
Assalamu'alaikum Teman-teman.
Aku sudah Release Dua judul Novel baru.
Tapi Hanya Bisa kalian baca di Aplikasi ****** yah.
Baca Gratis. Jangan lupa Tap Love 💜 yah.
Nama Pena : Noktafia Diana Citra
Judul : AKU TETAP WANITA SEMPURNA
BAB 2 Terpaksa Caesar
Sembilan bulan berlalu...
Hari ini rasanya perutku semakin tidak enak sekali. Kontraksi semakin sering dan juga mulai intens. Durasi kontraksi nya sudah mulai sangat dekat, setiap tiga menit sekali aku merasakan kontraksi yang hebat. Semua informasi dan teknik untuk menghadapi gelombang cinta dari si bayi sudah akun lakukan. Dari mulai berjalan cepat, memainkan gym ball dan lain sebagainya. Lebih baik aku mengabari Mas Ricky saja. Aku takut, waktu persalinan diriku semakin dekat.
"Hallo Mas! Mas bisa pulang sekarang?! Rasanya Kenanga sudah ingin melahirkan Mas. Kenanga ingin ke klinik saja."
"Iya halo, oke sayang. Sabar sebentar, Mas akan ke sana ya!."
"Baik Mas."
Telepon ku matikan. Aku kembali melakukan jalan cepat untuk membuat si adik bayi semakin turun pada jalan lahir. Keringat sudah membasahi tubuh ku, kontraksi yang aku rasakan semakin hebat. Mungkinkah sudah ada pembukaan?. Kenapa kontraksi nya bahkan sangat kencang sekali. Teknik pernafasan aku atur sedemikian rupa. Luar biasa sekali perjuangan seorang wanita. Baru kontraksi saja sakitnya sangat nikmat. Apalagi nanti saat proses persalinan.
"Sayang?! Gimana? Sudah ada tanda-tanda mau melahirkan?!."
"Pyukk!."
Suara ketuban ku yang pecah. Air ketuban mengalir kemana-mana. Aku sangat panik, begitu juga dengan Mas Ricky. Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari suamiku. Tiba-tiba kejadian pecah ketuban membuat wajahku menjadi pucat pasi.
"Apa itu Kenangan?!."
"Seperti nya kantung ketuban Kenanga pecah Mas."
"Apa?! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang. Mas sangat panik Kenanga!."
"Iya Mas. Kita harus cepat-cepat menuju klinik Mas. Kenanga harus mendapatkan tindakan!."
"Ayo berangkat!."
"Mas, tapi bagaimana dengan air ketuban ini. Kenanga belum membersihkan nya. Jika Ibu pulang dan lihat, pasti akan marah pada Kenanga!."
"Astaga, sudah biarkan saja. Nanti Mas akan minta tolong pada Bi Teni untuk membersihkan nya. Sekarang ayo kita ke klinik."
Mas Ricky membopong tubuhku menuju mobil. Wajah nya jadi ikut pucat seperti diriku. Sepanjang jalan menuju klinik, aku hanya bisa mengatur nafas dan kemudian sedikit berteriak. Rasanya sangat tidak karuan sekali. Kontraksi semakin kuat, aku sudah mandi keringat sedari tadi.
"Mas, lebih cepat. Kenanga sudah tidak tahan. Aaaww...!."
"Sabar sayang. Mas sudah panik, jangan menambah kepanikan Mas."
"Tapi rasanya sudah sangat sakit Mas. Kenanga sudah tidak bisa menahannya lagi!."
"Ayo, keluarkan semua jurus yang sudah kamu pelajari ketika akan melahirkan. Kamu pasti bisa sayang. Mas akan fokus menyetir lagi!."
Setelah melewati drama yang lumayan bikin panik di perjalanan. Akhirnya aku dan Mas Ricky sampai juga di klinik persalinan nya. Mas Ricky langsung keluar dari mobil dan kemudian berteriak-teriak memanggul staff klinik.
