
Aku curiga, semenjak pulang dari rumah keluarga Wawa teman nya Ilham. Putraku Fatih jadi sering melamun, bahkan tidak jarang aku tanpa sengaja memergoki dirinya menyebut nama Aisyah. Sebenarnya apa yang terjadi?, apa dia bertemu dengan mantan istrinya di jalan?. Tapi bukannya Aisyah tinggal di Solo, atau mungkinkah saat itu dia sedang berada di Yogyakarta. Semuanya sangat mencurigakan, aku harus mencari tahu kebenarannya. Fatih tidak boleh jatuh cinta lagi dengan Aisyah. Tidak rela aku melihat putraku satu-satunya harus merana dan menahan sakit karena cinta nya yang tidak terbalas. Aisyah tidak boleh masuk dalam kehidupan Fatih lagi. Fatih putraku, tidak boleh depresi untuk kedua kalinya hanya karena seorang Aisyah yang bahkan tidak memiliki hati dan tidak peduli lagi dengannya.
"Bun, Fatih hari ini lembur ya. Ada banyak kerjaan di kantor".
"Pulang jam berapa nak? ".
" Belum tahu sih pastinya. Tapi yang jelas sebelum maghrib Bunda".
"Oh, yasudah. Tapi segera pulang yah. Oh iya, kamu sudah beri tahu Ilham kalau akan pulang telat? ".
" Sudah Bun, tadi Fatih sudah bicara dengan Ilham, kalau Ayah nya akan lembur dan pulang agak sorean".
"Oh, syukurlah".
" Yasudah, Fatih berangkat ke kantor dulu yah Bun. Assalamu'alaikum ".
" Wa'alaikumussalam. Hati-hati nak".
"Iyah Bunda".
Aku memandangi mobil putraku pergi dan berjalan meninggalkan garasi rumah. Ini saat nya aku mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Mumpung hari ini Fatih pulang telat. Aku punya banyak waktu untuk menyelidiki semua yang terjadi beberapa hari kebelakang. Aku berjalan menghampiri cucu ku Ilham yang sedang asyik bermain di teras belakang rumah. Siapa tau ada informasi yang bisa aku dapat dari cucu ku.
"Cucu nenek seperti nya sedang asyik bermain nih. Boleh nenek ikutan? ".
" Boleh nenek".
"Ilham sayang, nenek ingin tanya-tanya tentang Wawa teman Ilham boleh? ".
" Memang nya nenek mau tanya apa? ".
" Nak, waktu beberapa hari yang lalu kan. Ilham dan Ayah pergi ke rumah nak Marwah?. Nah di sana ada siapa saja sayang? ".
" Oohh... waktu Ilham dan Ayah baru datang. Wawa yang membuka kan pintu nya Nek, terus Wawa masuk memanggil Umi nya. Setelah lama, baru deh Ayah dan Ilham bisa ketemu sama Abi nya Wawa. Soalnya saat Ayah dan Ilham datang, Abi dan Oma nya Wawa sedang pergi nek".
"Oh ya? ".
"Iyah nenek".
"Umi nya Wawa seperti apa nak?. Cantik kah?, atau bagaimana? ".
"Umi nya Wawa sangat cantik, nenek. Umi nya Wawa juga pakai cadar. Kata Wawa, itu biar cantik nya Umi nya Wawa hanya untuk Abi nya Wawa saja".
Deg, jantungku langsung berdetak hebat. Umi nya Marwah mengenakan cadar?. Seperti apa sebenarnya dia, apa karena Umi nya Marwah mengenakan cadar, sehingga putraku teringat kembali dengan Aisyah mantan istrinya?. Atau jangan-jangan Umi nya nak Marwah adalah mantan menantuku Aisyah?. Tidak, tidak mungkin itu orang yang sama dengan mantan istri Fatih putraku. Lagi pula, Aisyah tinggal di Solo. Bukan di kota Yogyakarta. Tapi kenapa hatiku masih saja tidak tenang. Apa yang sebenarnya sudah diketahui oleh Fatih putraku?. Selama bertahun-tahun baru kali ini lagi aku melihat putraku menjadi sering melamun kembali. Aku trauma, takut Fatih terkena gangguan kejiwaan untuk yang kedua kalinya. Bisa hancur hidupku, jika putraku satu-satunya harus terkena penyakit kejiwaan untuk yang kedua kalinya.
"Oh begitu. Emm... Ilham ingat tidak siapa nama Umi nya nak Wawa? ".
" Jelas ingat dong nenek. Bahkan Ayah juga sangat hafal nama panjang Umi nya Wawa. Padahal Umi nya Wawa belum kasih tahu namanya. Tapi Ayah nya Ilham hebat, sudah tahu duluan ".
