Madu

Madu
Madu Ep.40 (SEASON 2)


__ADS_3

Bidadari itu masih nampak sama. Tidak ada yang berbeda sedikit pun darinya. Masih sama cantik nya seperti enam tahun yang lalu, saat aku bertemu dirinya. Sorot matanya tajam dan bersinar memancarkan sosok indah nya. Wajah nya yang bersih tanpa polesan makeup sangat meneduhkan siapapun yang melihat dan memandang nya. Wanita terbaik yang pernah aku kenal, dan juga yang pernah sempat aku miliki. Wanita yang sabar nya seluas samudra, wanita yang membuat ku kehabisan kata-kata untuk bisa mendeskripsikan sosok nya. Siapapun orang nya, akan merasa sangat bersyukur ketika bisa memilikinya. Dan juga, akan merasakan trauma yang mendalam jika kehilangan dirinya. Bidadari itu masih bersemayam dalam hatiku yang terdalam. Cinta yang aku punya untuk nya bahkan tidak pernah hilang barang sedikit pun. Aku tidak mengerti, apa perasaan ku salah?. Masih memendam cinta pada perempuan yang sudah menjadi istri dari laki-laki lain?. Buktinya, memang sangat sulit melupakan dia dalam hati dan hidupku. Penyesalan terbesar dalam hidupku, yaitu karena kebodohan diriku. Keserakahan diriku yang membuat bidadari seindah itu pergi dari kehidupan ku. Layaknya daun yang tiba-tiba jatuh, seperti itu lah pertemuan kedua ku dengannya. Setelah bertahun-tahun tidak pernah melihat nya langsung. Takdir sungguh baik, mempertemukan diriku lagi dengan dia yang masih kucintai. Bahkan bonusnya aku bisa melihat langsung wajahnya yang ayu.


"Kamu sangat cantik Aisyah".


Gumamku lirih.


" Aisyah?!. Apa yang barusan kamu ucapkan putraku?!".


Aku kaget dan gugup. Perasaan tadi tidak ada Bunda di belakang ku. Kenapa tiba-tiba Bunda mendengar ucapan diriku yang sangat lirih itu. Sial nya, Bunda bahkan mendengar aku menyebut nama mantan menantu nya. Bunda masih sangat sakit hati, karena Aisyah tidak mau datang membantu saat aku sedang sakit, atau setidaknya membalas surat-surat yang Bunda kirimkan padanya. Entahlah, kurasa apa yang di lakukan Aisyah sangat lah wajar. Perempuan mana yang tidak trauma dan sakit hati di perlakuan seperti itu oleh suami dan mertua nya dulu. Meskipun aku dan Bunda sudah menjelaskan semua yang terjadi, tapi tetap saja itu tidak akan mudah untuk menghapus semua kenangan yang mengerikan itu. Aku sampai detik ini saja, masih tidak kuat jika harus mengingat semua tragedi itu. Rasanya aku jadi laki-laki yang sangat bodoh dan menyedihkan.


"Oh, Bunda sedang apa? ".


" Jawab pertanyaan Bunda?!. Kenapa kamu panggil nama itu, bahkan juga mengatakan kalau dia cantik?! ".


" Ti-tidak Bunda. Fatih tidak ngomong seperti itu. Bunda saja yang salah dengar".


"Ingat ya nak. Bunda tidak sudi kalau kamu masih terjebak masa lalu dengan wanita itu. Kamu harus sadar Fatih, saat kamu sedang sakit saja. Wanita itu sangat acuh dan tidak perduli denganmu. Pastilah, wanita itu sedang bersenang-senang dengan suaminya yang baru. Tanpa mau tau keadaan dirimu dan Bunda".


"Bunda... Sud... ".


" Bunda tidak akan pernah rela. Kalau kamu jatuh cinta lagi dengan dia. Bunda bisa carikan wanita lain yang lebih baik dirinya. Lagi pula, apa kamu tidak malu?. Masih saja mencintai masa lalu yang bahkan sudah menjadi milik laki-laki lain? ".