"Tolong, istriku mau melahirkan. Dia sudah kesakitan dari tadi!."
Teriak Mas Ricky yang kemudian membopong diriku.
Beberapa petugas klinik sudah siap dengan membawa tempat tidur dorong. Tubuhku di taruh di atas tempat tidur dorong dan kemudian dengan cepat dibawa menuju kamar persalinan. Seorang dokter wanita datang, dia adalah dokter kandungan tempat diriku berkonsultasi sejak awal kehamilan. Dokter kandungan langsung mengecek pembukaan pada diriku.
"Ini baru pembukaan tiga bu. Masih lama untuk menuju pembukaan lengkap."
Ucap dokter dengan santai nya.
"Memangnya pembukaan harus sampai berapa dok?!."
Tiba-tiba Mas Ricky yang panik langsung menanyakan kondisi diriku yang dikatakan masih pada pembukaan persalinan tiga.
"Harus ke pembukaan sepuluh pak. Barulah istri bapak boleh mengejan untuk melahirkan buah hati nya. Silahkan Ibu banyak melatih pernafasan. Jangan banyak bergerak, karena ketuban sudah pecah. Jika dalam waktu tiga puluh menit pembukaan tidak bertambah juga. Mau tidak mau Ibu harus di induksi agar mempercepat proses persalinan nya."
"Baik dok."
Jawabku Pasrah.
Aku sudah sering membaca mengenai persalinan yang harus diberikan obat perangsang atau induksi. Agar mempercepat pembukaan, setiap artikel yang aku baca. Rata-rata mengatakan bahwa sakitnya melahirkan dengan induksi dua kali lipat jauh lebih menyakitkan dari pada proses normal. Tenang, akun tidak boleh panik. Apapun resiko nya, aku harus bisa melahirkan secara persalinan normal. Sekalipun harus dengan induksi. Baru pembukaan tiga saja rasanya sudah sangat nikmat. Apalagi nanti jika sampai ke pembukaan sepuluh.
"Ayolah nak, Mamah minta kerja sama nya. Cepatlah keluar, jangan sampai Mamah di induksi sayang."
Ucapku ditengah kontraksi, sembari mengelus lembut perutku.
Afirmasi positif pada diri sendiri dan juga pada bayi yang dalam perutku itu sangat penting. Percaya, aku harus percaya bahwa aku dan anak ku mampu melewati proses persalinan ini dengan normal dan lancar.
Tiga puluh menit berlalu...
"Permisi, mau saya cek dalam lagi Bu. Semoga saja pembukaan nya sudah bertambah."
Dokter kandungan kembali melakukan cek dalam pada diriku. Bibirku tidak henti-henti nya berdoa, agar pembukaan persalinan ku bertambah.
"Pembukaan masih stuck di angka tiga. Mau tidak mau Ibu harus segera diberikan tindakan induksi. Bagaimana, apa Ibu bersedia? Ketuban yang sudah pecah, maka bayi dalam kandungan Ibu harus segera dilahirkan. Jika tidak akan sangat berbahaya, bisa jadi nyawa bayi Ibu tidak bisa terselamatkan."
"Lakukan saja yang terbaik dok. Saya ingin bisa melahirkan melalui persalinan normal dok."
"Baik Bu. Kita berdoa dan berusaha bersama ya. Semoga keinginan Ibu dimudahkan oleh Tuhan."
Perawat menyuntikkan cairan pada botol infus ku. Mungkin itu adalah cairan induksi agar mempercepat pembukaan. Jujur saja, aku sedikit tegang dan takut. Mengingat kembali ucapan Ibu mertua, membuat rasa takutku menjadi hilang. Persalinan pertama, aku pasti mampu melahirkan secara normal. Didepan Ibu, aku harus bisa membuktikan bahwa aku mampu melahirkan seorang bayi dengan persalinan normal tanpa kurang satu apapun.
"Sudah kami suntikkan cairan induksi dalam botol infusnya yah Bu. Kurang lebih sekitar seperempat jam, Ibu akan mulai merasakan mules dan kontraksi yang semakin kuat. Jangan mengejan sebelum dipastikan pembukaannya sudah lengkap yah Bu."
