Madu

Madu
Episode 48


__ADS_3

Aku melihat mobil milik mas Fatih datang memasuki pelataran rumah. Aku bergegas menuju kedepan untuk menyambut nya. Dua hari ini aku tidak bisa tidur, sangat cemas dan khawatir kemana perginya mas Fatih yang tanpa kabar dua hari yang lalu. Sangat menyedihkan, apa sampai segitunya dia marah padaku sampai pergi meninggalkan rumah. Ini pertama kalinya selama pernikahanku mas Fatih bersikap demikian.


"Mas baru pulang?, dari mana saja dua hari menghilang tidak pulang rumah tanpa kabar mas?,".


"Habis cari udara segar, sumpek di rumah,".


"Mas bertemu dengan siapa mas?,". Aku mulai khawatir dan cemburu.


"Dengan teman,". Mas Fatih menjawab datar sambil meninggalkanku.


"Siapa mas?, perempuan?,". Aku membuntuti mas Fatih.


"Bukan, Alex teman sekantorku. Sudah jangan ganggu dulu dik. Aku capek, pengen tidur,". Mas Fatih tiba-tiba mengunci pintu kamar sedang aku didorong nya untuk keluar dari kamar.


Perih sekali rasanya diperlakukan seperti itu. Belum apa-apa mas Fatih sudah sangat berubah sikapnya padaku. Apalagi jika sudah sah menikah dengan Siska. Dan nama Alex, Mas Fatih pernah sedikit menceritakan tentang teman satu kantor nya itu yang juga bawahannya. Bukankah mas Fatih paling menghindari berkomunikasi intens dengan Alex???. Lalu kenapa mas Fatih jadi sangat dekat dengan Alex?, bahkan sampai bertemu dengannya hingga tidak pulang kerumah. Ya Allah jaga mas Fatih dari pengaruh buruk temannya ya Rabb, doaku lirih.


Aku duduk di teras depan. Memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat depan rumah. Hatiku masih sakit mendapat perlakuan sekasar itu oleh mas Fatih. Aku masih terus memikirkan Bunda, kenapa Bunda bisa sekejam itu padaku. Bahkan setiap hari aku mengingat-ingat, apakah ada sikapku yang salah atau keterlaluan pada Bunda, tapi tidak, aku bahkan menghormati Bunda dan menyayangi Bunda seperti ibu kandung sendiri.


Handphoneku berbunyi, aku melihat ternyata ada pesan dari Umi. Aku langsung sigap membuka pesan itu.


Dari Umi:


"Assalamualaikum kak Aisyah?, kakak apa kabar?, sehat kan kak?. Kak, beberapa hari ini perasaan Umi tidak enak kak, beberapa kali pula Umi memimpikan kak Aisyah, didalam mimpi itu, umi melihat kak Aisyah sering menangis kak. Di Jakarta tidak ada apa-apa kan kak?, kakak dan nak Fatih tidak ada masalah apapun kak?, baik-baik saja kan kak?,".


Hatiku hancur membaca pesan dari Umi. Aku tak sanggup membendung air mataku. Benar-benar hubungan antara seorang ibu yang melahirkan anak nya itu sangat dekat. Bahkan Umi sampai merasa tidak enak perasaannya hingga memimpikan putrinya. Aku harus membalas apa?, aku tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Umi. Hati Umi akan hancur. Tangisku pecah.


"Umi... Aisyah hancur disini Mi, Aisyah hancur Mi. Aisyah akan memiliki adik madu Mi, Aisyah akan membagi suami Aisyah dengan perempuan lain Mi. Tolong Aisyah Mi,". Ucapku di sela-sela tangisku.


Aku harus membelas pesan Umi, pasti Umi sangat khawatir padaku. Aku menyeka air mataku dan mulai menggerakkan jari untuk membalas pesan dari Umi.


Untuk Umi:

__ADS_1


"Waallaikumussalam Umi sayang. Alhamdulillah Umi, Aisyah disini baik-baik saja Mi, tidak ada masalah apa-apa di Jakarta Mi. hubungan Aisyah dengan mas Fatih juga baik-baik saja Umi. Umi jangan kepikiran yang macam-macam ya Mi. Umi, Abi, dan Aldi gimana kabar nya?, maaf yah Mi, Aisyah belum bisa main ke Solo,". Aku membalas pesan kepada Umi.


Aku dengan sangat terpaksa berbohong dengan Umi. Aku tidak ingin membuat Umi kepikiran masalah ini. Aku ingin Umi dan Abi tetap bahagia di Solo. Air mataku masih menetes. Bagaimanapun caranya masalah ini jangan sampai Umi dan Abi tahu, apalagi tentang Bunda mertua yang menyebabkan rumah tanggaku dan mas Fatih jadi hancur.


