Madu

Madu
Madu Ep.18 (SEASON 2)


__ADS_3

Bagaikan ruangan. Berdiri kokoh dan gagah, namun tak berpenghuni. Kosong melompong dan sunyi sepi mencekam. Beginilah kondisi hatiku dan orang-orang yang mencintai Bapak mertuaku. Sudah sembilan hari, Bapak mertuaku belum juga sadar dari masa koma nya. Ruangan ICU seakan sudah menjadi rumah kedua bagi kami. Suasana mencekam menjadi bumbu yang sangat sedap diruangan ini. Bagaimana tidak, bukan hanya Bapak mas Fahmi yang sedang berjuang menentukan nasibnya antara hidup dan mati. Namun orang-orang lainnya pun sama. Meskipun dengan kasus yang berbeda, maksudnya bukan mengalami kecelakaan seperti Bapak mertuaku. Kadang, jerit tangis keluarga pasien sering terdengar. Ketika orang yang dicintainya memilih menyerah dan kembali kepada Rabb nya. Raungan, jeritan, dan emosi membuat hatiku menjadi ciut. Benar-benar mengiris-iris hati. Memang mematikan sekali kehilangan seseorang yang amat sangat dicintai. Apalagi untuk selamanya, tidak akan ada yang mau kehilangan seseorang yang dicintai untuk selamanya. Termasuk diriku sendiri. Lisanku tidak pernah kering tanpa doa untuk Bapak mertuaku yang sedang berjuang seorang diri, serta doa untuk orang-orang yang kucintai. Manusia memang hanya bisa berusaha semampunya, selebihnya pasrahkan kepada Allah. Kadang, ketika mendapatkan jadwal untuk menjaga bapak mertuaku, air mataku sering menetes. Hingga cadar yang kugunakan sering sekali basah. Benarlah manusia itu harus banyak-banyak mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian. Melihat bapak yang terbaring tanpa bergerak sedikitpun membuatku nelangsa. Bukan apa-apa, aku nelangsa. Karena diriku sendiri pun tidak tahu kapan, kenapa, dan dimana akan Allah jemput untuk pulang mengahdap Nya. Yang lebih mengerikan lagi dari kematian itu sendiri adalah, siksaan pedih dihari pengadilan kelak. Begitu banyak dosa dan kesalahan yang kuperbuat. Sedangkan kematian datang tanpa menunggu taubat. Tidak bisa dibayangkan sedikitpun akan bagaimana nanti nasibku?. Beristighfar sebanyak-banyaknya, berdzikir sesering mungkin adalah hal yang terus aku lakukan selama menjaga Bapak mertuaku. Ruangan ini bersih, tapi sangat mencekam. Karena benar-benar tidak boleh bersuara terlalu keras atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan dan prosedur.


Kondisi Ibu mertuaku juga masih naik turun belum sepenuhnya stabil. Terkadang Ibu menangis, terkadang juga bisa berusaha untuk menerima kenyataan. Tidak mudah memang, menerima kenyataan yang begitu pahit. Butuh waktu dan itu tidaklah sedikit. Seikhlas apapun manusia, tetap saja ada kesedihan dan air mata. Hari ini tepatnya tanggal satu Januari 2016, aku mendapatkan tugas untuk menjaga Bapak suamiku diruang ICU. Sedang suamiku mas Fahmi baru saja pulang dari RS setelah tadi malam sudah menunggu dan menjaga bapak. Aku menyuruh mas Fahmi untuk membawa pulang Ibu bersamanya. Mas Fahmi dan Ibu pulang kerumah Ibu dan Bapak, bukan kerumahku dengan mas Fahmi. Rumah kami dibiarkan kosong dan sepi. Untuk saat ini, aku juga tidur dirumah Ibu. Menemani Ibu dirumah bergantian dengan mas Fahmi. Suamiku pastilah sangat lelah, bagaimana tidak?, pagi dia kerja dikantor malam nya dia di RS untuk menjaga Bapak. Seperti tidak ada waktu untuk istirahat.


"Permisi mbak, saya mau kasih obat untuk Bapaknya dulu yah,". Tiba-tiba seorang perawat perempuan datang dan menyuntikkan beberapa obat melalui selang infus Bapak.


