Madu

Madu
Madu Ep.17 (SEASON 2)


__ADS_3

Perjalananku dengan suami ke kota metropolitan Jakarta tidak membuahkan hasil apapun. Maksudku, niatku dan suami untuk bisa membantu mantan suami dan mantan Bunda mertuaku tidak terlaksana. Kami kehilangan jejak mereka. Safar (perjalanan) yang sangat melelahkan. Mas Fahmi suamiku memutuskan untuk langsung balik ke Yogyakarta hari ini juga. Dia tidak mau menginap dulu. Lagi pula perjalanan menggunakan jalan tol, lumayan memudahkan kami. Sangat bersyukur memang, ketika perjalanan pulang ke Yogyakarta. Kemacetan Jakarta tidak menghadang kami. Padat memang tapi tidak sampai macet seperti pada saat awal berangkat. Mas Fahmi terlihat sangat lelah, aku bahkan sudah berkali-kali menawarkan padanya agar mencari penginapan saja. Agar badannya di istirahatkan. Tapi lagi-lagi dia menolak dengan lembut. Dia tetap minta balik ke Yogyakarta dihari yang sama. Entahlah kenapa mas Fahmi tidak mau beristirahat dulu. Aku hanya bisa diam dan mengikuti keinginannya itu. Walaupun sejujurnya aku sudah tidak enak perasaan nya. Sepertinya tadi sudah janjian dan sepakat akan mencari penginapan. Tapi sekarang suamiku tiba-tiba minta pulang di hari yang sama.


"Mas?, kalau kamu ngantuk bilang yah. Nanti cari Masjid buat istirahat sebentar,". Aku mengingatkan suamiku. Aku jujur saja, sangat khawatir. Bayangkan saja, pulang pergi menyetir mobil dari Yogyakarta ke Jakarta.


"Iya dik, nanti kalo mas ngantuk dan sudah tidak kuat. Akan cari rest area buat istirahat kok. Jangan khawatir yah sayang,". Aku meyakinkan Aisyah yang terlihat sangat gusar.


"Yasudah mas. Alhamdulillah. Hati-hati ya suamiku bawa mobilnya. Tidak usah terburu-buru,". Kembali aku mengingatkan mas Fahmi.


"Iya dik Aisyah. Kamu kalau mau tidur, tidur saja dulu dik. Nggak papa. Mas tau kamu pasti sangat capek dan ngantuk. Maafkan mas yah,".


"Gimana Aisyah bisa tidur mas?. Aisyah cemas, mas sama sekali ngga mau istirahat terlebih dahulu. Aisyah khawatir dan sangat kepikiran mas,".


"Mas istirahat dik, kalau benar-benar sudah ngantuk dan tidak kuat buat nyupir lagi. Tenang aja sayang,".


"Mas?, kalau boleh Aisyah tahu. Kenapa mas tiba-tiba ingin segera pulang ke Yogyakarta mas?. Kan tadi kita sudah kesepakatan akan mencari penginapan mas,".


"Tidak apa dik. Mas hanya ingin secepatnya sampai rumah,".


"Mas jadi aneh,". Ucapku datar.


Aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari rasa penasaranku. Mas Fahmi hanya diam dan terus memacu mobilnya. Sejujurnya aku sangat kesal padanya. Badanku juga sangat letih, bayangkan saja. Berjam-jam dalam perjalanan jauh tanpa istirahat. Rasanya pegal-pegal sekali. Ya meksipun aku hanya duduk dan banyak tidur. Tapi tetap saja badan rasanya sakit semua. Seandainya mas Fahmi mau semalam saja menginap hanya untuk sekedar melapas lelah.


"Kamu tidur saja dik. Mas tau, kamu pasti sangat capek ya sayang. Maafkan mas yah. Mas tidak bisa menginap. Nggak papa kan dik?,". Tanyaku pada Aisyah yang terlihat tidak biasa.


