Madu

Madu
Madu Ep.12 (SEASON 2)


__ADS_3

"Hallo, assalamualaikum kak Aisyah?,". Suara Umi terdengar dari seberang sana.


"Hallo Umi, waallaikumussalam. Ada apa Umi?, tumben jam segini Umi sudah menelepon Aisyah?,". Tanyaku penasaran.


"Iya kak, ini Umi memang sengaja menghubungi kak Aisyah,". Ucap Umi dari pesawat telepon.


"Iyah Umi. Ada apa?,". Tanyaku penuh penasaran. Aku khawatir dan sangat cemas. Tidak biasanya jam enam pagi Umi sudah meneleponku.


"Kak, ini loh. Ada dua amlop surat dari Jakarta. Amplop ini datang dari kantor pos kak,".


"Hah?!, dua amplop?. Tanggal berapa saja Umi?. Dan ditujukan untuk siapa amplop itu?,".


Jantungku berdetak cepat. Dua buah amplop?, dari Jakarta?. Mungkinkah Bunda mantan mertuaku mengirimiku surat lagi?. Setelah surat pertama tidak aku respon?. Sejak kejujuranku pada suamiku, mas Fahmi. Dia memutuskan bahwa aku tidak boleh datang ke Jakarta untuk menemui mantan suamiku. Bukannya mas Fahmi kejam, tapi pada dasarnya memang suamiku tidak ingin aku terjebak dan terseret lagi dalam putaran masa laluku yang sangat kelam. Jika benar dua surat itu dari Bunda mertuaku. Pasti ada sesuatu yang menang sangat urgent dan benar-benar sulit yang sedang dialami oleh Bunda dan mantan suamiku. Astaghfirullah, aku bingung.


"Iya kak, ada dua amplop yang dikirim kerumah oleh pak pos. Amplop pertama dikirim tanggal 10 Desember dan tanggal 15 Desember kak. Dua-duanya ditujukan untuk kak Aisyah. Makannya Umi langsung menghubungi kak Aisyah,". Jelas Umi padaku.


Aku terdiam. Jantungku semakin berdegup kencang. Ada apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Bunda mantan suamiku bahkan sampai mengirimiku tiga buah surat padaku?. Apa yang sedang dialami oleh mereka?, kenapa harus aku yang disuruh untuk datang dan membantu mereka?. Aku memikirkan banyak hal, serta menduga-duga apa yang sebenarnya sedang terjadi di Jakarta.


"Halo kak?, haloooo....?!. Kak Aisyah?!. Kok malah diam kak?". Suara Umi dari pesawat telepon membuyarkan lamunanku.


"O-oh, iya Umi. Maaf Aisyah melamun,". Jawabku sekena nya.


"Kak?, sejak kapan Aisyah memiliki teman seorang dokter?. Disini tertulis pengirim nya adalah dr.Layla. Kak Aisyah sakit apa?, hingga berobat ke dokter yang ada di Jakarta?,". Nada bicara Umi sangat cemas padaku.


Umi mengenal Bunda mas Fatih bukan dr.Layla. Tapi Umi mengenal nama Bunda mantan mertuaku adalah dari nama belakang nya. Nama panjang Bunda mas Fatih adalah dr. Layla Nur Dewi. Umi mengenalnya dengan nama Bunda Dewi. Aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak mungkin mengatakan kalau dua surat yang sekarang ada ditangan Umi adalah dari Bunda mantan suamiku. Aku tidak ingin Umi dan Abi, jadi memiliki beban karena masalah ini. Sudah cukup, Umi dan Abi menangisi putrinya yang dulu pernah di sia-siakan dan disakiti hati dan fisiknya. Tidak apa, aku harus menutupi masalah ini dengan Umi dan Abi. Sebagai anak, aku tidak ingin kedua orangtuaku memikirkan masalah pribadiku. Kedua orangtuaku harus tetap bahagia tanpa memikirkan apapun, apalagi memikirkan tentang masalahku lagi.


"Ya Allah, maafkan Aisyah. Untuk kali ini Aisyah harus membohongi Umi lagi. Tapi ini demi kebaikan Umi. Maafkan Aisyah Umi, Aisyah terpaksa tidak menceritakan masalah ini pada Umi,". Ucapku dalam hati.


