
"Hallo, Assalamu'alaikum".
"Iya Hallo, Wa'alaikumussalam".
" Apa benar ini dengan keluarga Pak Fahmi? ".
" Iya benar, ada apa ya? ".
" Mohon maaf sebelumnya, kami dari bagian informasi rumah sakit Fatimah Yogyakarta. Kami mau menginfokan, bahwa saudara Fahmi sedang dirawat di rumah sakit Fatmawati. Mohon pihak keluarga untuk segera datang dan mengurus administrasi nya".
"A-apa?!. Suami saya masuk rumah sakit??!. Tapi kenapa dengan suami saya?!. Apa yang terjadi?! ".
"Silahkan datang dulu saja ke rumah sakit. Nanti akan kami jelaskan kronologi kejadian nya. Baik saya tutup sambungan telepon nya. Assalamu'alaikum".
" Wa'alaikumussalam ".
Badanku gemeteran, lemas. Telepon yang baru saja aku terima, mengbarkan sebuah kabar duka padaku. Pantas saja, sedari tadi perasaanku sangat tidak enak dan pastinya sangat tidak tenang. Berkali-kali aku berdoa, agar suamiku baik-baik saja. Tapi faktanya, Allah menghendaki lain. Sudah aku bilang pada mas Fahmi, jangan berangkat kerja. Karena Firasat diriku sangat tidak enak. Mas Fahmi tidak mau mendengar perkataan ku. Dia tetap memaksa untuk berangkat kerja. Mas Fahmi tipe orang yang pekerja keras. Dia menganggap sebuah amanah adalah hutang yang harus segera dibayar. Tapi ini kali pertamanya, Mas Fahmi hingga jatuh sakit dan masuk kerumah sakit.
"Ibuu....?!. Ibuu...?! ".
Aku bergegas mencari Ibu. Aku tidak bisa menunggu lama lagi. Ibu harus segera tahu kabar ini dan langsung berangkat menuju ke rumah sakit. Pikiranku sedari tadi sudah tidak karuan. Bagaimana kondisi suamiku sekarang.
" Ada apa Aisyah?. Kok kamu sangat panik begitu?! ".
" Ibu... Mas Fahmi Bu".
"Fahmi?. Ada apa dengan Fahmi nak?. Bukankah dia tadi berangkat ke kantor?".
" Bu, tadi Aisyah baru saja menerima telepon dari pihak rumah sakit Fatimah Yogyakarta. Mas Fahmi masuk rumah sakit Bu. Hikkks... hiiikks.. Kita harus segera kesana Bu. Aisyah khawatir ".
"Apa?!. Fahmi masuk rumah sakit?. Tapi kenapa nak? ".
" Aisyah juga tidak tahu Bu, pihak rumah sakit menyuruh agar kita segera ke rumah sakit".
"Baiklah, kamu tenang yah. Biar Ibu siap-siap dan menelepon pak Herman. Mumpung Wawa juga sedang sekolah".
" I-iyah Bu".
Aku tergopoh menuju kamar. Mengambil beberapa potong baju Mas Fahmi. Juga menyiapkan segala keperluan untuk dibawa ke rumah sakit. Aku menyeka air mataku, lisanku selalu basah dengan ribuan dia untuk suamiku Mas Fahmi.
"Bu, Aisyah sudah siap".
" Iya nak, itu Pak Herman juga sudah didepan. Ayok nak".
Aku dan Ibu buru-buru keluar rumah dan segera masuk kedalam taksi mobil Pak Herman.
"Pak Herman, tolong agak cepat ya bawa mobil nya. Saya ingin segera sampai ke rumah sakit".
" Sabar Aisyah. Kamu sedang hamil, ada janin yang juga harus kamu jaga nak".
"Iyah Bu, Aisyah hanya sangat khawatir dengan keadaan Mas Fahmi. Aisyah ingin segera menemui Mas Fahmi Bu".
" Ibu juga sangat khawatir dengan Fahmi nak. Kita banyak berdoa saja yah. Semoga Fahmi hanya kelelahan, dan syukur hari ini juga bisa segera pulang kerumah".
"Baiklah Bu".
