamun. Bagaimana caranya aku bisa membawa Asiyah ke Jakarta dan bertemu dengan putraku?. Haruskah aku membawa pula suaminya yang baru?. Tapi dengan apa aku menghubungi Aisyah?, nomor lamanya sudah tidak ada yang bisa dihubungi satupun. Termasuk nomor telepon kedua orangtuanya. Apa aku bawa Fatih saja ke Solo?, tapi itu terlalu beresiko. Perjalan Jakarta-Solo sangatlah jauh, dan sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Aku tidak enak dengan mantan besanku, dan juga suami Aisyah. Akan dinilai apa aku dimata mereka semua?, jika aku datang tiba-tiba dan membawa Fatih?.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?. Aku seorang ibu, tapi aku terduduk dan termenung tanpa ada solusi apapun,". Ucapku dalam hati.
Aku mendapatkan ide. Bagaimana jika aku mengirimkan surat saja pada Aisyah. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa menghubungi Aisyah dan meminta tolong padanya. Meksipun aku tidak tahu, akan kah Aisyah mau datang dan bertemu dengan Fatih mantan suaminya, dan apa suaminya yang sekarang pun mengijinkan Aisyah istrinya untuk bertemu dengan mantan suaminya dulu?. Urusan hasil biarlah belakangan saja. Yang penting aku harus sesegera mungkin mengubungi dan meminta bantuan Aisyah. Sebagai seorang ibu, aku tidak boleh hanya diam saja melihat kondisi putranya yang semakin parah. Semoga keputusanku untuk mempertemukan Aisyah dan putraku Fatih adalah keputusan yang tepat ya Allah.
"Bunda hanya ingin Fatih kembali seperti dulu nak. Bunda ingin Fatih bisa mengikhlaskan segala yang terjadi, bisa kuat menjalani hari-hari Fatih kedepan meskipun tanpa ada Asiyah. Bunda percaya, kamu adalah putra Bunda yang kuat,". Ucapku dalam hati sambil menyeka air mataku.
__ADS_1
Aku masuk kedalam rumah, dan mengontrol kedalam kamar Fatih. Putraku masih tertidur dengan pulasnya. Aku tenang melihatnya tertidur, aku keluar dari kamar putraku dan menuju ke dapur. Sore ini, sayur sop dan ikan goreng akan menjadi menu makan malamku dan putraku Fatih. Aku sudah terbiasa memasak sendiri, jadi setelah tidak ada asisten rumah tangga pun, aku sudah tidak kaget dan terbiasa melakukannya seorang diri.