
Dua bulan berlalu, kehidupan pernikahan yang semakin renggang. Tak ada lagi sentuhan panas, masakan yang enak, dan bermesraan. Agas sudah berkali-kali membujuk Sella tapi yang ia dapat hanya sebuah ucapan pedas.
Ia tau mau sampai menangis darah pun tak akan mampu mengembalikan keadaan dan memperbaiki hati Sella yang sangat terluka. Agas tak bisa mengontrol semua ini, Laras pun dari hari ke hari hanya bisa berbelanja.
"Kurangkan belanja mu itu, Laras. Contohlah Sella," ucap Agas melirik Sella.
"Apa, Mas? namanya juga perempuan," balas Laras kesal.
"Mau kamu tomboy sekalipun gunakan uangmu dengan baik. Jika aku masih melihat kamu belanja baju lagi jangan harap aku transfer bulanan."
"Mas tuh ya! Sella terus. Aku udah ngalah uang bulananku kecil," pekik Laras.
"Jaga sikapmu, Laras. Disini kamu hanya menumpang setelah mau mati atapun hidup tak ada yang peduliin. Yang penting kau enyah dari pandanganku," ucap Sella jengah melihat kelakuan sok nyonya dari Laras.
"Harusnya kamu yang mati," balas Laras sinis.
"Dunia tak membutuhkan binatang dengan spesies pelakor," kekeh Sella mengambil lagi nasi. Selama hamil porsi makannya memang meningkat.
Agas tersenyum menatap Sella. Setiap ingin ikut chekup Sella menolak dan ingin ke rumah sakit sendiri. Saat pulang baru ia akan menanya bagaimana keadaan bayi mereka.
"Dengar itu, Laras. Bukan berarti kamu hamil bisa seenaknya disini," ucap Agas.
Laras yang merasa di pojokkan membanting garpu pergi meninggalkan meja makan dengan perasaan dongkol.
__ADS_1
"Sayang... "
"Hm?" gumam Sella.
"Ayo kita mulai semua dari awal." Sella tertawa hambar, Agas begitu mudah mengatakan kalimat itu.
"Sudah berapa kali kamu ajuka kalimat itu? aku udah capek. Dulu kamu juga gitu sekarang terjadi lagi."
"Sayang, tunggu dulu," ucap Agas mengejar Sella.
Grepp
Agas langsung memeluk Sella menumpahkan segala kesedihan yang ia tahan selama ini. Ia ingin kembali sesaat mereka masih bersama, bahagia bersama, dan selalu melakukan apapun bersama.
"Mas mohon, Sayang... maafkan Mas," lirih Agas menahan tubuh Sella yang memberontak.
Agas melepaskan pelukannya. "Mas takut kamu meninggalkan, Mas."
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekang kamu juga bukan milikku seorang, lebih baik kamu fokus ke Laras dana anakmu," ucap Sella kesal.
"Dia juga anak Mas. Punya Mas juga." Agas mengusap perut buncit sang Istri bahkan kini ia tak bisa seluasa dulu menyentuh calon anaknya.
"Terserah kamu. Aku mau beli jajanan diluar."
__ADS_1
"Mas temani ya," ucap Agas mengapit tangan Sella.
"Aku bisa sendiri kok."
"Aku mau temani kamu," tegas Agas. Sella hanya bisa pasrah. Jarak rumah dan taman memang tak terlalu jauh jadi masih bisa di tempuh dengan jalan kaki.
"Seblak ya Mas, pedes," ucap Sella.
"Jangan pedes, Bang," ucap Agas.
"Ish, Kamu?! Pedes aja Mas saya lagi pengen," decak Sella kesal.
Agas menatap penjual seblak tajam. "Istri saya sedang hamil nggak baik makan pedas jadi tolong buatkan tapo dengan satu sendok sambal saja."
"Nggeh."
Bumil cantik itu merengut kesal membuang wajahnya tak mau menatap Agas.
"Hei, Sayang... maaf tapi kamu lagi hamil. Mas nggak mau kamu sakit dan baby juga ikut sakit nanti," jelas Agas lembut.
"Mas itu nggak ngerti ya? aku lagi ngidam pengen seblak yang pedes. Tau gitu aku nggak usah ajak kamu kesini," ucap Sella bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dengar, Sayang. Mas sayang kamu, jadi Mas nggak mu sesuatu terjadi sama kamu dan baby." Agas menahan senyum saat tau Sella tak sadar memanggilnya dengan 'Mas'
__ADS_1
***
mecha bck jgn lupa like vote nya kritik blh pake bahasa yg baik ya