Bunda terus saja memarahi diriku, bahkan memotong perkataan ku. Entahlah, harus bagaimana caranya menjelaskan pada Bunda. Dan, jika seperti ini kondisinya. Bunda tidak boleh tahu, kalau Wawa adalah anak kandung dari Aisyah mantan menantu nya dulu. Bunda jangan sampai tahu kebenarannya bahwa, putranya yang dia suruh untuk melupakan mantan menantu nya dulu, justru malah bertemu di rumah nya langsung. Tidak bisa di bayangkan bagaimana marah nya Bunda jika mengetahui ini semua. Untuk apa terus menyimpan dendam pada seseorang yang bahkan sebenarnya tidak lah pantas menerima dendam itu sendiri. Apa yang Aisyah lakukan padaku dan Bunda, tidak lain dan tidak bukan karena ingin menjaga perasaan laki-laki yang kini menjadi pendamping hidupnya. Mantan istriku adalah wanita yang solehah, dia tidak akan mudah merespon apapun dan dalam bentuk apapun, jika itu berkaitan dengan seorang laki-laki yang bukan mahrom nya.


"Bunda, dengarkan Fatih. Apa bunda tidak akan juga menerima, meskipun Fatih memiliki calon pendamping dengan nama yang sama seperti mantan menantu Bunda dulu?"


"Tidak akan?!. Kamu itu memang konyol. Di dunia ini banyak nama. Kenalan harus kamu pilih yang namanya sama dengan masa lalu kamu?. Jika seperti itu, yang ada kamu mencintai wanita mu yang sekarang dengan menganggap dia adalah wanita yang sama dengan masa lalu kamu. Tidak-tidak Fatih, Bunda tidak akan mau menerima sekalipun namanya sama?! ".


" Astaghfirullah Bunda?!. Bunda itu kenapa sih?!. Jangan menyimpan dendam. Nanti yang ada Bunda sendiri yang tersakiti. Lagi pula wajar saja kok, kalau Aisyah tidak membalas juga tidak merespon Bunda saat itu. Karena apa yang dia lakukan adalah untuk menjaga perasaan suaminya. Fatih juga tidak akan rela, kalau misal istri Fatih masih perduli juga dengan mantan suaminya serta keluarganya".


"Kamu itu anak Bunda?!. Kenapa malah membela mantan istrimu?!. Sudahlah, susah ngomong sama kamu. Kalau sudah berhubungan dengan wanita itu, kamu bahkan berani menentang ucapan Bunda?! ".


"Bundaaa... bukan seperti itu maksud Fatih Bun. Fatih sayang sama Bunda. Fatih tidak ingin Bunda mendendam dengan orang lain seperti ini".


Aku menjelaskan maksudku. Meskipun Bunda tidak mau mendengar kan dan juga pergi meninggalkan diriku sendiri. Entahlah, ucapan ku yang terakhir terdengar oleh Bunda atau tidak. Kenapa semuanya jadi sangat rumit?. Belum juga Bunda tahu kejadian yang sebenarnya, sudah seperti ini. Bagaimana kalau sampai tahu?. Yang ada ribut, dan bisa-bisa minta pindah rumah lagi. Mana mau Bunda satu kota dengan Aisyah. Dulu saja, Bunda meminta padaku untuk pindah ke kota Bandung, padahal aku minta pindah ke kota Solo. Aku yakin, itu karena Bunda tidak ingin aku satu kota lagi dengan mantan istriku di solo. Aisyah dan keluarga nya memang asli Solo. Di kota Solo lah, rajutan cintaku dan aisyah di mulai. Ada banyak kenangan di kota Solo. Dan detik ini, aku tidak menyangka ternyata bidadari yang pernah kumiliki dulu juga tinggal di kota Yogyakarta. Apa semua ini, hanya sebuah kebetulan?. Atau sebuah pertanda, bahwa kelak aku akan di persatukan kembali dengan Aisyah?. Karena memang, perpisahan ku dengan Aisyah sangat lah menyakitkan. Kami berdua menjadi korban, tapi Aisyah lah yang lebih merasakan perih nya. Jika memang Tuhan akan menyatukan aku kembali dengan Aisyah, akan kah Bunda merestui nya?. Entahlah, semuanya membuatku sakit kepala dan stress.


"Derrrtt... deeerrtt... ".


Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk rupanya. Tapi dari siapa?. Ini nomor baru.


" Hallo? ".

__ADS_1


" Oh Hallo bro. Gimana kabar elu? ".


" Maaf, ini siapa ya? ".


" Sombong amat lu. Masa ngga inget sama gue".


