
Acara akad pernikahan ku dengan Mas Fatih akan di adakan besok. Pukul sembilan pagi, dan sudah pukul tiga malam aku juga belum bisa memejamkan mataku. Wajah Mas Fahmi terbayang terus menerus, kenangan bersama Mas Fahmi berkelebat di ingatanku. Entah, pertanda apa semua ini. Rasanya gundah sekali, lebih baik aku mengambil air wudhu dan melakukan shalat tahajud. Setidaknya, agar hati dan pikiranku jauh lebih tenang. Dinginnya malam, tidak menghentikan diriku untuk membasuh bagian tubuhku dengan air wudhu. Aku melakukan dua rakaat shalat tahajud. Pecah sudah tangis ku ditengah gelap nya malam. Rindu pada Mas Fahmi membuncah, hingga tak mampu aku tahan. Entah mengapa, rasanya menjadi sangat berat sekali akan menikah lagi dengan Mas Fatih. Seperti Mas Fahmi, sedang berada di sampingku saat ini. Dan memohon padaku, agar tidak menikah lagi.
"Ya Allah, Engkau yang menggenggam hatiku. Berikanlah jalan keluar dari rasa bimbang ini. Jangan buat Aisyah menyesal karena salah mengambil sebuah keputusan".
Doaku lirih di tengah isak tangis.
Sajadah yang digunakan untuk shalat, aku lipat dengan rapih. Juga dengan mukenah pemberian Mas Fahmi untukku. Aku bangun dan menaruh mukenah serta sajadah ini didalam lemari. Ada sebuah amplop di bawah kertas koran yang menjadi alas baju-baju Mas Fahmi. Entah amplop itu berisi apa, yang jelas. Baru kali ini aku melihatnya, aku mengambil amplop yang sudah sedikit lusuh itu. Kemudian duduk kembali di lantai. Tanganku membuka amplop itu. Tidak ada sebuah katapun di amplop bagian depan. Aku membuka amplop itu, ternyata berisi dua lembar kertas dengan penuh tulisan tangan Mas Fahmi.
"Assalamu'alaikum Aisyah istriku, bidadari ku.
Maafkan Mas Fahmi sayang. Entah mengapa malam ini, Mas sangat ingin menulis surat ini. Mas terbangun dan kemudian menulis ini untukmu Aisyah. Sayang, sebelum nya Mas mau meminta maaf. Barangkali selama Mas menjadi suami kamu, ada banyak salah dan kekurangan yang tidak berkenan di hatimu sayang. Istriku, Aisyah Fatimatul Salwa. Sayang, apa kamu tahu bagaimana rasanya saat tahu kamu terkena penyakit ganas bernama kanker itu. Rasanya seperti kaki Mas langsung pincang sebelah, Mas sangat takut sekali kehilangan kamu dalam hidup Mas. Kamu koma selama berhari-hari. Sedangkan dokter berkata pada Mas, bahwa nyawa kamu bisa saja tidak bisa terselamatkan jika tidak segera mendapatkan donor ginjal yang cocok untukmu. Mas rasanya hampir putus asa sayang, karena sulit sekali mencari pendonor untuk dirimu. Sampai pada akhirnya, Mas mencoba untuk berbicara dengan dokter yang menangani dirimu saat itu. Mas mengajukan diri untuk menjadi pendonor ginjal untukmu. Alhamdulillah, setelah melewati banyak tes. Akhirnya Mas dinyatakan cocok untuk membagi sebagian ginjal Mas untuk dirimu. Jujur saja, rasanya sangat bahagia tiada tara Aisyah. Bahkan, Ibu juga tidak tahu tentang hal ini. Karena memang Mas sengaja menyembunyikan ini dari siapapun. Dan sakit Mas beberapa hari yang lalu, sampai tidak sadarkan diri di dalam mobil, itu karena salah satu efek dari proses pendonoran organ ginjal sayang. Dokter pernah bilang, suatu waktu bisa saja Mas tidak sadarkan diri dan tubuh berubah menjadi sangat lemas. Karena tubuh Mas hanya memiliki satu organ ginjal saja. Tapi Mas tetap bahagia, Mas bahagia karena bisa membagi kehidupan Mas dengan dirimu istriku. Mas sudah berjanji, akan selalu membuat dirimu bahagia di samping Mas.