"Oh iya mbak silahkan,". Jawabku padanya.


"Baik sudah selesai mbak. Tadi ada dua jenis obat yang diberikan pada Bapak yah mbak,". Jelas perawat itu padaku.


"Suster?, bagaimana keadaan Bapak mertua saya?,". Tanyaku cemas.


"Untuk saat ini masih seperti ini mbak. Banyak-banyak berdoa saja. Agar bapak bisa melewati masa koma nya,".


"Angka prosentase untuk bisa melalui masa komanya berapa mbak?,". Tanyaku lagi.


"Kalau itu hak dan wewenang dari dokter yah mbak. Saya perawat tidak bisa memberikan informasi mengenai itu. Silahkan nanti mbaknya tanya ketika ada dokter visit nanti siang yah. Ada yang mau ditanyakan lagi mbak?,".


"Oh, baik mbak. Tidak ada mbak. Terimakasih banyak mbak,". Ucapku pada suster yang baru saja memberikan obat pada Bapak.


"Baik jika tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi ya mbak, selamat pagi,".


"Iya mbak silahkan, pagi juga mbak,". Jawabku.


Aku terus memandangi wajah Bapak mertuaku. Bapak sangat tampan, pantas saja putranya juga sangat tampan. Aku terus memperhatikan Bapak tanpa lelah, berkali-kali aku melihat ke arah layar yang menunjukkan kondisi vital tubuh Bapak. Jujur, aku trauma selama sembilan hari menjaga disini setiap pagi hingga sore. Karena telingaku tidak jarang mendengar alat ini berbunyi tuuuuuuttttt sangat panjang. Jika tidak salah itu adalah bunyi dari layar ini yang menandakan pasien sudah tidak lagi tertolong nyawanya. Berkali-kali aku hanya bisa mengucapkan innalilahi wa innailaihi rojiun. ICU inilah kali pertama aku masuk didalam ruangan bersih tapi mencekam ini. Sebelumnya paling-paling hanya di ruang opname biasa.


Waktu beberapa detik akan dilaksanakan akad pernikahanku dengan putranya, Bapak sempat bilang padaku. Bahwa Bapak sangat ingin menimang seorang cucu yang lucu. Bapak juga mendoakanku dengan mas Fahmi, agar segera dititipkan seorang anak dalam waktu dekat. Saat itu aku hanya mampu tersenyum dan mengamini doa dari bapak. Sebenarnya suamiku adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya perempuan bernama Fatimah. Saat acara pernikahanku pun Fatimah tidak hadir, bahkan aku belum pernah bertemu langsung dengan adik iparku itu. Fatimah saat ini sedang menjalankan kuliah nya di luar negeri, tepatnya di negara sakura yaitu Jepang. Karena terikat beasiswa, dia bahkan tidak bisa mengambil libur seperti teman-teman nya yang lain yang kuliah dengan biaya sendiri. Dia harus mengikuti aturan yang sudah disepakati. Salah satunya tidak boleh pulang kampung, sampai benar-benar mendapatkan jatah libur tertulis dari pihak universitas nya yang ada di Jepang. Suasana haru ketika suamiku menelepon adik kandung nya melalui fitur video call. Jelas aku sudah beberapa kali video call dengan Fatimah. Mas Fahmi memberikan kabar, bahwa Bapak sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil Avanza di jalan Sultan Agung. Jelas Fatimah menangis meraung-raung disana. Bagaimana tidak?, dalam kondisi seperti ini pun, dia tidak bisa pulang dan menemani laki-laki hebat yang hingga kini menjadi cinta pertamanya. Siapa orangnya yang tidak menangis?, ketika melihat kejadian ini?. Ibu, suamiku mas Fahmi, dan adiknya Fatimah yang berada jauh di negeri orang menangis bersama di depan sebuah layar?. Aku bahkan tidak bisa menahan air mataku.