Benar saja, bahkan kurang dari lima belas menit. Obat induksi itu sudah bereaksi pada tubuhku. Rasanya bahkan tidak mampu aku jelaskan, sakit dan benar-benar menguras tenaga. Air mata mengalir deras dari sudut mataku. Mas Ricky tidak tega melihat diriku yang kesakitan. Dia memilih untuk menunggu diriku di luar ruangan. Didalam ruangan aku sendirian, berjuang dengan sekuat tenaga. Bahkan rasanya, tenagaku hampir habis. Tubuhku lemas sekali, bahkan keringat semakin banyak yang keluar.
"Kenapa dokter dan para perawat lama sekali datang nya. Aku sudah tidak kuat lagi, badan ku sudah lemas dan tidak punya tenaga." Gerutu ku ditengah gelombang kontraksi yang dahsyat.
__ADS_1
"Dokter! Suster! Tolong, aku sudah tidak kuat. Rasanya sangat sakit. Hiks."
"Permisi, saya cek dalam lagi yah Bu."
"Bagaimana dok?! Apa pembukaan nya sudah lengkap?!."
"Maaf Bu, seperti nya Ibu harus diberikan tindakan operasi. Pembukaan masih berada di angka empat. Sedangkan air ketuban hampir habis. Jika tidak segera di keluarkan, maka bayi Ibu terancam kehilangan nyawa."
"Tidak dok, saya tidak mau operasi. Saya ingin melahirkan secara normal. Pasti ada cara lain. Tolong lakukan sesuatu Dok!."
"Hanya ada satu jalan Bu, yaitu dengan operasi SC. Induksi sudah diberikan, tapi pembukaan hanya bertambah sedikit. Kondisi nya sudah tidak memungkinkan untuk bisa melahirkan normal Bu. Selain air ketuban yang hampir habis, detak jantung bayi Ibu juga ritme nya sangat cepat. Saya khawatir akan terjadi sesuatu jika terus di paksakan dengan jalan induksi. Hal terburuk nya, jantung bayi Ibu tidak kuat menahan efek dari cairan induksi yang terlalu lama Bu."
Mas Ricky masuk kedalam ruangan. Sepertinya dia mendengar diriku yang menangis dan sedikit berteriak pada dokter dan perawat yang sedang menangani diriku.
"Ada apa Kenanga? Apa yang terjadi Dok?!."
"Begini Pak, kondisi istri Bapak sudah tidak memungkinkan untuk melahirkan secara persalinan normal. Air ketuban sudah sangat sedikit itu sangat membahayakan nyawa bayi nya. Selain itu, detak jantung bayi nya juga sangat cepat ritme nya. Saya khawatir akan berakibat fatal jika dipaksakan dengan induksi yang terlalu lama."
"Lalu jalan keluar yang terbaik apa Dok?!."
Tanya Mas Ricky panik.
"Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan persalinan secara SC Pak. Bayi Bapak harus segera dilahirkan."
"Baiklah dok, lakukan saja yang terbaik untuk istri dan anak saya."
"Tidak Mas. Kenanga ingin melahirkan normal. Kenangan tidak mau di operasi. Hiks.. "
Aku menangis dan merengek pada Mas Ricky. Kenapa aku tidak bisa melahirkan normal?. Kehamilan pertamaku, kenapa harus langsung berakhir ke meja operasi?.
"Sudahlah sayang, yang terpenting sekarang adalah kamu dan anak kita selamat. Apapun caranya, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang hal yang tidak penting yah."
Mas Ricky memberikan dukungan padaku, meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Pak, silahkan ikut kami untuk menandatangani berkas persetujuan untuk melakukan operasi SC." Ucap salah satu perawat.
"Baik mba."
Mas Ricky keluar meninggalkan diriku yang masih menangis. Kecewa rasanya, kenapa aku tidak bisa melahirkan normal. Harusnya aku mampu, harusnya tidak seperti ini.