Aku mengerti, Aisyah sangat capek badannya, sejujur-jujurnya aku pun sama. Tapi mau bagaimana lagi?, Ibuku tadi memberikan kabar padaku melalui pesan WhatsApp. Bahwa bapakku sedang dalam kondisi kritis. Bapakku baru saja mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil avanza ketika akan membelikan sesuatu hadiah untuk ibu. Bapak memang sangat mencinta ibu, apapun yang ibu inginkan selalu bapak usahakan selagi bisa. Aku tentu tidak bisa memberitahukan kabar ini pada Aisyah. Aisyah itu tipe orang yang sangat tidak bisa tenang dan selalu kepikiran jika ada sesuatu hal terjadi. Aku tidak ingin membuatnya mendapatkan tekanan dan beban pikiran, apalagi dalam kondisi fisiknya yang sedang lelah. Meskipun saat ini, hatiku dan pikiranku juga sedang tidak stabil setelah mendapat berita itu dari Ibu. Tapi aku harus tetap tenang dan terlihat kuat dihadapan Aisyah. Terlebih aku sedang menyetir mobil dengan taruhan nyawa. Hanya istighfar yang terus-menerus kuucapkan berulang-ulang didalam hati, tentunya aku juga mendoakan kesembuhan untuk Bapak yang sedang berjuang untuk hidup. Aku percaya, segala sesuatunya sudah Allah atur dan tetapkan. Seperti dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang artinya “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini).


"Dik, maafkan mas. Jika Aisyah mengantuk. Tidurlah sayang,". Kembali aku menyuruh istriku untuk tidur.


"Nggak bisa mas. Aisyah tidak bisa tidur, Aisyah kepikiran mas Fahmi yang belum tidur,".


"Mas kan sudah tidur sayang. Dimasjid si?, terus saat menunggu dirumah mantan suami kamu juga kita sudah duduk dan sekaligus istirahat lumayan lama,".


"Yasudah, mas fokus saja menyetirnya. Aisyah tidak apa-apa kok. Maafkan Aisyah yah mas,". Aku memilih mengalah dan mencoba mengerti posisi mas Fahmi. Meskipun aku juga tidak tahu, apa yang membuat aku harus mengerti kan dirinya.


"Yasudah kalo kamu tidak mau tidur dik. Makasih ya sayang,".

__ADS_1


"Iyah mas. Sama-sama,". Aku tersenyum pada suamiku.


Kurang lebih sekitar empat jam lagi barulah suamiku dan aku akan sampai di Yogyakarta tercinta. Rasa-rasanya ingin segera mandi dan tidur begitu setelah sampai rumah. Tubuhku benar-benar sakit semua, persendian meronta-ronta ingin segera di istirahatkan. Efek aku jarang pulang pergi dalam perjalanan jauh. Ah, aku jadi kepikiran tentang Bunda mantan mertuaku lagi. Sebenarnya kemana mereka pindah?, suamiku dan aku bahkan menunggu cukup lama agar bisa mendapatkan respon, atau bisa bertemu dengan Bunda. Disurat itu Bunda meminta dan memohon bantuan padaku, tapi kenapa malah tidak ada di kedua rumah nya dulu?. Aku juga belum sempat membaca dua surat yang Bunda kirim lagi untukku. Surat-surat itu masih tersimpan dan menghuni laci lemari di kamarku. Nanti saja, jika aku dan suamiku ada waktu untuk main lagi kerumah Umi dan Abi aku akan membaca surat itu bersama dengan mas Fahmi. Saat ini, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, karena faktanya jauh-jauh aku dan suamiku berangkat dari Yogyakarta ke Jakarta tidak bisa menemui mereka. Sudahlah, mungkin Allah sudah mengaturnya hingga sedemikian rupa. Tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah dan bersyukur. Ini kali pertamanya aku safar (perjalanan jauh) dengan mas Fahmi suamiku setelah kami menikah. Banyak ibroh (pelajaran) yang aku sendiri bisa ambil dari perjalanan jauh ini dengan suamiku. Karena dari safar ini lah aku bisa melihat dan mengetahui sifat dan karakter mas Fahmi yang sebenarnya. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan bahwa “Barangsiapa yang ketika bersafar mengalami kesusahan dan keletihan ia tetap berakhlak yang baik, maka ketika tidak bersafar ia akan beraklak lebh baik lagi. Sehingga dikatakan, jika seseorang dipuji muamalahnya ketika tidak bersafar dan dipuji muamalahnya oleh para teman safarnya,maka janganlah engkau meragukan kebaikannya.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin 1/39, Syamilah).


