
"Bagaimana dok hasilnya? ".
"Alhamdulillah, janin Ibu Aisyah sehat. Detak jantung janin nya juga normal".
" Apa jenis kelamin baby nya sudah bisa diketahui dok? ".
" Kalau dari yang saya analisa sih, kemungkinan cowok Bu baby nya ".
" Berapa persen prosentase nya Bu dokter? ".
" sembilan puluh persen sepertinya laki-laki Bu. Kalau mau lihat seratus persen nya, kita lihat bulan depan yah".
"Tapi semuanya normal kan Dok? ".
" Sehat normal Bu. Untuk usia kandungan sebelas minggu yang penting adalah detail jantung yang normal"
"Alhamdulillah. Terimakasih Bu dokter".
" Sama-sama Bu. Ini saya resep kan Vitamin yah. Nanti bisa ditebus di bagian farmasi".
"Baik dok. Terimakasih banyak yah".
" Sama-sama Bu Aisyah. Oh iya, jangan lupa bahagia yah. Ibu hamil harus bahagia dan tidak boleh stres yah".
"Siap dok".
Rasanya sangat tenang dan bahagia, mendengar bahwa calon anak kedua ku dalam keadaan sehat dan tumbuh dengan baik tanpa kurang satu apapun. Allah Maha Baik. Setelah diberikan anak perempuan, kali ini In SyaaAllah, aku dan Mas Fahmi akan di titipkan seorang anak laki-laki. Memiliki anak laki-laki dan perempuan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Karena bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Jika aku mengabari Mas Fahmi pastilah suamiku akan sangat bahagia, jika mengetahui dia akan memiliki seorang anak laki-laki. Karena selama ini, Mas Fahmi memang sangat ingin memiliki seorang anak laki-laki. Setiap melihat diriku dan Wawa sedang asyik bercanda bersama, dan main salon-salonan, Mas Fahmi selalu saja bilang, bahwa kelak jika diberikan amanah lagi, ingin rasanya memiliki anak laki-laki, agar bisa di ajak bermain bola, bulu tangkis, bahkan memancing. Kadang aku tertawa melihat tingkah Mas Fahmi yang merasa iri padaku. Kali ini, Allah mengabulkan harapan laki-laki yang sangat sabar itu. Mungkin saja ini buah dari kesabaran Mas Fahmi selama ini.
"Hallo Assalamu'alaikum".
" Waalaikumsalam nak"
"Ibu, Aisyah lupa kasih kabar. Kalau Aisyah sedang berangkat USG".
" Loh?. Diantar siapa?. Dengan Fahmi? ".
" Sendiri Bu, tadi sudah ijin pada Mas Fahmi kok".
"Kamu berangkat pakai apa nak? ".
" Tadi Mas Fahmi pesan taksi langganan kita Bu. Ini juga sudah selesai kok. Tinggal ambil obat nya saja yang tadi di resep kan oleh Bu dokter. Sekarang Aisyah masih ngantri"
"Syukurlah. Bagaimana calon cucu kedua Ibu nak?. Dia sehat kan? ".
" Alhamdulillah, calon cucu kedua Ibu sehat. Bahkan Aisyah sudah tahu jenis kelaminnya loh Bu. Ya meksipun baru sembilan puluh persen sih".
"Wah, apa jenis kelamin nya nak? ".
"Seorang jagoan yang soleh Ibu".
" MasyaAllah, alhamdulillah. Calon cucu kedua Ibu laki-laki nak?. Ya Allah, Alhamdulillah ".
" Iya Bu. Aisyah juga tidak menyangka kalau akan diberikan baby laki-laki. Alhamdulillah harapan Mas Fahmi untuk memiliki anak laki-laki dikabulkan sama Allah. Oh iya, tapi jangan kasih tahu dulu sama Mas Fahmi yah Bu. Aisyah mau kasih kejutan".
"Oke siap menantu Ibu yang cantik. Kamu hati-hati ya nak pulang nya. Pulang nya pakai taksi lagi kan? ".
" Iya Ibu. Oh ya, bagaimana acara disekolah Marwah Bu? "
"Alhamdulillah nak, lancar. Disini Ibu kenalan dengan banyak Oma dari murid yang lain. Hehehe... ".
" Syukurlah Ibu. Yasudah, Aisyah tutup dulu sambungan teleponnya yah Bu. Sebentar lagi nama Aisyah dipanggil ".
