Madu

Madu
Madu Ep.25 (SEASON 2)


__ADS_3

Kemana aku harus mencari?. Mencari sebuah bantuan yang bisa menolong nyawa bidadariku?. Hari ini Aisyahku masih terbaring dan diberikan perawatan yang aku sendiri sangat takut melihatnya. Banyak alat-alat medis yang sangat asing menempel di tubuh Aisyah. Menangis?, sudah bukan waktunya lagi. Rasanya semua tangisku sudah aku habiskan kemarin-kemarin. Bahkan hingga mata terasa sangat sakit untuk dibuka. Aku harus bisa secepatnya mendapatkan pendonor ginjal untuk Aisyah. Kalian tau bagaimana hancurnya duniaku begitu mengetahui bahwa orang yang sangat kalian cintai tiba-tiba dipastikan terkena penyakit yang sangat mematikan?. Penyakit yang bisa kapan saja mengambil orang yang kita cintai dari kehidupan kita?. Memisahkan cinta yang telah lama terbangun. Aku bahkan sempat drop dan jatuh bangun agar bisa terus semangat dan bangkit. Rasanya kakiku terasa pincang sebelah. Sangat berat jika harus berlari dalam kondisi seperti ini. Sudah tiga hari ini, Aisyah masih dirawat di rumah sakit. Istriku terkena kanker ginjal yang sangat ganas. Hanya ada satu-satunya cara selain kemoterapi yaitu harus dilakukan transplantasi organ ginjal. Aku harus mencari dimana?, sedangkan mencari pendonor tidaklah mudah, semua harus sesuai dengan keadaan dan kondisi Aisyah. Ibuku bahkan sempat jatuh pingsan, ketika aku pulang dan memberikan kabar duka ini. Begitu juga keluarga ibu mertuaku. Mereka semua sangat terpukul. Tangis mereka benar-benar membuat aku semakin hancur. Tapi setidaknya, mereka tidak meninggalkanku sendirian. Aku bersyukur, aku memiliki keluarga yang saling bahu membahu dalam keadaan sulit dan sempit seperti ini.


"Keluarga ibu Aisyah,". Salah seorang perawat memanggilku dan mengajakku untuk masuk keruang dokter yang menangani Aisyah.


"Iya saya suster,".


"Silahkan pak, masuk kedalam ruang dokter. Dokter Priyo ingin berbicara dengan ana mengenai kondisi kesehatan nyonya Aisyah,".


"Baik, terimakasih Suster,".


"Sama-sama pak,".


Aku mengetuk pintu depan yang tertuliskan nama si dokter beserta foto nya dalam ukuran 3x4.


"Tokkk.... tok... tok..., Permisi dokter,". Aku mengetuk pintu dan kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.


"Silahkan pak,".


"Makasih dokter. Bagaimana ya dok?,".


"Begini pak Fahmi. Kondisi istri bapak untuk saat ini belum ada perubahan yang sangat signifikan. Karena ini harus segera dilakukan transplantasi organ ginjal, agar nyawa istri bapak bisa segera tertolong. Apa bapak sudah mendapatkan pendonor nya?,".


"Be-belum dok,". Jawabku sembari menahan sesak di dada, dan menjaga agar air mataku tak menetes.


"Masih belum dapat yah, sebelum nya kami juga minta maaf, karena dari pihak rumah sakit sudah berusaha untuk mencarikan pendonor yang cocok untuk istri bapak. Tapi memang sedikit sulit, kami juga bel bisa menemukan donor ginjal untuk istri bapak,".


"Sa-saya harus bagaimana dok?,". Suaraku sangat tercekat. Aku benar-benar sudah buntu. Aku bingung, harus kemana lagi aku mendapatkan donor ginjal untuk Aisyah. Aku bahkan sudah menghubungi beberapa kenalan yang memungkinkan untuk bisa mendapatkan pendonor untuk Aisyah.