"Sayang, operasi SC akan dilakukan sebentar lagi. Lebih baik kamu banyak berdoa dan menenangkan diri yah. Jangan memikirkan apapun selain untuk keselamatan dirimu dan anak kita."
Aku tidak menjawab apapun. Mataku ku pejamkan. Berusaha menenangkan diri sendiri. Apa yang dilakukan sekarang adalah jalan terbaik dari Allah. Aku harus bisa menerima takdir yang ada.
Satu jam berlalu...
"Ooaa... Oaaa... Oaaa... "
Tangisan bayiku terdengar oleh telingaku. Alhamdulillah bayiku akhirnya lahir juga di dunia. Aku masih belum bisa banyak bergerak setelah operasi. Rasanya sangat bahagia, melihat mas Ricky menggendong bayi mungil yang selama sembilan bulan menghuni perutku. Rasa sakit setelah operasi, dan rasa kecewa karena gagal melahirkan normal hilang sudah dengan hadirnya malaikat kecil ini. Jagoan ku sudah melihat dunia.
"Sayang, sebentar yah. Mas mengurus administrasi nya dulu."
Ucap mas Ricky yang kemudian meletakkan bayi mungil itu kedalam box bayi. Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan ucapan dari Mas Ricky.
"Akhirnya kamu SC juga kan Kenanga! Ibu kecewa dengan mu! Ibu kan sudah memperingatkan kamu berkali-kali agar melahirkan anak dengan persalinan normal! Kenapa malah jadi di operasi?!."
"Kenanga sudah berusaha semampu Kenanga Bu, agar bisa melahirkan secara normal. Tapi ternyata, kondisinya tidak memungkinkan dan akan membahayakan nyawa dari bayi nya. Jadilah jalan terbaik, Kenanga harus di operasi Bu."
"Apa yang kamu usahakan. Melahirkan tanpa berjuang. Wanita yang melahirkan secara operasi itu bukan wanita sempurna Kenanga! Kamu tidak melakukan apapun di persalinan ini! Kamu hanya terlentang tanpa harus mengejan, beberapa menit kemudian bayi mu lahir! Itu yang kamu bilang berusaha?!."
Hancur sudah hatiku hingga berkeping-keping. Kenapa Ibu tega mengucapkan semua itu padaku. Disaat luka operasi ku bahkan masih basah dan aku juga belum bisa bergerak banyak. Air mata mengalir dari sudut mataku. Perih sekali rasanya, bahkan ucapan Ibu barusan serasa lebih menyakitkan dari pada bekas sayatan operasi SC yang baru beberapa jam yang lalu aku lakukan. Kenapa Ibu juga bahkan sampai tega, mengatai diriku bahwa aku bukanlah wanita yang sempurna, hanya karena aku melahirkan buah hatiku melalui operasi?.
"Maafkan Kenanga Bu. Hiks.. hiks.. "
"Maaf saja tidak akan pernah cukup Kenanga! Sekarang bahkan kamu tidak bisa mengabulkan keinginan Ibu. Keinginan untuk bisa mendapatkan banyak cucu dari mu!."
"Kenanga pasti bisa melahirkan normal kok Bu. Kenanga masih memiliki kesempatan untuk melahirkan normal di kehamilan kedua Kenanga nanti."
"Itu tidak mungkin! Kalau sudah sekali operasi, maka kehamilan selanjutnya juga akan operasi lagi. Dan kamu tahu?! Wanita yang melahirkan anak dengan jalan operasi akan dibatasi kehamilan nya! Berbeda dengan yang bisa melahirkan secara normal!."
"Hiks.. hiks.. "
Tangis ku pecah.
"Tidak ada guna nya kamu menangis Kenanga! Ayok Teni, kita pulang!."
Ibu pergi begitu saja, tidak perduli dengan diriku yang masih tergeletak tak berdaya. Bahkan Ibu sama sekali tidak melihat cucu pertama nya yang berada di dalam box bayi. Kenapa semuanya jadi seperti ini. Rasanya sangat menyakitkan sekali ya Allah.
