Madu

Madu
Madu Ep.29 (SEASON 2)


__ADS_3

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 286).


Begitu lah arti dari salah satu ayat di Al-Qur'an. Dan itu benar adanya. Aku merasakan nya sendiri. Setelah berhari-hari sempat putus asa dan ingin menyerah. Allah memberikan secerah harapan pada diriku yang lemah ini. Allah langsung menunjukkan kuasa Nya padaku. Aku merasa ingin menyerah, bukan karena aku tidak percaya bahwa pertolongan Allah itu ada. Namun, diriku yang terlalu lemah lah yang membuat aku sering menangis dan putus asa. Setelah dua minggu lebih, bidadariku terbaring tak berdaya. Dengan bantuan dan izin Allah, aku mendapatkan secercah harapan. Aisyah ku sudah mendapatkan donor organ ginjal. Istriku akan segera terbangun dan tersenyum kembali. Lebih dari itu semua, kami akan berkumpul kembali. Aku sudah tidak sabar, melihat kedua bola mata jernih milik istriku terbuka penuh semangat, dan bibir nya tersenyum dengan sangat manis. Putriku Marwah dan Oma nya, juga keluarga mertuaku pasti sangat bahagia mendengar kabar ini. Air mata bahkan tidak terbendung lagi, aku menangis. Kali ini bukan tangisan keputus asaan. Tapi ini adalah air mata harapan. Harapan besar dan penuh dengan doa untuk Aisyah istriku. Aku bahkan langsung tersungkur ke tanah. Sujud syukur aku lakukan begitu ada organ ginjal yang pas dan cocok untuk di transplantasi pada tubuh Aisyah. Orang-orang di rumah sakit melihat dan memandang aneh pada ku yang sedang melakukan sujud syukur. Tidak sedikit dari mereka yang berceletuk dan bisik-bisik. Mereka seperti itu karena tidak tahu.


"Dari Abi Bakrah radhiyallahuanhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bila mendapatkan hal-hal yang membuatnya bergembira atau diberi kabar gembira, beliau bersujud syukur kepada Allah." (HR. Abu Daud dan Tirmizy). Mereka tidak tahu, bahwa ada banyak sekali hikmah dari sujud syukur yang aku lakukan. Tidka hanya itu sujud syukur mampu membuat seseorang senantiasa mengingat Allah dan meyakini bahwa segala hal berasal dari kuasa Allah. Dengan sujud syukur pula, bisa mengingatkan kita dari sifat sombong. Biarlah mereka menganggap aku tidak waras. Kira-kira lima belas menit yang lalu, dokter yang menangani Aisyah mengabariku, bahwa organ ginjal yang akan di transplantasi pada Aisyah sudah di cek dan di teliti dengan sangat hati-hati. Dan hasil nya cocok. Aku harus segera memberikan kabar bahagia ini pada Ibu dan keluarga Aisyah.


Aku bangun dari lantai dan kemudian dengan semangat duduk dan mencari ponsel di saku celana. Rasanya sudah tidak sabar sekali untuk memberikan kabar yang sangat membahagiakan ini. Aisyah ku akan segera sembuh dan pulih. Aku mencari kontak Ibu di daftar. Tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari satu menit. Akun sudah mendapatkan nomor Ibu.


"Tuuuut.... tuuuut...., "


Aku masih menunggu Ibu menerima panggilan dari ku. Kenapa Ibu lama sekali mengangkat nya. Ini baru jam delapan pagi. Belum waktunya Wawa pulang sekolah. Kemana Ibu?. Aku mencoba kembali untuk menelepon nomor Ibu kembali.


"Hallo... Assalamu'alaikum putraku?, "


Suara Ibu terdengar dari seberang sana.


"Ha-hallo Ibu. Ibu kenapa lama sekali mengangkat telepon nya?. Ibu sedang apa?. Ibu sehat kan?. Ibu sibuk?, ".