"Kak Aisyah, Fatimah nitip Ibu, Mas Fahmi, dan Bapak yah Kak. Mereka saat ini sedang terpisah jauh dengan putri kandungnya. Fatimah mohon pada kak Aisyah, untuk menjadi putri Bapak dan Ibu menggantikan Fatimah,". Kurang lebih begitulah pesan adik iparku yang jauh disana padaku kala itu.


Bahkan tanpa Fatimah minta, aku akan tetap menjadi putri dari kedua orang tuanya. Karena setelah akad, maka akan menambah anak tentunya meksipun tidak dilahirkan dari rahim yang sama. Karena menikah itu tidak hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai, tapi juga menyatukan dua keluarga yang harus saling mengasihi tanpa kecuali.


Tidak terasa, jarum jam tanganku menunjukkan pukul dua belas siang lebih sepuluh menit. Sepertinya sudah lewat adzan Dzuhur. Aku lebih baik shalat dulu agar hatiku tenang dan tentunya mendoakan kesehatan Bapak. Aku juga lapar, nanti setelah shalat saja sekalian kekantin untuk mengisi perutku yang keroncongan.


"Bapak, Aisyah pamit shalat dan makan dulu sebentar nggih Pak. Bapak yang kuat. Nanti Aisyah temenin Bapak lagi,". Ucapku sembari memandang lekat wajah Bapak mertuaku yang masih terbaring tanpa bergerak.


Aku menuju ke tempat perawat dan dokter, disini keluar masuk harus dengan sepengatahuan perawat, dan dokter jaga. Tidak boleh sembarangan seenaknya.


"Permisi suster, saya keluarga dari Bapak Ridwan, yang menunggu hari ini. Saya mau pamit untuk shalat dulu dan makan sebentar. Ini kartu identitas penunggu saya,". Kartu tunggu aku tunjukkan pada tenaga kesehatan yang ada disana.


"Oh iya, silahkan mbak,". Jawabannya.


"Terimakasih Suster. Saya nitip Bapak yah sus,".

__ADS_1


"Iya mbak,".


Aku berjalan keluar, dan melepas baju steril khusus penunggu. ICU memang harus dalam kondisi steril. Termasuk untuk penunggu pasien yang juga di sediakan sandal dan baju khusus. Dan hanya digunakan ketika masuk kedalam ruangan ICU. Aku melihat rumah sakit, siang ini sangat ramai. Ada yang baru masuk ruangan, ada yang baru selesai operasi dan lain sebagainya. Aku berjalan menuju masjid rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Aku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba. Empat rokaat sudah aku laksanakan. Perutku aku pegangi. Melilit sekali rasanya, sangat lapar. Aku bergegas menuju kantin untuk mengobati keronconganku yang semakin tidak terkontrol.


"Mbak, pesan bakso pakai tetelan daging yah. Yang pedas ya mbak,". Aku memesan satu porsi mangkok bakso. Rasanya enak sekali, panas-panas begini makan bakso dengan sambal yang pedas. Setidaknya cenat-cenut kepala karena terlalu lama menahan lapar bisa sedikit mereda.


Jam makan siang, pantas saja. Kantin rumah sakit sangat ramai. Bahkan sampai harus ada yang mengantri sangat lama. Untunglah aku datang di waktu yang tepat. Pas sekali ada tempat dan meja yang kosong. Jadi aku tidak terlalu lama mengantri. Aku tidak ingin meninggalkan Bapak sendirian terlalu lama


"Derrrtt.....derrtt....derttt,". Handphoneku bergetar disela-sela aku sedang menunggu makanan. Entahlah siapa yang meneleponku. Setelah kuambil handphone dari tas kecilku. Ibu mas Fahmi yang meneleponku. Ada apa?.


"Ha-halo Ibu?. Assalamualaikum?,". Sapaku mendahului percakapan.


"Hallo anakku, nak kamu sedang dimana?, bagaimana kondisi Bapak nak?,". Nada suara Ibu sangat cemas.


"Aisyah sedang di kantin Bu, tadi habis shalat juga. Aisyah lapar, jadi Aisyah pergi ke kantin. Tadi terakhir Aisyah lihat, bapak masih stabil Bu,". Aku menjawab rasa resah Ibu.


"Oh, syukurlah nak,". Jawab ibu singkat.