"Apa salah Kenanga, kenapa harus menerima perlakuan seperti ini dari Ibu mertua Kenanga??." Ucapku lirih disela tangis.
"Neng Kenanga, yang sabar yah. Neng Kenanga Mamah yang luar biasa bagi bayi Neng Kenanga. Jangan dengarkan ucapan Nyonya Mariska barusan yah. Cepat sehat ya Neng. Bi Teni pamit pulang dulu. Takut nanti Nyonya Mariska marah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Bi. Makasih banyak Bi Teni."
"Sama-sama Neng."
Bi Teni keluar dari ruangan. Kini aku sendirian bersama buah hatiku yang baru beberapa jam melihat dunia. Merasakan sakit yang luar biasa didalam hati yang mungkin sudah hancur berkeping-keping.
JANGAN SAMPAI MENIKAH
BAB 1 Obrolan Di Meja Makan
"Nak, hari ini adalah hari pertama kamu masuk kuliah. Bagaimana rasanya?" Tanya bunda padaku disela sarapan pagi sedang berlangsung.
"Rasanya jelas sangat senang Bun. Tia sudah tidak sabar ingin segera menjadi Mahasiswa. Berkenalan dengan banyak teman baru. Dan pastinya dengan suasana serta status baru" Aku menjawab pertanyaan Ibu dengan penuh rasa semangat.
Berkuliah dan menyandang status sebagai seorang mahasiswa adalah impian para anak remaja. Mahasiswa yang dimata banyak orang merupakan status dan panggilan yang elit. Anak mana yang tidak bahagia menjadi seorang mahasiswa?. Apalagi katanya, di bangku perkuliahan akan banyak tantangan juga kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), rasa-rasanya diriku sudah tidak sabar ingin segera lulus dan naik jenjang menjadi anak kuliahan. Dan hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Berangkat kuliah tanpa harus terikat peraturan dengan mengenakan seragam. Aku jadi lebih bebas mengekspresikan diri, ingin pakai baju model dan warna apapun tidak menjadi masalah di bangku perkuliahan. Pastinya yang penting adalah tidak melupakan etika dan kesopanan.
"Tidak terasa, anak gadis Ayah sudah besar yah. Sebentar lagi sudah minta dicarikan jodoh nih" Ayah juga ikut menimpali percakapan aku dengan Bunda. Bunda tersenyum dan kemudian saling berpandangan dengan Ayah. Mereka berdua terkekeh. Sedangkan aku hanya tersenyum simpul malu-malu.
Tuhan mentakdirkan diriku menjadi anak semata wayang. Tidak memiliki kakak ataupun adik. Bagiku itu tidaklah menyenangkan. Sering kesepian juga tidak bisa berbagi karena tak mempunyai saudara kandung. Kadang kala aku sering merasa tidak bersyukur, aku sering sedih dan merasa iri dengan teman-temanku yang bisa memiliki kakak ataupun adik. Ada seseorang yang bisa dijadikan teman berbagi suka dan duka. Saat Bunda dan Ayah sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku hanya duduk seorang diri, berusaha menerima keadaan. Kebanyakan orang, hanya bisa menilai sesuatu dari apa yang mereka lihat saja, bukan dari apa yang dirasakan oleh yang mereka lihat. Yah begitulah nasibku sebagai anak satu-satunya. Selalu saja dicap manja dan hidup serba enak, karena kasih sayang kedua orang tua tidak terbagi dengan saudara kandung yang lain. Tapi mereka tidak tahu, ada sisi kosong dalam sanubari ku. Kosong dan kesepian karena tidak memiliki saudara kandung. Biarlah, mereka tetap menilai menjadi anak semata wayang adalah kenikmatan paling enak.
"Ih, Tia nggak mau dijodohkan Ayah! Nanti pilihan Ayah tidak sesuai dengan kriteria Tia! Nggak, nggak mau. Tia akan mencari jodoh Tia sendiri!" Sergahku memprotes ucapan Ayah.