"Begini pak, melihat kondisi nyonya Aisyah, nyonya Aisyah bisa bertahan dengan bantuan alat-alat tidak lebih dari sebulan. Dan saya berharap, ada keajaiban yang datang dan kemudian istri anda bisa mendapatkan donor ginjal yang pas untuknya. Kami akan tetap melakukan perawatan semampu kami bisa untuk tetap menjaga kondisi ibu Aisyah tetap dalam kondisi stabil, sambil menunggu ada pendonor yang cocok. Transplantasi ini haru segera dilakukan pak, agar sel kanker tidak terus menerus menyebar ke sel-sel tubuh nyonya Aisyah yang sehat,".


Badanku sangat lemas, pikiranku kacau, hatiku hancur. Aku tidak merespon apapun dan hanya mendengarkan penjelasan dari seseorang yang disebut dokter didepanku. Sebenarnya aku ingin marah, tapi rasanya tidak mungkin. Menyakitkan sekali dengan kata-kata bisa bertahan tidak lebih dari satu bulan. Apa maksudnya, kenapa orang-orang seperti mereka mudah sekali mengatakan kata-kata itu. Tidak tahu kah mereka bahwa itu benar-benar mematikan bagi sebagian orang. Dalam waktu sebulan, aku harus lari kemana?, aku harus dengan cara apalagi mendapatkan donor ginjal untuk istriku?. Siapa orang nya yang bisa jadi pendonor bagi Aisyahku?.


"Dokter, tidak ada kah cara lain yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan istri saya dok?,". Aku masih berharap


"Hanya transplantasi organ saja harapan satu-satunya pak. Mungkin ini memang berat, tapi fakta yang ada memang seperti itu pak Fahmi. Kami dan tim medis lainnya sudah berusaha semampu dan semaksimal kami bisa sesuai dengan keilmuan kita dan prosedur yang ada. Dan jalan satu-satunya memang harus dilakukan transplantasi organ ginjal pada tubuh nyonya Aisyah,".


"Apa yang terjadi jika dalam waktu sebulan belum juga ada donor yang pas untuk istri saya dok?,".

__ADS_1


"Kami tidak bisa melakukan banyak pak. Selain pasrah dengan keadaan yang ada. Kemungkinan terburuknya adalah hilangnya nyawa dari nyonya Aisyah pak Fahmi. Karena sel kanker sangat cepat sekali penyebaran nya. Selama satu bulan itu kami usahakan untuk terus menekan penyebaran sel kanker yang ada di tubuh nyonya Aisyah, lebih spesifik nya di organ ginjal nya,".


"Ba-baik dokter. Terimakasih atas informasinya,".


"Sama-sama pak. Semoga segera mendapatkan pendonor yang cocok untuk istri bapak,".


"Aamiin,".


Aku pamit dan kemudian keluar dari ruangan itu. Ruangan yang benar-benar sangat menghimpit dadaku. Aku menyeka bulir air mataku yang sudah tidak mampu lagi terbendung. Kenapa sel kanker itu harus tumbuh di badan Aisyah?, kenapa?. Sekarang aku harus bagaimana?. Benar-benar menyesakkan. Aku bahkan belum bertemu dengan putriku Marwah. Pasti dia mencari-cari dimana umi dan Abinya?. Dia pasti bertanya pada Oma nya, kenapa aku dan Aisyah tidak juga pulang-pulang kerumah. Dia pasti sangat kesepian dan sangat merindukanku dan Aisyah. Aku harus menjelaskan apa ke Marwah?. Dia anak yang cerdas dan tidak mudah di bohongi. Marwah pasti akan bertanya dimana uminya, kenapa tidak pulang-pulang semenjak berteriak-teriak kesakitan dan menangis hingga meraung-raung. Wawa pasti sangat rindu, karena sekarang yang menyiapkan baju sekolahnya bukan lagi uminya, Wawa putriku pasti sangat kesepian dan sedih karena yang mengantarkan sekolah bukan aku, tapi sopir taksi langganan yang sengaja aku bayar untuk mengantar dan menjemput Wawa sekolah selama aku masih menjaga Aisyah dirumah sakit. Entahlah, apa yang ada didalam pikiran putriku.


