
"Bunda, bisa Fatih meminta waktu Bunda sebentar".
" Ada apa putraku sayang? ".
"Bunda, ada satu hal yang ingin Fatih minta dari Bunda".
"Apa itu nak. Sebisa Bunda akan Bunda berikan".
" Fatih minta, berhenti mengganggu keluarga Aisyah. Hanya itu".
"Apa maksud kamu nak?!. Kenapa kamu berkata demikian. Memang nya Bunda menggangu apa sama mereka?! ".
" Sudahlah Bunda!!. Berhenti bersandiwara. Fatih minta, berhenti menghancurkan rumah tangga Fahmi dan Aisyah! ".
" Fatih!, berani-berani nya kamu berkata seperti itu pada Bunda mu sendiri!! ".
" Bunda, sudah cukup Bun. Fatih sudah cukup menderita karena kehilangan. Fatih tidak mau menambah masalah lagi. Jadi tolong, Bunda berhenti untuk merusak rumah tangga orang lain. Biarkan mereka hidup bahagia Bunda. Jangan ganggu lagi".
"Bunda masih tidak mengerti!. Apa yang kamu bicarakan sekarang Fatih! ".
" Bunda, Fatih sudah tahu semuanya Bunda. Tentang semua yang Bunda lakukan pada keluarga Aisyah. Bunda menolong Fahmi dan meminta Fahmi untuk melepaskan Aisyah untuk kembali pada Fatih, bahkan Bunda juga menemui Fahmi memohon padanya agar dia mau merelakan Aisyah untuk Fahmi, dan Bunda juga mengenalkan Aisyah sebagai calon istri Fatih di saat acara syukuran itu. Bunda, Fatih tidak menyangka, Bunda akan melakukan semua ini. Fatih memang kehilangan Aisyah, Fatih juga sangat mencintai Aisyah Bunda!. Tapi bukan berarti Bunda menghalalkan segala cara untuk membuat Aisyah kembali dalam hidup Fatih. Itu tidak benar Bunda! ".
" Da-dari mana kamu tahu semua itu?! ".
" Bunda tidak perlu tahu, dari mana Fatih tahu segalanya Bun. Fatih minta, berhenti ganggu mereka Bunda".
"Baiklah, Bunda akan berhenti mengganggu rumah tangga mereka. Tapi ada satu syarat".
" Kenapa harus pakai syarat?!. Apa syaratnya?! ".
" Kamu harus menikah bulan depan!".
"Bunda!. Itu tidak akan mungkin. Fatih tidak mau menikah dengan wanita lain. Fatih juga lebih nyaman menduda seperti ini!!. Fatih tidak bisa mengikuti syarat itu Bunda! ".
" Oke, kalau kamu tidak bisa. Maka Bunda juga tidak bisa menyerah untuk mendapatkan Aisyah agar kembali denganmu! ".
" Bunda!, sejak kapan jadi seperti ini!".
"Sejak putra Bunda satu-satu nya memilih menduda karena satu orang wanita saja! ".
__ADS_1
Emosiku semakin tidak terkendali. Bunda sangat keras kepala. Bagaimana bisa dengan putra sendiri harus memberikan syarat. Syarat itu tidak mungkin aku penuhi. Sungguh itu sangat berat. Aku tidak mampu, tidak ingin menyakiti hati wanita lain. Menikah tanpa ada rasa cinta itu akan seperti di siksa. Perasaan yang menjadi istriku pun pasti kupastikan akan sangat tersakiti. Dinikahi oleh laki-laki yang bahkan mencintai wanita lain di masa lalu nya.
"Bunda!!. Tolong jangan buat Fatih emosi! ".
" Kenapa memang kalau kamu emosi!. Kamu mau menampar Bunda?!. Tampar saja!!. Kamu ini anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih!!. Fatih, sadar!. Kamu harusnya bersyukur memiliki ibu seperti Bunda. Mati-matian agar bagaimana caranya kamu bahagia. Tapi kamu malah menentang Bunda mu sendiri!! ".
" Bunda!!, bukan begini caranya. Fatih sangat sayang dengan Bunda!. Tapi kalau Bunda salah jalan seperti ini. Fatih juga tidak bisa terus mengikuti Bunda!! ".
