
"Putraku, seperti nya kamu harus mengadakan syukuran".
Bunda datang tiba-tiba menghampiri diriku yang sedang asyik duduk di ruang TV bersama Ilham. Wajah Bunda sangat sumringah tidak seperti biasanya. Entahlah, mungkin Bunda sedang mendapatkan arisan berlian yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Syukuran?! ".
" Iya nak, syukuran. Kamu harus mengadakan acara syukuran putraku".
"Tapi atas dasar apa Bun?! ".
" Kok malah tanya atas dasar apa? ".
" Ya orang kalau mengadakan acara syukuran itu ada alasannya, misal syukuran karena telah membuka kantor baru atau yang lainnya. Lah ini?. Fatih di suruh melakukan syukuran tanpa ada alasan".
"Jelas dong alasannya kenapa kamu harus mengadakan acara syukuran".
" Apa itu?. Fatih tidak habis mendapatkan sesuatu atau tidak ada hal yang membuat Fatih untuk syukuran ".
" Nak, kamu harus mengadakan acara syukuran. Karena sebentar lagi Aisyah akan kembali menjadi milik kamu".
"Hah?!. Ma-maksud Bunda?! ".
" Iya putraku. Aisyah akan kembali lagi dalam pelukan kamu".
"Itu tidak mungkin Bunda. Aisyah sekarang telah menjadi istri sah suaminya Fahmi".
" Kenapa tidak mungkin. Itu sangat mungkin Fatih!. Tidak membutuhkan waktu lama. Aisyah akan kembali dalam hidupmu! ".
" Kenapa Bunda bisa sebegitu yakin. Kalau Aisyah akan kembali pada Fatih?! ".
" Ya itu hanya firasat Bunda saja. Lagi pula, biasanya firasat seorang Ibu itu selalu mendekati benar".
"Itu tidak mungkin Bun. Dan tidak akan terjadi!! ".
" Kamu itu, kalau kamu tidak percaya pada Bunda mu sendiri. Lalu kamu akan percaya dengan siapa?! ".
" Ya bukan begitu. Memang Bunda habis melakukan apa. Sampai sebegitu yakin nya, kalau Aisyah akan kembali pada Fatih dalam waktu yang tidak lama?! ".
" Ya, Bunda tidak melakukan apa-apa sih. Hanya Bunda yakin saja. Kalau Aisyah akan menjadi istri kamu kembali".
"Sudahlah Bunda. Jangan membuat Fatih menjadi banyak berharap pada hal yang tidak pasti. Lagi pula, Aisyah sekarang adalah istri sah dari Fahmi!! ".
" Fatih?!. Bunda tidak mungkin salah firasat nya. Ini pasti terjadi!! ".
" Bunda, sudah Fatih bilang. Itu tidak mungkin. Lagipula sekarang Aisyah sedang mengandung anak kedua dari pernikahan nya dengan Fahmi, Bun! ".
" Apa?!. Jadi Aisyah sedang hamil lagi?. Hamil anak kedua dari suaminya yang sekarang?! ".
" Iyah Bunda".
"Jadi, kalau kamu menikah dengan Aisyah lagi. Kamu akan memiliki tiga orang anak yang bukan darah daging kamu?!".
" Ya, seperti itulah".
"Ah, sudahlah. Itu tidak menjadi masalah. Pokoknya kamu harus segera mengadakan acara syukuran nya".
" Fatih tidak mau Bunda. Lagi pula, apa yang akan Fatih jawab. Jika ada orang yang tanya syukuran untuk apa?! ".
" Ribet amat sih. Kamu kan bisa bilang, syukuran karena sebentar lagi akan menikah kembali".
__ADS_1
"Ya ampun Bunda!. Itu tidak mungkin Bun. Fatih bahkan tidak tahu, kapan akan menikah lagi. Bagaimana mungkin Fatih akan berbicara demikian di depan banyak orang?! ".
"Kamu itu tinggal nurut sama orang tua saja, susah amat. Sudahlah, biar nanti Bunda yang akan atur acara syukuran itu!! ".
" Bu-Bunda!!. Jangan Bunda! ".