"Ibu kenapa?, ibu baik-baik saja kan?. Mas Fahmi belum pulang Bu?,".


"Ibu baik-baik saja nak. Fahmi belum pulang. Tadi kasih kabar ke ibu, ada rapat mendadak di kantornya,".


"Oh yasudah. Ibu jangan lupa makan. Istirahat yang cukup yah Bu,".


"Nggih ibu. Assalamualaikum,".


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,".


Sepertinya Ibu tidak mau jujur tentang apa yang menggangu hati dan pikirannya. Aku mengerti ada yang tidak enak yang sedang ibu tanggung. Itu bisa terlihat dari nada bicara ibu di telepon. Terlihat gusar, tersendat, dan gugup. Semoga saja, mas Fahmi segera pulang, rapat nya tidak terlalu lama. Aku khawatir dengan kondisi Ibu yang sendirian.


"Mbak, ini pesanan nya. Mohon maaf menunggu lama,". Tiba-tiba seorang pelayan kantin menghampiriku dan membawakan pesanan bakso untukku.


"Oh, iya tidak apa mas. Terimakasih,". Ucapku padanya. Sangat maklum jika pelayanan nya jadi sangat lama. Yang antri juga lumayan banyak, bahan yang sudah tidak sabar memilih pergi dan tidak tahu makan apa.


Selera makanku jadi hilang, setelah menerima telepon Ibu tadi. Masih kepikiran dengan keadaan Ibu dirumah yang seorang diri. Aku hanya memakan beberapa biji bakso saja. Selebihnya tidak aku makan. Aku lantas membayar di kasir dan kemudian berjalan meninggalkan kantin yang semakin sesak dan ramai. Bakso, makanan sejuta umat. Tidak kaya tidak miskin, hampir semuanya doyan dengan makanan yang satu ini. Wajar saja warung bakso ini selalu ramai dan padat. Bahkan kadang menolak pengunjung yang datang karena kehabisan atau kewalahan dalam melayani.


Aku kembali keruang ICU tempat Bapak dirawat. Seperti biasa aku mengenakan baju dan sandal khusus yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Aku berjalan menuju tempat informasi. Aku harus lapor kedatanganku pada petugas kesehatan yang ada. Tapi faktanya tidak ada satu orang pun disini. Kemana aku harus melapor?. Aku melihat dokter yang terburu-buru menuju ke kamar Bapak dirawat. Hatiku hancur seketika. Ada apa dengan Bapak?, kenapa banyak sekali perawat dan Dokter berlarian menuju ke ruangan Bapak. Aku langsung lari dan bergegas menuju para dokter dan perawat yang sedang menangani Bapak.


"Mohon, maaf untuk penunggu pasien di harap keluar dulu yah. Menunggu diluar mbak. Karena kami sedang memberikan penanganan pada pasien,". Ucap salah satu perawat begitu melihat aku lari ke arah mereka.


"Suster, ada apa ini?, ada apa dengan Bapak saya?,". Aku cemas, aku gugup, aku ketakutan.


"Mbak bantu doa ya. Sedang kami usahakan. Semoga berhasil. Tadi kondisi pasien tiba-tiba drop hingga tidak ada detak jantung nya. Ini kami sedang melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation),".

__ADS_1


Aku mundur dan langsung terduduk dilantai. Aku sudah tidak karuan lagi. Saat ini Bapak mertuaku sedang dalam kondisi terburuknya setelah sembilan hari ini mengalami koma. Aku harus bagaimana, haruskah aku mengabari mas Fahmi?, tapi dia sedang rapat. Menghubungi Ibu lebih tidak mungkin. Aku menangis sesenggukan seorang diri. Lisanku tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Bapak. Ya Allah Pak, baru tadi Aisyah pamit untuk shalat dan makan. Kenapa Bapak langsung down begini.


"Mbak, silahkan duduk disini. Jangan dilantai,". Tiba-tiba salah satu perawat perempuan memberikan tempat duduk padaku.


