
Aku membuka amplop yang baru saja diberikan oleh adikku Aldi. Jujur, hatiku tak karuan ketika akan membuka dan membaca amplop dari Bunda mertuaku. Tubuhku gemetaran hebat. Setelah satu bulan lebih, pure aku tidak pernah lagi ada komunikasi dengan Bunda dan mantan suamiku mas Fatih. Hari ini, saat aku dan suamiku bermaksud untuk berlibur dan kumpul dengan keluargaku. Surat ini datang merusak suasana hatiku. Perlahan aku membuka lipatan kertas yang ada didalam amplop itu. Aku membacanya perlahan, sekata demi sekata, kalimat demi kalimat. Semakin kebawah aku membaca tulisan tangan Bunda, hatiku semakin hancur tidak karuan. Bahkan ini kali pertamanya aku melihat tulisan mantan Bunda mertuaku. Sangat rapih dan benar-benar cantik. Jauh berbeda dengan anggapan dan asumsi orang-orang kebanyakan. Bahwa tulisan dokter susah untuk dibaca. Bunda memintaku untuk datang ke Jakarta dan menemui mantan suamiku. Bahkan disurat yang Bunda kirimkan padaku, sebegitu nya Bunda memohon-mohon padaku, agar aku mau datang menemui putranya. Aku harus bagaimana?, sepertinya Bunda benar-benar dalam kondisi dan situasi yang sulit. Aku melihat ada bekas tetes air mata dikertas yang Bunda gunakan untuk mengirimiku surat. Ada beberapa tetes, dan itu membuat ada tinta yang luntur, untung saja masih bisa terbaca. Bunda tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan mas Fatih mantan suamiku, aku tidak tahu apa yang sedang dialami oleh mantan suamiku itu. Apa dia sakit?, atau kenapa?. Dan haruskah aku datang memenuhi permintaan Bunda padaku?. Perasaanku menjadi tidak karuan. Situasi lagi-lagi menjebakku. Apa yang ada dipikiran suamiku mas Fahmi?, jika tiba-tiba aku pergi ke Jakarta untuk menemui mantan suamiku?. Akan seperti apa hancurnya perasaan mas Fahmi karenaku?. Air mataku menetes, tepat di bekas tetesan air mata bunda. Aku melipat kertas itu dan memasukkannya didalam amplop lagi. Dan kuletakkan surat dari Bunda diatas rak buku kecil yang ada didalam kamarku.
Aku keluar dari kamar dan lari menuju kamar yang tidak pernah dipakai. Kamar itu biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak lagi digunakan, atau bisa disebut gudang penyimpanan. Meksipun sebuah gudang, tapi ruangan ini tidak seperti gambaran gudang pada umumnya. Umi sangat rajin menata dan membersihkannya. Sehingga gudang kecil yang ada dirumahku benar-benar sangat rapih dan bersih. Aku sengaja masuk dalam ruangan ini, aku ingin menangis. Aku ingin menangis tanpa ada yang mengetahui. Terutama, aku tidak ingin menangis dihadapan suamiku. Aku terduduk dilantai, memeluk lututku dan sesenggukan menangis seorang diri. Kenapa lagi-lagi takdir membawaku masuk kedalam kehidupan masa laluku?. Kenapa?, tak bisakah aku diberikan kesempatan untuk move on dan melangkah dengan seseorang yang kini jadi masa depanku?.
Tidak sengaja, kakiku menarik sebuah kain yang memang digunakan untuk menutup barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan. Hingga jatuhlah kain itu, aku kaget. Ternyata dari sekian barang yang ada di gudang ini, ada satu barang yang benar-benar menyakitiku. Umi ternyata menaruh bingkai foto pernikahanku dengan mas Fatih diruangan ini. Bingkai foto itu memang lumayan besar. Saat itu, aku meminta tolong kepada umi, untuk menyingkirkan segala benda yang bisa mengingatkanku pada mas Fatih, termasuk foto pernikahanku dengannya. Foto yang dulu pernah terpajang dengan indah didalam dinding kamarku. Aku merutuki diriku sendiri, yang tanpa sengaja membuat kain itu jatuh. Mau tidak mau, aku akhirnya melihat kembali foto pernikahanku dengan mas Fatih mantan suamiku. Ah, betapa aura kebahagiaan dan penuh bunga-bunga cinta yang sedang tumbuh bersemi terpancar dari wajah di foto pernikahan itu.
"Ada apa ya Allah?, kamu kenapa mas Fatih?. Kenapa Bundamu bahkan sampai memohon-mohon padaku, agar aku bisa datang menemuimu?. Hiks... hiks.. hiks...,". Aku tersedu didepan foto pernikahanku yang dulu. Pernikahan yang begitu menyayat hati, pernikahan yang tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang harus aku lakukan?. Aku tidak mau lagi, teringat dengan segala masa laluku yang menyakitkan ya Allah. Aku memeluk erat lututku dan menenggelamkan kepalaku dalam-dalam.
