Madu

Madu
Madu Ep.14 (SEASON 2)


__ADS_3

Ini sudah hari ketiga setelah aku mengirimkan sebuah surat terakhir. Aku bahkan sampai mengirimkan tiga buah surat kepada mantan menantuku Aisyah yang ada di Solo. Sebegitu teganya kah dia kepadaku dan kepada putraku?. Aku sudah pasrah dengan kondisi Fatih saat ini. Aku sudah mengikuti pengobatan sebagaimana mestinya. Bolak-balik ke rumah sakit tanpa kenal lelah. Tidak pernah takut kehabisan banyak biaya demi putraku satu-satunya agar bisa kembali sembuh. Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Dia yang bahkan dulu sudah sangat ada peningkatan, meksipun itu dalam pola makan dan istirahat. Kini sama sekali dia mogok dan tidak mau makan sama sekali. Bahkan putraku sering tidak pernah tidur. Kalaupun tidur hanya beberapa jam saja. Tidak lebih dari dua jam, selebihnya dia akan memanggil-manggil nama mantan istrinya Aisyah. Dia begitu sangat menantikan kehadiran Aisyah dihadapan dirinya. Aku sudah pasrah, aku harus bagaimana lagi?. Aku sudah berkali-kali mengirimkan surat pada Aisyah. Namun nyatanya tidak ada satupun surat yang mendapatkan respon darinya. Menuju ke Solo dan menemui Aisyah agar mau datang ke Jakarta juga tidak mungkin. Fatih tidak bisa aku tinggal sendirian, dia harus selalu dalam pengawasanku. Jika tidak, entahlah apa yang akan dia perbuat. Tubuh nya saja kini kembali kurus. Kelopak bawah matanya semakin menghitam dan cekung. Dia kurang istirahat dan tidak mau makan. Setiap aku ajak untuk makan bersama, dia selalu menolak dan mengatakan, bahwa dia akan makan jika ada Aisyah datang di depan dirinya. Minum obat-obatan nya pun, dia sekarang sama sekali tidak mau lagi. Katanya, semua obat-obatan ini tidak bisa membuat Aisyah datang menemui dirinya. Bingung sudah jelas, aku harus bagaimana lagi sebagai seorang ibu?, selain pasrah dengan semuanya?. Air mata juga rasa-rasanya sudah tidak mau keluar lagi. Benar sekali, saat ini aku hanya pasrah dan berdoa. Agar ada keajaiban untuk putraku satu-satunya. Segala daya dan upaya sudah aku maksimalkan, aku sudah berjuang sebagaimana mestinya agar putraku Fatih bisa kembali sembuh dan sehat seperti sedia kala. Detik ini, aku hanya mempercayai terkabulnya sebuah doa untuk anaknya.


"Putraku?, mau sampai kapan kamu tidak mau makan nak. Kamu akan sakit jika terus-terusan menolak untuk makan!,".


"Bunda, mau seberapa banyak pun Fatih makan makanan ini. Semuanya tidak bisa membawa Aisyah dihadapan Fatih. Fatih bertahan demi bertemu dengan wanita yang sangat Fatih cintai Bun. Untuk apa Fatih bertahan, kalau seseorang yang Fatih cinta tidak ada disini bersama Fatih?!,".


"Nak, tidak bisakah kau melupakan Aisyah!!, Bunda juga butuh kamu!!, kamu masih punya Bunda!, tidak kah kamu sayang pada wanita yang telah melahirkan kamu?!. Hiks... hiks..,".


"Bun, Fatih mencintai Bunda. Tapi Fatih tidak bisa melupakan Aisyah Bun. Bunda kenapa tidak bisa membawa Aisyah agar datang bertemu dengan Fatih?!,".


"Nak, lupakanlah Aisyah. Masih banyak diluar sana perempuan yang pantas dan sebaik Aisyah, atau bahkan lebih baik dari Aisyah,".


Aku tidak habis pikir. Aisyah saja begitu kejam. Sama sekali tidak mau datang atau sekedar membalas surat-surat yang sudah susah payah aku tulis dan aku kirimkan untuknya. Mantan menantuku bahkan sudah tidak perduli sedikit pun dengan kondisiku dan kondisi mantan suaminya. Tapi kenapa?, putraku masih saja tidak bisa melupakan Aisyah?!. Ini sungguh tidak adil. Dalam rumah tangga di bangun oleh dua orang. Seharusnya ketika rumah tangga itu sendiri berpisah atau hancur ada dua orang pula yang terluka. Tapi kenapa?, saat ini hanya putraku saja lah yang hancur dan terluka?. Aku juga ingin melihat putraku bisa melanjutkan hidupnya ya Allah. Aku harus bagaimana lagi?.