__ADS_1
"Haha.. Kalian ini. Sudah-sudah baru juga mau masuk kuliah. Udah ngomongin jodoh aja!" Bunda terkekeh dan menengahi.
Ayah memberikan tatapan bingung pada Bunda. Dahi Ayah mengernyit seolah tidak setuju dengan apa yang barusan Bunda ucapkan.
"Loh, kalau sudah jadi mahasiswa itu artinya anak kita sudah dewasa loh Bun! Jelas dong, sebentar lagi obrolannya ngga jauh-jauh tentang jodoh. Hehehe" Ayah menolak ucapan Bunda dengan statemennya.
"Tapikan itu masih empat tahun lagi Mas! Sekarang anak kita baru mau masuk kuliah loh. Nanti yang ada Tia malah jadi tidak fokus kuliah gara-gara pembicaraan hari ini yang bahas masalah jodoh! Iya kan sayang?" Bunda meminta persetujuan dariku.
"Hehe.. Seratus untuk Bunda" Jawabku mengiyakan.
"Lah, biarin saja. Ayah kan ingin segera momong cucu. Haha.. Oh iya nak! Kalau ada laki-laki di kampus yang naksir kamu suruh menghadap Ayah dulu yah!" Nada bicara Ayah seperti di buat-buat.
Meksipun nada bicara Ayah barusan seperti sedang bercanda. Tapi aku sangat mengerti bagaimana Ayah. Ayah sangat sayang padaku, dari jaman SMA Ayah sangat tidak ingin putri satu-satunya terluka karena laki-laki. Ada pesan tersirat dari ucapan Ayah barusan padaku.
"Kenapa memangnya? Kok harus menghadap Ayah dulu?" Tanyaku.
"Nak, Ayah tidak mau. Kamu mendapatkan seseorang yang salah. Ayah ingin kamu hidup bahagia tanpa kurang satu apapun. Makanya Ayah akan menjaga dirimu!" Jelas Ayah padaku. Sorot mata Ayah sangat tajam menatap mataku. Ada rasa kasih sayang yang amat besar tergambar jelas dari sorot mata Ayah untukku.
"Ayah tidak perlu khawatir. Tia akan memilih laki-laki yang tepat untuk menjadi pasangan Tia!" Jawabku mencoba meyakinkan Ayah.
"Sudahlah, kalian ini. Cepat makan! Nanti sayur dan lauknya dingin. Malah jadi tidak nikmat makannya" Ibu kembali menengahi. Memecahkan suasana haru di meja makan.
"Iya Bun" Jawabku pendek.
Hari ini meja makan sedikit penuh dengan berbagai macam makanan. Bunda memang sengaja memasak dan memesan masakan yang berbeda. Bunda bilang, hitung-hitung ini adalah acara syukuran sederhana dan kecil. Karena anak semata wayang Ayah dan Bunda hari ini akan mulai masuk kuliah. Sejujurnya, bagiku semua ini sangatlah berlebihan. Tetapi, tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan berterimakasih pada Bunda dan Ayah. Mungkin, bagi mereka ini adalah salah satu momen membahagiakan dalam hidup mereka. Bunda tidak bisa memberikan Ayah keturunan lagi setelah melahirkan diriku. Operasi pengangkatan rahim mau tidak mau harus Bunda lalui. Bundaku terkena penyakit tumor rahim, sehingga akan sangat membahayakan nyawa Bunda sendiri jika memaksakan kehendak untuk hamil lagi. Tidak hanya nyawa Bunda, tapi juga nyawa bayi yang dikandung Bunda juga akan tidak terselamatkan. Aku yakin, kondisi itu sangat membuat Bunda dan Ayah sangat terpukul. Jika mengingat perjuangan Bunda, kadang kala aku juga menjadi sering dan banyak bersyukur karena telah dilahirkan kedunia meskipun tanpa seorangpun saudara.