Kelingan demi kepingan petunjuk dari cucuku Ilham semakin membuatku tidak karuan dan sangat penasaran. Siapa sebenarnya keluarga nak Marwah itu. Kenapa Fatih bisa mengenal dan mengetahui nama panjang Umi nya Marwah bahkan sebelum orang nya mengenalkan diri. Sangat mencurigakan.
" Waahh... hebat. Siapa nak namanya?. Oma juga pengen kenal dengan Umi nya nak Marwah".
"Namanya Umi Aisyah, nama panjang nya Umi Aisyah Fatimatul Salwa, Nek. Bagus ya nek namanya".
" A-aisyah Fatimatul Salwa? ".
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Nama itu, tidak mungkin ada orang yang namanya sama persis dengan Aisyah mantan menantuku dulu. Semua ciri-ciri yang diceritakan Ilham cucuku sangat mengarah pada Aisyah yang sama. Aisyah yang pernah menjadi bagian hidup putraku Fatih. Apa karena ini?, karena Fatih telah bertemu kembali dengan mantan istrinya?. Makanya Fatih sering melamun juga sering menyebut nama Aisyah?. Aku harus bisa melihat sendiri dan membuktikan, bahwa Aisyah Umi nya Wawa adalah orang yang sama atau berbeda dengan Aisyah mantan istri putra satu-satuku Fatih.
"Iyah Nenek".
"Cucu Nenek mau ngga?. Kalau Nenek ajak main kerumah Wawa lagi? ".
"Untuk apa main lagi Nenek?. Kan kemarin Ilham sudah berkunjung dengan Ayah Fatih".
" Kan kemarin sama Ayah nak. Sekarang gantian dong sama Nenek. Kan nenek juga ingin kenalan dengan keluarga nak Marwah".
"Ooh begitu, tapi Ilham belum pamit sama Ayah. Nanti Ayah marah ke Ilham, nenek".
" Tenang, Ayah tidak akan marah Nak. Nanti biar Nenek yang bilang ke Ayah ya. Ilham masih ingat kan dimana rumah nya Nak Wawa? ".
" Iya Nek, Ilham ingat".
Jawab cucuku sembari menganggukkan kepala nya pelan.
"Bagu, cucu nenek emang hebat. Yasudah sekarang beresin mainannya, terus kita langsung ke rumah nak Marwah ya sayang".
__ADS_1
" Iya Nenek".
Aku meninggalkan Ilham dan bergegas menuju kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai kerumah Marwah. Semoga saja semua dugaan ku salah. Umi nya Wawa bukan Aisyah yang aku maksud.
"Hallo".
" Hallo Bunda".
"Alex, bisa antar Bunda sebentar? ".
" Oh, kemana Bun? ".
" Ada yang mau Bunda selidiki".
"Meluncur Bunda. Tunggu sebentar yah. Alex lima menit lagi sampai di rumah Bunda. Tapi Fatih kemana Bun? ".
"Gampang Bunda jelaskan nanti. Kamu datang saja kesini".
" Oke siap Bos".
Aku meminta bantuan pada teman lama putraku. Dulu, karena Alex lah Fatih mau menuruti keinginanku. Begitu melihat putraku sering melamun dan menyebut nama Aisyah. Aku langsung mencari-cari nomor Alex. Aku ingin dia bisa membantu Fatih untuk secepatnya melupakan Aisyah. Sejujurnya Fatih sudah tidak suka dengan Alex. Tapi sebagai seorang Ibu, aku hanya ingin yang terbaik untuk Putraku satu-satunya. Terpaksa, Alex lah teman Fatih satu-satunya yang aku kenal.
"Nenek, Ilham sudah siap".
" Wah cakep nya. Sebentar yah Nak. Nenek sedang pesan mobil taksi".
"Iya nenek".
Belum sampai lima menit, mobil Alex sudah terparkir di depan rumah. Cepat sekali anak itu datang. Anak ini memang bisa diandalkan.
" Sudah siap Bun? "
"Sudah nak. Tolong antar Bunda dan Ilham ke Perumahan yang ada patung Gajah dan banyak bunga nya yah".
" Oh, oke siap".