"Tidak Umi, Aisyah tidak sakit Umi. Aisyah juga tidak pernah ada riwayat berobat ke dokter Layla Umi. Putri Umi baik-baik saja kok, Alhamdulillah. Umi jangan khawatir yah. Dulu waktu Aisyah tinggal di Jakarta. Aisyah mengenal salah satu mahasiswa kedokteran yang kini sudah jadi Dokter Mi, mungkin dia kangen jadi mengirimkan sebuah surat untuk Aisyah,". Aku terpaksa mengarang cerita pada Umi.

__ADS_1


"Alhamdulillah nak, kalo kak Aisyah baik-baik saja. Tadi Umi sempat kaget dan benar-benar khawatir. Takut kak Aisyah kenapa-kenapa, soalnya sampe dikirimkan surat dari dokter. Lalu, ini amplopnya mau diambil kapan kak?,".


"Umi, Aisyah minta tolong. Suratnya ditaruhkan di laci lemari baju, di kamar Aisyah nggih Mi. Nanti kalo sempat Aisyah ambil kesana. Jazakillahkhoyr Umi sayang,". Ucapku.


"Yasudah, nanti Umi taruh di laci baju kamar kamu ya kak. Nak Fahmi kemana kak?, sudah berangkat kerja?,".


"Oh, mas Fahmi sedang mandi seperti nya Mi. Paling sebentar lagi siap-siap berangkat kerja,".


"Yasudah Alhamdulillah. Kamu sudah masak dan nyiapin segala keperluan suami kamu kan kak?,".


"Sudah Umi Alhamdulillah. Kan Aisyah ingin jadi istri hebat seperti Umi. Hehehe...,".


Umi memang wanita hebat yang pernah Allah hadirkan dalam hidupku. Umi selalu melayani Abi, mengurusi segala keperluan Abi dari yang kecil hingga ke hal-hal yang besar. Umi selalu memasak masakan kesukaan Abi. Aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi istri yang baik, yang taat, dan hal baik lainnya adalah dari Umi. Umi selalu bilang padaku, untuk taat pada suami dalam kebaikan, selalu memberikan pelayanan terbaik untuk suami. Dan tentunya masih banyak sekali wejangan Umi untuk putrinya. Umi pula yang mengajarkanku, bagaimana menjadi perempuan yang kuat. Perempuan yang penuh dengan kesabaran, keikhlasan, serta penuh dengan rasa syukur. Hingga detik ini, aku berusaha menjalankan semua hal baik yang Umi contohkan kepadaku.


"Ah, kamu bisa saja kak. Yasudah kamu baik-baik di Yogyakarta yah. Jangan bandel sama suami kamu. Umi dan Abi selalu berdoa, agar kamu dan Fahmi selalu bahagia dalam rumah tangga,".


"Iyah Umi sayang. Umi, Abi, dan Aldi juga sehat-sehat disana yah Mi. Kalau ada apa-apa Aisyah dikasih kabar yah Mi,".


"Siap Bu boss. Nanti disampaikan ke Mas Fahmi,".


"Assalamualaikum,". Ucap Umi mengakhiri pembicaraan telepon denganku.


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Jawabku pada salam Umi, sebelum akhirnya telepon benar-benar terputus.


Aku menghela nafas panjang. Dan menghirup kuat-kuat udara kedalam rongga hidungku. Rasanya menyesakkan sekali, mendapatkan kabar mengenai surat dari Bunda mertuaku lagi. Jika bisa, rasanya udara sekitar ingin kumasukkan kedalam paru-paruku. Benar-benar bikin sesak di pagi hari. Aku berulang kali menghirup udara kuat-kuat dan menghembuskan pelan. Lisanku tak berhenti beristighfar. Kenapa takdir terus menerus memintaku terseret dan masuk kedalam pusaran masa lalu yang sudah sekuat tenaga sudah aku coba untuk kulupakan dan kutinggalkan?. Tak bolehkah aku mengepakkan sayapku, dan pergi menghilang dari segala rasa sakit yang pernah ada dimasa lalu?. Aku ingin bahagia, sungguh aku berusaha untuk tidak sedikitpun mengingat masa laluku itu. Tapi kenapa ya Allah?, semakin Aisyah berusaha melepaskan dan mengikhlaskan, lagi-lagi takdir semakin menyeret Aisyah berhubungan kembali dengan orang-orang yang pernah ada di masa lalu Aisyah?. Haruskah Aisyah membawa masa depan Aisyah, untuk turut masuk dan terbawa dalam arus masa lalu?.