"Marwah, maafkan Abi. Abi belum bisa pulang kerumah semenjak Umi berteriak kesakitan. Abi dan Umi rindu. Doakan Umi ya nak, agar umi kuat, agar Umi segera mendapatkan donor yang cocok untuk umi. Semoga umi cepat sehat, dan Abi bisa segera bawa pulang umi untuk bertemu ndengan Wawa ya sayang,". Ucapku lirih begitu terduduk setelah keluar dari rumah sakit. Aku menyeka air mataku. Rasanya benar-benar menyesakkan sekali. Ujian ini benar-benar sangat luar biasa. Benar-benar mematikan.


Aku beranjak berdiri dan kemudian menuju masjid untuk mengambil air wudhu. Hanya itu yang sekarang bisa membuat rasa sakit dan sesak ku sedikit terobati. Membasuh segala duka lara, tangis, dan kecewa. Aku tidak bisa membayangkan sedikitpun, jika Aisyah ku tidak bisa tertolong. Hal itu benar-benar sangat mengerikan. Bagaimana nasibku jika ditinggalkan oleh Aisyah, terlebih lagi bagaimana nasib putriku Marwah. Aku duduk di teras masjid setelah mengambil air wudhu. Sekarang belum saatnya shalat dzuhur. Aku terduduk dengan perasaan yang masih sangat carut marut tidak karuan, berantakan dan benar-benar mengerikan. Hingga aku mendengar salah seorang yang sedang membaca beberapa ayat Al-Qur'an beserta artinya. Salah satu ayat yang baru saja aku dengar yaitu Al-Qur'an surat Ali-Imran "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186].


Bacaan Al-Qur'an nya sangat lah merdu. Tapi aku enggan untuk melihat orangnya. Aku duduk menikmati lantunan ayat-ayat yang dibacakan oleh orang itu, sembari menenangkan hatiku sendiri. Aku masih berfikir bagaimana caranya agar mendapatkan donor yang pas dan tepat untuk Aisyah. Aku terus berdoa agar Allah memberikan jalan keluar padaku. Agar aku segera mendapatkan berita baik, setidaknya berita bahwa ada pendonor yang cocok untuk Aisyah. Semilir pohon yang sengaja di tanam dekat masjid, benar-benar menangkan hatiku yang sebenarnya tidak akan pernah tenang hingga aku berhasil mendapatkan pendonor untuk Aisyah.


"Allahuakbar..... Allahuakbaaaarr....,". Suara adzan dzuhur terdengar. Alhamdulillah, ternyata sudah waktunya sholat. Lantunan adzannya juga sangat merdu. Sepertinya ini suara orang yang sama yang tadi membacakan ayat-ayat Allah. Aku berdiri dan mencari-cari siapa orang nya. Namun faktanya hari ini masjid sangat penuh. Hingga aku tidak mendapatkan bagian atau shaf depan, aku juga tidak bisa melihat muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) barusan. Aku berbaris di bagian paling belakang dan kemudian melaksanakan shalat dzuhur secara berjamaah.


Setelah jamaah shalat dzuhur aku kembali duduk di teras bagian utara masjid. Aku duduk dan berfikir keras, bagaimana caranya agar segera mendapatkan donor ginjal untuk Aisyah. Tidak lama setelah aku duduk, handphoneku bergetar. Ada panggilan masuk dari ibu rupanya.


"Hallo, assalamualaikum Bu,".


"Aisyah harus segera mendapatkan transplantasi organ ginjal Bu. Karena sel kanker akan cepat sekali menyebar. Dokter bilang, Aisyah hanya bisa bertahan satu bulan menurut hasil pemeriksaan medis. Itu juga dengan bantuan beberapa alat-alat medis dan obat-obatan Bu. Sembari menunggu mendapatkan donor yang cocok,".