"Serius. Tapi aku memang tidak tahu".


Sebenarnya siapa ini?. Nomor ku baru, kenapa ada orang yang ngaku-ngaku kenal dan sok akrab begini padaku. Gaya bicara nya seperti pada teman dekat saja.


" Broooo?!!. Gue temen kantor elu waktu di Jakarta!".


"Teman kantor?!. Teman kantorku banyak di Jakarta. Jadi sebutkan saja siapa nama nya?! ".


" Coba elu ingat-ingat lagi. Hahaha... ".


" Tuuuttt...!! ".


Telepon sengaja aku matikan. Malas sekali meladeni orang tidak jelas seperti ini. Ditanya baik-baik siapa namanya malah ngakak tertawa. Menghabiskan waktu saja. Tidak tahu ada orang lagi pusing apa.


" Deerrt..... derrrtt".


"Sebenarnya siapa sih?! ".


Ucapku tanpa basa-basi.


" Eiitts.. sabar bro. Yaelah lu, emosian amat.


Ini gue bro, Alex. Sohib terbaik elu di jakarta ".


Shock rasanya mendengar nama Alex. Dia salah satu orang yang ikut andil dalam kehancuran rumah tanggaku dengan Aisyah dulu. Gara-gara mendengar nasehat dari dia, aku sampai tega menyakiti dan menghancurkan bidadari sebaik Aisyah. Rasanya ingin marah padanya, tapi memang salahku sendiri. Kenapa aku harus meminta pendapat pada orang seperti nya, Alex sangat suka bermain wanita dan juga kehidupan sehari-hari nya tidak jauh dari bar dan wanita malam. Alex, untuk apa lagi dia menghubungi diriku lagi. Dan dari mana sebenarnya dia tahu nomorku.


"Eh bro, kok elu malah diem aja?! ".


" Oh iya, sorry".


Jawabku singkat. Rasanya aku ingin matikan saja sambungan telepon nya.


"Bro,kaya nya elu harus banyak-banyak bersyukur?! ".


" Hah?!. Bersyukur?! ".

__ADS_1


Aku bingung dengan ucapan Alex.


" Iya bro, bersyukur. Gue hari ini pindah juga ke Yogyakarta. Kota yang sama dengan elu. Hahahaha".


Astaghfirullah, kenapa orang ini juga ikut pindah ke Yogyakarta. Rasanya malas sekali satu kota dengan dia. Aku sudah tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan Alex. Dampak nya sangat banyak sekali jika berteman dengannya. Kenapa takdir selalu saja menyandingkan kebahagiaan lengkap juga dengan penderitaan nya. Kebahagiaan karena Aisyah satu kota denganku, dan penderitaan karena Alex sialan itu juga satu kota denganku. Untuk apa dia ikut-ikutan pindah ke Yogyakarta. Menyebalkan sekali.


"Oohhh".


Jawabku malas.


"Yeeehhh... malah Oh lagi. Bro, ketemu yuk. Lama nih gue ga ketemu elu. Rumah elu dimana?, kalo engga biar gue yang datang kerumah elu aja".


" Lain waktu ya Lex. Aku lagi banyak urusan".


"Buset, makin sombong aja Lu. Lagian urusan apa sih?!. Eh, elu pasti sudah bahagia kan dengan dua istri elu. Iya lah siapa dulu suhunya, Alex gitu loh".


Rasanya ingin aku hajar mulut Alex. Gara-gara saran dari nya, rumah tanggaku hancur. Semuanya hancur. Aku kehilangan Aisyah, wanita terbaik yang pernah ada. Andai saja, saat itu aku tidak mendengar ucapan Alex. Pastilah aku bahagia dengan Aisyah. Detik ini Fatih yang menjadi suaminya Aisyah, bukan Fahmi.


"Hemmmm.. malah harus nya kamu yang bertanggung jawab. Sudahlah, aku mau ada urusan. Sorry".