Ujian tidak cukup sampai disitu sayang, rumah tangga kita kembali di uji dengan hadirnya masa lalu dirimu di tengah-tengah kehidupan kita. Aisyah, Bunda mantan suami kamu, bahkan dengan langsung memohon pada Mas Fahmi, agar melepaskan dirimu untuk kembali pada putra nya, Fatih. Sayang, Mas di ceritakan semua tentang dirimu dengan Fatih dulu. Dan itu rasanya sangat menyakitkan sekali. Mas sudah merasakan jatuh bangun, menunggu dirimu agar bisa menerima Mas menjadi suami kamu. Meskipun sejujurnya itu sangat menyakitkan Aisyah. Tapi Allah Maha Baik, usaha Mas tidak sia-sia. Dengan kesabaran dan keikhlasan Mas. Akhirnya kamu mencintai Mas juga. Rasanya sangat bahagia sekali saat itu.
Tidak hanya itu sayang, orang yang sudah menolong nyawa Mas ternyata adalah Bunda Layla. Mas sungguh tidak mengerti, apa semua ini sudah direncakan oleh Bunda mantan suami kamu. Atau memang real tanpa direncanakan sebelumnya. Yang jelas sayang, Bunda Layla meminta Mas membayar hutang nyawa Mas padanya, dengan menceraikan dirimu dan menyerahkan kamu untuk kembali dengan Fatih mantan suami kamu. Tapi setelah Mas Fahmi akhirnya mengajak bertemu Fatih. Ternyata bahkan Fatih tidak mengetahui tentang semua yang dilakukan oleh Bunda Layla.
Aisyah, Mas sangat mencintai dirimu. Mas selalu berdoa, siapapun yang akan kembali pada Allah terlebih dahulu, Mas selalu meminta pada Allah, agar kelak di persatukan lagi. Tapi semua itu, bisa terjadi jika kamu tidak menikah lagi setelah Mas meninggal. Mas pernah baca, bahwa Rasulullah bersabda "Wanita mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir." (HR Thabrani). Jika kamu menikah lagi, setelah Mas meninggal. Maka kamu akan dikumpulkan dengan suami kamu yang terakhir sayang. Bukan bersama Mas lagi. Tapi Mas Fahmi tidak akan pernah memaksa kamu untuk tetap menjanda, jika Mas yang lebih dulu meninggal dunia. Karena menjadi seorang janda adalah peluang fitnah terberat bagi wanita. Bagi Mas, yang terpenting adalah, kamu dan anak-anak Mas bahagia. Hanya itu sayang. Aisyah, Mas Fahmi sangat mencintai dirimu. Mas mencintaimu karena Allah Aisyah. Mas mohon, jagalah dirimu dan anak-anak kita sayang. Kapanpun dan di manapun, jangan lepaskan diri kita dari mengingat Allah.
Ditengah dinginnya malam kota Yogyakarta
Dari yang mencintaimu, Suamimu Muhammad Fahmi Al-Farizi*".
Tanganku gemetar hebat, tangis ku pecah. Aku tidak menyangka, Mas Fahmi adalah orang yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk diriku. Orang yang bahkan mengorbankan nyawa nya demi agar melihat diriku bisa kembali sehat. Sekarang apa yang harus aku lakukan?. Seandainya saja, Mas Fahmi masih ada disini. Mungkin sudah aku peluk sangat erat dengan beribu ucapan terimakasih padanya. Tapi faktanya, aku hanya bisa menangis memeluk dua lembar kertas yang kini basah karena air mataku.
"Ya Allah Mas Fahmi!!. Kenapa baru sekarang Aisyah membaca surat ini. Kenapa baru saat ini Aisyah menemukan surat ini Mas. Mas Fahmi!, kenapa Mas bahkan tidak menceriakan langsung pada Aisyah. Hiks... hiks... "
Aku menangis tersedu-sedu seorang diri. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan laki-laki lain. Padahal laki-laki yang telah memberikan diriku kehidupan telah tiada. Mas Fahmi bahkan berharap untuk bisa berkumpul lagi denganku setelah kematian. Bagaimana bisa itu terjadi, jika aku menikah lagi dengan Mas Fatih. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Akad pernikahan ku akan di adakan beberapa jam lagi. Bagaimana caranya aku menyampaikan ini pada Ibu, pada anak-anak, juga pada Mas Fatih.
