
Aku dan mas Fahmi sampai di Jakarta sekitar pukul sebelas siang. Kami berdua memutuskan untuk berhenti disalah satu masjid. Setidaknya untuk melepaskan lelah dan beristirahat sebentar. Jakarta, masih sama seperti dulu. Macet dimana-mana, panas sudah pasti jadi bumbunya. Rasanya hanya mimpi dan terlalu berlebihan, ketika menginginkan kota Jakarta bebas dan bersih dari kata macet dan kemacetan. Faktanya Macet dan banjir sudah seperti menjadi icon semboyan untuk kota metropolitan ini. Aku teringat waktu pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, rasa-rasanya semua yang aku lihat saat itu benar-benar menakjubkan. Keramaian yang tidak pernah ada sepinya, kelap-kelip lampu jalanan ketika malam, kemacetan dari pagi hingga pagi lagi, serta tentunya bangunan-bangunan pencakar langit yang begitu sangat tinggi. Hampir jarang sekali aku lihat ada sebuah taman kecil misalnya. Yang terlihat selalu gedung, gedung, dan gedung. Membosankan sebenarnya, tapi bagi aku yang baru pertama ke Jakarta, melihat banyak gedung-gedung megah dan mewah, menjulang tinggi menjadi pemandangan yang langka kala itu. Tapi untuk sekarang, jelas berbeda. Aku bahkan sudah bosan dengan yang namanya terjebak macet. Tingkat suhu di Jakarta juga jauh dua kali lipat dibandingkan di Solo atau Yogyakarta. Jakarta sangat panas, asap kendaraan kadang membuat sesak nafas dan menyakiti dada.
"Dik, setelah shalat makan dulu saja yah?,". Mas Fahmi bertanya padaku, kasian dia. Nampaknya dia sangat kelaparan. Pasti sangat capek sekali perjalanan jauh Yogjakarta ke Jakarta.
"Mas lapar?, maafkan Aisyah yah. Aisyah malah asik ketiduran saat dalam perjalanan,". Kebiasaan lama tidak pernah hilang. Selalu dan selalu tidak pernah tidak, yang namanya Aisyah pasti akan tidur ketika didalam mobil dan sedang dalam perjalanan.
"Tidak apa sayang, mas ngerti. Lagian kan Aisyah juga capek. Wajar kalau sampai ketiduran,".
"Mas emang mau makan apa?,". Tanyaku pada suamiku.
"Apa yah?, nyari sop kaki kambing khas Jakarta saja yuh dik. Kamu mau ngga?. Sepertinya panas-panas begini, nikmat kalau makan yang seger-seger dan panas,".
"Wahhh..., boleh mas. Aisyah juga pengen. Jelas mau banget dong. Aisyah belum pernah coba. Hehehe...,".
"Hah?!, serius dik kamu belum pernah coba sop kaki kambing Jakart,". Mas Fahmi seperti kaget dan tidak percaya mendengar apa yang baru saja aku ucapkan.
"Iyah mas, Aisyah belum pernah coba. Iiih, mas kenapa si?. Kok responnya begitu,".
"Ya sama dong, mas juga belum pernah coba dik. Hahaha...,".
"Yeeeee..., ngeselin emang deh,". Ucapku pada mas Fahmi.
Aku dan suamiku duduk diteras masjid yang sangat besar. Masjid ini benar-benar sangat indah. Terasnya begitu nyaman dan tidak panas. Mas Fahmi dan aku berdiskusi bahkan sesekali bercanda sembari menunggu adzan shalat dzuhur dikumandangkan.
"Melelahkan juga ya mas?,".
"Hehehe..., iya dik. Rasanya mas ingin tidur sebentar deh,".
"Iya juga yah, mas bahkan belum tidur sama sekali. Malah Aisyah yang tidur terus ya mas,".
"Nanti deh, setelah shalat dzuhur. Sebelum kita makan yah dik. Mas mau tidur dulu sebentar. Ngantuk banget deh matanya,".
"Iya boleh ngga papa mas. Lagi pula sudah tidak terlalu jauh rumahnya. Oh iya mas, kita bahkan belum mencari penginapan yah mas. Astaghfirullah,".
"Iya juga yah dik. Gampang lah nanti kalau sudah ketemu dengan keluarga mantan mertua kamu dik. Pulang dari sana saja kita cari penginapan,".
"Mas?,". Panggilku pada mas Fahmi.
"Iya sayang?,".
"Apa mas Fahmi takut kehilangan Aisyah?,". Tanyaku ragu.
"Haruskah mas jawab dik?. Rasanya tanpa mas jawab pun, kamu tahu jawabannya dik,".
"Lalu?,". Aku tidak sabar menunggu jawaban mas Fahmi.