Aku mematikan telepon Alex. Dan membuang napas dengan kesal. Kenapa manusia satu itu harus muncul lagi di kehidupanku. Alex tidak boleh tahu dimana aku kerja dan dimana aku tinggal. Aku tidak ingin bertemu dia. Aku harus menghindari Alex. Cukup dulu saja, aku merasakan sengsara karena mendengar ucapannya. Ada baiknya aku mengganti nomor ponselku saja. Tapi yang membuat aku tidak habis pikir, sebenarnya dari siapa dia mendapatkan nomor telepon ku yang baru. Atau jangan-jangan dia satu kantor juga denganku di Yogyakarta. Bisa kiamat hidupku, kalau satu kantor dengan Alex. Aku sudah sengsara dan kehilangan semuanya. Aku mau hidup tenang, tanpa ada manusia-manusia seperti Alex.


"Elah lu, belagu amat. Gue belum selesai bicara main matiin aja. Nanti gue telepon lagi deh ya my broo".


Handphone ku berkedip. Ada pesan masuk dari Alex. Anak ini benar-benar ngga bisa di kasih tahu. Dia malah mengirimi ku pesan, dan akan menghubungi diriku lagi. Jika terus-terusan seperti ini, yang ada aku terkena penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi). Aku harus segera cek, apakah di kantor ada orang baru atas nama Alex Kurniawan. Jika ada, aku yang akan pindah dari kantor yang sekarang.


Aisyah, pantas saja Marwah sangat cantik, cerdas dan sopan. Ternyata dia dilahirkan dari rahim wanita sebaik kamu. Sepertinya Marwah menuruni kecantikan kamu. Gadis kecil yang cerdas juga sangat baik. Andai saja, aku tidak menyia-nyiakan dirimu. Pastilah aku sudah memiliki seorang anak yang lahir dari rahim mu. Tapi Aisyah, jika memang pertemuan kita kemarin adalah salah satu pertanda akan di persatukannya kembali aku dengan dirimu, pantaskah laki-laki yang telah dengan beringas menyiksa lahir dan batin mu bersanding kembali dengan bidadari sesempurna dirimu?. Masih pantaskah aku untuk memiliki mu kembali?. Dan apa kamu mau menerima ku?. Sejujurnya, aku sudah tidak pernah berharap ingin disandingkan denganmu lagi Aisyah. Tapi semenjak pertemuan kemarin, rasa cintaku untukmu yang selama ini aku tekan kencang-kencang dalam dada, tiba-tiba dengan begitu saja kembali memberikan kekuatan nya. Harapan untuk bisa disandingkan dengan mu lagi menjadi sangat membuncah. Meskipun diriku sendiri tidak tahu, akan dengan cara apa dan skenario seperti apa, Tuhan akan mempersatukan kita kembali. Jika iya, aku akan menerima Marwah seperti putri kandungku sendiri. Meskipun aku sadar, Wawa bukanlah anak kandungku, tetapi anak dari laki-laki lain yang sekarang masih menjadi suami mu. Seandainya saja kamu tahu, bahwa hingga aku bertemu kembali dengan dirimu pada waktu itu, aku masih belum bisa mencari pengganti dirimu dalam hidupku. Aku rela menduda hingga bertahun-tahun lamanya, tidak jarang banyak mulut-mulut yang dengan jahat menyakiti diriku lewat perkataan nya mengenai status diriku yang duda dan belum juga menikah. Mungkin ini balasan Allah untuk diriku, agar aku bisa layak lagi, jika harus di pertemukan dan di sandingkan dengan dirimu lagi. Memilikimu kembali adalah mimpi yang tidak pernah tidak aku harapkan. Bahkan, sekalipun itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi setidaknya, Tuhan tahu, bahwa aku masih ingin diberikan kesempatan untuk memiliki bidadari ku lagi yang telah hilang. Kamu adalah wanita terindah yang pernah kumiliki, semoga saja tidak hanya pernah kumiliki, tapi akan kembali aku miliki. Sudah berkali-kali aku bunuh perasaan ini untukmu, tapi semakin aku hancurkan, perasaan ini semakin kuat. Bahkan hampir membuatku putus asa.


"Masih melamun?!. Masih mikirin mantan istrimu?! ".


"Bunda?. Maafkan Fatih Bunda, Fatih tidak ada maksud menentang Bunda".


"Sudahlah, tidak usah di bahas. Ayok antar Ibu dan Ilham ke Mall. Bunda mau beli sesuatu".


" Jadi Bunda tidak marah kan?".


"Mana bisa Bunda marah dengan putra Bunda satu-satu nya? ".


" Alhamdulillah, Alapyu pull Buunnn".


Ucapku sembari mencium kening Bunda, dan berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2