"Bunda!!, tidak ada perempuan sebaik Aisyah Bun. Tidak ada yang lebih baik lagi dari istri Fatih. Fatih akan tetap mencintai Aisyah sampai kapan pun Bunda!!. Sampai kapanpun!!,".


"Bruaaakkkk.....!!,". Suara gemuruh meja dan piring-piring terdengar hebat. Putraku nampaknya tidak suka aku mengatakan, bahwa banyak perempuan lain yang lebih baik dari mantan istrinya. Dia bangun, dan menggebrak meja makan dengan begitu kerasnya, hingga piring-piring dan mangkuk saling berbenturan memunculkan bunyi yang sangat memekakkan. Fatih pergi begitu saja meninggalkan diriku seorang diri. Dan aku hanya bisa menahan tangis sambil memandangi tubuh putraku yang masuk kedalam kamarnya.


"Fatih!!, sadarlah nak!. Aisyah bukanlah lagi istrimu. Hiks... hiks... hiks..,".


Aku jatuh terduduk dilantai. Hatiku benar-benar hancur. Dalamnya cinta putraku untukmu Aisyah. Tapi kamu bahkan sama sekali tidak peruduli dengan kondisi kami disini. Meskipun kamu sudah menjadi orang asing, setidaknya datanglah dan bantu kami. Kenapa kamu diam saja tanpa membalas pesan dari Bunda?. Seandainya kamu merasakan apa yang kami rasakan sekarang. Mungkin kamu akan tahu, bagaimana hancurnya hati seorang ibu, melihat putranya terkena gangguan psikis karena kehilangan seseorang yang pernah ada dalam hati dan hidupnya.


Fatih putraku, aku sangat mengenal baik dirinya. Dia bahkan tidak pernah menceritakan satu nama perempuan pun padaku ketika masih masa kuliah atau pun saat-saat sekolah dulu. Aku yang dulu akhirnya sering menanyakan, sedang dekat dengan siapa dirinya?, atau adakah perempuan yang ditaksir olehnya?. Dan lagi-lagi putraku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Fatih selalu berkata kelak jika sudah siap, dia akan memilih satu wanita dan akan dia cintai seumur hidupnya. Aku mengerti, putraku adalah laki-laki yang baik. Dia tidak suka main-main dalam hal perasaan. Dia tipe orang yang sangat setia, dan sekali jatuh cinta. Cintanya begitu dalam dan teramat sangat tulus. Tapi jika seperti ini keadaannya aku harus bagaimana?. Aku harus berusaha apa lagi?, atau aku harus melakukan apa agar putraku satu-satunya bisa kembali sembuh?.


"Hallo Dok,".


"Oh iya, Hallo dokter Layla,".


"Dok, apa sekarang sedang sibuk?,".


"Tidak, ada apa dokter Layla?. Bagaimana perkembangan psikis anak anda dok?,".


Aku sudah tidak lagi rutin berobat. Karena memang Fatih sudah mogok, dan tidak mau lagi aku ajak datang dirumah sakit. Bahkan dia membuang semua obat-obatan yang seharusnya dia minum.


"Tidak ada perubahan dok, putraku semakin susah diajak mengobrol. Dia bahkan tidak mau makan dan tidur pun sangat tidak teratur dik. Aku bingung harus bagaimana lagi dokter Heru,".


"Sabarlah dokter Layla. Ini ujian untukmu. Terus kuatkan hatimu dok. Dan jangan pernah menyerah untuk kesembuhan putraku satu-satunya,".


"Terimakasih dok. Dokter Heru?, haruskah aku membawa putraku dan membiarkan dirinya dikarantina di RSJ (Rumah Sakit Jiwa)?,".


Aku benar-benar sudah buntu. Aku sudah pasrah. Tidak bisa ada yang aku lakukan lagi selain pasrah dengan takdir yang kini ada dan hadir dalam hidupku. Jika memang aku harus kehilangan Fatih, putraku satu-satunya. Biarlah, aku saat ini sudah mulai untuk belajar ikhlas menerima segala ketentuan yang ada. Bagaikan daging tanpa tulang, beginilah keadaanku. Aku kehilangan penyokong dalam segala hal. Kehilangan orang-orang terdekat itu tidaklah mudah. Ada banyak kecewa dan lara yang aku coba telan seorang diri. Seandainya Fatih tidak seperti ini kondisi nya, mungkin saat ini aku sudah berbagi rasa dan bahkan sudah menangis bersama dengannya. Faktanya, aku harus menanggung segalanya sendiri. Seorang diri.