" Jika tahu kamu waras akan menentang Bunda seperti ini, Bunda tidak akan membawa kamu susah-susah berobat samai ke luar negeri. Harusnya Bunda biarkan saja kamu gila untuk selamanya!! ".
" Bundaaaa!! ".
" Bruuaakkkk!! ".
Aku memukul jendela kayu hingga rusak berserakan. Emosiku sudah tidak bisa ditahan lagi. Sedangkan Bunda hanya pergi saja meninggalkan diriku. Kenapa jalan hidupku harus seperti ini, terlalu banyak masalah. Terlebih ini berurusan dengan wanita yang telah melahirkan diriku ke dunia. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bunda terlalu egois. Bunda tidak memikirkan banyak perasaan orang yang akan di korbankan jika mengikuti semua keinginan Bunda. Mau bagaimana lagi, aku sungguh tidak mampu menikah untuk kedua kalinya dengan wanita yang tidak aku cintai. Cukup Aisyah, wanita yang pernah aku sakiti di seumur hidupku. Tidak ingin rasanya, aku membuat hancur hidup wanita lagi. Rumit sekali, padahal Bunda hanya perlu mengerti posisi anak nya. Jika seperti ini caranya, bukan hanya aku yang akan tersiksa, tapi banyak pihak lainnya. Meminta bantuan juga pada siapa. Hanya Bunda yang aku punya sekarang. Tapi jika sudah seperti ini, tidak mungkin terus dibiarkan. Rasa sayang Bunda padaku terlalu berlebihan. Sebenarnya, Bunda tidak seluruh nya salah. Wajar, jika seorang Ibu ingin melihat putra satu-satu nya menikah dan hidup bahagia. Terlebih, Bunda sangat ingin memiliki cucu dari putra kandung nya sendiri. Caranya saja yang salah, ini semua butuh waktu. Bertahun-tahun aku berulang kali terjatuh agar bisa melupakan semua tentang Aisyah. Tapi nyatanya, aku terlempar kembali dalam genangan masa laluku. Sepertinya benar kata Bunda, gila jauh lebih baik dari pada harus memikirkan banyak masalah berat seperti ini.
"Ambil ini, jika kamu setuju dengan syarat Bunda. Dan pilih salah satu dari mereka".
Bunda kembali dengan sebuah amplop tebal di tangannya. Dilemparkan begitu saja amplop itu di kursi. Kemudian pergi lagi seenaknya. Entahlah, melihatnya saja aku sudah tidak ingin tahu apa isi amplop itu. Apalagi mengambilnya. Aku pergi meninggalkan rumah. Jika terus menerus dirumah, yang ada aku akan terkena penyakit darah tinggi karena harus ribut dengan Bunda setiap harinya. Ada baiknya aku pergi untuk menenangkan hatiku. Aku butuh seseorang yang bisa memberikan diriku pencerahan. Tapi jika aku pergi, aku takut Bunda akan nekat melakukan sesuatu lagi untuk merusak rumah tangga Aisyah lagi. Tidak, aku harus mengawasi Bunda di rumah.
"Kenapa balik lagi?! ".
Ternyata Bunda sudah memperhatikan diriku dari jendela rumah. Langsung menanyakan begitu saja padaku, ketika aku memutar badan dan memutuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah.
Jawabku pendek.
"Jadi kamu masih tidak mau ambil amplop itu?! ".
" Apa lagi sih Bunda. Ayolah, jangan seperti ini. Fatih tahu Bunda sayang sama Fatih. Tapi jangan seperti ini caranya Bun".
"Kamu yang tidak bisa bersyukur. Bukan Bunda yang harus nya jangan begini. Tapi kamu Fatih, yang harusnya jangan begitu pada Bunda mu sendiri!. Oke, kalau kamu tidak mau ambil amplop ini".
" Iya, oke!. Ini Fatih ambil".