Aku mengedipkan mata pada Alex, memberikan kode bahwa jangan sampai Ilham tahu siapa dirinya. Karena Ilham hanya tahu, bahwa Alex hanya seorang supir taksi saja. Bisa kacau semuanya kalau Ilham sampai bercerita pada Ayah nya. Anak-anak seusia Ilham masih sangat polos. Dia akan ngomong apa adanya tentang apa yang dia dengar. Perjalanan menuju rumah Marwah tidak terhambat macet. Syukurlah, ini artinya aku akan segera sampai. Sudah tidak sabar rasanya ingin melihat seperti apa Umi nya teman cucuku itu. Kenapa sepulang dari sana putraku jadi sering melamun dan menyebut nama mantan istrinya. Aku berharap, semoga takdir kali ini berpihak padaku dan putraku Fatih. Sudah cukup semua yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Nenek, itu rumah nya Marwah teman Ilham".
"Yang mana nak? ".
"Oh itu. Oke".
Alex memarkirkan mobil nya di depan halaman rumah ini. Rumah yang tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Aku menghela napas panjang. Semoga semua dugaan ku salah.
" Ilham, cucu nenek temani om supir ambil bingkisan untuk keluarga Wawa dulu yah. Tadi Nenek lupa ngga ambil".
Ucapku sembari mengedipkan mata pada Alex.
"Kenapa Nenek tidak ikut? ".
" Nenek tunggu disini saja yah nak".
"Oh, yasudah Ilham berangkat dulu ya Nek".
" Cepat kesini ya nak. Tadi nenek sudah bilang om supir kok".
"Iya nenek".
Aku menyuruh Alex membawa Ilham. Aku tidak mau cucu ku melihat semuanya. Ilham tidak boleh tahu semua permasalahan ini. Aku terpaksa berbohong pada Ilham. Aku memandangi mobil hitam itu pergi meninggalkan rumah Marwah. Aku bersiap dan berjalan menuju pintu depan rumah ini.
" Tokk.. tok.. tok".
Aku mengetuk pintu.
"Permisi. Assalamu'alaikum".
" Kreekkk... ".
Seseorang dari dalam rumah membuka pintu untukku. Tapi bukan orang ini yang aku cari. Atau dia hanya tetangga yang sedang main.
" Waalaikumsalam. Maaf siapa ya? ".
" Oh saya Nenek teman nya nak Wawa. Apa orang tua nak Wawa ada? ".
__ADS_1
" Ada Umi nya saja. Wawa nya sedang pergi bersama Oma dan Abi nya".
"Mba siapa nya ya? ".
" Saya tetangga nya Mba Aisyah. Kebetulan sedang bantu-bantu disini".
"Oh, bisa panggilkan Mba Aisyah nya? ".
" Silahkan masuk dulu Bu. Nanti saya panggilkan Mba Aisyah nya".
"Terimakasih".
Aku masuk dan duduk di ruang tamu. Mataku berkeliling mencari-cari setidak nya pas foto keluarga ini. Tapi tidak ada, tidak ada satupun foto yang terpajang di ruang tamu ini. Yang ada hanya jam dinding berbentuk hati yang bertengger di ruangan ini. Dag dig dug rasanya. Kenapa lama sekali keluar nya. Aku semakin tidak sabar saja.
"Maaf siapa ya? ".
Suara seorang perempuan mengagetkan diriku yang sedari tadi sedang memandang ke arah depan jendela.
Betapa terkejut nya diriku. Ternyata semua dugaan ku adalah benar. Aisyah ini adalah Aisyah yang sama dengan mantan istri putraku. Kenapa dia harus datang kembali di kehidupan putraku. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Meskipun sebenarnya aku sangatlah emosi.
"Setelah bertahun-tahun, akhirnya kita ketemu lagi Aisyah. Setelah beberapa surat-suratku tidak kamu gubris. Akhirnya takdir menyeret ku untuk kembali bertemu dengan mantan menantuku lagi"
"Bunda Layla?! ".
" Kenapa?!. Kaget ya?!. Sama kaget nya dengan Bunda yang melihat dirimu sekarang. Bagaimana?!. Sudah bahagia dengan kehidupan dirimu yang sekarang?!. Pastilah bahagia. Sedangkan karena dirimu, putraku Fatih sampai gila dan harus berobat ke luar negeri. Apa kamu perduli?. Tidak kan!. Surat yang Bunda kirimkan saja tidak pernah kamu balas!! ".
" Maksud Bunda apa? ".
"Sudahlah Aisyah. Tidak usah sok polos begitu. Jadi karena kamu tinggal di Yogyakarta juga. Makanya Fatih tidak mau Bunda ajak tinggal di kota Bogor?!. Mau sampai kapan kamu masuk dan menghancurkan hidup Fatih, Aisyah?! ".
" Bunda, Aisyah tidak pernah ada niatan untuk menghancurkan hidup anak Bunda ".
" Terus, untuk apa kamu melakukan semua ini Aisyah?!. Semenjak kepulangan Fatih dari rumah ini, dia jadi sering melamun dan kadang memanggil namamu?!. Kamu masih belum puas sudah membuat Fatih gila dulu?!".
