
Sudah tiga hari semenjak kepulangan Siska dari villa sebulan yang lalu, aku melihat Siska mual-mual dan bolak-balik ke kamar mandi. Wajah nya sangat pucat. Kenapa dia?, apa dia sedang sakit?, atau masuk angin?. Aku memutuskan untuk bertanya padanya. Meksipun Siska sangat jahat padaku, entah kenapa aku tidak tega melihatnya muntah-muntah seperti itu.
"Hueekk.... hueekk... hueekk,". Terdengar suara Siska yang sedang muntah-muntah didalam kamar mandi.
"Tookk... tokkk... tok...,". Aku mengetuk pintu kamar mandi, masih saja belum ada jawaban.
"Siska?, apa kamu tidak apa-apa didalam sana?, kamu masuk angin?, kamu sakit?,". Tanyaku yang masih menunggu Siska keluar dari kamar mandi.
"Huekkk... huekkk... hueekkkkk,". Lagi-lagi Siska muntah-muntah.
Aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuatkan nya teh manis hangat, setidaknya perutnya sedikit lebih hangat dan enakan setelah minum teh manis.
Aku menghampiri Siska yang terduduk di ruang tv sambil membawa segelas teh manis yang tadi sudah aku buatkan untuk nya.
"Siska... minumlah dulu teh manis hangat ini, agar perut mu agak enakan setelah muntah-muntah tadi,". Ucapku sambil meletakkan segelas teh manis hangat di meja.
"Kamu kenapa Siska?, sudah tiga hari ini kamu mual-mual terus. Apa sebaiknya tidak ke dokter saja?, takut nya bukan karena masuk angin biasa,". Kataku lagi kepada Siska yang sama sekali tidak merespon atau bahkan berterimakasih kepadaku karena telah membuatkan nya teh manis.
"Gausah sok baik!!!, gausah ikut campur!!. Ngga perlu!,". Tiba-tiba Siska menjawabku dengan sangat ketus.
"Aku tidak ikut campur Siska, aku hanya khawatir dengan keadaan mu,". Balasku lagi.
"Sudah kubilang kan?!!!, gausah ikut campur!!. Mau aku mati ke!!, aku sakit ke!!, atau apapun itu, aku tidak butuh bantuan darimu Aisyah!!,". Siska melotot kearahku.
"Praaannggg.....,". Gelas teh manis yang tadi kubutkan jatuh di banting oleh Siska di lantai. Pecahan gelas berhamburan, air didalam nya meleber kemana-mana.
"Astaghfirullah?! Siska kamu apa-apaan. Kenapa membanting gelas ini??,". Tanyaku kaget.
"Itu sebagai peringatan untukmu, wahai kakak maduku yang dungu!!!!, jangan lagi-lagi sok perhatian padaku!!. Aku bisa mengurus diriku sendiri!!!, dan ingat!!!!. Jangan pernah mengganggu pacarku lagi!!,". Siska melotot ke arahku dan pergi setelah membentak dan mengataiku dengan ucapan yang sangat menyakitkan.
Aku mengambili pecahan kaca yang berserakan. Sangat berbahaya jika sampai terkena kaki.
"Non Aisyah?. Astaghfirullah... kok gelas nya pecah non,". Tanya Bi Inah yang tiba-tiba ikut membantuku.
__ADS_1
"Siska marah pada Aisyah Bi, gara-gara Aisyah membuatkan teh manis ini dan menanyakan keadaan nya,". Ucapku pada Bi Inah yang masih sibuk membantuku.
"Astaghfirullah, non Siska itu benar-benar jahat dan tidak tau berterimakasih. Untung-untung ada orang yang mau baik dan perhatian sama dia. Hmmm... Bibi jadi kesal,".
"Bibi hati-hati yah ambilin bekas kaca nya. Takut kena tangan,". Ucapku lagi.
"Iyah non Asiyah juga non. Kalau perlu biar Bibi aja yang beresin non,".
"Ngga papa Bi, Aisyah bantuin,".
Kapan sikap Siska akan berubah?, dia masih sama seperti saat pertama kali bertemu denganku di salah satu rumah makan dulu. Sampai sekarang aku tidak tahu, ada hubungan apa antara Bunda dan Siska?, dimana Bunda mengenal Siska?, dan kenapa Bunda mertuaku sampai menjadikan Siska mantu kedua untuknya?, apa Bunda tidak tahu bagaimana perilaku Siska?. Aku terdiam di ruang tv.
