
Seminggu berlalu sejak kematian sang Ayah, Sella masih berdiam diri suka masih menyelimuti hatinya, tak jarang matanya kembali sembab.
"Makan dulu sayang," ucap Agas membawakan piring berisi nasi dan lauk lainnya.
"Maaf, Mas."
Agas hanya menanggapi dengan senyuman, ia tak masalah dengan Sella yang tak masak seminggu ini. Agas mengusap nasi yang menempel di sudut bibirnya, Agas ikut merasa sedih bila Sella berlarut dalam kecewanya.
"Aku cinta kamu," bisik Agas mencuri kecupan di pipi Sella.
Sella tersenyum malu. "Kamu mah..."
"Udah lama masih aja malu, hm?" goda Agas menaruh piringnya diatas nakas.
Agas benindih tubuh Sella menatap istrinya sedih. "Mata kamu sembah sayang, aku juga sedih kalau kamu nangis terus," gumam Agas mengecup kedua mata Sella.
"Mas tau kamu sedih tapi jangan terjebak dalam kesedihan itu. Ayah juga sedih kalau liat kamu sedih terus," lanjut Agas sangat lembut.
Sella menganggukkan kepalanya ikut tersenyum. "Terimakasih Mas Agas sudah menjadi suami terbaik buat aku." Ia sangat merasa beruntung bisa dipinang oleh Agas pria terbaik nya setelah Ayah.
"Kamu juga istri terbaik sampai Mas tiada nanti. Mas gemes banget sama pipi kamu," kekeh Agas menggigit pipi gembul Sella.
"Awsss, nakal ih! sakit tau pipi aku."
__ADS_1
Agas terkekeh mengecup brutal wajah Sella hingga ia tertawa. "Mas Agas! ampunn... "
"Nggak, bilang dulu Mas Agas tampan," goda Agas menggelitik perut Sella.
"Mas Agas jelek banget sih," kekeh Sella.
"Hm? istri Mas nakalnya. Ampun nggak bilang dulu Mas Agas ganteng."
Sella terkekeh geli menangkap pergerakan tangan Agas. "Suami aku Mas Agas tampan Sella yang punya."
Pria itu segera menenggelamkan wajahnya yang merona di leher Sella. "Mas baper sayang... "
"Kayak anak muda," cibir Sella mengecup kening Agas.
"Kan Mas emang masih muda buktinya kamu mau sama Mas," ucap Agas manja.
"Dih, mau Mas tua sekalipun aku tetap cinta sama Mas," bisik Sella mengulas senyuman.
"Mas yang lari kamu arahin ya jangan sampai lepas," kata Agas menjauh dengan membawa layangan.
"1, 2,3. Yess iyaa sayang kayak gitu," pekik Agas melihat layangan mereka perlahan terbang.
"Mas! sini aku takut putus." Sella tersenyum mendongak ke atas menyaksikan layangan itu menari di langit.
__ADS_1
"Seperti ini sayang?" tanya Agas memeluk Sella dari belakang menumpu dagunya pada kepala sang Istri.
"Mas... malu diliat orang," balas Sella menoleh sekilas.
"Gapapa sayang, kita kan pengantin baru," kekeh Agas membantu Sella mengarahkan layangan dari belakang.
"Pengantin baru apa, hm? Mas tangan aku sakit gantian biar aku yang peluk kamu dari belakang."
"Modus banget istri Mas," ucap Agas terkekeh geli segera mengambil alih benangnya.
Agas tersenyum di sela tarik ulur nya pada benang itu. Ini yang dia mau, membuat Sella tersenyum dan keluar dari rasa sedihnya walaupun pasti tidak sepenuhnya melupakan setidaknya istrinya itu kini tengah tersenyum bahagia.
"Bahagia sayang?" tanya Agas.
"Bahagia banget, terimakasih Mas sayang," jawab Sella tersenyum lebar.
"Sama sama, sayang. Layangannya mau di lepas atau di simpan," ucap Agas mulai merasakan pegal dan perih di jemarinya.
"Lepas aja, Mas. Abis itu aku mau makan baso aci di sana." Sella menunjuk salah satu warung yang menyediakan baso aci.
Agas mengangguk, memutus tali itu dengan kasar walaupun sedikit meninggalkan luka. Tau kan, ia akan melakukan apapun untuk Sella.
***
__ADS_1
Mecha back trimakasih yg sudah luangkan wktu buat baca crta ini
jgn lupa like komen vote dn hadiah ><