Bunda pergi begitu saja meninggalkan diriku. Aku tidak habis pikir dengan Bunda. Kenapa Bunda begitu sangat yakin, bahwa Aisyah akan kembali padaku lagi. Bahkan disaat diriku sendiri mengatakan bahwa itu semua tidak mungkin terjadi. Ditambah kondisi Aisyah yang juga sedang hamil muda, buah dari pernikahan nya dengan Fahmi yang kini masih menjadi suami sah nya. Acara syukuran itu tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin menanggung malu dan merusak nama baik yang sudah aku bangun selama ini. Nanti yang ada, orang-orang yang mengenal diriku menyebut bahwa aku sudah tidak waras. Karena menghayal akan menikah lagi. Firasat, firasat macam apa yang sedang Bunda rasakan. Itu hanya halusinasi Bunda saja, atau hanya harapan yang terlalu berlebihan dari Bunda. Aisyah tidak akan mungkin mau kembali dengan diriku lagi. Sangat jelas saat pertemuan itu, dia bahkan mencampakkan diriku tanpa ampun. Di depanku, bahkan Aisyah hanya mencintaiku saat dulu. Dan bukan sekarang. Lalu apa yang akan Bunda lakukan ini?. Heran, kenapa Bunda begitu sangat yakin, bahwa mantan menantu nya akan kembali lagi menjadi menantu sah nya lagi. Aku yang sebenarnya sakit dan sangat kehilangan Aisyah saja, berusaha untuk tetap sabar dan pastinya sadar diri, bahwa cintaku yang sekarang tidak akan pernah terbalas oleh Aisyah lagi.
"Bunda?! ".
Aku beranjak dan menghampiri Bunda yang sedang sibuk menggunakan ponsel genggam milik nya.
" Bunda ayo lah. Fatih mohon, jangan adakan acara syukuran itu Bun".
Bunda tidak mau mendengarkan diriku. Bunda masih terus saja fokus dengan telepon genggam nya. Entah apa yang sedang dilakukan Bunda dengan ponsel nya itu.
"Bunda, dengarkan Fatih dong Bun. Bunda sedang apa sih?!. Sibuk sekali dengan ponsel nya. Sampai Fatih ngomong tidak mau mendengarkan! ".
" Fatih, Bunda memang sedang sibuk. Bunda sedang memesan catering dan seluruh keperluan untuk acara syukuran kamu lusa".
"Apa?!. Bunda ayolah. Kali ini saja Fatih mohon. Jangan adakan syukuran ini".
" Sudahlah, kalau kamu bicara pada Bunda hanya untuk merengek agar Bunda tidak jadi mengadakan acara syukuran itu. Ada baiknya kamu berangkat saja ke kantor. Jangan ganggu Bunda lagi, Bunda sedang sibuk ".
Susah sekali menjelaskan pada Bunda. Rasanya aku ingin marah. Tapi lagi-lagi harus di tahan, demi menjaga perasaan wanita yang telah melahirkan diriku ke dunia.
" Nek, memang nya. Ada acara syukuran apa?".
Tiba-tiba putraku Ilham, datang dari arah kamar nya. Sepertinya anak ini mendengar percakapan aku dengan Bunda barusan.
"Iya cucu nenek. Nenek mau ngadain syukuran buat Ayah kamu".
" Ilham, Ayah kamu sebentar... ".
" Bunda, cukup!!. Jangan ucapkan apapun pada Ilham".
Aku berusaha menghentikan ucapan Bunda. Ilham tidak boleh tahu masalah ini. Aku tidak ingin Ilham tahu segalanya tentang masalah yang sedang Ayah nya hadapi.
"Kamu itu kenapa sih?!. Harusnya kamu itu bahagia. Karena sebentar lagi akan kembali menikah dengan Aisyah?! ".
" Bundaaaa!! ".
Aku sudah tidak bisa menahan rasa kesal diriku pada Bunda. Bunda sudah kelewatan. Aku membentak Bunda. Tapi seperti nya itu tidak mempan. Bunda masih saja terlihat tenang dan asyik dengan ponsel nya.
" Kok nama calon istri Ayah, sama seperti Umi nya Wawa? ". Tanya Ilham polos pada nenek nya.
Anak-anak yang sangat polos seperti Ilham tidak tahu, kalau memang Aisyah yang nenek nya ucapkan barusan adalah, Aisyah yang sama dengan Umi nya Marwah, teman dekat nya dulu.
" Iya memang, Aisyah yang nenek maksud barusan adalah A... ".
" Ilhaaammm!!!. Masuk ke kamar!! ".
Aku memotong ucapan Bunda. Aku terpaksa harus membentak Ilham dan menyuruh nya masuk kedalam kamar nya. Agar Ilham tidak lagi mendengar ucapan dari Nenek nya. Hal ini tidak akan terjadi, ini hanya halusinasi Bunda saja. Bahkan aku sendiri tidak tahu, apa aku bisa memiliki Aisyah kembali atau tidak sama sekali. Tapi Bunda begitu sangat percaya diri, bahwa Aisyah akan menjadi milik putranya lagi, dalam rentang waktu yang tidak lama. Ilham langsung berlari menuju kamar nya, begitu aku bentak dengan keras. Jujur saja, baru kali ini aku membentak sekeras itu pada Ilham. Aku terpaksa, meskipun hatiku harus sakit. Ilham pasti sedang sedih dan menangis didalam kamar nya.