Aku hanya bisa menuruti apa yang diucapkan oleh Ibu mertuaku. Ibu benar, aku sedang hamil. Ada kehidupan didalam perutku yang juga harus aku juga. Sepanik apapun, aku harus tetap berusaha tenang. Meskipun sejujurnya hatiku sedang kalang kabut memikirkan bagaimana kondisi Mas Fahmi di rumah sakit. Semoga saja, perjalanan menuju rumah sakit Fatimah tidak terkendala macet. Jalan menuju rumah sakit Fatimah melewati perkantoran dan sekolah, sehingga kadang jalanan nya menjadi sangat ramai dan sering macet. Entah mengapa, rasanya ada yang sakit di tubuhku. Mendengar suamiku yang sangat aku cintai terbaring sakit lemah tak berdaya.
"Pak Herman".
" Iya Bu".
__ADS_1
"Pak, nanti jam sebelas siang. Tolong jemput Marwah di sekolah nya yah. Sekalian minta tolong di antarkan ke rumah sakit Fatimah".
" Baik Bu".
Aku mendengar Ibu mertuaku menyuruh pak Herman untuk menjemput Wawa disekolah nya. Ibu juga menyuruh pak Herman untuk mengantarkan Wawa ke rumah sakit setelah pulang dari sekolah. Marwah tidak mungkin pulang kerumah. Tidak ada satu pun orang dirumah.
"Pak Herman, sedikit lebih cepat yah pak".
"Iya non Aisyah. Ini juga bapak sudah menambah kecepatan mobil nya. Sabar yah non".
"Iyah Pak".
Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menangis dan terus berdoa. Aku sangat khawatir. Bertahun-tahun menikah denganku, baru kali ini Mas Fahmi sakit hingga harus di rawat di rumah sakit. Biasanya, Mas Fahmi hanya akan meminum kamu tradisional dan besok nya langsung agak baikan. Tapi kenapa sekarang mas Fahmi bisa sampai sangat drop kesehatan nya?. Apa pekerjaan Mas Fahmi di kantor menyebabkan stress dan berpengaruh pada kesehatan jasmani suamiku?.
"Pak berapa lama lagi akan sampai nya? ".
" Tiga menit lagi non. Sebentar lagi non".
Ibu memegang tanganku erat. Memberikan dukungan padaku. Meyakinkan diriku, bahwa putranya yang kimi sedang tergeletak sakit akan baik-baik saja. Bersyukur sekali, aku memiliki seorang mertua seperti Ibu. Ibu bahkan tidak pernah membuat sakit hatiku. Menganggap diriku seperti anak kandung nya sendiri. Meskipun tinggal satu rumah, Ibu mertuaku bahkan tidak pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku dengan putranya. Bahkan, aku tidak pernah sekalipun ada masalah dan cekcok dengan Ibu. Salah satu nikmat dari Allah adalah diberikan mertua yang sangat baik. Diluar sana, banyak sekali menantu yang ribut dengan mertua nya. Dan aku tidak ingin sedikit pun itu terjadi pada diriku.
"Pak ayo! ".
Ucapku semakin tidak sabar.
" Sabar nak Aisyah. Ini juga sudah sampai di parkiran rumah sakit".
Ibu kembali menenangkan diriku.
Pintu mobil langsung aku buka begitu mobil terparkir dan berhenti. Jika tidak sedang hamil, aku mungkin akan berlari kencang kedalam rumah sakit.
Ibu menggandeng diriku, bahkan lebih ke menahan diriku agar tidak berjalan terlalu cepat. Bagaimana aku bisa santai-santai. Sedangkan suamiku sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit.
Aku langsung menuju ke bagian informasi dan administrasi rumah sakit, begitu masuk kedalam rumah sakit Fatmawati.
" Sebentar yah Bu. Saya cek dahulu data nya".
Aku menunggu petugas informasi dan adminstrasi mencari data ruangan dimana Mas Fahmi dirawat.
"Di Ruang VVIP Melati yah Bu".
" Baik, makasih banyak Mbak. Mbak maaf, kalau boleh tahu. Siapa yang mengetahui kronologi kejadian, kenapa suami saya bisa masuk rumah sakit. Atau adakah petugas lain yang mengurusi pertama kali suami saya masuk di rumah sakit ini?! ".
" Ada Bu. Sebentar saya panggil kan".
Ucap petugas dengan nama Ria dibaju nya.
"Dengan Ibu Aisyah?! ".
"Iya saya Mba".
Seorang petugas rumah sakit keluar dari dalam ruangan. Dan menghampiri diriku. Sepertinya ini petugas yang pertama kali mengurus kedatangan Mas Fahmi dirumah sakit ini.