"Astaghfirullah Bunda. Aisyah tidak mengerti dengan semua yang Bunda tuduhkan pada Aisyah Bun".
" Aisyah, kami sadar kok. Kita pernah menyakiti kamu. Tapi kan kami sudah minta maaf. Kenapa kamu masih saja menyimpan dendam bahkan sampai ingin menghancurkan Fatih lagi!!. Kamu enak bisa hidup bahagia dan memiliki seorang anak!!. Tapi putraku Fatih?!, gara-gara kamu bertahun-tahun lamanya dia memilih untuk menduda!! ".
" Mas Fatih Menduda Bunda?! ".
" Iya!!. Dan semua gara-gara perempuan seperti kamu?! ".
" La-lalu?. Ilham? ".
" Ilham itu anak angkat Fatih!. Fatih mengambil anak dari panti untuk mengisi hari-hari nya yang kosong!!. Semua ini sudah kamu rencanakan ternyata?!. Kamu bahkan menyekolahkan anakmu di sekolah yang sama dengan anak angkat Fatih kan?!. Kamu sengaja?!. Agar kamu bisa bebas bertemu dengan putraku!. Sadar Aisyah!!, kamu harus sadar. Kamu itu sudah punya suami!. Jangan suka menggoda laki-laki lain, sekalipun itu mantan suami mu!! ".
" Bunda?!, Aisyah tidak seburuk itu!. Aisyah tidak pernah tahu, semua ini akan terjadi. Bahkan Aisyah tidak mengerti kenapa Mas Fatih tiba-tiba datang ke rumah".
"Sudahlah!. Jangan terlalu banyak bersandiwara. Bunda tidak menyangka yah, kamu akan mendendam sebegitu mengerikan nya pada keluargaku! ".
" Bunda, Bunda tidak tahu dengan semua yang terjadi. Itu tidak seperti yang Bunda Layla pikirkan Bun. Bunda boleh tanya dengan anak Bunda. Mas Fatih akan menceritakan yang sebenarnya terjadi?! ".
" Halllaahhh!!. Emang suami mu ngga marah?!. Lihat istrinya menggoda laki-laki lain, terlebih itu adalah mantan suami istrinya sendiri?!. Kasian suamimu Aisyah?!. Dia sudah mau menerima perempuan yang sudah berstatus Janda seperti kamu!! ".
" Bunda cukup!. Jangan bawa-bawa Mas Fahmi dalam masalah ini. Baik Mas Fahmi dan Aisyah, tidak ada yang tahu tentang semua ini. Takdir yang sudah menggariskan semuanya terjadi. Bukan Aisyah".
"Bunda ingatkan yah!!. Jangan pernah mengganggu Fatih lagi!. Bunda tidak akan membiarkan kamu menghancurkan putraku satu-satunya untuk yang kedua kalinya!!. Tidak akan pernah Aisyah!. Dan ingat, mulai detik ini, Ilham tidak boleh lagi berteman dengan anak mu lagi!! ".
" Hikkks... hikkks... Bunda, tolong jangan menuduh tanpa dasar seperti ini. Aisyah tidak seperti itu Bunda ".
"Simpan air mata palsu kamu Aisyah. Bunda tidak akan tinggal diam. Kalau sampai Fatih masih saja bersedih dan melamun gara-gara kamu!! ".
Rasanya emosiku semakin tidak terkontrol. Aku pergi meninggalkan rumah mantan menantuku itu. Untung saja, Alex datang di waktu yang tepat. Aku sudah tidak sudi lama-lama di rumah perempuan yang sudah membuat gila putraku.
" Nenek, kok nenek naik mobil?. Kan kita mau main kerumah Marwah? ".
" Ilham, dengarkan nenek!. Mulai detik ini, Ilham tidak boleh berteman lagi dengan Wawa!".
"Memang nya kenapa Nek?. Hikks.. hikks".
" Ilham nurut saja sama Nenek. Kalau memang Ilham sayang sama Nenek dan Ayah Fatih".
"Hikks.. hikks... ".
Ilham cucuku menangis terisak. Ini pertama kalinya aku bicara dengan nada yang sedikit tinggi pada Ilham.
__ADS_1
" Jangan menangis nak!. Cucu nenek tidak boleh menangis hanya karena teman Ilham itu. Ilham akan punya banyak teman yang lebih baik lagi! ".
Emosiku memuncak hebat. Rasanya tidak menyangka, kalau mantan menantuku ternyata satu kota denganku juga putraku Fatih. Kenapa selalu saja ada duri di tengah-tengah kebahagiaan keluargaku.