Empat jam berlalu, perjalan yang sangat meletihkan terlewati. Ternyata aku tertidur didalam mobil. Mas Fahmi tidak membangunku, tapi tubuhku merasakan mobil yang terhenti hingga aku terbangun. Aku melihat kekiri dan kekanan. Ini bukan rumahku dan mas Fahmi. Ini dirumah sakit. Siapa yang sakit?, kenapa mas Fahmi membawaku kerumah sakit?. Ada apa?. Aku yang baru bangun sangat kaget dan seperti tidak sadarkan diri. Ini benar-benar aneh.


"Mas?,". Panggilku pelan.


"I-iya dik,". Suara mas Fahmi parau.


"Mas ada apa mas?, kenapa kita dirumah sakit?. Siapa yang sakit?. Dan, kenapa mas Fahmi menangis?,". Aku panik dan mengajukan banyak pertanyaan, tubuhku yang letih, kantukku yang sedari tadi mengganggu hilang entah kemana.


"Dik, hiks..hikss,". Tangis mas Fahmi pecah.


"Ada apa sayang?, kenapa mas?,". Aku memegang kedua pipi suamiku. Aku mengusap air matanya.


"Bapak dik, Bapak,". Suaranya tersendat.


"Bapak?, kenapa?. Bapak maksud nya gimana mas?,". Aku semakin cemas tidak karuan.


"Koma?!, koma gimana maksudnya mas?!!. Bapak kenapa mas!!,". Aku semakin tidak terkontrol.


"Bapak habis kecelakaan dik, saat ini sedang koma,". Mas Fahmi menyeka air matanya.


"Mas?, jangan bercanda. Mas tahu darimana?,".


"Nggak dik, mas Fahmi sedang tidak bercanda. Sejujurnya dik, saat kita sedang istirahat dimasjid itu. Mas dapat sebuah pesan WhatsApp dari Ibu. Ibu memberikan kabar pada mas. Bahwa Bapak mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil inova, dan saat ini sedang kritis dan koma,".


"Astaghfirullah!!, kenapa hal seperti ini tidak mas ceritakan pada Aisyah?!,".


"Dik, mas tidak ingin membuat kamu jadi memiliki beban pikiran. Apalagi dalam kondisi fisik kamu yang sedang capek dan kelelahan dik. Maafkan mas, dan ini juga alasan mas tidak mau diajak untuk menginap,".


"Sekarang bapak dimana mas?, ibu sama siapa?,".


"Bapak didalam dik, Ibu juga didalam. Saat ini kita semua hanya mampu berdoa semoga ada keajaiban dari Allah, dan Bapak bisa melewati masa koma nya,".

__ADS_1


"Ayok mas, kita turun dan bertemu dengan Ibu. Pasti ibu sangat terpukul. Nanti Aisyah kabari Umi dan Abi juga,".


"Iya dik,".


Rasanya pedih sekali, mendengar kabar buruk ini. Aku tidak tahu, bagaimana rasanya jadi mas Fahmi. Dia menahan dukanya hingga sangat lama, demi terlihat tenang dihadapanku. Sungguh, aku merasa bersalah karena sempat kesal padanya gara-gara tidak mau diajak untuk menginap. Aku menggenggam tangan mas Fahmi erat dan memasuki rumah sakit. Hatiku hancur, mendengar kabar Bapak mertuaku sedang berjuang antara hidup dan mati. Koma, satu kata yang sangat menakutkan bagi siapapun dan manusia manapun. Mendengar bahkan membacanya saja sudah membuat merinding dan mengerikan. Bagaimana tidak?, seseorang yang dalam keadaan koma berada dalam dua hal yang belum pasti, antara hidup dan mati. Siapa orangnya?, yang ingin mendengar salah satu keluarga, teman dan kerabatnya dalam keadaan koma dan tak sadarkan diri?. Aku percaya dan sangat yakin, tidak ada satupun orang yang mau, termasuk aku dan mas Fahmi saat ini. Tapi sebagai manusia, kita tidak bisa berbuat apapun, selain menerima takdir dan ketentuan Nya.


