Madu

Madu
Episode 58


__ADS_3

"Mas aku hamil!!, kamu harus tanggung jawab!!!,".


"Kamu kan juga tidur dengan Fatih!!!, bukan hanya denganku!!,".


"Tapi anak ini hasil dari hubunganku denganmu mas!!!, kita sudah melakukan hubungan itu saat di villa!!, kamu harus tanggung jawab!!!,".


"Kamu kan punya suami!, bilang saja ke Fatih kalau kamu hamil anak nya!!. Aku tidak mau jadi bapak secepat ini Siska!,".


"Kamu jahat mas!!, katanya kamu mencintaiku, tapi kenapa kamu tidak mau mengakui kalau itu anak kamu!!. Hiks... hiks... hiks...,".


"Siska, sungguh aku sangat mencintaimu, tapi untuk bertanggungjawab aku belum bisa?!, kamu tau sendiri bukan, aku sampai sekarang masih belum bisa dapat pekerjaan?!, lalu bagaimana nasib anak kita kalau tau aku bapak nya?!, hah!!,".


"Lihat ini... !!!, ini hasil test pack aku dua hari yang lalu mas!!, dan aku juga sudah ke dokter kandungan!. Dokter bilang usia kandunganku masuk usia empat Minggu, jelas itu satu bulan setelah kita tidur bersama di villa!!. Hiks... hiks... hiks...,".


"Hah...?!, sial!!. Gugurkan anak ini atau kamu minta pertanggungjawaban pada Fatih!!,". Sial, Siska hamil. Aku lupa tidak menggunakan pengaman saat berhubungan dengannya. Aku tidak mau bertanggung jawab, aku suka dengan siksa karena tubuh nya, tapi tidak dengan cinta.


"Mas Deni!!, kamu jangan keterlaluan!!. Berani-beraninya kamu suruh aku untuk menggugurkan anak ini?!!, tidak akan pernah!,". Ucapku dengan berapi-api pada laki-laki kurang ajar seperti Deni, tapi aku sangat mencintai Deni.


"Yasudah sayangku Siska?!!, please... kamu jangan ****. Kamu harus bilang ke Fatih, kalau kamu hamil anak nya!!. Mengerti?!!,".


"Tapi janji, kamu jangan pernah meninggalkan aku dan anak ini!!,".


"Iya masalah itu gampang di atur Siska!!, yang penting secepatnya kamu bilang ke suami mu kalau kamu hamil anak nya!!,".

__ADS_1


"Oke oke !!,".


Aku yang baru datang setelah keluar untuk belanja kebutuhan bulanan langsung gemeteran setelah mendengar pertengkaran antara Siska dengan pacarnya yang baru aku tau namanya Deni. Jadi, bungkus test pack dua hari yang lalu, yang aku temukan di dalam kamar mandi adalah punya Siska?, dan mual-mual yang dialami Siska karena hamil?, bukan karena sakit?. Ya Allah... pedih sekali rasanya bahkan laki-laki yang menghamili Siska tidak mau bertanggungjawab. Aku harus segera memberi tahu masalah ini pada mas Fatih, anak yang di kandung Siska bukanlah anak hasil dari pernikahan mas Fatih dengan Siska. Tapi hasil dari hubungan gelap Siska dengan laki-laki itu. Tapi bagaimana aku mengatakan pada mas Fatih?, sedang saat ini mas Fatih masih berada di puncak mulai mencintai Siska?. Aisyah bingung ya Allah, ucapku lirih.


Aku memilih untuk tidak masuk kedalam rumah, aku tidak ingin mereka tahu kedatanganku, dan mendengar semua pertengkaran mereka berdua tentang kehamilan Siska. Lagi pula, three Bi sedang ijin untuk menjenguk temannya yang masuk rumah sakit. Aku masih trauma dengan perlakuan pacar Siska padaku. Bulu kudukku berdiri, merinding melihat tatapan memuakkan dari laki-laki itu. Astaghfirullah... ucapku lirih.


Aku mengendap-endap jalan melalui pintu samping rumah dan berjalan menuju dapur. Aku kaget setengah mati, ketika melihat three Bi juga sedang menguping pembicaraan Siska dengan pacarnya itu.


"Bibi....,". Panggilku berbisik.


"Non, non Aisyah sini... ssstt,". Ucap Bi Inah sambil berbisik dan memberikan isyarat untuk tidak berisik.


"Kenapa kalian masih disini?, katanya mau jenguk teman?,". Bisikku.


"Tadi kita mau berangkat non, terus tiba-tiba ada teriakan non Siska, di susul cek-cok dengan laki-laki jahat itu,". Bisik Bi Dar menjelaskan padaku.


"Iya non, kami bertiga mendengar semua pertengkaran non Siska dengan selingkuhannya, termasuk tentang kehamilan non Siska,". Kali ini Bi Ijah berbisik padaku dan menjelaskan apa yang mereka dengar padaku.