" Silahkan duduk Mba".
Aku menuruti permintaan petugas dengan kertas nama bertuliskan Neni ini.
"Jadi begini mba. Tadi pasien atas nama Fahmi. Dibawa kerumah sakati dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Seorang laki-laki membopong dan membawa suami Ibu kerumah sakit ini. Beliau juga yang menyuruh pasien atas nama Fahmi di rawat di ruangan VVIP terbaik di rumah sakit ini Informasi yang saya dapat dari laki-laki tersebut, suami ibu tidak sadarkan diri didalam mobil, dan mobil dalam keadaan mesin yang tidak menyala. Hanya itu saja yang saya tahu Bu".
"Siapa nama orang yang membawa suami saya kerumah sakit ini Mba?! ".
" Saya tidak sempat menanyakan namanya Bu. Beliau hanya meninggalkan sebuah nomor. Beliau bilang, ini nomor istrinya. Jadi dari pihak kami, tadi menghubungi nomor Ibu".
__ADS_1
"Coba mbak, di ingat-ingat lagi. Siapa tahu orang itu pernah menyebutkan nama pada mbak".
" Tidak Bu, laki-laki itu tidak menyebutkan nama. Beliau hanya meninggalkan sebuah nomor. Dan pergi begitu saja setelah membayar semua biaya rumah sakit nya".
"Hah?!. Ja-jadi, orang itu juga sudah melunasi semua biaya perawatan suami saya di rumah sakit ini mbak?! ".
" Iya betul Ibu. Sudah dibayar lunas. Jadi nanti keluarga pak Fahmi tidak perlu membayar pada bagian administrasi lagi. Baik ada yang kau ditanyakan lagi?. Jika tidak ada, saya akan pamit untuk melanjutkan tugas".
"Sudah tidak ada mbak. Terimakasih banyak informasi nya".
Aku berdiri dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Siapa orang baik yang sudah menolong Mas Fahmi. Dan bagaimana bisa, suamiku pingsan tak sadarkan diri didalam mobil yang terkunci dan mesin yang mati. Dengan apa orang itu menolong Mas Fahmi. Biaya pengobatan dan perawatan Mas Fahmi bahkan sudah dibayar lunas. Ruang VVIP terbaik di rumah sakit ini, pastilah sangat mahal sekali biayanya. Aku berhutang nyawa pada orang itu. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana nasib Mas Fahmi yang tidak sadarkan diri dialam mobil yang terkunci dadi dalam, serta ditambah dengan mesin mobil yang mati. Sering terjadi kejadian, orang meninggal akibat kehabisan oksigen didalam mobil. Didalam mobil yang terkunci apalagi dengan mesin yang tidak menyala, maka sirkulasi oksigen didalam nya sangat sedikit. Udara didalam mobil juga sangat tidak baik untuk paru-paru. Itu yang bisa menyebabkan hilang nya nyawa seseorang yang terperangkap didalam mobil. Bagaimana caranya, aku mencari tahu. Siapa sebenarnya orang yang telah menyelamatkan Mas Fahmi.
"Nak, bagaimana?!. Dimana putra ibu dirawat?! ".
Ibu mertuaku langsung menanyakan ruangan tempat putra nya diberikan perawatan. Aku sedari tadi memang menyuruh Ibu untuk menunggu di kursi tunggu. Kasihan Ibu, beliau sudah tua. Aku tidak ingin Ibu kelelahan. Setidaknya jika duduk, Ibu mertuaku tidak lelah dan bisa beristirahat setelah perjalanan menuju rumah sakit Fatmawati.
"Mas Fahmi di ruang VVIP Melati Bu".
" Ayok nak, kita kesana! ".
"Iyah Ibu, ayok kesana. Aisyah sudah ingin bertemu dengan Mas Fahmi".
Aku berjalan meninggalkan lobby rumah sakit, dan menuju pada ruangan VVIP Melati tempat dimana suamiku di rawat. Sepanjang berjalan menuju ruangan dimana Mas Fahmi dirawat, pikiranku masih saja terus berputar. Menerka-nerka, siapa sebenarnya orang baik yang sudah menolong dan menyelamatkan mas Fahmi. Mungkinkah dia seseorang yang aku kenal?!. Tapi siapa, bahkan aku tidak memiliki kecurigaan dengan siapapun. Nantilah, akan aku cari lagi informasi orang tersebut.
"Kreekk.... ".