"Aisyah?,". Aku memanggil istriku, yang sedang terduduk dan menangis di depan foto pernikahannya yang dulu bersama mantan suaminya.
Hatiku hancur sudahlah pasti, menyakitkan mengetahui istri yang sangat kucintai bahkan sampai menangis didepan foto pernikahan nya yang dulu. Tidakkah dia bisa ikhlas melupakan seseorang yang pernah ada dihati dan masa lalunya?, dan tidak bisakah Aisyah menerimaku dan mencintaiku seperti dulu dia mencintai mantan suaminya?. Aku hanya mampu beristighfar dalam-dalam. Sejujurnya, aku tidak sengaja melihat pintu kamar yang terbuka. Aku haus, jadi aku menuju kedapur untuk minum. Letak kamar yang dijadikan gudang ini memang berada sangat dekat dengan dapur, tepatnya ada disebelah kanan dapur rumah mertuaku. Niatku hanya ingin menutup pintu yang tidak rapat itu, tapi apa boleh buat?. Telingaku sangat peka, aku mendengar tangisan perempuan yang tertahan. Akhirnya aku penasaran dan melihat kearah dalam ruangan itu. Betapa lemas nya badanku, ketika mengetahui perempuan yang menahan tangisnya dalam sebuah gudang adalah istriku sendiri. Yang menusuk hatiku begitu dalam, menyaksikan sendiri bahwa istriku terduduk memeluk kedua lututnya sambil menangis didepan foto pernikahannya dulu dengan mantan suaminya. Aku jujur saja, menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku laki-laki, aku harus kuat. Dan diriku tidak boleh menangis, semenyakitkan apapun itu. Lumayan lama aku memperhatikan Aisyah istriku. Aisyah tidak menyadari kehadiranku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memanggil namanya pelan, dengan suaraku yang parau.
"Ma-ma-mas Fahmi?!,". Suara Aisyah terbata. Dia sangat gugup melihat keberadaanku yang sedang menyaksikan dirinya menangis didepan foto pernikahannya yang dulu. Aisyah langsung menghapus air matanya.
"Aisyah sedang apa disini dik?,". Aku berusaha untuk tetap tenang. Meskipun sejujurnya hatiku hancur dan sangat terluka.
"A-Aisyah tidak sedang apa-apa mas. Sejak kapan mas Fahmi disini?,". Aisyah bertanya padaku. Dia langsung bangun dari posisi duduknya.
Aku masuk dan mendekati istriku. Aisyah terlihat sangat ketakutan dan merasa bersalah padaku. Aku bisa merasakan itu. Istriku bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak berani memandang wajahku. Aku berusaha tetap tenang. Istighfar yang selalu kuucapkan dalam hatiku.
"Bahagianya kamu di foto ini dik. Kamu sangat cantik sayang,". Ucapku pada Aisyah. Kini aku berdiri didepan foto pernikahan istriku dengan mantan suaminya dulu.
"Mas Fahmi?,".
"Aisyah kenapa?, kok menangis digudang sendirian?, didepan foto ini?,". Aku mencoba bertanya pada istriku.
"Mas...,".
__ADS_1
"Sebentar yah dik, kamu jangan kemana-mana. Mas keluar dulu. Tunggu mas Fahmi yah,". Suamiku menyuruhku untuk tetap berada dalam kamar gudang ini. Entahlah, apa yang akan dilakukan oleh mas Fahmi.
Ya Allah, Aisyah harus bagaimana?. Mas Fahmi bahkan melihat Aisyah sedang menangis seorang diri digudang ini. Dan ternyata mas Fahmi juga melihat foto pernikahan Aisyah dengan mas Fatih dulu. Betapa jahatnya aku pada mas Fahmi, sungguh aku tidak ada maksud apapun. Aku yakin, saat ini pasti hati mas Fahmi hancur. Aku tidak menyadari bahwa ternyata, pintu gudang tidak tertutup dengan rapat. Kamu teledor Aisyah, Astaghfirullah. Aku masih berdiri tak bergeming hingga suamiku datang. Tidak menunggu lama, aku melihat suamiku membawa bingkai foto yang sama besarnya dengan bingkai yang kini ada di hadapanku. Foto siapa yang mas Fahmi bawa ke gudang?.
"Mas?!. Astaghfirullah mas Fahmi. Mas ngapain mas bawa foto pernikahan kita dalam gudang ini?,". Aku bingung dengan apa yang dilakukan oleh suamiku.