"Dik?,". Panggil suamiku yang sudah selesai mandi dan sudah sangat rapih, bahkan wangi. Mas Fahmi ternyata sudah siap-siap untuk berangkat kerja.


"Iyah mas. Mas sudah selesai mandi?. Ayok kita sarapan dulu mas,". Ucapku sembari menghampiri mas Fahmi.

__ADS_1


"Iya sayang, ayok. Mas juga sudah tidak sabar ingin sarapan makanan yang istri mas buatkan. Pasti sangat enak dan lezat,".


"MasyaAlloh. Mas kan belum nyobain. Aisyah hari ini coba bikin resep baru loh. Hehehe... semoga saja enak dan mas suka. Soalnya Aisyah lihat resep nya di internet,". Aku jujur pada mas Fahmi, jika masakan yang hari ini aku buatkan untuknya adalah resep yang baru aku coba.


"Apapun modelnya, pasti masakan dari tangan kamu bakal enak dik. Hehehe...,".


Aku mengambilkan nasi, dan lauk serta sayur kedalam piring mas Fahmi. Aku dan mas Fahmi makan berdua. Rasanya sepi juga, meja makan dengan enam kursi hanya terisi oleh dua orang. Aku refleks langsung mengelus perutku. Semoga secepatnya Allah titipkan amanah dalam rahimku, doaku dalam hati. Aku melirik kearah mas Fahmi yang sangat lahap makannya. Aku tidak tahu, apa masakan dari resep yang baru saja aku coba beneran enak atau mas Fahmi hanya mau membuatku senang saja. Tapi aku berharap, semoga beneran enak. Aku bahagia, melihat mas Fahmi. Entah kenapa, semakin masa lalu membayangiku. Rasa cintaku untuk mas Fahmi semakin tumbuh berbunga semakin subur dan besar. Benar, bahwa cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu. Allah lah yang akan menumbuhkan rasa cinta antara suami dan istri, meskipun sebelumnya diantara mereka belum ada benih cinta yang datang dan tertanam di hati keduanya. Aku merasakan sendiri. Hatiku semakin berbunga-bunga ketika berada didekat suamiku mas Fahmi. Allah tumbuhkan benih-benih cinta dihatiku melalui pernikahan, hingga makin hari rasa cinta itu semakin tumbuh dan kemudian berbunga-bunga didalam hatiku. MasyaAlloh, betapa indahnya menikah tanpa pacaran. Semuanya terasa begitu nikmat.


"Mas?, pelan-pelan sayang makannya. Nanti mas bisa tersedak,". Aku mengingat mas Fahmi, yang makan begitu terburu-buru. Entah karena masakanku enak dan dia sangat suka, atau sebaliknya. Makananku tidak enak sehingga biar cepat-cepat habis.


"Hehehe... iya dik. Habisnya masakan kamu benar-benar enak. Mas ngga bohong, serius dek. Ini beneran enak,".


"Jangan gitu ih, berlebihan deh mas ini. Alhamdulillah kalo mas suka. Jadi Aisyah ngga gagal cobain resep barunya,".


Aku belum sempat menceritakan pada mas Fahmi, bahasa Umi tadi meneleponku dan memberitahukan mengenai dua amplop yang dikirimkan oleh Bunda mantan mertuaku lagi. Lagi pula, jika aku cerita sekarang. Mas Fahmi akan jadi kepikiran dan tidak fokus kerja. Jam dinding juga sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Itu artinya mas Fahmi harus secepatnya berangkat kerja. Suamiku, suka sekali dibawakan bekal makanan olehku. Dia seperti anak kecil yang menggemaskan. Kerja dengan membawa kotak makan. Dan jus alpukat buatanku. Setiap memandang wajah mas Fahmi, hatiku begitu nyaman dan sangat bahagia. Aku bersyukur Allah berikan laki-laki yang lebih baik. Benar-benar beruntung, seorang janda sepertiku bisa mendapatkan laki-laki sebaik dan setulus mas Fahmi.