"Ayah sama Bunda antar kamu ke kampus ya sayang" Ucap Ayah disela kunyahan makannya.
"Hah! Masa kaya anak SD sih? Pakai acara di antar segala. Tia berangkat sendiri saja Ayah!" Aku menolak untuk diantarkan menuju kampus. Malu sekali rasanya jika harus diantarkan seperti ini.
"Yasudah" Jawab Ayah pendek.
Saat ini, pasti Ayah sangat kecewa dengan respon dariku barusan. Lagi pula, kenapa harus diantarkan seperti itu. Toh aku bisa berangkat sendiri. Wajah Ayah terlihat menjadi murung. Sedangkan Bunda memilih cuek dan fokus dengan piring yang ada didepannya.
Lebih baik aku menuruti keinginan Ayah. Dari pada aku harus membuat Ayah bersedih.
"Baiklah, hari pertama Putri masuk kuliah. Putri akan diantar Bunda dan Ayah" Jawabku pasrah.
"Nah gitu dong! Kan Ayah jadi senang. Masa mau antar anak kesayangan nggak boleh. Lagi pula, Ayah ingin memastikan putri Ayah happy di hari pertama dia kuliah" Ayah terlihat sangat bahagia dan langsung bersemangat. Deretan gigi putih Ayah terlihat jelas. Sedangkan Bunda hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku suaminya.
"Iya deh iya Ayah" Aku berusaha legowo dan pasrah. Kadangkala Ayah berubah jadi seperti anak-anak kalau sudah berurusan dengan masalah putri semata wayangnya.
Sarapan pagi selesai. Perkuliahan pertamaku dimulai pukul delapan pagi. Jarak dari rumah ke kampusku tidak terlalu jauh. Kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit saja. Tidak sabar rasanya ingin segera berkenalan dengan teman baru dari berbagai sekolah. Dari tadi malam saja, mataku sulit sekali terpejam. Ingin segera cepat pagi dan kemudian berangkat ke kampus.
"Ayo sayang. Ayah dan Bunda sudah siap nih. Hehe" Ayah terlihat sangat bersemangat untuk mengantarkan anak gadis satu-satunya untuk berangkat kuliah di hari pertama.
"Ayok!" Ajak ku tak kalah semangatnya dengan Ayah.
Mobil yang dikendarai oleh Ayah keluar dari garasi rumah tepat di jam tujuh. Semoga saja, lalulintas hari ini tidak terlalu padat. Tidak lucu dong, jika hari pertama masuk kuliah harus telat. Kecepatan mobil yang dikendarai okeh Ayah tidak terlalu ngebut juga tidak santai. Kecepatan sedang. Biasanya jika hari senin, jalanan akan sangat padat. Tapi, semoga sekarang lancar dan tanpa hambatan.
"Nak, nanti kalau berangkat pakai motor hati-hati yah!" Bunda memecahkan keheningan yang terjadi dalam mobil.
"Iyah Bun" Jawabku singkat dengan pandangan terus tertuju pada kaca mobil. Resah sekali, takut terjebak macet.
"Ini kalau macet gimana ya?" Aku sudah tidak bisa untuk tidak panik dan kepikiran. Hari pertama masuk kuliah, aku tidak boleh telat. Syukur bisa datang lebih awal.
Ayah tersenyum ketika melihat dari cermin mobil yang mengarah ke jok belakang.
"Tenang nak. Ayah pastikan tidak akan macet. Jangan khawatir begitu dong. Wajah cantiknya jadi berkurang karena kepanikan kamu" Sepertinya Ayah tahu, jika putrinya sedang panik karena takut terjebak macetnya ibu kota.
"Tia hanya takut telat Ayah. Masa di hari pertama kuliah sudah telat. Kan malu dong!" Sergahku menjelaskan pada Ayah.
"Tenanglah nak. Kamu tidak akan terlambat. Lagi pula kamu bisa lihat sendiri jalanan sedari tadi lancar-lancar saja" Bunda juga berusaha menangkan diriku.