Begitu sampai didepan kamar VVIP Melati, pintu kamar VVIP Melati kubuka perlahan. Aku tidak mau mengganggu suamiku. Mataku langsung panas, air mata tidak lagi terbendung oleh kelopak mataku. Wushh, seketika aku menangis. Melihat seseorang yang sangat aku cintai terbaring lemah dengan selang oksigen dan Infus menempel ditubuhnya. Rasanya sangat tidak tega, melihat suamiku yang biasanya sangat semangat tiba-tiba harus tergeletak tidak berdaya seperti ini. Aku mencium kening Mas Fahmi, bahkan hingga air mataku menetes tepat di pipinya. Suamiku masih tidak sadarkan diri. Hari ini, aku sangat hancur. Istri mana yang tidak hancur hatinya?, melihat orang yang sangat dicintainya harus terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Semewah apapun ruangannya, tetap saja. Tidak ada orang yang mau menginap di dalam nya.
"Mas Fahmi, Aisyah sama Ibu datang. Maaf kami lama datang nya".
Ucapku pada Mas Fahmi yang masih memejamkan matanya. Aku mengelus lembut rambut laki-laki hebat ini.
" Mas Fahmi, cepat sehat ya sayang. Asiyah tidak kuat melihat Mas terbaring lemah seperti ini Mas. Mas Fahmi kenapa tidak mau nurut dan mendengarkan Aisyah. Aisyah kan sudah bilang, jangan berangkat kerja. Firasat Aisyah tidak enak. Tapi mas malah memaksa. Hikkks... hikkks... ".
Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku menangis di samping ranjang rumah sakit tempat mas Fahmi terbaring. Detik ini, aku sangat takut kehilangan Mas Fahmi. Rasa takut itu sangat besar. Laki-laki baik ini bahkan sampai drop karena terlalu bersemangat mencari nafkah demi istri dan anak-anak nya. Betapa sangat mulia nya, apa yang mas Fahmi lakukan.
"Nak Aisyah, duduklah. Kamu jangan terus menangis seperti ini. Kasihan calon anak mu".
Ibu memeluk diriku, mengingatkan aku agar tidak terus menangis. Mengingatkan diriku, bahwa aku sedang hamil dan tidak boleh terlalu lelah dan stress. Bagaimana mungkin aku tidak stress melihat suamiku terbaring dengan alat-alat medis ditubuh nya.
"Ayok duduk nak".
Ibu membawakan sebuah kursi tunggu kepadaku. Sedari tadi aku berdiri di samping ranjang. Aku mendudukkan tubuhku di kursi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk penunggu pasien. Aku menyenderkan kepalaku di tepi ranjang. Tanganku terus menggenggam jari jemari Mas Fahmi. Air mataku bahkan masih terus menetes. Aku tidak henti-henti nya berdoa, berbisik lembut pada Allah. Agar pasangan hidupku segera pulih dan sehat kembali. Mas Fahmi adalah orang yang sangat aku butuhkan dalam hidupku. Laki-laki yang sangat luar biasa. Setiap sakit, dia selalu meyakinkan pada istrinya, bahwa dia tidak apa-apa. Dia selalu bilang, nanti akan sembuh dan lain sebagainya. Nyatanya, akhirnya laki-laki kuat ini tumbang juga. Badannya menuntut untuk beristirahat.
"Aisyah, kamu istirahat dulu nak. Jangan memaksakan diri. Kasihan janin kamu".
" Tidak apa Ibu. Aisyah ingin selalu disamping Mas Fahmi Bu. Hikks.. hiiikks... ".
"Nak, jika memang kamu mencintai suami juga calon anak mu. Menurut lah pada Ibu, beristirahat saja dulu. Biar Ibu yang jaga Fahmi".
" Tapi Bu... ".
" Ayo Nak. Ada Fahmi, Marwah, dan calon anak kamu didalam perut yang masih membutuhkan kamu. Kamu harus tetap sehat anakku ".
" Ba-baiklah Bu".
Tidak ada pilihan lain, aku berdiri dan mundur dari ranjang. Aku mengikuti perintah Ibu, Ibu benar. Aku harus tetap sehat. Demi semua orang yang aku cintai. Aku membaringkan tubuhku di sofa tunggu. pasien, dan membiarkan Ibu yang duduk menemani Mas Fahmi.
"Ya Allah, sehatkanlah suamiku".
Doaku sebelum akhirnya tertidur pulas.
__ADS_1