" Satu-satu tanya nya Fahmi. Ibu bingung mau jawab yang mana dulu. Maaf, tadi Ibu lama menerima telepon nya. Tadi Ibu sedang didepan. Menyiram bunga dan tanaman nak. Ibu sehat kok. Kamu gimana?. Sehat kan putraku?. Bagaimana apa ada..., ".


Suara Ibu tertahan. Bahkan Ibu seperti nya tidak berani melanjutkan pertanyaan nya padaku. Aku yakin, barusan Ibu akan menanyakan tentang keadaan Aisyah. Juga menanyakan apakah sudah ada pendonor yang cocok untuk di berikan pada menantu kesayangan nya itu. Ibu menghentikan ucapannya, karena setiap bertanya pertanyaan yang sama. Jawabannya selalu mengecewakan dan membuat sedih. Mungkin Ibu tidak ingin membuat putranya semakin terpuruk dengan pertanyaan demikian. Ibuku sangat menyayangi Aisyah. Tidak perduli Aisyah adalah seorang Janda ketika menikah dengan putra nya. Ibu bahkan tidak sekali pun membahas atau menyinggung tentang masa lalu menantu nya. Bagi Ibu, Aisyah adalah menantu yang solihah dan sangat baik. Aku sering mendengar, Ibuku selalu bersyukur karena memiliki seorang menantu seperti Aisyah. Ternyata tidak hanya aku saja. Ibu pun merasakan rasanya bahagia karena memiliki Aisyah dalam hidupnya.


"Ada apa Ibu?. Kenapa tidak Ibu lanjutkan pertanyaan nya? ".


" Ohh.. tidak nak. Tadi Ibu lupa mau bertanya apa yah. Oh iya, kamu sudah makan?, ".


" Sudah Ibu. Ibu?, ".

__ADS_1


" Iyah nak. Ada apa?, ".


" Ibu, ada hal penting yang ingin Fahmi sampaikan ke Ibu. Ini tentang Aisyah, ".


Hening. Entah apa yang membuat Ibu menjadi hening. Mungkinkah Ibu sedang memikirkan hal buruk yang akan aku sampaikan. Begitu aku mengatakan hal penting tentang Aisyah, Ibu bahkan tidak mengeluarkan satu kata pun padaku.


" Hikkks... hikkks..., ".


Ibu terisak menangis.


" I-ibu?. Kenapa Ibu menangis?".


"Ibu tidak mampu mendengar berita itu Nak. Kamu mau bilang ke Ibu kan?. Kalau kamu belum juga mendapat pendonor yang cocok untuk menantu Ibu. Hikks.. hikks.. Bahkan Ibu sudah hapal Fahmi. Setiap hari selalu itu yang Ibu dengar dari kamu. Bagaimana nasib Aisyah?. Ibu sudah tidak kuat melihat menantu Ibu merasakan kesakitan tak berdaya selama ber minggu-minggu lamanya".


"Marwah bahkan setiap hari, setiap hari putri kamu menanyakan keberadaan Umi nya. Marwah selalu sedih setiap Ibu bilang bahwa Umi nya masih sibuk. Putrimu sangat kuat Fahmi. Dia tidak menangis, tapi kesedihan tergambar jelas di wajah nya yang polos. Cepatlah nak, cari pendonor untuk Aisyah. Ibu sudah tidak tahan, rasanya seperti ter iris-iris setiap Wawa bertanya tentang Uminya. Hikks.. hikks..., ". Lanjut Ibu.


Ibu mencurahkan segala isi hatinya. Selama Aisyah sakit, Ibu tidak pernah mengeluh. Ibu selalu memberikan support dan doa untuk ku dan Aisyah. Tapi sekuat apapun Ibu, Ibu ku juga seorang manusia biasa. Mungkin hari ini, titik dimana Ibu merasa ingin menyerah. Sama seperti diriku yang jatuh bangun untuk terus bertahan.