"Non kok sudah pulang?,". Tanya Bi Inah.


"Sssttt.... tadi niat nya Aisyah mau lewat depan Bi, tapi Asiyah dengar pertengkaran seperti yang kalian dengar. Jadi Aisyah putar balik dan mengendap-endap masuk lewat pintu samping. Aisyah takut ketahuan Bi. Keadaan mereka sedang emosi,". Aku masih berbisik agar tidak terdengar Siska.


"Kasian ya non Siska, laki-laki nya itu tidak mau bertanggungjawab atas kehamilannya,". Ucap Bi Dar berbisik.

__ADS_1


"Hallah... rasain. Orang jahat memang pantas dapat laki-laki yang jahat juga,". Ucap Bi Ijah.


"Sstt... sudah bibi. Tidak baik mengatai orang lain,". Aku berbisik mengingat kan three Bi.


Aku masih bersembunyi bersama three Bi. Selama bersembunyi, aku masih memikirkan bagaimana caranya memberi tahu suamiku, bahwa istri muda nya telah berselingkuh dan hamil oleh laki-laki lain?, aku takut mas Fatih tidak percaya padaku. Aku harus bagaimana?, aku tidak ingin laki-laki sebaik mas Fatih di manfaatkan begini oleh Siska.


"Non... kaya nya non Siska pergi dengan selingkuhannya itu,". Tiba-tiba Bi Ijah berbisik dan memberi tahu kalau Siska sudah tidak dirumah.


Aku berjalan menuju pintu depan dengan posisi masih mengintip dan mengendap-endap. Dan ternyata benar, mobil merah yang tadi terparkir depan rumah sudah tidak ada, dan aku mengecek ke kamar Siska pun, dia sudah tidak ada disana. Aku menghela nafas panjang.


"Non, sekarang kami pamit jenguk teman kami dulu ya sebentar. Apa non Aisyah tidak apa-apa ditinggal sebentar?,". Three Bi menghampiri aku yang kini duduk di kursi gantung di teras belakang.


"Sebenarnya takut Bi, apalagi mas Fatih belum pulang dari kantor. Tapi yasudah, nanti Aisyah kunci diri di pintu saja. Kalian pulang jam berapa Bi?,". Tanyaku padanya. Aku masih sangat ketakutan dengan laki-laki yang kini menghamili Siska.


"Sebenarnya kami juga tidak tega. Gini saja biar Bi Dar yang dirumah ya non, temani non Aisyah,". Kali ini Bi Dar menawarkan diri untuk tetap tinggal dirumah menemaniku.


"Apa tidak apa-apa Bi?, jika bibi tidak ikut menjenguk teman bibi?,". Tanyaku memastikan pada Bi Dar.


"Ngga papa non, nanti bibi kirim salam saja lewat Ijah dan Inah,". Ucap Bi Dar meyakinkanku.


"Iya gitu aja ya non, biar si Dar menemani non Aisyah dirumah,". Ucap Bi Ijah.


"Yasudah ngga papa, kalian hati-hati yah Bi di jalan. Kabarin Aisyah kalau sudah sampai rumah sakit. Pulang nya jangan kelamaan ya Bi,". Ucapku pada kedua personil three Bi yang akan pergi menjenguk temannya.

__ADS_1


"Siap bos,". Jawab mereka kompak.


Aku memandangi tubuh Bi Ijah dan Bi Inah yang pergi meninggalkanku di kursi gantung. Sedang Bi Dar kembali ke dapur untuk membuatkan salad buah untukku. Lagi-lagi aku masih merasa tidak percaya, jika Siska hamil dengan selingkuhannya itu. Kenapa dia mau menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang bukan suaminya?. Mataku perih, kenapa keluarga kecilku di berikan cobaan dan ujian sebesar ini ya Allah, aku tidak kuat untuk tidak meneteskan air mata. Saat ini aku rindu suamiku. Aku ingin menangis di pelukan mas Fatih, sudah lama sekali rasanya mas Fatih tidak memperlakukanku seperti awal menikah dulu, maksudnya mas Fatih benar-benar berubah sikapnya padaku setelah memilik Siska sebagai istri muda nya. Seandainya Bunda mertuaku tidak jahat dan memaksaku untuk menyuruh mas Fatih menikah lagi, mungkin detik ini mas Fatih sedang duduk di kursi gantung ini sambil bercanda bahagia bersamaku. Nyatanya, aku selalu disalah kan apa bila terjadi sesuatu pada Siska, padahal aku sendiri tidak tahu apa salahku, aku selalu dijadikan yang nomor dua, dan Siska selalu di utamakan dalam segala hal. Air mataku jatuh, pipiku basah. Aisyah ingin bahagi ya Allah... ucapku lirih di sela isak tangisku.


__ADS_2