"Aisyah bangun nak! ".
Suara Ibu terdengar samar-samar di telinga ku. Aku bahkan tertidur dilantai dengan masih memeluk surat dari Mas Fahmi. Aku sangat kaget, ternyata sudah jam lima lebih. Aku bahkan belum shalat subuh. Tubuhku langsung bergegas bangun.
" Ibu, astaghfirullah. Aisyah belum shalat subuh. Aisyah shalat dulu Bu".
"Iya nak".
Aku berjalan meninggalkan Ibu, dan kemudian langsung bersiap untuk melakukan shalat subuh. Dua rakaat shalat subuh sudah aku lakukan. Beberapa orang sudah mulai sibuk, untuk menyiapkan acara akad pernikahan ku dengan Mas Fahmi. Sedang diriku masih sangat lemas setelah membaca surat dari Mas Fahmi. Beberapa orang menata diriku, mengenakan diriku makeup tipis dan mengenakan baju akad simpel. Aku hanya bisa diam dan terus melamun. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang, hatiku hancur. Mas Fahmi, maafkan Aisyah. Aisyah sangat jahat pada Mas Fahmi.
__ADS_1
Jam sembilan pas, semua orang sudah berkumpul untuk melakukan akad nikah keduaku dengan Mas Fatih. Mas Fatih bahkan sudah duduk didepan penghulu, siap untuk melakukan prosesi akad nikah ku dengan dirinya. Keluargaku di solo tidak ada yang bisa datang karena ada sebuah urusan. Jadilah, wali nikah ku menggunakan wali hakim atas izin dari Abi ku. Diriku duduk diantara Bunda dan Ibu. Aku masih tetap melamun, semua orang berbahagia, kecuali diriku.
"Baik, langsung saja. Kita mulai acara akad nikah nya. Saudara Fatih, apa kamu sudah siap?! ".
" Sudah pak".
"Baik. Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan Aisyah Fatimatul Salwa Binti Muhammad Soleh yang di wakilkan kepada saya, dengan dirimu Muhammad Fatih bin Hartono Dwi Cahyo, dengan emas kawin lima belas gram serta seperangkat alat shalat di bayar tunai".
" Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Fatimatul Salwa binti Muhammad Soleh dengan seperangkat alat shalat dan emas kawin seberat lima belas gram di bayar tunai!! ".
" Bagaimana Saksi?!.
"Tunggu!!! ".
Aku berteriak, menghentikan acara akad nikah ini. Aku tidak bisa melanjutkan acara akad nikah ini. Mas Fahmi adalah cinta terakhir untukku. Tidak ada yang lainnya.
" Ada apa Aisyah?! ".
Ibu bertanya padaku.
" Maaf, sebelumnya aku ingin meminta maaf khususnya pada Mas Fatih dan keluarga. Saya tidak bisa melanjutkan acara akad nikah ini. Ada beberapa alasan yang membuat diriku untuk memutuskan tetap sendiri menjadi seorang janda. Jadi saya mohon maaf sekali, jangan lanjutkan acara akad nikah ini".
"Aisyah?. Apa ada yang salah dariku? "
Kali ini Mas Fatih yang bertanya langsung padaku. Aku tidak menjawab apapun. Selain air mata yang jatuh menetes membasahi cadar ku.
"Tidak ada. Tapi maaf, aku tidak bisa menikah denganmu Mas Fatih. Hatiku hanya untuk Mas Fahmi. Maafkan aku".
" Tapi sebelumnya kamu sudah setuju. Kenapa sekarang berubah pikiran? ".
" Aku setuju, karena Ibu yang mendukung dan meminta padaku langsung. Juga anak-anakku yang juga memberikan restu. Tapi sungguh, sejujurnya aku masih sangat mencintai suamiku Mas Fahmi, meskipun sekarang raga nya tidak lagi ada di dunia ".