__ADS_1
" Iya nak. Hati-hati. Assalamu'alaikum ".
" Waalaikumsalam ".
Pas setelah selesai menelepon Ibu mertua ku. Namaku di panggil oleh bagian Farmasi. Aku berdiri dan berjalan untuk mengambil vitamin yang telah di resep kan oleh Bu dokter. Sudah menjadi resiko menjadi seorang ibu hamil. Mau tidak mau, suka tidak suka harus siap minum vitamin setiap hari selama sembilan bulan lamanya. Semuanya di lakukan demi agar anak yang sedang dikandung sehat, dan bisa lahir tanpa kurang satu apapun. Aku berjalan keluar klinik kandungan. Seperti yang diucapkan oleh Mas Fahmi. Aku harus langsung pulang ke rumah, begitu selesai periksa USG.
"Kemana pergi nya pak Herman yah? ".
Gumam diriku lirih, sembari celingukan mencari Pak Herman.
Sudah sepuluh menit, pak Herman tidak juga datang. Mana aku tidak menyimpan nomor Pak Herman. Jangan-jangan Pak Herman lupa kalau harus menunggu diriku hingga selesai periksa. Hari ini cuaca Yogyakarta cukup terik. Rasanya sangat gerah sekali menunggu Pak Herman datang sembari berdiri seperti ini.
"Bu, silahkan duduk".
" Oh, tidak Bu. Saya berdiri saja".
"Jangan Bu, seperti nya Ibu sedang hamil. Jangan sampai kelelahan".
Seorang Ibu yang tidak terlalu tua, berdiri dari tempat duduk nya dan memberikan bangku nya padaku. Padahal aku sebenarnya merasa tidak enak. Tapi apalah daya, tubuhku sudah sangat letih. Ternyata masih ada orang baik yang tidak egois. Dia mengutamakan seseorang yang memang sangat membutuhkan.
"Terimakasih banyak yah Bu. Maaf jadi merepotkan".
" Tidak apa-apa Bu. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya hamil. Tau banget rasanya harus berdiri lama apalagi ini sedang panas-panas nya. Lagi pula sebentar lagi jemputan saya datang kok".
"Oh iya Bu".
" Ibu nya sedang menunggu jemputan juga? ".
Tanya nya lagi pada diriku.
" Iyah Bu, sudah sepuluh menit lebih tidak juga datang. Mungkin lupa, karena saya pakai taksi langganan keluarga saya".
"Oh iya Ibu, silahkan. Hati-hati di jalan".
Aku memperhatikan Ibu yang baik hati tadi, masuk kedalam mobil inova berwarna putih. Sepertinya, Ibu ini dijemput oleh suaminya. Karena begitu masuk mobil, si Ibu langsung mencium tangan laki-laki itu. Harus bagaimana ini?, aku tidak mungkin menghubungi mas Fahmi. Dia hari ini banyak kerjaan kantor yang sangat penting, bahkan sampai tidak diperbolehkan ijin oleh atasannya. Kalau aku menelepon dirinya, yang ada aku hanya akan menggangu pekerjaan mas Fahmi. Tapi bagaimana?, aku sangat butuh nomor ponsel Pak Herman. Rasanya aku sudah sangat letih sekali. Ingin segera sampai rumah dan beristirahat. Ah, ada baiknya aku menghubungi Ibu lagi. Siapa tahu Ibu menyimpan nomor ponsel Pak Herman yang bisa di hubungi.
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Silahkan mencoba beberapa saat lagi".
Suara operator terdengar dari seberang telepon. Ah, nomor Ibu malah tidak aktif. Kenapa menjadi rumit begini. Apa aku pulang dengan taksi yang lain saja ya?. Tapi, kalau aku pulang dengan taksi lain. Kasian Pak Herman jika harus mencari dan terus menunggu diriku disini. Sudahlah, aku terpaksa harus menghubungi Mas Fahmi. Aku kira menelepon sebentar tidak akan menggangu pekerjaan nya.
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Silahkan mencoba beberapa saat lagi".
Kenapa nomor Mas Fahmi juga tidak aktif ya Allah. Aku harus bagaimana lagi. Pandanganku sudah mulai kunang-kunang. Kepalaku sangat sakit, mungkin efek dari hormon kehamilan juga karena cuaca yang sangat panas. Hampir saja aku terjatuh, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menyangga tubuhku. Entahlah, konsentrasiku sudah buyar. Pandanganku tidak jelas.
"Aisyah?! ".