Aku terpaksa memungut amplop tebal yang masih tergeletak di kursi. Amplop yang entah isinya apa, aku ambil dan aku bawa masuk dalam rumah. Menjadi anak tunggal ternyata tidak seenak yang dibicarakan banyak orang. Mereka selalu menganggap bahwa menjadi anak tunggal adalah sesuatu yang sangat membuat iri. Seluruh kasih sayang dan cinta orang tua diberikan hanya pada satu anak saja, tanpa takut dan khawatir terbagi dengan saudara kandung yang lainnya. Faktanya, menjadi anak tunggal adalah dilema paling besar jika sudah terjadi masalah seperti ini. Disaat kita ingin emosi dan ingin meluapkan rasa kecewa, yang ada harus di tahan dalam-dalam. Lagi-lagi karena berusaha menjaga perasaan orang tua kita, apalagi aku adalah satu-satunya anak yang dilahirkan. Mungkin akan lebih indah jika memiliki saudara kandung. Ada orang yang bisa di ajak diskusi dan dimintai pendapat mengenai masalah yang sedang di hadapi. Tidak seperti diriku saat ini, yang bingung dan buntu. Pada siapa akun harus berbagi.
"Amplop apa ini sebenarnya. Kenapa lumayan tebal". Gumamku lirih, sembari membuka amplop yang sekarang ada di tanganku.
" Tidak perlu kaget seperti itu wajah nya!. Kamu harus pilih salah satu. Jika kamu ingin Bunda tidak lagi mengganggu keluarga mantan istrimu itu Fatih! ".
__ADS_1
" Apa maksud semua ini Bunda?! ".
" Masih saja bertanya. Itu beberapa foto wanita yang sudah Bunda pilih sebagai kandidat calon istrimu. Jadi pilihlah salah satu yang kamu tertarik. Dan beri tahu Bunda! ".
" Bunda!!, Fatih bukan anak kecil lagi. Ini juga bukan kontes pencarian jodoh. Bunda tidak perlu melakukan semua ini pada Fatih!. Buat apa Bunda repot-repot mengumpulkan foto-foto wanita sebanyak ini!. Percuma, Fatih tidak akan memilih satupun diantara mereka!! ".
" Baiklah, kembalikan semua foto itu pada Bunda!. Dan lihat saja ya, apa yang akan Bunda lakukan!! ".
" Bun!. Lagi pula Fatih bisa mencari sendiri. Wanita seperti apa, bagaimana, dan siapa yang akan menjadi pendamping Fatih! ".
" Ah, rasanya sudah bertahun-tahun Bunda di bohongi oleh dirimu. Coba kamu ingat berapa kali. kamu berkata seperti itu pada Bunda mu!. Nak, Bunda sudah semakin tua!. Sampai kapan kamu akan menipu Bunda seperti ini!. Bunda sudah cukup sabar menunggu kamu memilih wanita yang akan dijadikan istri. Apa hasilnya?!. Ujung-ujung nya kamu lagi-lagi betah menduda karena masih berharap pada Aisyah kan!!!. Tidak lagi Fatih, jika kamu tidak mau memilih satu di antara foto yang sudah Bunda berikan padamu. Bunda bersumpah tidak akan berhenti untuk membuat Aisyah berpisah dengan Fahmi, dan menjadikan dia istrimu lagi! ".
" Bundaaaaa!!!. Fatih sudah cukup sabar menghadapi Bunda!. Kenapa Bunda tidak pernah puas menghancurkan hidup putra Ibu sendiri!!. Fatih seperti ini juga karena Bunda!!. Bunda yang sudah membuat Fatih mengabaikan wanita sebaik Aisyah!!. Bunda juga yang ternyata sudah memaksa Aisyah untuk meminta Fatih agar menikah lagi!!!. Kenapa semua itu juga belum puas!!!. Apa lagi yang ingin Bunda hancurkan dari hidup Fatih!!!. Bunda juga ingin meminta balas budi atas semua usaha Bunda yang sudah mengobati Fatih dari penyakit gangguan jiwa??!!!. Jika iya, kenapa tidak dari dulu saja, Bunda biarkan Fatih tetap gilaaaa!!. Toh, pada akhirnya, Bunda juga benar-benar membuat putra Bunda satu-satu nya kembali menjadi stress!! ".
" Fatiihhh!!!".
"Plaaakkkkk....!!. Plakk!! ".