"Dik Aisyah, biarkan foto pernikahan kita berada disini. Dan foto ini kita bawa dan pasang dikamar kita,". Ucapan mas Fahmi membuatku kaget setengah mati, dan semakin terpojokkan dan merasa berdosa dengan suamiku.
"Hiks... hiks.. hiks.. Mas?, jangan mas. Aisyah tidak menginginkan itu sama sekali mas. Bawa foto pernikahan kita kedalam kamar lagi ya mas?,". Aku sudah tidak mampu menahan bulir air mataku lagi. Aku menangis sesenggukan.
"Dik, mas mengerti. Tidak mudah bagimu untuk secepat itu melupakan masa lalu kamu dik. Apalagi, kamu sudah lumayan lama berumah tangga dengan mantan suamimu dulu. Mas tidak memaksa Aisyah untuk secepatnya mencintai mas sebagai suami kamu, dan melupakan mantan suamimu. Bahkan, mas paham betul dik. Masalah hati tidak ada orang yang tahu. Aisyah istriku, hati mas hancur melihat foto pernikahan istri mas dengan mantan suaminya dulu masih tersimpan. Tapi kamu tau dik?, akan lebih menghancurkan perasaanku, ketika istri yang sangat kucintai menangis seorang diri digudang hanya untuk mengenang dan melihat foto pernikahannya dulu. Jadi mas pikir, tak apalah. Mungkin mas harus berkorban. Biarlah foto ini kita pajang dikamar kamu, sampai kamu benar-benar telah ikhlas melepaskan dan melupakan Fatih mantan suamimu. Serta, bisa menerima dan mencintai mas seperti dulu kamu mencintai Fatih suamimu,".
Astaghfirullah, aku sama sekali tidak ada kesengajaan untuk melihat foto pernikahanku dulu dengan mas Fatih. Apalagi menangisi semua yang belajar untuk aku ikhlaskan. Semua ini sudah menjadi takdir dan jalan cerita hidup yang mau tidak mau, suka atau tidak suka harus aku terima dan aku jalani. Tidak bohong, aku benar-benar tidak tahu. Jika ternyata Umi menyimpan foto ini di gudang bersama barang-barang lainnya. Suamiku salah paham padaku. Aku tidaklah sedang menangisi pernikahanku dulu yang telah kandas. Tapi aku menangisi takdir yang kini sedang aku hadapi.
"Mas, Aisyah tidak ingin foto pernikahan kita ada di ruangan ini mas. Aisyah mohon, tolong pasang lagi foto ini dikamar kita mas. Aisyah tidak mau, Umi dan Abi melihat foto kita tidak ada dikamarku,". Aku membujuk suamiku untuk mengangkat kembali foto pernikahanku dengannya kedalam kamarku lagi.
"Mas, tidaklah perlu untuk meyakinkan Aisyah seperti itu mas. Aisyah bahkan sangat yakin mas Fahmi,". Aku menyeka air mataku.
"Maafkan mas dik, kalau hadirnya mas dalam hidupmu. Tidak mampu membantumu keluar dari masa lalu. Maafkan mas jika selama satu bulan lebih menjadi suamimu. Mas tidak bisa membuat Aisyah jatuh cinta, seperti Fatih yang bisa membuat dirimu begitu mencintai dirinya. Maaf...,".
"Mas Fahmi?, mas sudah menjadi yang terbaik untuk Aisyah mas. Mas Fatih hanyalah bagian dari masa lalu Aisyah. Aisyah banyak salah dan dosa pada mas Fahmi. Aisyah tidak ada maksud sedikitpun untuk menyakiti kamu mas,".
"Istriku Aisyah, mas Fahmi belum bisa menjadi yang terbaik. Bahkan saat ini, mas merasa gagal menjadi seorang suami. Bagaimana bisa mas dikatakan yang terbaik Aisyah?, kalau saat ini saja. Mas menyaksikan sendiri, istri mas terduduk sembari menahan tangis didepan foto pernikahannya yang telah kandas?,". Jawab mas Fahmi sembari memandangi foto pernikahan mas Fatih denganku.
"Mas?. Hiks... hiks... hiks...,".
"Apa Aisyah masih mencinta Fatih dik?,".
__ADS_1
Aku terbelalak mendengar pertanyaan mas Fahmi padaku. Dari mana asalnya, suamiku bisa bertanya hal demikian padaku?. Aku bukan masih mencintai mas Fatih. Maksudku, aku hanya butuh waktu untuk melupakan segalanya. Sangat wajar dan manusiawi bukan?, aku hidup dua tahun lebih bersama mantan suamiku, begitu banyak kenanganku dan semua pahit getir kehidupan yang aku jalani dulu. Detik ini pun, aku masih berusaha untuk lupa dengan semua masa laluku. Aku menerima mas Fahmi sebagai suamiku, aku sedang belajar mencintai nya. Aku dan mas Fahmi sama sekali belum pernah bertemu. Pertama kali bertemu pun pada saat proses ta'aruf. Kenangan terbentuk karena waktu, maka dengan waktu pula kenangan itu akan jauh tertinggal dan kemudian dilupakan.