__ADS_1


"Dok?!!, apa anda yakin?. Akan memasukan putra anda satu-satunya didalam rumah sakit jiwa?. Anda sedang tidak bercanda kan dok?!,".


Air mataku menetes. Mendengar semua pertanyaan dokter Heru padaku. Aku harus menjawab apa?, logikanya ibu mana yang mau anak kandungnya masuk dalam rumah sakit jiwa?. Apalagi itu adalah anak satu-satunya?. Aku berani sumpah, pasti tidak ada yang ingin sedikitpun memasukan anak nya dalam penjara penuh nestapa dan duka jiwa.


"Halloooo!!!, dokk?!!. Dokter Layla?!,".


"O-oh iya dok. Maaf aku melamun,".


"Lalu bagaimana?,". Apa anda yakin akan membawa Fatih putra anda satu-satunya masuk dalam rumah sakit jiwa?,".


"Saya yakin dok. Saya sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi saat ini. Segala cara, daya dan upaya sudah saya maksimalkan penuh demi kesembuhan putraku. Tapi nyatanya tidak ada satupun yang berhasil dok,".


"Sebentar-sebentar. Sepertinya masih ada satu cara yang belum anda coba dokter Layla?,".


"Makdu anda, memanggil dan mempertemukan mantan istri putraku?. Aku bahkan sudah tidak mengharapkan itu lagi dok. Aku sudah mengirimkan tiga buah surat pada Aisyah mantan menantuku. Tapi sampai detik ini saya menelepon Anda, tidak ada satupun surat yang diberikan respon oleh mantan menantuku itu. Aku sudah tidak mau mengharapkan itu lagi dok. Meskipun cara itu belum aku coba, tapi setidaknya aku sudah berusaha semampu saya dokter Heru,".


"Hmmmm..., baiklah dok. Terserah bagaimana keputusan anda dokter Layla. Jika memang anda sudah ikhlas untuk melepaskan dan jauh dari putra anda. Sekarang pun bisa di proses dan mendaftar agar putra anda segera dimasukkan dalam rumah sakit jiwa,".


"Aku sudah ikhlas dok, sudah yakin. Biarlah, aku sudah berusaha kuat. Jadi, hari ini juga saya bisa langsung menghubungi pihak rumah sakitnya kan dok?,".


"Sudah, sudah bisa dokter Layla. Dan putra anda bisa segera dibawa ke rumah sakit jiwa hari ini juga. Jika putra anda tidak bisa dibawa oleh anda sendiri menuju ke rumah sakitnya, hubungi saja pihak rumah sakitnya, untuk menjemput putra anda dirumah,".


"Sama-sama dokter Layla. Terus semangat yah dok. Semoga ada kebahagiaan dibalik semuanya. Sehat-sehat dokter Layla,".


"Iya dokter Heru, anda juga. Assalamualaikum,".


"Waallaikumussalam,". Jawab dokter Heru dari seberang telepon.


Setidaknya, jika putraku berada dalam rumah sakit jiwa. Aku tidak lagi terus menerus menangis, bahkan aku sempat memeriksakan diri ke salah satu dokter kenalan juga. Dokter spesialis mata. Dari hasil pemeriksaannya, lensa mataku sedikit terganggu. Itu mungkin efek dari terlalu bahkan sangat sering menangis. Aku harus kuat, aku harus sehat. Agar aku bisa terus melihat dan bertemu putraku meskipun aku dan Fatih akan berbeda tempat. Lagi pula, dirumah sakit jiwa. Akan selalu ada petugas rumah sakit yang mengawasinya. Sehingga aku bisa tenang dan bisa beristirahat. Selama ini, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak, jika sedikit-sedikit aku mendengar putraku menangis sangat kencang, semenit kemudian dia tertawa-tawa terbahak-bahak, atau bahkan tidak lama dia akan berteriak-teriak memanggil nama Aisyah. Dan kejadian Fatih yang ingin menggantungkan dirinya, sampai saat ini aku masih trauma. Dirumah tidak ada yang bisa kumintai tolong untuk sekedar bergantian menjaga dan mengawasi putraku. Kesehatanku makin hari juga semaki menurun.


"Hallo, perkenalkan saya dokter Layla. Sebelumnya apa benar ini dari bagian administrasi Rumah Sakit Jiwa Bintang Mulya Sentosa Jakarta?,".