"Kenapa malah menangis Fahmi. Bagaimana dengan pendonor organ untuk istrimu?".


" Itu lah Ibu... Itu yang... ".


"Yang apa nak?. Yang apa?, ". Ibu memotong percakapan ku.


" Itu yang ingin Fahmi sampaikan ke Ibu. Ibu, Fahmi sudah.. Hikkks... hikkks... ".


Sungguh, aku tidak kuasa menahan haru. Aku menangis bahagia. Rasanya benar-benar membahagiakan. Aku tidak menyangka. Akhirnya aku akan memberikan kabar bahagia ini juga pada Ibu.

__ADS_1


" Jangan menangis Fahmi. Kamu sudah Apa?. Bicara yang jelas pada Ibu, "


"Fahmi sudah mendapatkan donor organ ginjal yang cocok untuk menantu Ibu yang cantik Bu. Hikks... hikks...".


" Alhamdulillah ya Allah!!. Akhirnya ya Rabb. Engkau kabulkan segala doa yang ku langit kan". Ibu mengucapkan rasa syukur nya sampai sebahagia itu.


"Iya Bu. Allah Maha Baik. Fahmi juga tidak menyangka. Allah akan membantu kita Bu. Aisyah sebentar lagi akan sembuh Ibu. Aisyah akan pulang dan berkumpul kembali dengan kita Bu. Hikks.. hikks... ".


" Nak.. Putraku sayang. Apa orang itu sudah menandatangani berkas dan semua yang di perlukan?".


"Sudah Ibu. Dokter bahkan sudah melakukan segala rangkaian dan prosedur untuk proses transplantasi nya. Dan Dokter yang menangani Aisyah bilang, kalau semuanya cocok dan bisa segera di lakukan operasi transplantasi ginjal untuk Aisyah, ".


" Ya Allah, MasyaAllah. Kapan operasinya akan di lakukan nak?".


"Kemungkinan hari ini juga Ibu. Dokter bilang ke Fahmi, transplantasi harus segera dilakukan. Karena kondisi Aisyah akan semakin menurun jika terus di tunda-tunda. Kira-kira sekitar jam dua belas siang, Aisyah akan melakukan transplantasi organ ginjal nya Bu. Ibu, Fahmi mohon doa kan Aisyah yah Bu. Agar operasi nya lancar dan menantu kesayangan Ibu bisa melewati masa kritis nya".


" Pasti putraku. Doa Ibu tidak akan pernah berhenti mengalir untuk kesembuhan Aisyah. Yasudah, kamu makan dan berdoa sama Allah ya nak. Biar Ibu saja nanti yang memberikan kabar ke orang tua Aisyah".


"Iyah Ibu. Tolong bilang ke Wawa yah Bu. Agar mendoakan Umi dan Abinya".


" Pasti Nak."


"Fahmi tutup dulu telepon nya yah Bu. Fahmi harus mengurus beberapa keperluan lagi. Nanti akan Fahmi kabari lagi Bu. Assalamu'alaikum".


" Baik nak. Waalaikumsalam ".


Telepon di matikan. Rasanya sangat lega sudah memberikan kabar bahagia pada Ibu dan Keluarga yang lain. Meskipun aku tahu, ini belum berakhir. Istriku akan di operasi dan melakukan transplantasi organ ginjal nya. Dan bidadariku harus kuat melewati masa kritis pasca operasi nya. Aku bergegas menuju ruang administrasi untuk melengkapi data yang diperlukan.

__ADS_1


"Ya Allah, kuatkan istriku. Sehatkanlah dia. Angkat penyakit ganas dari jasmani nya. Aamiin". Doaku di sela-sela menunggu.


Aku percaya. Setelah kesulitan akan ada kemudahan. Itu janji Allah. Dan Allah tidak akan mengingkari janji Nya. Seperti dalam Surat Maryam ayat 4: “Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku’.”. Benar, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba Nya.


__ADS_2