
"Ilham, bagaimana dengan keluarga teman baik kamu nak Wawa?. Maaf yah, kemarin Ayah tidak bisa menjemput kamu di sekolah dan di rumah Wawa".
" Disana rame Ayah. Di rumah Wawa ada Umi nya. Wawa, ada Oma nya, juga ada Abi nya. Ilham disana di ajak makan bersama dan belajar bareng".
"Oh ya?, asyik dong".
" Sangat asyik Ayah. Di sana juga ada foto pernikahan Umi dan Abi nya Wawa. Umi nya Wawa pake sesuatu di wajah nya".
"Mereka pasti sangat baik ya nak?. Gimana masakan Oma nya Wawa. Enak mana sama Masakan Nenek? ".
"Ya jelas enak masakan Nenek dong. Tapi masakan Oma nya Wawa enak juga sih. Tadinya Abi nya Wawa ingin ketemu sama Ayah. Makanya dibawain buah-buahan".
" Ohh.. iya Ayah jadi ngga enak. Nanti gampang Ayah telepon ya nak. Kan Ayah sudah punya nomor nya orang tua Wawa".
"Oke Ayah. Jangan lupa bilang terimakasih yah".
" Pasti dong putraku. Yasudah Ilham sekarang istirahat yah. Besok harus bangun pagi buat acara di sekolah".
"Baik Ayah. Nenek.. Ilham tidur dulu yah".
Ilham berpamitan tidur pada Nenek nya yang masih asyik menyulam.
" Iyah cucu Nenek yang ganteng. Selamat istirahat sayang".
Aku memperhatikan tubuh kecil putraku berjalan menuju kamar nya. Syukurlah, Ilham memiliki teman baik yang keluarganya juga baik. Aku jadi tidak enak, orang tua nak Marwah membawakan banyak sekali buah-buahan. Sedangkan aku tidak bisa menemui dirinya. Ada baiknya aku menelepon sekarang saja. Tidak enak kalau harus menunggu besok pagi dan baru mengucapkan terimakasih. Sebenarnya orang tua nak Marwah kenapa ya?, kenapa hampir setengah bulan tidak bisa mengantar jemput putri nya. Apa mereka sesibuk itu?, atau karena mereka orang penting yang memiliki deretan jadwal kerja dengan banyak orang dan harus keluar kota?. Entahlah, aku bahkan belum pernah berkenalan dan bertemu mereka, setidaknya dengan salah satu keluarga nya.
"Tuuutt... tuuutt... ".
Aku memutuskan untuk menghubungi orang tua nak Wawa, dan masih menunggu telepon dariku di terima.
" Hallo, Assalamu'alaikum, Maaf siapa yah? ".
Suara seorang perempuan terdengar dari seberang telepon. Mungkin ini yang menerima adalah Umi nya nak Marwah.
" Oh, Ha-hallo. Waalaikumsalam. Maaf mengganggu saya Ayah nya nak Ilham ".
"Oh iya, sebentar saya panggilkan suami saya dahulu yah".
" Iyah".
Aku menunggu Abi nya Wawa bicara. Lumayan lama. Umi nya Wawa kenapa tidak mau melanjutkan bicara padaku?. Kenapa dia malah memanggil suaminya untuk bicara dengan diriku?. Padahal aku hanya ingin mengucapkan terimakasih saja. Karena kemarin sudah menjaga Ilham dan memberikan parcel untukku. Serta juga ingin meminta maaf karena tidak bisa menemui di sekolah nya Ilham dan Marwah. Entahlah, sejujurnya hati ini bergetar. Ternyata masih ada perempuan se solehah itu. Dia bahkan tidak berani berbicara lama-lama dengan laki-laki asing. Ah, aku jadi teringat Aisyah. Mantan istriku, wanita solihah yang sempat aku miliki. Bidadari yang kini entah dimana dan telah menjadi milik orang lain. Mantan istriku Aisyah juga sama seperti Umi nya Marwah. Dia tidak akan mau bicara lama-lama dengan laki-laki asing. Aisyah pasti akan langsung memberikan telepon nya padaku. Mungkin sekarang Aisyah sudah hidup bahagia, atau bahkan sudah memiliki seorang putri atau putra. Menyakitkan sekali rasanya jika teringat tentang dia. Kalau bisa jujur, tidak ada wanita yang seperti Aisyah. Sungguh, rasanya seperti belum ikhlas kehilangan Aisyah, tapi takdir memaksaku untuk tetap ikhlas.