Aku ditampar sangat keras oleh Bunda. Tidak hanya sekali, kali ini Bunda menampar diriku sebanyak dua kali. Tamparan itu sangat keras. Darah segar mengalir di sudut bibirku. Rasanya aku sudah tidak kuat menahan emosiku. Semuanya aku luapkan pada Bunda. Selama ini aku sudah berusaha menjadi putra yang baik untuk Bunda. Tapi Bunda tidak pernah mau mengerti itu, dimata Bunda aku hanya seorang anak laki-laki kecil yang harus selalu mengikuti keinginan nya. Aku tahu, surgaku tetap ada pada Bunda. Faktanya meraih surga itu tidaklah mudah. Salahkah diriku jika berkata semua itu pada Bunda?. Apa boleh buat, Bunda sudah melewati batas. Hidupku memiliki hak untuk memilih dan menentukan bagaimana kedepannya. Rasa sakit dari tamparan Bunda tidak sesakit saat aku melihat Aisyah dinikahi oleh laki-laki lain. Karena kasih sayang dan cintaku pada Bunda, aku berusaha ikhlas dan memaafkan bagaimana sikap Bunda dulu pada Aisyah dan juga rumah tangga ku. Meskipun Bunda hanya berusaha menurut pada mantan suaminya, tapi seharusnya Bunda bisa berpikir jernih. Dan semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Sudah puas menampar nya Bun?!. Ayok, tampar lagi Bunda. Tampar Fatih lagi, agar darah segar mengalir semakin banyak dari wajah Fatih. Tampar saja, jika itu bisa membuat Bunda lega dan bahagia. Lagi pula, mau menampar siapa lagi kan?. Hanya Fatih anak Bunda satu-satu nya. Tampar Bunda!!, tampar lagi!! ".
Tangan Bunda aku pegang dan aku tempelkan pada pipiku lagi. Biarlah, biar Bunda puas menyakiti diriku. Tidak hanya batin, tapi juga fisik ku. Aku sudah cukup menderita karena mencintai wanita bersuami. Dan sekarang, penderitaan diriku bertambah karena wanita yang telah melahirkan diriku ke dunia. Rasanya ingin menyerah, menyakitkan sekali. Harus bertengkar dengan Bunda terus menerus seperti ini. Harusnya Bunda bisa lebih mengerti bagaimana isi hati putranya.
"Untuk apa Bunda menangis?. Ayok Bun, tampar Fatih lagi. Biar lunas, lunas karena Bunda tidak hanya menyiksa batin Fatih, tapi juga fisik Fatih Bun".
Ucapku lagi sembari menyeka darah yang masih mengalir dari sudut bibirku.
" Nak... Fa-Fatih! ".
Aku meninggalkan Bunda yang masih berdiri dan memegangi tangan yang baru saja digunakan untuk menampar diriku. Aku tidak perduli, entah Bunda menyesal atau tidak karena telah melakukan itu semua padaku. Tidak kuat, aku tidak tahan lagi berada dirumah. Aku berjalan menuju kamar Ilham dan membawa anak ini pergi bersamaku. Beberapa baju kubawa bersamaku dan Ilham. Untuk dua atau tiga hari, aku ingin menenangkan diri. Meskipun sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Bunda sendirian dirumah. Ketenangan, aku sangat butuh rada tenang untuk sekarang. Kasian Ilham, dia jadi sering mendengar dan melihat nenek dan Ayah nya. bertengkar dan adu mulut. Entah apa yang harus aku jelaskan pada anak sekecil ini. Sedari tadi, Ilham hanya melihat sudut bibirku yang masih berdarah. Ilham terdiam dan tidak berani berkata apapun padaku. Mungkin dia juga takut, takut aku akan memarahinya lagi seperti dulu. Diriku tidak berani melihat ke arah Ilham. Wajah polos itu, tidak sanggup aku melihat Ilham. Anak laki-laki yang harusnya bisa hidup dan tinggal dengan nyaman bersama ku. Tetapi dia harus menelan semua yang terjadi diantara Bunda dan diriku. Gagal, aku sudah gagal rasanya menjadi seorang Ayah.
"Nak, kita liburan dulu yah. Setidaknya dua atau tiga hari".
Ucapku mencairkan suasana yang canggung di antara diriku dan putraku Ilham.
Ilham tidak menjawab apapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa dia setuju. Entah mengapa, rasanya aku kecewa pada diriku sendiri. Ilham pasti sangat takut melihat diriku.
"Nak, kamu ingin beli apa? ".
__ADS_1
" Ti-tidak Ayah".
Nada suara Ilham sangat tertekan. Pasti, dia sangat takut berbuat kesalahan lagi. Aku mengambil tissue dan mengelap sisa darah dari sudut bibirku.