" Aisyah, tidak kah kamu kasian padaku?".
Mas Fatih menangis dan memelas. Jujur saja, aku merasa bersalah. Tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.
"Maafkan aku".
__ADS_1
Aku berdiri dan beranjak meninggalkan semua orang yang masih kebingungan. Aku tidak perduli, saat ini aku hanya ingin menangis. Aku masuk kedalam kamar, dan memandangi foto pernikahan diriku dengan Mas Fahmi.
" Mas Fahmi, Aisyah janji Mas. Mas Fahmi akan bertemu dan berkumpul dengan Aisyah lagi setelah Aisyah meninggal dunia. Aisyah sangat mencintaimu Mas Fahmi. Terimakasih banyak Mas, karena telah mengijinkan Aisyah untuk membaca surat ini, beberapa jam sebelum acara akad nikah Aisyah dengan Mas Fatih. Tunggu Aisyah ya sayang".
Ucapku di sela tangis sambil memandangi foto pernikahan diriku dengan Mas Fahmi delapan tahun yang lalu.
Acara akad nikah akhirnya dibatalkan. Semua orang sudah membubarkan diri. Hanya tersisa Mas Fatih dan Ibu. Sedang Bunda Layla, aku tidak melihat nya di sana. Entah apa yang sedang Ibu bicarakan dengan Mas Fatih. Diriku sedari tadi tidak keluar dari kamar. Dan hanya melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Nak, Fatih ingin bicara denganmu".
" Maaf Ibu, Aisyah sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini".
"Nak Aisyah, sebentar saja. Nak Fatih ingin pamit".
"Baiklah Bu".
Aku berjalan dengan malas menemui Mas Fatih. Sebenarnya aku tidak enak dan merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi. Cintaku untuknya memang tidak lagi ada, aku setuju menikah lagi dengannya juga karena Ibu yang meminta nya padaku.
" Aisyah, aku pamit pergi. Pergi untuk selamanya dari kehidupan kamu. Sekarang aku sadar, bahwa aku terlalu bodoh karena mencintai dirimu dengan berlebihan. Hingga aku menduda selama delapan tahun lamanya. Lewat kejadian ini, Allah membukakan pintu hatiku. Detik ini, saat nya aku harus melupakan semuanya tentang dirimu. Sekecil apapun itu, dan melangkahkan kakiku untuk memulai kehidupan diriku yang baru bersama wanita lain. Terimakasih telah mengajarkan diriku apa itu arti kesabaran dan kesetiaan. Maaf jika aku memiliki banyak salah padamu. Kamu wanita luar biasa yang pernah aku kenal. Fahmi akan sangat bahagia memilikimu. Assalamu'alaikum ".
Mas Fatih menyeka air matanya. Aku yakin dia sangat kecewa dan sakit hatinya. Setidaknya dia mau mengerti posisiku.
" Sekali lagi Maaf. Aku doakan, semoga Mas Fatih mendapatkan kebahagiaan dengan wanita lain. Dan terimakasih banyak atas semuanya. Waalaikumsalam ".
Aku memandangi tubuh Mas Fatih, berangsur pergi meninggalkan diriku. Ibu dan kedua anakku ikut mengamati kepergian Mas Fatih dari rumah ini juga dari kehidupanku lagi. Detik ini, aku harus memulai kehidupan ku juga yang baru. Membahagiakan Ibu, juga kedua anakku. Mereka bertiga lah yang sekarang aku miliki. Tidak ada kesetiaan yang mudah hilang, jika cinta itu sudah mengakar dalam hati dan jiwa.
TAMAT
Terimakasih Pada Readers yang sudah setia membaca dan meluangkan waktunya untuk membaca karya ku yang tidak seberapa. Terimakasih atas kebaikan dan dukungannya.
Author doakan semoga para readers yang sudah membaca maupun belum membaca karya ku. Diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki sama Allah. Aamiin
Salam Hangat dan Salam kenal
Author Noktafia Diana Citra
Jangan lupa baca Novel ku yang lain yahh.
__ADS_1
Kalau mau kenalan dengan Author
bisa nih Follow Instagram nya @citrabahtiarr_