"Ibu?,". Panggilku pada Ibu mertuaku. Mata Ibu sembab. Entah sudah seberapa lama Ibu menangisi Bapak.


Aku langsung melepaskan genggaman tanganku dari mas Fahmi, dan lari menuju Ibu mertuaku. Aku memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkan laki-laki sehebat dan sebaik mas Fahmi. Aku tahu, ada banyak rasa takut didalam hati Ibu. Kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, yang telah berpuluh-puluh tahun menemani dalam suka dan duka. Siapa yang ingin?. Tangis Ibu mertuaku pecah, aku, mas Fahmi dan ibu saling memeluk dan menangis bersama. Rasanya sangat berat sekali. Kami saling menguatkan satu sama lain. Aku menyeka air mata Ibu, sedang Ibu menyeka air mas Fahmi, dan mas Fahmi menyeka air mataku.


"Ibu, maafkan Fahmi. Fahmi dan Aisyah baru bisa datang kemari,". Aku melihat suamiku terduduk dilantai dan menyenderkan kepalanya di pangkuan Ibunya.


"Tidak mengapa nak. Doakan Bapak, agar bapak mampu melewati masa kritisnya,".


"Aamiin Bu, kita hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya pada Allah. Ibu harus kuat yah Bu. Ibu harus percaya, bapak akan mampu melawan sakitnya, dan melewati masa-masa komanya,". Aku menenangkan Ibu mertuaku yang masih terisak.


"Terimakasih menantuku sayang. Ibu bersyukur memiliki Aisyah. Ibu nitip Fatih yah,".


"Aisyah jauh lebih bersyukur memiliki Ibu dan Bapak dalam hidup Aisyah Bu. Ibu sudah makan?,". Aku menanyakan bpada Ibu mertuaku, ibu terlihat pucat.


"Belum nak,". Jawab Ibu sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Ibu harus makan yah, wajah Ibu pucat. Kalau Ibu sampai sakit, nanti siapa yang kasih semangat dan menemani Bapak?. Ayok Ibu makan dulu yah bareng Aisyah dan mas Fahmi,". Aku berusaha membujuk Ibu mertuaku agar mau mengisi perutnya dengan makanan. Aku khawatir, wajah ibu sangat pucat sekali. Entah dari kapan ibu tidak mengisi perutnya dengan makanan.


"Rasa dan selera makan Ibu hilang nak. Rasanya ibu kenyang terus meskipun belum makan dari tadi siang,".


"Ibu, tapi ibu harus makan. Atau kalau engga Aisyah belikan makanan yah,". Tawarku lagi.


"Iyah ibu, kita makan dulu yah. Benar kata menantu Ibu. Ibu harus makan, Ibu harus tetap sehat, agar nanti kalau Bapak sadar. Ibu bisa menemani dan kasih semangat buat bapak. Gimana coba Bu?, kalau bapak sadar terus lihat keadaan Ibu yang pucat begini?, pasti bapak jadi kepikiran juga,". Kali ini suamiku membantuku untuk membujuk Ibunya agar mau makan.


"Baiklah nak, Ibu ikut kamu saja,".


Aku dan mas Fahmi membantu Ibu untuk bangun dan kami bertiga berjalan menuju kantin Rumah sakit yang berada di ujung timur ruangan bapak diberikan tindakan. Sepanjang jalan, aku dan suamiku mencoba untuk menguatkan Ibu yang sedari tadi hanya melamun. Sebegitu sedihnya Ibu, melihat kenyataan separuh nyawanya sedang dalam kondisi koma. Aku paham betul, bagaimana perasaan Ibu sebagai seorang istri. Mungkin, aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Ibu ketika suamiku dalam posisi koma seperti bapak. Sedih, bingung, nelangsa, tangis, takut kehilangan, harapan dan segala macam rasa yang saling berdesakan mengisi hati dan pikiran. .


"Ya Allah, kuatkan hati Ibu jika memang Engkau menghendaki Bapak untuk pulang kepada Mu,". Doaku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2