"Teramat sangat takut kehilanganmu dik Aisyah. Kamu jangan pergi jauh-jauh yah. Tetap jadi milik mas, dan selalu disamping mas,".
"MasyaAlloh, bismillahirrahmanirrahim. Aisyah akan selalu berusaha untuk berada disamping mas Fahmi,".
"Jazakillahkhoyr sayang,".
Allah hukakbar.... Allah huakbar....
Suara adzan dzuhur akhirnya terdengar ditelingaku. Aku mengucapkan syukur, karena masih diberikannya kesehatan oleh Allah. Aku dan mas Fahmi berpisah. Berjalan ke tempat wudhu masing-masing dan menunaikan shalat dzuhur berjamaah. Shalat berjamaah telah selesai, sedang aku duduk di teras depan masjid, sembari menunggu suamiku keluar dari dalam masjid. Aku memandangi lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang hilir keluar masuk masjid. Ah, rasanya jadi sangat rindu bulan suci ramadhan.
"Dik?, lama yah nunggu nya?,".
"Oh, engga mas. Sudah selesai?. Katanya mau tidur dulu sebentar?,".
"Iya ini mau tidur dulu dik. Dik sayang, boleh pinjam paha nya?. Mas ingin tidur,".
"Iyah mas. Tidur saja,". Ucapku sembari tersenyum.
"Terimakasih istriku,".
Aku melihat mas Fahmi yang langsung terlelap di pangkuanku. Hidungnya sangat mancung sekali, alis matanya begitu tebal. Kulit wajah nya bersih dan putih. Seperti orang-orang yang menjalankan perawatan wajah. Aku mengelus-elus lembut rambutnya. Suamiku, laki-laki yang luar biasa. Semakin hari aku semakin jatuh hati dan sangat mencintainya. Berkat kegigihan mas Fahmi, aku bahkan mulai sedikit-sedikit lupa dengan masa laluku. Semoga dengan datangnya aku menemui mas Fatih dan Bunda nya, bisa membuatku jauh lebih mudah untuk melepaskan dan menghapus segala hal tentang mereka. Nampaknya suamiku benar-benar sangat kelelahan. Dia tidur begitu sangat pulas. Semilir angin dari sela-sela ukiran masjid sangat menyejukkan sekali. Aku tidak pernah bosan, memandangi dan mengelus rambut mas Fahmi. Ternyata benar saja, buat kesabaran dan keikhlasan itu ada. Aku merasakan sendiri, mas Fahmi lah buah dari kesabaran dan keikhlasanku dulu menghadapi mantan suamiku mas Fatih.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, mas Fahmi belum juga bangun. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Suamiku benar-benar sangat kelelahan. Sejujurnya, pahaku sudah kesemutan karena menahan kepala mas Fahmi terlalu lama. Tapi aku coba untuk tahan dan terus membiarkan mas Fahmi bangun dengan sendirinya. Benar saja, tidak lama mas Fahmi bangun dari posisinya, dan duduk disampingku. Dia masih setengah tidak sadar nampaknya. Masih bingung entah sedang ada dimana. Ternyata efek lelah bisa membuat orang menjadi pelupa.
"Dik?, mas tidur terlalu lama ya?,".
"Tidak apa mas. Lagi pula Aisyah juga sudah banyak tidur selama diperjalanan tadi,".
"Maafkan mas yah. Kamu jadi capek,".
"Ngga papa mas. Aisyah seneng bisa jagain mas lagi tidur,".
"Sayang?, mas ngga ngorok kan yah tadi tidur nya?,".
"Hah?, haha... Sejak kapan mas kalau tidur ngorok?,".
"Ya ngga gitu dik. Setahu mas, orang kalau sedang kecapaian nanti tuh tidurnya jadi ngorok gitu. Makanya mas tanya sama kamu dik,".
"Ngorok nggak yah?,".
"Yeeee..., mas serius ih. Kan malu dik kalau sampe terdengar orang. Astaghfirullah,".
"Iya-iya engga kok mas. Mas Fahmi ngga ngorok dan ngga ngiler,". Aku cengengesan.
"Mas anti ngiler-ngiler club. Kecuali kalo kepepet. Hehehe,".
"Ya sama aja,". Jawabku sekenanya.
"Iya-iya deh. Eh dik, kayanya kita makannya nanti saja deh. Sekalian cari penginapan,". Tiba-tiba suamiku merubah rencana makannya.
"Loh, kenapa mas?. Bukannya mas sangat lapar?. Kok malah ditunda?. Ngga papa ayok makan dulu mas,". Aku khawatir dong, Mas Fahmi bahkan belum makan selama diperjalanan tadi. Paling-paling hanya ngemil beberapa snack ringan saja.
"Ngga papa, biar cepat selesai dik hajat kita. Kan membantu orang harus segera dilakukan,".