"Te-terimakasih suster,". Jawabku dengan suara yang parau. Aku bangun dan kemudian duduk di kursi yang tadi diberikan padaku. Air mataku tidak ada henti-hentinya menangis. Rasanya menakutkan sekali ya Allah. Sudah tiga puluh menit berlalu, tidak ada satu pun team medis yang keluar dari ruangan Bapak. Apa yang sebenarnya terjadi?. Tiga puluh menit, satu jam pun berlalu. Salah satu dokter keluar dari ruangan, di ikuti oleh petugas kesehatan lainnya. Bapak bagaimana?, apa bapak sudah stabil lagi?.


"Keluarga bapak Ridwan?!". Aku mendengar salah satu perawat memanggilku kearah ruangan Bapak. Aku langsung bangun dan bergegas menuju ruangan bapak.


Entah, harus bagaimana lagi aku mengucapkan atau mengutarakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku melihat tubuh yang sudah sembilan hari ini kutemani, tiba-tiba kaku dan terbungkus kain putih. Wajahnya sangat pucat sekali. Ini seperti mimpi, sungguh. Aku tidak percaya, Bapak memilih menyerah dari masa koma nya. Kenapa secepat ini?.


"Suster?,". Suaraku parau.


"Mohon maaf mbak. Kami bersama team medis sudah berusaha semampu kamu. Tapi nyawa Bapak anda tidak bisa tertolong. Silahkan untuk segera diurus administrasi nya. Saya permisi dulu,".


Aku berjalan pelan, mendekat ke jenazah Bapak. Aku melihat wajah nya yang sangat pucat. Tubuhnya kaku, aku langsung mengusap lembut ujung kepala bapak. Tangisku tak tertahankan lagi. Aku benar-benar dalam posisi paling menyedihkan.


"Bapak?, kenapa Bapak memilih menyerah?. Katanya bapak pengen gendong cucu?. Bapak bilang, nanti ingin main-main sama anak Aisyah dan mas Fahmi?. Kenapa bapak pergi meninggalkan Ibu, Aisyah, Fatimah, dan Mas Fahmi?. Bapak kenapa tidak melawan Pak?. Bapak juga bilang, nanti jalan-jalan bareng sama keluarga Aisyah kalau Fatimah sudah pulang ke Indonesia. Tidak sabar kah bapak menunggu cucu bapak ada?. Hiks.... hiks... hiks...,". Aku menangis terduduk di samping jenazah Bapak mertuaku.


"Ha-halo mas, kamu dimana mas?,". Aku menguatkan hati untuk memberikan kabar duka pada suamiku.


"Kamu kenapa dik?, ada apa sayang?. Kenapa kamu menangis sampai segitunya ada apa?. Mas baru selesai rapat dik,".


"Innalilahi wa innailaihi rojiun..,". Suaraku parau, badanku gemetar hebat.


"Ada apa dik?,". Mas Fahmi panik.


"Mas, Bapak sudah tidak ada. Bapak memilih menyerah mas. Bapak sudah kembali ke Allah. Hiks... hikkks... hikkks,". Tangisku pecah.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Bapak!!. Kapan bapak tidak ada dik!!, kenapaa!!. Apa ibu sudah tahu!!,". Mas Fahmi menangis, suaranya penuh dengan putus asa.


"Barusan mas, Ibu belum Aisyah beri tahu. Keluarga di Solo juga belum Aisyah kasih kabar. Baru mas Fahmi yang Aisyah kabari mas. Hiks... hiks.. hiikksss,".


"Ya-yaudah. Sekarang kamu dimana dik?. Ini mas langsung ke rumah sakit,".


"Aisyah masih disamping jenazah Bapak mas. Mas Fahmi hati-hati. Jangan terburu-buru mas. Aisyah tunggu yah mas. Aisyah sendirian,". Ucapku parau disela-sela isak tangisku.


"Iya dik. Assalamualaikum,".


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,".


Telepon terputus, aku beranjak menuju keruang administrasi untuk mengurus semuanya. Sedang bapak sedang diurus oleh pihak rumah sakit. Aku tidak memperdulikan cadarku yang basah karena air mata.


"Aisyaaaahhh!!,". Mas Fahmi berteriak memanggil namaku.

__ADS_1


__ADS_2