"Huekkkk ... huekkk hueekkk!!, sialan!!,".
Aku mendengar Siska kembali mual-mual dan kali ini dia mengumpat kondisi nya sendiri. Astaghfirullah. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepada mas Fatih, barang kali Siska akan mau periksa ke dokter jika mas Fatih yang menyuruh nya.
To Suamiku:
"Assalamualaikum mas Fatih, maaf kalau Aisyah ganggu, mas seperti nya Siska sakit mas, sudah tiga hari ini Siska mual dan muntah-muntah terus mas,".
Dari Suamiku:
To Suamiku:
"Aisyah sudah coba bujuk Siska untuk ke dokter mas, tapi Siska tidak mau. Mungkin jika mas Fatih yang menyuruh, Siska akan mau mas memeriksakan diri ke dokter,".
Dari suamiku:
"Yasudah biarkan saja kalo memang Siska tidak mau. Nanti biar mas yang bujuk siska, makasih udah pantau kesehatan Siska,".
To Suamiku:
"Iyah mas sama-sama. Mas Fatih yang semangat kerja nya ya mas. Jangan lupa makan dan sholat. Semoga Allah mudahkan dan berkahi aktifitas mas Fatih. Aisyah sayang mas Fatih,".
__ADS_1
Dari Suamiku:
"Ya,".
Sejujurnya hatiku sakit, jawaban yang sangat berbeda dengan dulu. Mas Fatih semakin cuek dan lebih mengutamakan Siska. Entahlah kenapa Siska selalu mampu membuat drama dan sandiwara di depan mas Fatih, bahkan tak jarang aku pula yang sering di salahkan dan difitnah oleh Siska di depan mas Fatih.
Jam dinding di ruang tv menunjukkan pukul tiga sore kurang lima menit. Sebentar lagi adzan ashar, ada baiknya aku ambil wudhu saja sekarang.
Setelah berwudhu aku tidak sengaja melihat bekas bungkus alat test kehamilan di atas tempat menaruh sabun. Aku sempat bingung, siapa yang menggunakan alat test kehamilan ini?, aku kemudian membawa bekas bungkus test kehamilan itu ke three Bi.
"Bi Dar, Bi Ijah, dan Bi Inah, apa salah satu dari Bibi ada yang sedang hamil?, maksud Aisyah apa ada yang pakai alat test kehamilan?,". tanyaku serius.
"Non Aisyah ini gimana, mana ada kami menggunakan alat seperti itu non," Ucap Bi Inah.
"Memang nya, non Aisyah dapat dari mana si non itu wadah nya?,".
"Aisyah dapat dari kamar mandi Bi,".
"Kami tidak tahu non, kami juga baru lihat dari non Aisyah. Terus hasilnya apa non?,". Tanya Bi Ijah padaku. Aku sendiri tidak tau dimana stick untuk melihat hasil nya?, karena yang tertinggal hanya bungkus nya saja.
"Aisyah tidak tau Bi, karena Aisyah tidak menemukan stik yang untuk mengecek kehamilan itu. Aisyah hanya menemukan bungkus nya saja Bi,". Jelasku pada three Bi yang juga kebingungan.
"Mungkin itu wadah terbang non,". Ucap Bi Dar.
"Ngaco kamu Dar, mana ada terbang bisa pas begitu,". Sanggah Bi Ijah.
"Yasudah Bi, gausah di ributkan lagi. Asiyah hanya mau tanya saja. Barangkali salah satu dari Bibi memang sedang ada yang hamil. Hehehe,". Ucapku sambil bercanda.
"Engga non. Kami sedang tidak punya dedek bayi,". Canda Bi Inah.
"Yasudah buang saja Bi, dan tidak perlu di pikirkan lagi yah. Aisyah pamit ke kamar dulu, mau shalat ashar,"
"Iya non,". Jawab Three Bi.
__ADS_1
Aku tidak ingin mengambil pusing dari mana bungkus alat test kehamilan itu datang. Aku terus melangkah kan kaki menuju kamar, dan segera menunaikan shalat ashar.