"Mas?!. Kenapa mas bertanya demikian pada Aisyah mas?!. Mas Fahmi, Aisyah sekarang istri sah mas Fahmi. Mana mungkin Aisyah mencintai laki-laki yang tidak halal untuk Aisyah mas?. Tolong mas, jangan pernah bertanya seperti itu lagi,".
"Maafkan mas dik, jika pertanyaan mas padamu menyakiti dan tidak berkenan dihatimu. Meksipun kamu menjawab, bahwa Aisyah masih memiliki rasa yang tertinggal untuk Fatih mantan suamimu. Mas tidak akan memarahimu dik. Mas juga tidak ingin memaksa kamu untuk mencintai mas dengan keikhlasan dan ketulusan hati Aisyah. Sesakit apapun dan sehancur-hancurnya perasaan mas. Mas selalu berusaha dan berdoa dik, agar mas Fahmi bisa dicintai Aisyah dengan setulus-tulusnya. Seperti mas mencintaimu sekarang Aisyah istriku,".
"Mas, Aisyah hanya....,". Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Mas Fahmi sudah lebih dahulu memotong nya.
"Hanya butuh waktu kan dik?, mas tahu. Makanya mas kasih kamu waktu dan kesempatan untuk terus memandangi foto pernikahanmu yang dulu, tanpa sembunyi-sembunyi dan seorang diri digudang dik. Tak mengapa bagi mas. Mas akan bersabar, dan menelan mentah-mentah rasa sakit dan hancurnya hati mas seorang diri. Asal Aisyah, jangan lagi menangis digudang ya dik,".
"Mas Fahmi?!, Aisyah ke gudang bukan untuk melihat foto ini mas. Aisyah bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk melihat foto pernikahan Aisyah dulu?!,". Tanpa sengaja nada bicaraku sedikit tinggi pada suamiku. Aku tidak suka, lagi-lagi mas Fahmi mengira aku kegudang sengaja untuk melihat foto pernikahan ini. Aku paham, suamiku sedang cemburu. Aku yakin, mas Fahmi hanya berusaha bersabar dan tenang dihadapanku, meskipun sebenarnya hati dan perasaan nya telah tersakiti karena kejadian ini.
"Lalu untuk apa dik?, ngapain Aisyah kegudang dan menangis?. Apa yang membuat kamu menangis istriku?. Lalu, kenapa mas lihat kamu sedang terduduk didepan foto pernikahanmu dengan mantan suamimu dulu dik?, kenapa?,".
Belum sempat aku menjawab pertanyaan suamiku. Aku dan mas Fahmi mendengar suara Aldi memanggil-manggil namaku dan nama mas Fahmi.
"Kak Aisyaaah...?!, Kak Fahmi..?!. Umi sama Abi sudah pulang Kak. Kakak pada kemana?,". Teriak Aldi yang mencari-cari keberadaanku dan mas Fahmi.
Aku menyeka air mataku. Sedang mas Fahmi kembali dengan membawa bingkai foto pernikahanku dengannya. Aku menarik nafas dalam, aku tidak ingin Umi dan Abi tahu, tentang urusan dan cek-cok yang baru saja terjadi antara aku dan mas Fahmi. Sebenarnya bukan pertengkaran, hanya saja salah paham. Aku heran, apa ketika mas Fahmi mengambil foto dikamar, dia bahkan tidak melihat sebuah amplop yang kutaruh di rak meja kecil yang ada dikamar?. Aku keluar dari gudang, setelah nafasku teratur. Dan air mataku benar-benar sudah tak tersisa. Aku menyusul mas Fahmi yang telah lebih dulu keluar dari gudang.
"Loh, nak Fahmi?, bingkai fotonya mau diapakan?,". Tanya Umi pada mas Fahmi.
"Oh tadi habis dari gudang Mi,". Jawab mas Fahmi sekena nya.
Mas Fahmi kembali setelah meletakkan foto itu didalam kamar. Aku, suamiku, adikku, dan kedua orangtuaku berkumpul diruang keluarga. Kami saling melepas kangen. Rasanya sedikit canggung dengan mas Fahmi, setelah kejadian digudang.
"Maafkan Aisyah mas,". Ucapku dalam hati.
__ADS_1
Wajah mas Fahmi terlihat tenang. Bahkan seperti tidak pernah terjadi apapun. Aku tahu, dia hanya menyembunyikan rasa sakit dan kecewanya. Dan tentunya, agar Umi dan Abi tidak curiga.