"Tapi mas beneran ngga papa?. Nanti sakit loh?,". Aku mencoba meyakinkan lagi.
"Iyah ngga papa sayang. Yaudah yuk, langsung kerumah Bunda mantan suami kamu dik,".
Mobil yang terparkir didepan pelataran masjid, akhirnya perlahan meninggalkan masjid yang sangat megah dan nyaman ini. Mas Fahmi mengendarai mobilnya untuk segera meluncur kerumah mantan Bunda mertuaku. Sepanjang jalan, aku berusaha untuk istighfar tanpa ada lelah dan tanpa henti. Aku berdoa, agar niat baikku dan suamiku Allah mudahkan. Tentunya, aku juga harus menguatkan hatiku dan perasaanku. Sebentar lagi, aku akan memasuki gerbang masa lalu yang telah aku usahakan untuk tidak diingat, alias dilupakan. Badai pasti berlalu, apalagi saat ini aku ditemani oleh partner hidupku. Aku kuat karena bersama mas Fahmi. Jujur, sampai detik ini aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya dirasakan oleh mas Fahmi suamiku. Yang aku lihat, dia sangat tenang dan benar-benar biasa saja. Bergemuruh kah hatinya karen menahan rasa sakit dan cemburu?, bersedihkah jiwanya karena hari ini, perempuan yang sangat dicintainya akan bertemu lagi dengan laki-laki yang dulu pernah menjadi suaminya?. Apapun itu, aku percaya mas Fahmi kuat dan tentunya sangat dewasa dan baik.
"Hey, kok melamun istriku?,".
"Eh, ngga papa mas. Maaf,".
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?, ada apa?,". Tanya mas Fahmi yang sepertinya sangat khawatir padaku.
"Enggak mas, Aisyah tidak apa-apa. Hehe..,".
"Beneran?,".
"Beneran mas Fahmi yang cerewet,". Candaku padanya.
"Yasudah deh, kalo mas cerewet kamu apa dong dik?,". Aku melirik kearah suamiku, dia tersenyum sangat indah sekali. Bahagianya sangat sederhana, bahkan meledekiku pun bisa membuat senyum tulusnya keluar dan merona menghiasi wajahnya yang tampan. Bersyukur sekali aku memiliki mas Fahmi. Dia laki-laki yang mau menerima aku apa adanya. Bahkan dia begitu sabar menghadapiku yang sering berubah-ubah mood dan perasaan nya. Mas Fahmi tidak banyak menuntut. Dia selalu mengikuti arah, dan tentunya tidak terbawa arus.
"Aisyah triple cerewet mas. Sudah puaskan?,". Ucapku dengan nada yang dibuat-buat seolah sedang ngambek.
"Hahaha, masyaAlloh dik. Kamu ini menggemaskan sekali sayang. Mas seperti punya anak kecil,".
"Aisyah kan memang masih kecil mas. Buktinya masih menggemaskan dan sangat imut kan?. Awas loh kalo bilang engga,". Ancamku pada mas Fahmi.
"Duh, kena ancam deh. Jadi bingung mau jawabnya,".
"Iiiihhh mas Fahmi,". Kali ini aku benar-benar cemberut dan mencubit perut mas Fahmi.
"Eh dik, jangan gitu. Mas lagi nyetir mobil ini loh. Bahaya ih. Hehehe,". Ucapnya sambil terus tertawa-tawa.
Aku diam dan kembali memandangi jalanan disamping kiriku. Banyak sekali lalu lalang orang-orang yang entah, sedang apa. Mereka seperti robot-robot manusia, yang otomatis bekerja dengan sendirinya. Aku hanya bisa berharap, semoga mereka tidak pernah lalai dengan yang menciptakannya. Kesibukan adalah hal yang paling banyak menjauhkan manusia dengan sang pencinta nya. Manusia selalu saja mengatakan, lupa, tidak sempat, nanti saja dan lain sebagainya. Dan ketika Allah telah menegurnya dengan ujian yang begitu berat, barulah manusia akan mengingatk penciptanya. Nauzubillah, semoga aku diberikan kekuatan untuk selalu belajar menjadi lebih baik bersama orang-orang yang kucintai. Sepahit apapun jalannya. Pasti akan bisa dilalui.
"Dik, dari lampu merah ini kemana?,". Tanya mas Fahmi tiba-tiba padaku.
__ADS_1
"Habis lampu merah ini, nanti mas ambil kanan mas. Terus ngikutin jalan sampai ketemu lampu merah kedua. Perumahannya ada di sebelah selatan lampu merah yang kedua mas,".
"Jarak dari lampu merah ini ke lampu merah yang kedua, apa masih jauh?,".