"Fatih!!. Apa-apaan kamu!!. Kenapa kamu membentak Ilham seperti itu!! ".
"Bunda yang apa-apaan. Bunda yang keras kepala. Fatih sudah bilang Bun. Itu semua tidak akan terjadi".
" Kamu itu sudah berani ya melawan Bunda!! ".
__ADS_1
" Bukan begitu Bun. Fatih tidak mau, Ilham mengetahui hal yang belum pasti terjadi. Fatih tidak. ingin membuat anak sekecil Ilham harus berharap tanpa kepastian ".
" Cepat atau lambat, Ilham juga akan tahu. Kalau Aisyah Umi dari teman nya itu, adalah seseorang yang pernah menikah dengan Ayah nya di masa lalu!! ".
" Fatih tidak mempermasalahkan Bunda, kalau memang apa yang Bunda bilang pada Fatih itu sudah pasti. Ini hanya karena tidak pasti dan tidak akan pernah terjadi saja, makanya Fatih sama sekali tidak setuju dengan semua rencana Bunda tentang syukuran itu".
"Sudahlah, Bunda capek ngomong sama kamu!! ".
"Bunda ayolah, lagian dari mana sih, Bunda sangat percaya diri sekali, bahwa Aisyah akan menjadi milik Fatih lagi. Hal apa yang membuat Bunda seyakin itu".
" Fatih, Bunda itu perempuan. Bunda juga yang melahirkan dirimu. Bunda sangat tahu betul, bagaimana firasat seorang Ibu untuk anak nya!! ".
" Bunda, Fatih tahu. Tapi. seperti nya itu bukan Firasat, tapi halusinasi Bunda. Bunda tahu, beberapa hari yang lalu, Fatih tidak sengaja bertemu dengan Aisyah di klinik kehamilan. Di sana, Aisyah dengan lantang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Fatih Bunda. Tidak ada cinta di hatinya untuk Fatih lagi. Bahkan Aisyah juga sudah dengan jelas mencampakkan Fatih, Aisyah menyuruh Fatih agar cepat mencari pendamping hidup, agar Aisyah tidak lagi di ganggu rumah tangga nya oleh kita. Dari semua itu, apa Bunda masih berhalusinasi bahwa Aisyah akan kembali pada Fatih, apalagi dalam waktu yang dekat?! ".
Bunda diam saja, begitu aku menceritakan tentang aku yang tidak sengaja bertemu dengan Aisyah. Sengaja diriku menceritakan semua pada Bunda. Agar Bunda bangun dari halusinasi nya yang semakin tidak karuan ini. Semoga saja, dengan aku. menceritakan itu semua. Bunda akan membatalkan niatnya untuk membuat acara syukuran untuk diriku.
" Fatih, Aisyah berkata demikian karena sekarang dia masih terikat status nya sebagai istri sah dari Fahmi. Percaya saja pada Bunda, kali ini Bunda yakin Fahmi akan mengalah padamu. Dan menyerahkan Aisyah untuk kembali menjadi ratu dalam hidup mu nak".
"Bunda, ayolah. Jangan seperti ini terus. Bunda bilang, Fatih harus kuat kan. Tapi sekarang malah Bunda yang membuat Fatih semakin lemah".
" Iya, kamu harus kuat dan harus rebut apa yang seharusnya menjadi milikmu Fatih!!. Bunda akan tetap mengadakan syukuran itu. Tanpa atau dengan persetujuan darimu. Jika pun nanti kamu tidak mau hadir dalam acara syukuran itu. Tidak masalah, suatu saat kamu akan berterimakasih pada Bunda. Karena firasat yang Bunda miliki tidak akan pernah meleset".
"Aaarrgghhh!!. Terserah!. Fatih sudah sakit kepala. Bunda tidak mau mendengar Fatih sekalipun!!".
Aku pergi begitu saja, meninggalkan Bunda yang masih duduk di sofa kesayangan nya. Kakiku melangkah cepat menuju kamar putraku Ilham. Benar dugaanku, Ilham sedang menangis di pojokan kamar, sembari menenggelamkan kepalanya di antara kakinya yang di lipat. Hatiku sakit, melihat putraku seperti itu. Ini semua gara-gara Bunda. Ide konyol Bunda untuk mengadakan syukuran, yang membuat aku emosi seperti ini pada Ilham.