" Aisyah kamu tidak apa-apa kan?!. Minumlah".
Aku meneguk air putih yang disuguhkan padaku. Rasanya tenggorokanku sangat adem, begitu meminum air. Aku memijat kepalaku pelan, sembari mengatur nafas. Syukurlah, setelah minum air pandanganku berangsur-angsur pulih. Dan aku baru bisa sadar dan melihat dengan jelas. Tangan siapa yang tadi menyangga tubuhku yang hampir terjatuh.
"Ma-mas Fatih!! ".
Aku memekik, dan langsung menjauhkan tubuhku dari tangannya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Kenapa harus dia yang menolong diriku. Sedang apa dia berada disini?!. Dan Pak Herman juga belum datang menjemput diriku.
" Iya Aisyah. Ini aku. Kamu tidak apa-apa kan?. Maaf tadi aku sudah lancang, tapi jika tadi tidak aku sangga. Kamu bisa terjatuh ".
" Kenapa Mas ada disini?! ".
" Sebenarnya tadi aku hanya mau lewat saja. Mau berangkat ke kantor. Tapi tidak sengaja melihat kamu seperti sedang tidak baik-baik saja".
"Oh, maaf aku harus pergi".
__ADS_1
" Tunggu Aisyah?!".
Mas Fatih menahan diriku yang bahkan sudah beranjak berjalan meninggalkan dirinya. Aku tidak mau ada interaksi yang intens dengannya lagi.
"Aisyah, biar aku saja yang mengantarkan kamu".
" Tidak perlu. Aku bisa pakai taksi ".
" Aisyah tunggu, untuk apa kamu datang ke klinik ini? ".
" Rasanya Mas sudah tahu jawaban dari pertanyaan Mas barusan".
"A-apa kamu, kamu hamil lagi? ".
Apa penting nya Mas Fatih bertanya hal demikian padaku. Aku rasa tidak ada hubungan nya. Mau aku hamil lagi ataupun tidak. Apa untung nya bagi dia?.
" Iya. Aku hamil anak kedua ku dengan Mas Fahmi. Maaf aku harus segera pulang ".
Aku berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada Mas Fatih. Aku tidak mampu melihat wajah itu lagi. Pastilah kenangan menyakitkan itu bertebaran diingatan ku lagi. Bagaimana tidak, laki-laki yang dulu sangat aku harapkan untuk menjadi teman menua diriku. Justru malah menyakiti hingga lahir dan batinku. Meninggalkan luka dan trauma yang sangat mendalam di kehidupan diriku. Bahkan dulu, rasanya aku ingin menyerah. Ingin mengakhiri segala kehidupan diriku. Karena memang semenyakitkan itu rasanya. Sedikitpun, aku tidak pernah menyangka akan merasakan ujian seberat itu. Sangat berat, siapapun yang mendengar ceritaku di masa lalu, pastilah akan merasakan bagaimana rasanya ada di posisiku.
"Aisyah?! ".
"Oh iya, maaf sebelumnya jika apa yang akan aku katakan tidak sopan. Tolong, bilang pada Bunda Layla. Jangan memaksa diriku lagi untuk kembali pada putra nya".
" Ma-maksud kamu?! ".
" Apa Mas tidak tahu?!. Kalau kemarin Bunda menelepon ke nomor rumah ku. Bunda memohon-mohon padaku. Agar aku mau menerima dan memberikan kesempatan pada Mas lagi. Aku bukan barang, yang seenaknya bisa di pindah alihkan. Dan pernikahan itu sakral. Kurasa Mas Fatih paham bagaimana hakikat dari pernikahan. Tidak hanya sekedar rujuk dan cerai. Oh iya, ada baiknya Mas Fatih segera mencari calon pendamping dan menikah lah. Agar Aisyah dan keluarga Aisyah tidak lagi disalahkan dan di jadikan kambing hitam atas keputusan Mas yang tidak mau menikah lagi, dan memilih untuk menduda?! ".
Semoga saja, dengan ucapan barusan. Mas Fatih dan Bunda nya bisa paham. Bahwa mereka tidak berhak mengusik dan mengurusi kehidupan ku dengan keluargaku yang sekarang. Mereka harusnya bisa sadar posisi mereka, kalau mereka tidak seharusnya melakukan itu padaku.
" Aisyah?!. Maafkan sikap Bunda padamu. Tapi apa yang Bunda sampaikan padamu itu benar. Ka-kalau Sa-sampai... ".