"Halloo... ".
" Halooo... Assalamu'alaikum ".
" Hallo Ayah nya Ilham? ".
" Haloo.. ".
__ADS_1
" Oh, eh i-iya. Halo Waalaikumsalam Abi nya Wawa". Aku gugup dan sangat kaget.
"Loh, saya kira jaringannya yang sedang eror. Ternyata emang Ayah nya Ilham yang melamun toh? ".
"Heee.., Maaf-maaf. Tadi saya sedang tidak fokus".
" Tidak apa-apa Ayah nya Ilham. Maaf ya menunggu lama, tadi kebetulan saya sedang ada di taman belakang rumah. Jadi istri saya harus ke belakang dulu untuk memanggil saya".
"Oh iya tidak apa-apa. Maaf juga tadi saya melamun. Oh iya, saya Ayah nya Ilham. Sebelumnya saya mau bilang terimakasih pak, karena sudah membawa putraku Ilham ke rumah, juga untuk bingkisan parcel nya. Maaf sekali, saya belum bisa menemui di sekolah nya Wawa dan Ilham. Karena memang tadi ada kepentingan yang sangat mendesak dan mendadak".
" Oh iya sebaliknya juga, Abi nya Wawa mau bilang terimakasih yang sangat besar. Karena sudah jagain putri kami Marwah selama kami tidak bisa ada di samping nak Wawa. Sama-sama Pak, tidak apa-apa. Mungkin lain waktu bisa bertemu".
"Aamiin. Yasudah maaf mengganggu waktunya yah. Tadi niat nya mau telepon nya besok pagi. Tapi berubah pikiran jadi nya menghubungi sekarang".
" Oh tidak papa Pak. Lagi pula tadi saya dan istri juga sedang tidak sibuk".
"Baiklah, saya tutup telepon nya ya Abi nya Wawa. Semoga secepatnya bisa ketemu yah. Assalamu'alaikum".
" Iyah Pak. Aamiin. Waalaikumsalam ".
Sambungan telepon ku matikan. Aku masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Aku masih kepikiran tentang Umi nya nak Salwa. Selama lima tahun lebih, baru kali ini saya menemukan lagi perempuan yang seperti Aisyah. Ah, tidak seharusnya aku memikirkan istri laki-laki lain. Itu jelas bukan Aisyah. Dimana Aisyah sekarang pun, aku tidak tahu. Kenapa sangat sulit melupakan semua kenangan itu. Jika harus jujur, dari lubuk hatiku yang terdalam. Masih tertinggal setetes cinta untuk mantan istriku Aisyah. Bagaimana tidak?, aku dan Aisyah terpisahkan dengan cara yang sangat tidak mengenakan. Tapi, apa benar yang di ucapkan oleh Ibu?, dulu saat aku sedang sakit. Bahkan mantan istriku tidak perduli sedikitpun padaku?. Aisyah bahkan tidak mau membalas surat-surat yang Bunda kirimkan padanya. Adakah dia masih sangat membenciku. Entahlah, ku rasa apa yang di lakukan Aisyah itu wajar. Dia sudah memiliki suami, mana mungkin dia akan bebas datang dan menanggapi Bunda. Menjaga perasaan suami nya itu menjadi hal terpenting.
"Doorr... ".
" Ah, Bunda mengagetkan Fatih saja".
"Kok melamun nak? ".
"Oh ya?, bicara apa saja?".
" Ya ngobrol seperlunya saja Bunda".
"Lalu apa yang bikin kamu jadi melamun?".
" Emm.. Fa-Fatih hanya sedang teringat sesuatu saja".
"Sesuatu atau seseorang? ".
Nada pertanyaan Bunda menyelidik padaku.
" Seseorang sih. Hehehe... ".