Aku berusaha menenangkan diriku kembali. Menarik nafas dalam dan kemudian membuang nya pelan. Semoga saja terus lancar seperti ini. Sepanjang jalan aku melihat kearah jendela. Setidaknya rasa khawatir diriku, bisa sedikit di minimalisir setelah melihat pemandangan pepohonan yang berjejer di pinggir jalan.
"Ah sial!" Pekik ayah sembari memukul setir mobil.
"Ada apa ayah!" Aku ikut panik melihat Ayah yang sepertinya sedang sangat kesal.
Wajah Ayah sangat panik.
"Ban mobilnya bocor nak! Padahal tadi Ayah sudah cek. Semuanya aman!"
"Mas, pinggirkan saja dulu mobilnya" Bunda menyuruh Ayah untuk meminggirkan mobil. Karena memang posisi mobilnya berada di tengah-tengah jalan.
Ayah turun dari mobil, setelah memarkirkan mobilnya ke tepi jalan. Diikuti oleh Bunda dan diriku. Panik sekali, jika seperti ini pasti aku akan telat sampai ke kampus. Ayah terlihat sibuk mengambil ban serep dan mulai membongkar dan mengganti ban yang bocor. Ini akan membutuhkan banyak waktu. Jika tetap menunggu hingga Ayah selesai mengganti ban mobil yang bocor.
"Bagaimana ini Mas? Tia pasti akan telat sampai ke kampusnya. Jika harus menunggu Mas selesai mengganti ban mobilnya" Bunda seperti mengerti gerak-gerik diriku yang semakin tidak tenang. Wajahku semakin panik, setelah melihat jarum jam tanganku.
"Tidak, ini tidak akan memakan banyak waktu! Tunggulah sebentar!" Ucap Ayah dengan tetap fokus pada ban bocor yang sedang berusaha dilepas.
"Bunda, bagaimana ini? Tia akan telat masuk kelas kalau harus menunggu ayah selesai. Tia tidak mau telat di hari pertama masuk kuliah Bun!" Aku merengek.
"Tenanglah. Coba lihat kanan kiri. Siapa tahu ada tukang ojek nak" Pinta bunda padaku.
Tanpa menunggu lama, aku langsung berdiri di tepi jalan dan celingukan mencari tukang ojek. Rasa gugup sudah tidak bisa lagi aku tahan. Jarum jam tanganku menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai. Di pengumuman grup kelas diberitahukan bahwa dihari pertama tidak boleh sampai telat. Sial sekali, tahu akan begini lebih baik aku berangkat pakai motor saja sendiri. Dari kejauhan aku melihat sebuah motor berjalan menuju ke arah dimana aku sedang berdiri.
"Mas! Berhenti!" Sepertinya dia bukan tukang ojek, penampilannya lebih seperti anak kuliahan juga. Tas gendong berwarna hitam bertengger di punggung laki-laki yang kini berada di depan diriku dengan sebuah motor.
"Ada apa mbak?" Tanya laki-laki yang aku suruh untuk berhenti paksa.
"Mas, aku mau ikut numpang pakai motor. Ban mobilku bocor!" Ucapku dengan terus sibuk merapihkan tas dan baju yang aku kenakan.
Tanpa aba-aba aku langsung naik pada jok motor bagian belakang. Aku tidak perduli, yang penting sekarang adalah aku harus sampai ke kampus tanpa telat.
"Tapi mbak! Saya bukan tukang ojek! Saya juga harus berangkat ke kampus!" Pekik laki-laki yang kini motornya sudah aku tumpangi.
"Sudah berangkat saja! Bun bilangin ke Ayah ya. Tia naik motor. Bye Bun!" Aku melambaikan tangan pada Bunda. Dan memaksa laki-laki ini untuk menjalankan kendaraan roda dua miliknya.
"Hati-hati nak!" Teriak bunda sembari membalas lambaian tanganku.
"Sip!" Ucapku sembari mengangkat jari jempol milikku pada bunda.
__ADS_1