Mas Fatih tidak mau melanjutkan ucapannya padaku. Entahlah, apa yang tadi akan dia katakan padaku. Aku mendengar isak tangis dari Mas Fatih. Mungkin saja ucapan diriku padanya barusan menyakiti hatinya. Aku memang sengaja. Tapi aku yakin, rasa sakitnya tidak sesakit yang pernah dia lakukan dulu padaku.
"Kalau sampai detik ini, aku masih sangat mencintai dirimu Aisyah Fatimatul Salwa".
Aku kaget mendengar pernyataan Mas Fatih barusan padaku. Apa maksudnya berkata demikian padaku.
" Aku juga mencintai dirimu Mas Fatih. Tapi itu dulu!. Sekarang sudah tidak ada lagi cintaku untuk dirimu!. Sekarang aku hanya mencintai satu nama, yaitu Fahmi. Mas Fahmi lah yang kini ada di hatiku. Sekarang dan selamanya. Jadi tolong, berhenti lah mencintai diriku, dan carilah wanita lain".
"Baiklah, aku tidak akan pernah mencari pengganti dirimu Aisyah. Aku akan tetap mencintai dirimu, meskipun cinta ini tidak akan terbalas seperti dulu lagi. Meskipun sepanjang hidupku akan kesepian dan tersakiti melihat wanita yang aku cintai bahagia dengan laki-laki lain. Oh iya, selamat atas kehamilan anak kedua mu Aisyah. Semoga Allah melancarkan segala urusan kamu".
Aku berjalan meninggalkan Mas Fatih. Aku menyeka air mataku. Aku tahu, aku sangat jahat pada Mas Fatih. Tapi inilah yang harus aku lakukan. Ada hati yang harus aku jaga agar tidak terluka. Hati yang dimiliki seseorang yang sangat tulus mencintai dan mendampingi diriku. Dialah Fahmi, seorang laki-laki yang bahkan mau menerima diriku apa adanya. Laki-laki yang bahkan tidak pernah sekalipun anggota tubuh nya melayang untuk menyakiti diriku. Laki-laki terbaik yang Allah berikan padaku. Bunda dan Mas Fatih hanyalah masa lalu bagiku. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan mereka. Semoga setelah apa yang aku ucapkan pada Mas Fatih barusan, bisa membuat mereka sadar. Dan tidak lagi mengganggu rumah tangga ku dengan Mas Fahmi. Rumah tangga yang sudah bertahun-tahun lamanya berdiri, penuh dengan kasih sayang, pengertian, cinta, serta perhatian. Aku tidak mau kehilangan itu semua. Mertua yang sangat menyayangi diriku seperti putrinya sendiri, suami yang luar biasa baiknya, serta anak-anak yang soleh dan baik. Sungguh, mereka lebih berharga dari apapun.
"Mas Fahmi, maaf kan Aisyah. Aisyah hari ini berbicara dengan mantan suami Aisyah. Sungguh, Aisyah tidak menyangka akan bertemu dengan Mas Fatih. Maaf". Ucapku lirih.
Entah mengapa, pertemuan tidak sengaja ini dengan mantan suamiku. Rasanya seperti aku sedang mengkhianati suamiku Mas Fahmi. Karena memang, aku sangat menjaga hubunganku dengan Mas Fahmi. Dalam hal apapun, aku selalu meminta ijin darinya.
"Non Aisyah. Maafkan Pak Herman. Tadi ban mobil nya bocor Non. Jadi harus ditambal. Maaf menunggu terlalu lama".
Tiba-tiba mobil taksi Pak Herman menghampiri diriku. Ah, akhirnya datang juga. Pantas sangat lama datang nya. Ternyata ban mobil nya bocor. Andaikan saja ban mobil Pak Herman tidak bocor. Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya. Laki-laki yang membuat rasa traumaku yang dulu kembali semakin menakutkan.
"Ti-tidak apa-apa Pak Herman. Langsung pulang ke rumah ya Pak".
Ucapku sembari masuk kedalam mobil. Aku menyenderkan tubuhku di jok mobil belakang. Rasanya masih lumayan pusing kepalanya.
" Maaf ya Non. Tadi niat nya Bapak mau menelepon Non Aisyah. Tapi bapak tidak ingat kalau bapak tidak menyimpan nomor ponsel Non Aisyah".
"Iya Pak Herman. Tidak apa-apa".
Jawabku singkat.
__ADS_1