"Sepertinya tidak mas. Paling-paling ngga sampai lima belas menit kita jalan, bakal keliatan lampu merah lagi kok,".
"Yasudah, nanti kamu ingatkan mas lagi ya dik. Takut mas kelupaan dan mbablas. Nanti susah putar baliknya lagi dik,".
"Oh iya yah mas. Jalur sebelahnya juga sepertinya mulai macet sekali,".
"Nah iya dik, makanya. Kamu jangan tidur dulu ya. Hahaah, nanti kita mbablas,".
"Iiiihh mas Fahmi, jangan gitu dong. Mentang-mentang Aisyah sering tidur di mobil,".
"Hehe..., iya sayang mas hanya bercanda kok. Dari pada pusing ya kan?,".
"Tapi masa Aisyah terus yang diledekin?,". Tanyaku kesal.
"Lah?, hehehe. Yasudah sok sekarang gantian Aisyah yang ledekin mas deh. Pasrah mas mah juga,".
"Ledekin apa coba mas?, mas mah ga ada yang bisa dijadikan bahan ledekan buat Aisyah,".
"Ada kok dek. Serius deh ada,".
"Apaan itu mas?,". Aku penasaran. Karena dimataku, mas Fahmi itu hampir mendekati sempurna.
"Ganteng, ledekin aja mas ganteng, mas ganteng, mas ganteng gitu dek,".
"Iiiihhh mas mah. Kirain ada beneran,".
"Sudah-sudah, kita fokus lagi ke jalanan, biar ngga kelebihan,". Perintah mas Fahmi padaku.
"Iyah deh iya,". Ucapku sembari tersenyum bersama suamiku.
Cuaca sangat terik. Aku sangat yakin, diluar sana pasti sangat panas sekali. Matahari dengan semangatnya menyengat kulit-kulit manusia. Manusia pun bahkan sudah terbiasa dengan sengatan matahari yang bahkan mampu membuat gosong kulit. Ada banyak sekali gedung-gedung tinggi, namanya juga Jakarta. Pastilah akan didapati banyak bangunan-bangunan besar dan tinggi menjulang. Bangunan itu bahkan tidak memberikan sedikitpun tempat bagi pepohonan yang juga ingin tumbuh berdiri. Pantas saja, sirkulasi nya sangat panas begini. Pun pohon-pohon yang ada bahkan sampai bisa dihitung oleh jari.
"Mas, ini lampu merah kedua. Nanti mas ambil kiri. Terus langsung masuk ke gerbang utama perumahan nya,". Aku mengingatkan suamiku agar tidak kebablasan.
"Oh iya dik, ini mas ambil kiri,".
Mobil yang kunaiki dengan suamiku, kini berbelok dan masuk menuju gerbang utama perumahan mewah dan megah. Dulu aku sangat shock dan kaget melihat banyak rumah-rumah bahkan seperti istana diperumahan ini pertama kalinya. Aku mengarahkan suamiku menuju rumah Bunda mantan mertuaku dulu. Tidak jauh dari pintu gerbang utama, rumah Bunda bahkan bisa dibilang strategis. Bagi yang baru pertama kali memasuki perumahan mewah ini, tidak akan bingung ketika mencari rumah Bunda.
"Mas, ini rumah Bunda mantan suami Aisyah,".
"Oh, baik dik,".
Mas Fahmi, membelokkan dan memarkirkan mobilnya didepan rumah Bunda. Aku turun mendahului mas Fahmi. Dan mengetuk pintu rumah Bunda. Tidak lama, mas Fahmi menyusulku.
"Maaf siapa yah?,". Tanya salah satu asisten rumah tangga. Mungkin orang baru. Pikirku.
"Permisi, bisa bertemu dengan Bunda dr.Layla?,".
"Maaf, tidak ada nama itu disini. Mungkin itu penghuni lama. Sekarang rumah ini sudah dibeli oleh Pak Hendroto,".
"Oh begitu, baik mbak. Terimakasih banyak,".
Aku dan mas Fahmi saling pandang. Bingung harus bagaimana. Ternyata Bunda sudah menjual rumah ini.
"Dik?, gimana?,". Mas Fahmi cemas.
"Mas, masih ada satu rumah lagi. Dulu itu rumah Aisyah dengan mantan suami Aisyah. Siapa tahu Bunda ikut putranya,". Ucapku pada mas Fahmi.
"Syukurlah, ayok dik. Kita langsung menuju alamat rumah kamu dulu,".
"I-iya mas Fahmi,". Aku gugup. Tidakkah sakit hatimu mas Fahmi?. Maafkan Aisyah mas, tidak bisa menjaga perasaan mas.
Aku dan suamiku menuju kerumah mas Fatih. Semoga mereka masih disana dan tidak pindah rumah.
__ADS_1