" Siapa?!. Oh iya, siapa nama Abi nya nak Wawa? ".
" Aduhhhh!, Fatih lupa tanya Bun. Tadi ke asyikan ngobrol".
"Terus melamun kenapa?. Pertanyaan Bunda belum di jawab. Seseorang siapa? ".
" A-Aisyah Bunda".
__ADS_1
Aku gemetar menyebut nama mantan istriku. Apalagi ini didepan Bunda. Nampak nya Bunda sangat tidak suka mendengar nama itu aku sebut. Wajah Bunda berubah jadi penuh emosi dan rasa kesal. Mungkin Bunda merasa di sepele kan dan di abaikan oleh mantan menantunya. Bunda bahkan membuang pandangan nya ke arah jendela. Entahlah, apa yang sedang ada di pikiran Bunda.
"Bunda? ".
" Fatih!. Jangan pernah sebuh nama dia lagi. Dan Bunda tidak rela kalau kamu masih mengingat dan memikirkan mantan istrimu!".
"Bunda, Fatih sedang tidak memikirkan dia Bunda. Hanya saja tadi, saat pertama Fatih menghubungi Abi nya nak Marwah. Yang pertama berbicara adalah seorang perempuan. Dan gerak-gerik nya mirip seperti Aisyah".
" Fatih, sudah Bunda bilang. Jangan sebut nama Aisyah. Dia sudah tidak perduli dengan kita. Sangat sombong dan tidak mau membantu".
"Bunda".
" Kamu itu harus bisa melupakan kenangan masa lalu kamu nak!. Bunda mau kamu mencari kebahagiaan lagi dengan wanita lain. Kalau mantan istrimu bisa bahagia dengan laki-laki lain. Maka kamu harus jauh lebih bahagia dari mereka. Salah satu nya ya dengan menikah sama perempuan lain! ".
" Bu...".
"Lagi pula, masih banyak kok. Perempuan di luar sana yang lebih baik, cantik, dan lebih shalihah dari pada masa lalu kamu. Ayok dong, anak Bunda satu-satu nya harus bangkit dari keterpurukan masa lalu".
Bunda ngomel-ngomel padaku. Bahkan belum sempat aku memanggilnya, Bunda langsung memotong dan melanjutkan omelan nya padaku. Entahlah, padahal aku sedang tidak ada maksud untuk mengenang atau terjebak dengan masa lalu. Aku tahu, kalau Aisyah memang sudah bahagia dengan suami nya sekarang. Perkataan Bunda padaku barusan juga tidak salah. Wajar, Bunda menginginkan aku menikah juga dengan perempuan lain. Bunda juga ingin melihat putra satu-satu nya menikah dan bahagia, serta memiliki momongan. Tapi faktanya adalah, aku belum bisa membuka hati untuk perempuan lain. Bukan karena aku masih mengharapkan Aisyah kembali menjadi milikku, karena itu hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi. Masalah cinta dan rumah tangga bagiku tidak bisa asal-asalan. Apalagi aku pernah merasakan rasanya kehancuran rumah tangga dan kehilangan. Dan parah nya, aku kehilangan wanita terbaik yang pernah aku temui.
"Malah bengong, kalau kamu tidak bisa cari calon istri. Biar Bunda yang carikan perempuan terbaik untuk jadi menantu Bunda".
" Ja-jangan dong Bunda. Lagi pula menikah itu tidak bisa seenak nya. Fatih juga harus nyaman dan benar-benar memiliki rasa".
"Ya dari pada putra Bunda satu-satu nya, masih terkurung masa lalu nya yang sudah bertahun-tahun berlalu. Fatih, lagi pula Bunda sudah ingin menimang cucu dari kamu nak".
" Bunda sabar yah, kalau sudah waktunya. Allah akan dekatkan sendiri perempuan yang layak untuk Fatih. Dan pastinya akan di mudahkan. Lagian juga Fatih kan sedang sibuk kerja Bun".
"Kamu itu selalu saja alasannya sibuk kerja. Tapi yang namanya manusia juga kan harus berusaha nak. Gimana ceritanya kamu akan dapat calon istri. Kalau kamu saja nggak berusaha mencari. Mimpi yang ada juga kalo kaya gitu sih".