Dari Umi:


"Syukurlah kak, kalau kak Aisyah dan nak Fatih baik-baik saja disana. Semoga selalu bahagia ya kak. Ngga papa, nanti kapan-kapan saja kak main ke solo nya. Alhamdulillah kami semua disini sehat dan bahagia kak. Jangan lupa selalu sertakan Allah di setiap masalah ya kak,". Umi membalas pesan dariku.


Untuk Umi:


"In syaaAlloh Mi, alhamdulillah kalau Umi, Abi, dan Aldi sehat dan bahagia. Nggih Umi, In syaaAlloh selalu Aisyah ingat pesan Umi, kakak rindu Umi,". Balasku kepada Umi.


Maafkan Aisyah Mi, Aisyah membohongi Umi dan Abi.


"Non, di panggil den Fatih,". Tiba-tiba Bi Dar menghampiriku dan memberi kabar bahwa mas Fatih memanggilku.


"Iya bi, nanti Aisyah masuk,". Jawabku.


Ada apa mas Fatih tiba-tiba memanggilku?, apa dia mau meminta maaf karena telah kasar padaku?, kenapa tidak mas Fatih saja yang menghampiriku seperti biasanya?!. Astaghfirullah..., tenangkan hatimu Aisyah,ucapku lirih. Aku menyeka air mataku dan segera mendatangi mas Fatih.


"Iyah dik, duduk dik,".


"Ada apa mas?,". Tanyaku sambil duduk di samping nya.


"Dik, mas mau beli perhiasan. Antar yuk dik,".


"MasyaAlloh, mas... Aisyah tidak ingin beli perhiasan mas. Cincin kawin dari mas juga sudah lebih dari cukup buat Aisyah mas,".


"Oh bukan dik, ini bukan buat kamu,".


"Oh begitu, untuk siapa mas jika bukan untuk Aisyah?,". Tanyaku dengan hati yang teriris, sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Untuk calon istri muda mas dong. Kamu gimana si?, lupa ya?, beberapa hari lagi kan mas mau nikah lagi. Mas mau belikan perhiasan yang lebih indah dan mahal dari pada yang pernah mas kasih buat kamu dulu,". Aku tau ucapanku ini akan menyakiti hati Aisyah. Aku tidak perduli, aku ingin dia merasakan sakitnya hatiku ketika di paksa untuk menikah lagi.


"Oh yasudah mas. Mau kapan mas?, nanti Aisyah antar mas cari perhiasan nya,". Jawabku dengan senyum yang sangat terpaksa. Sungguh hatiku sangat sakit, sakit sekali rasanya.


"Nanti habis maghrib yah. Kamu siap-siap dik,". Aku memperhatikan Aisyah yang berusaha membendung air matanya, dia memaksakan tersenyum padaku. Aku tau hatinya hancur. Tapi mulai sekarang aku harus belajar mencintai Siska. Lagi pula sepertinya Aisyah memang benar-benar punya selingkuhan. Buktinya sampai sekarang password handphone nya masih tidak aku ketahui.


"Iya mas Fatih. Aisyah pamit dulu ya mas. Mau kedapur,". Aku pamit ke mas Fatih, aku menuju dapur dan menuangkan air dingin ke gelas. Rasanya dadaku benar-benar sesak. Astaghfirullah..., berkali-kali aku mengucapkan istighfar. Kenapa semenyakitkan ini ya Allah.


"Non?, mau bikin sesuatu?,". Tiba-tiba Bi Inah menawarkan padaku.


"Ngga Bi, Bibi?, bisa temani Aisyah duduk di teras belakang?, Aisyah sedang butuh teman,".


"Bisa non bisa,". Jawab Bi Inah sembari membuntutiku menuju teras belakang rumah.


"Bibi, bisa ambil satu tangkai bunga itu Bi?,".


"Ini non,". Bi Inah menyodorkan setangkai bunga itu padaku.


"Bi, coba bibi cabut satu per satu kelopak bunga itu Bi,". Pintaku pada Bi Inah yang langsung menuruti permintaanku tanpa bertanya.


"Sudah non,".


"Sekarang bibi remas sisa tangkai itu Bi,".


"Sudah non,".


"Bi, seperti setangkai bunga itu lah Aisyah sekarang Bi. Ibarat bunga, Aisyah di petik dari kedua orang tua Aisyah, kemudian sekarang Aisyah di hancurkan perlahan, hingga rasanya hampir mati Bi,". Air mataku menetes membasahi pipiku.


"Innalilahi non Aisyah,". Tiba-tiba Bi Inah ikut menangis dan memelukku erat.


"Hiks..., hik..., hiks..., bibi,".

__ADS_1


"Non, perbanyak istighfar. Gusti Allah ga tidur non. Non Aisyah orang baik. Allah pasti bantu. Non Aisyah kuatkan hati ya non,".


Aku masih saja menangis, angin sore menerpa wajahku yang basah karena air mata. Hatiku tiap hari di hancurkan perlahan. kuatkan Aisyah ya Allah...


__ADS_2