"Hallo, iya benar dok. Ini dengan saya Lulu yang saat In bertugas di bagian administrasi Rumah Sakit Jiwa Bintang Mulya Jakarta. Ada yang bisa saya bantu dok?,".


"Begini mbak, saya ingin mendaftarkan satu pasien untuk masuk didalam rumah sakit ini. Ini atas nama Muhammad Fatih, putra saya sendiri mbak. Apa bisa?,".


"Oh baik dok, sebentar saya cek dulu data arsipnya yah dok,".


"Iya mbak,".


Tidak ada satu menit, mbak bagian administrasi langsung melanjutkan pembicaraannya denganku.

__ADS_1


"Oh ini dengan dokter Layla teman dari dokter Heru yah?. Kebetulan tadi sebelum dokter Layla menelpon kami. Dokter Heru sudah lebih dulu mengubungi kami. Dan untuk pendaftaran putra dokter sudah kami urus dok,".


"Oh Syukurlah. Jadi anak saya bisa masuk ke Rumah sakit hari ini juga kan mbak?,".


"Bisa dokter,".


"Untuk biaya nya bagaimana mbak?,".


"Untuk biaya dan lain sebagainya akan kami rinci setelah pasien sudah masuk di rumah sakit ya dok,".


"Oh begitu, baiklah. Terimakasih banyak mbak,".


"Sebentar dok, ini pasiennya akan diantar sendiri oleh pihak keluarga, atau kami jemput kerumah dok?,".


"Oh iya lupa, mungkin nanti dijemput saja oleh petugas rumah sakitnya dok. Karena saya tidak bisa mengantarkannya sendiri,".


"Baik dokter Layla. Hari ini juga, petugas Rumah Sakit Bintang Mulya Jakarta, akan datang ke alamat rumah anda,".


"Kira-kira jam berapa ya mbak prosesnya?,".


"Biasanya sekitar jam satu siang, petugas rumah sakit baru akan meluncur ke alamat pasien nya dok,".


"Oke mbak, terimakasih banyak. Saya tunggu kedatangan tim kerumah saya,".


"Sama-sama dokter,".


"Tuuuttt .... tutt... tuuutt,". Sambungan telepon dengan pihak rumah sakit terputus.


Aku beranjak menuju ke kamar putraku. Aku akan mengemasi baju dan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Aku masuk kedalam kamar, dan aku melihat keadaan yang memperlihatkan. Putraku yang sangat tampan sedang berdiri menghadap ke jendela kamarnya sembari memeluk baju gamis milik mantan istrinya Aisyah. Bibirnya tak henti-hentinya memanggil-manggil nama Aisyah.


"Dik Aisyah, mas Fatih kangen. Lihat, mas sekarang hanya bisa memeluk baju kamu sayang?. Kemana sih kamu sebenernya?. Kamu sedang pergi dengan Azizah yah?. Kok lama sekali dik?. Ayok pulang dik, nanti mas bikinkan salad buah kesukaan kamu. Mas Fatih sangat rindu,".


Kira-kira begitulah yang diucapkan putraku Fatih sembari memeluk erat baju gamis milik Aisyah. Bahkan dia sama sekali tidak menghiraukan kedatanganku, Fatih juga tidak menghiraukan Bundanya yang sedang sibuk mengemasi baju-bajunya.


"Bunda, tolong itu baju istri Fatih masukan kedalam tas juga yah. Kan kasian nanti Aisyah tidak ada baju ganti,". Ucapnya padaku yang tiba-tiba. Setelah mengucapkan itu semua, dia kembali dengan dunianya.


Aku menyeka air mataku, dan terus melanjutkan mengepaki barang-barang Fatih. Aku tidak menghiraukan perintahnya. Untuk apa membawa baju-baju Aisyah. Setelah semuanya beres, aku lantas mengambil wudhu dan melaksanakan shalat dzuhur. Aku meninggalkan Fatih dikamarnya, dan membawa dua tas miliknya. Sambil menunggu petugas rumah sakit datang menjemput Fatih. Rasanya aku ingin menangis sepuasnya untuk mengikhlaskan dan melepaskan putra yang sangat aku cintai satu-satunya. Aku mencurahkan segala duka laraku pada Nya.


"Tookk..... Tokk.... Tok....,". Suara pintu diketuk terdengar jelas olehku. Aku melirik jam dinding sudah hampir jam dua siang. Aku bergegas melepas mukenahku dan bergegas kedepan.


"Sepertinya petugas rumah sakit sudah datang,". Ucapku sembari berjalan menuju ke pintu depan.

__ADS_1


__ADS_2