
Agas tersenyum lebar memeluk Mama Diana setelah pulang dari Sweden. Mereka gagal ke Swiss karena Ayah Sella yang jatuh sakit. Mertuanya itu kembali mengalami serang jantung kemarin dan kini dalam keadaan kritis.
"Sabar ya sayang, Ayah kamu pasti sembuh," bisik Mama Diana memeluk Sella.
"Iya Mah, makasih udah nemenin Ayah selama aku disana." Mama Diana mengusap pipi Sella menatap prihatin menantu kesayangannya itu. Wajah Sella sangat menyiratkan kesedihan walaupun selama ini ia lebih dekat dengan almarhum ibunya.
"Sttt... jangan nangis sayang, kita istirahat dulu baru nanti jenguk Ayah. Kamu udah kecapean sayang." Agas menuntun Sella masuk mobil setelah nya ia kembali memasukkan koper ke bagasi.
"Mah, gimana keadaan Ayah terakhir," tanya Sella sendu.
"Masih sama seperti sekarang. Beruntung Geon dirumah waktu itu Ayah kamu lagi siram bunga kalau nggak cepat dibawa kata Dokter akibatnya lebih parah dari yang sekarang," jelas Mama Diana mengingat perkataan Dokter bahwa kecil kemungkinan untuk hidup selain faktor usia, pendonor jantung belum ada.
.
.
.
"MASS!!!" teriak Sella menangis.
"Ayah Mas... Ayah aku," isak Sella memeluk Agas erat.
__ADS_1
Agas membawa Sella duduk ditepi kasur. "Ayah kenapa sayang?" janjinya memang sebentar lagi akan ke rumah sakit karena mereka baru tiba di rumah beberapa menit lalu.
"Ayah, Mas... Ayah meninggal," isak Sella pilu. Agas memejamkan mata tak menyangka mertuanya akan pergi begitu cepat.
Ia mengelus bahu Sella menenangkannya. "Sayang... kita ke rumah sakit ya. Kamu berhenti nangisnya, Ayah sedih nanti," bisik Agas mengusap air mata istrinya.
Sella mengangguk. Agas menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sesekali mengecup punggung jemari Sella berusaha menenangkan wanita itu. "Ikhlaskan sayang... Mas tau kamu kuat," ucapnya tersenyum.
"Mah... Ayah dimana? aku mau liat Ayah." Mama Diana memeluk Sella sebelum mengajaknya bertemu untuk yang terakhir.
"Ayah!" pekik Sella menghamburkan pelukannya. Memeluk tubuh kurus dan pucat itu erat. "Ayah... Ayah.. " isak Sella menangis pilu.
Sella mengangkat wajahnya menatap wajah sang Ayah yang meninggal dalam keadaan tersenyum tipis. "Ayah kenapa ninggalin aku? Ayah mau ketemu Bunda ya? terus aku gimana tanpa Ayah... "
Ia masih ingat saat kecil Ayahnya itu mengatakan berharap meninggal setelah Sella menemukan kebahagiannya. Dan kini Tuhan mengabulkan harapan pria paruh baya itu.
Agas mengusap air matanya, perlahan ia mengangkat bahu Sella memberi pengertian untuk ikhlas karena dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang menanti. "Sayangnya Mas... jangan menangis lagi. Ikhlaskan Ayah ya, sejauh mana Ayah pergi beliau selalu ada disini," ucap Agas menunjuk hati Sella.
Sella mengangguk kembali melirik sang Ayah yang akan dibawa ke rumah duka.
.
__ADS_1
.
.
Geon mengadzankan Ayahnya untuk yang terakhir sedari tadi pria itu hanya diam dengan pandangan kosong. Selama 24 tahun hidup ia baru bertemu Ayah kandungnya belum ada setahun dan kini kembali di pisahkan oleh takdir. Ibu Geon kembali menikah dan sewaktu hamil dirinya Geon dibawa hingga 24 tahun kemudian ia baru di pertemukan dengan sang Ayah.
"Ayah... " lirih Sella menabur bunga dengan gemetar.
Agas selalu berada di sampingnya dengan candaan konyol yang mampu membuatnya tersenyum meski hanya sebentar.
"Pulang sayang?" tanya Agas setelah selesai berdoa.
Sella mengangguk ia juga menyuruh Geon untuk pamit karena Kakaknya itu masih diam menatap tanah yang masih basah itu.
"Pulang ya Kak? Harus ikhlas Ayah sedih kalau liat Kakak sedih." padahal Agas tau bahwa istrinya juga sedang menahan tangisnya yang ingin pecah.
***
Mecha back jgn lupa like komen dan votenya.
ig : xc.saturnus_
__ADS_1