"Dik, mas berangkat kerja dulu ya sayang. Kamu dirumah jaga diri. Hati-hati ya sayang. Kabarin kalo ada sesuatu yah dik. Mas pamit kerja dulu dik. Doain mas ya sayang, biar segala hal dihari ini dimudahkan oleh Allah. Jazakillahkhoyr istriku. Assalamualaikum,".


Mas Fahmi berpamitan padaku, sembari mencium keningku dan memelukku. Itu yang selalu dilakukan setiap hari sebelum mas Fahmi berangkat kerja. Mas Fahmi selalu bilang, dan selalu minta untuk didoakan olehku. Sederhana, tapi itu bisa menjadi alasan untuk tumbuhnya benih-benih cinta yang membahagiakan. Aku mengantar mas Fahmi, menuju kedepan pintu. Aku mencium tangan suamiku.


"Waallaikumussalam. Hati-hati mas Fahmi. Aisyah selalu doain mas. Cepat pulang ya mas,". Ucapku malu-malu.


"Iyaa sayang,".


Mobil putih yang digunakan oleh suamiku, perlahan meninggalkan halaman rumah. Aku masuk dan mengunci pintu rumahku. Aku membereskan bekas makan tadi. Dan kembali duduk di ruang tamu. Seperti biasa, aku hanya duduk dan membaca-baca buku yang ada. Bersama didekat mas Fahmi, bisa membuat aku untuk sejenak tidak kepikiran mengenai dua surat baru dari Bunda mantan suamiku. Alhamdulillah, aku memiliki laki-laki hebat seperti mas Fahmi. Dia begitu sabar mengajariku agar cintaku tumbuh untuknya. Dia sabar, menunggu aku. Sampai aku benar-benar bisa ikhlas dan melupakan masa laluku.


Aku tidak ingin tahu, apa lagi yang Bunda tuliskan di dua surat itu. Dua surat yang kini ada di laci lemariku dirumah Umi. Mengingat Bunda, terkadang masih tersisa kenangan pahit, dan sangat menyakitkan. Bukan, sungguh bukan aku tidak bisa memafaakan Bunda. Jauh sebelum Bunda dan mas Fatih datang di acara akadku dengan mas Fahmi. Aku sudah memaafkan keduanya. Sangat manusiawi rasanya, jika teringat sesuatu hal yang sangat membuat sakit. Jika takdir menghendakiku, untuk terseret dalam masa lalu, mungkin ini ujian lagi untukku. Tapi kali ini, aku memiliki mas Fahmi. Aku akan kuat mengahadapi nya berdua dengan suamiku. Aku tidak sendiria.


Aku mengalihkan pikiranku dari masalah amplop ke hal lainnya. Aku tidak mau menangis dan bingung dalam situasi seperti ini. Aku asyik mencari-cari resep baru, untukku coba dan kuberikan pada suamiku. Semenjak menikah dengan mas Fahmi, aku merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang istri tanpa ada bantuan asisten rumah tangga. Mas Fahmi, sering sekali membantu pekerjaan rumah. Dia tidak pernah membiarkan istrinya kerepotan seorang diri. Pasti ada saja hal yang membuatkan semakin bersyukur karena memiliki mas Fahmi. Aku selalu berdoa, semoga rumah tanggaku dengan mas Fahmi selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan. Dilindungi dari segala macam gidana dan cobaan yang akan datang di kemudian hari yang akan datang.

__ADS_1


Aku menuju ke kamar, dan membereskan kamar yang tadi belum sempat aku rapihkan, karena ada telepon dari rumah. Selain membaca buku yang ada, terkadang sambil menunggu mas Fahmi pulang, aku juga sangat suka dengan membuat rangkaian bunga. Koleksi bungaku ditaman kecil buatan mas Fahmi semakin banyak. Terkadang suamiku pulang tiba-tiba membawa bunga jenis baru. Dia sangat tahu, apa yang aku sukai. Bahkan tak jarang, tiba-tiba aku melihat bucket bunga yang sangat indah dan wangi tergeletak di atas kasur. Betul sekali, meskipun humoris. Ternyata mas Fahmi juga begitu sangat romantis.


Tanpa sengaja, aku tertidur didalam kamar. Tidak biasanya aku tertidur dijam-jam begini. Mungkin pikiran yang terus bekerja, hati yang terus tak menentu membuatku jadi merasa lebih lelah dari biasanya. Mataku benar-benar sangat berat. Aku akhirnya tidur begitu pulas.


__ADS_2