" Iya Bunda cantik. Nanti akan Fatih cari perempuan terbaik untuk jadi mantu Bunda yang cantik. Oke".
"Nah gitu dong, kan Bunda jadi adem dengar nya. Yasudah. Ingat!, harus move on. Bunda aja udah Move on dari monster itu".
" Hehehe.. Iyah Bunda".
Bunda pergi begitu saja, meninggalkan diriku di ruang TV. Sepertinya Bunda akan istirahat. Heran rasanya dengan diri sendiri. Selama bertahun-tahun lamanya menjadi seorang duda, aku bahkan tidak terpikirkan untuk mencari seorang istri. Justru malah Bunda lah yang memikirkan nya. Selama ini di kepalaku adalah bagaimana caranya membahagiakan Ilham putra angkat ku dan Bunda ku sendiri. Serta mengurus rentetan pekerjaan yang seabrek. Rasa sakit yang menancap hebat di hatiku masih terasa sangat menyakitkan. Sampai detik ini, aku belum bisa menemukan perempuan sebaik Aisyah, atau setidaknya yang pas di hatiku. Status seorang duda juga tidak mudah, tidak semua perempuan mau menikah dengan laki-laki yang sudah menjadi duda. Kalaupun aku harus menikah lagi, aku ingin dia yang menjadi istriku adalah perempuan yang mau menerima diriku dan dengan segala cerita masa laluku, juga bisa menyayangi dan menerima Ilham dan Bunda dengan baik. Aku kira, bertahun-tahun tidak mendapat kabar Aisyah bisa sangat membantu ku untuk melupakan kenangan itu dan bisa melangkah untuk hidup dengan pasangan yang baru. Faktanya, kepingan-kepingan kejadian selalu saja kembali mengingat kan diriku dengan wanita terbaik yang pernah aku miliki.
"Aisyah, ternyata sangat sulit mencari pengganti dirimu. Betapa malang nya diriku, karena harus kehilangan wanita sebaik kamu".
Aku meratapi diriku sendiri yang malang. Sangat malang dan terlalu malang. Nasi sudah menjadi bubur, yang harus aku lakukan sekarang adalah tetap semangat dan jangan putus asa. Aku yakin, Allah sudah menyiapkan seseorang yang sangat baik menurut Nya untuk menggantikan Aisyah di hati dan hidupku. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi semua yang sudah ku lalui selama ini, adalah pembelajaran yang sangat berharga untuk hidup dan melangkah kedepannya. Pendamping yang baik menurut Allah adalah yang saat ini aku butuhkan, bukan baik menurut ku.
Karena apa yang menurutku baik, belum tentu itu yang terbaik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Albaqarah : 216).
Kira-kira itulah salah satu ayat di Al-Qur'an yang kini menenangkan hatiku yang gundah gulana. Satu ayat yang membuatku yakin, bahwa rencana Nya jauh lebih indah dari rencana diriku sendiri. Manusia memang bisa berencana, namun pada akhirnya Allah juga yang menentukan. Menentukan apakah rencana kita baik dan akan diridhai, atau sebaliknya rencana yang kita anggap baik ternyata sebenarnya tidak baik untuk Allah. Ah, sudahlah. Ada Ilham yang harus aku pikirkan dan aku bahagiakan. Sekarang aku belum ingin memikirkan masalah pendamping hidup. Aku juga tidak malu dengan status diriku yang duda. Semuanya sudah digariskan, dan sebagai manusia biasa, tidak ada yang bisa aku lakukan selain tunduk terhadap ketentuan Nya.
Akan ada pelangi setelah hujan, meskipun kadang pelangi itu muncul dengan sangat lama dan membutuhkan kesabaran. Karena yang indah memang sulit didapatkan.
__ADS_1
"Ya Rabb, jika tidak engkau berikan pendamping sebaik Aisyah ku yang dulu, setidaknya berikan aku pendamping yang mau menerima baik buruknya aku". Doaku pasrah dan menyeka air mata yang tidak terasa menetes di pipi.