" Nak.. ".
" Ayah, apa salah Ilham. Kenapa Ilham di bentak sama Ayah. Hikkkks... hikkkks... ".
" Maafkan Ayah nak. Ayah tidak bisa mengontrol emosi Ayah tadi. Jujur, Ayah tidak ada niat untuk membentak kamu sedemikian keras nya. Maaf kan Ayah nak".
Aku memeluk tubuh anak kecil yang masih ketakutan dipojok kamar. Rasanya aku sangat menyesal telah membentak anak yang tidak tahu apa-apa ini. Aku menyeka air mataku, aku tidak tahan melihat Ilham ketakutan dan menangis seperti ini. Ilham bahkan tidak berani memandang ke arahku. Dia tetap menundukkan kepalanya, dia tidak mau memandang wajahku. Aku tidak menyangka akan lepas kontrol seperti tadi. Tapi semua itu terjadi karena aku tidak ada pilihan lain. Semua ini juga demi kebaikan Ilham putraku.
"Ilham minta maaf Ayah. Kalau Ilham punya salah sama Ayah. Tapi jangan bentak Ilham kaya tadi lagi. Ilham sangat takut".
" Ti-tidak nak, Ilham tidak salah. Ayah yang salah putraku. Ayah yang salah karena tidak bisa menahan amarah Ayah. Ayah minta maaf nak, maafkan Ayah. Ayah mohon. Hikks.. hikk... ".
Hancur sudah pertahanan ku, agar tidak menangis di depan Ilham. Rasanya hatiku teriris mendengar semua ucapan dari anak yang masih polos seperti Ilham. Harusnya tadi aku tidak meneriaki Ilham dengan begitu keras. Tapi semua sudah terjadi, tugasku sekarang adalah, bagaimana caranya agar Ilham mau memberikan maaf untuk diriku, juga tidak ketakutan lagi. Lebih dari itu, aku sangat takut Ilham akan trauma berat, akibat diriku.
"Peluk Ayah, nak. Ayah minta maaf, Ayah sangat menyayangi Ilham. Jangan menangis lagi yah. Ayah janji tidak akan mengulangi hal seperti tadi ada Ilham".
Ilham bangun dan kemudian memeluk erat tubuhku. Aku juga mengusap air matanya. Mengecup kening nya. Hal seperti tadi, tidak akan aku lakukan lagi pada putraku.
" Ilham juga sayang sama Ayah".
"Benar, Ilham sayang sama Ayah? ".
Ilham tidak menjawab pertanyaan dari ku. Dia hanya menganggukkan kepala nya pelan sembari tangannya menyeka bekas air matanya.
"Coba cium pipi Ayah, kalau Ilham memang benar sayang sama Ayah".
Putraku langsung dengan semangat, mencium pipi ku berkali-kali. Aku tertawa bersama dengan Ilham. Ilham mengusap bekas air mata dari pipiku. Kemudian tersenyum lebar didepanku. Rasanya sangat lega, setidaknya anak ini tidak membenci Ayah nya. Ilham sangat dewasa, dia bahkan seperti bisa mengerti posisi diriku.
"Nak, mau tidak Ayah belikan es krim? ".
" Mau Ayah, Ilham mau es krim".
"Ayok berangkat".
__ADS_1
Tubuh Ilham ku gendong dan kemudian berjalan keluar dari kamar Ilham. Aku sudah tidak melihat Bunda di ruang tengah. Entahlah, untuk sekarang aku tidak ingin bicara dulu dengan Bunda. Aku harus membuat bahagia Ilham terlebih dahulu. Meskipun sejujurnya, aku masih sangat kepikiran acara syukuran yang sedang Bunda persiapkan untuk diriku. Kepalaku bahkan sampai sakit membayangkan jika syukuran itu terjadi. Apa yang harus aku katakan, jika ada warga yang bertanya, mana calon istrinya?, orang mana?. Dan pertanyaan lain yang tidak mungkin bisa aku jawab. Bunda pasti tidak berpikir jauh sampai ke arah sana. Baru kali ini, Bunda merasa sangat yakin dengan firasat yang Bunda miliki. Bagiku, semuanya terasa sangat aneh dan sulit diterima. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba Bunda begitu yakin bahwa Aisyah akan kembali menjadi istriku lagi. Aku curiga, apa Bunda sedang merencanakan sesuatu?. Tapi rencana apa dan untuk apa?. Entahlah, aku sangat bingung dengan semuanya.