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, menantuku. Kenapa orang sebaik kamu begitu berat ujiannya nak. Hiks.... hiks...,". Aku mendengar ibuku terisak dari seberang telepon. Ibu sangat mencintai Aisyah, seperti putri kandungnya sendiri.


"Ibu?, dimana Marwah?,".


"Ada dikamar Uminya,".


"Bu, bisakah berikan telepon nya pada Wawa?. Fahmi rindu ingin dengar suara Marwah,".


"Sebentar nak, ibu ke kamar kamu dulu,".


"Iyah Ibu,".


Tidak menunggu lama, suara Marwah kecil terdengar. Mataku berkaca-kaca, begitu mendengar suara Marwah.

__ADS_1


"Hallo assalamualaikum Abi?, Abi dan Umi dimana?. Kok ngga pulang-pulang?,".


Sudah kuduga, putriku akan menannyakan keberadaan Umi dan Abinya.


"Abi dan Umi masih belum bisa pulang sayang. Marwah ngga apa-apa yang dirumah sama Oma. Nanti Nenek dan Kakek akan datang kerumah dari Solo nemenin Marwah,".


"Abi, Marwah kangen Umi. Umi kapan pulang Bi?,".


"Umi belum bisa pulang sayang. Nanti yah kalau Umi sudah bisa pulang kita jalan-jalan sekeluarga. Doakan Umi dan Abi ya sayang, biar cepat pulang kerumah,".


"Memangnya Umi kemana Bi?, Umi ngga kangen yah sama Wawa?. Padahal Wawa kangen sama Umi. Abi bawa Umi pulang Bi, Wawa kangen,".


Hancur sudah hatiku sebagai seorang Ayah. Rasanya seperti di tusuk-tusuk dengan benda tajam. Marwah tidak tahu, bahwa Uminya sedang berjuang dan berusaha agar cepat pulang kerumah. Mana mungkin Aisyah tidak rindu pada Marwah. Kuyakin dia sangat rindu pada putrinya.


"Abi, Abi kenapa diam saja. Abi sampaikan ke Umi yah. Marwah pengen punya Adek. Temen-temen Marwah banyak yang punya Adek bayi. Marwah pengen punya Bi,".


Kerongkongan ku terasa sakit, seperti ada yang mencekik. Lidahku kelu, aku tidak menyangka Marwah akan berkata demikian. Bagaimana dia bisa memilik adik bayi, jika sekarang saja uminya sedang berjuang untuk melawan kanker ganas yang berusaha merebutnya dari Wawa dan aku?. Aisyah sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan putrinya sedang ingin memiliki seoranga adik. Apa yang harus aku lakukan sebagai seorang ayah?. Air mataku sudah tidak tertahankan lagi, kenapa semuanya begitu sulit dan sangat menyakitkan?.


"I-iya sayang. Nanti Abi sampaikan ke Umi yah. Wawa pasti akan punya adik bayi seperti temen-temen Wawa yang lainnya. Wawa yang penting doakan umi dan Abi yah sayang. Wawa harus jadi anak yang kuat, Wawa harus.... hikkks... hiks... hikkk,". Aku tidak sanggup lagi melanjutkan kata-kata ku.


"Abi kok nangis?, Abi kenapa?,".


"A-abi tidak apa-apa nak. Abi hanya kangen dengan Marwah, jadi Abi sedikit keluar air mata,".


"Abi?, apa Wawa tidak bisa berbicara dengan Umi?,".


"Sekarang belum bisa nak, Umi nya Wawa sedang sibuk. Nanti saja yah, nanti kalau umi sudah nggak sibuk. Wawa bicara sepuasnya sama Umi. Yah sayang yah. Wawa jangan nakal, sekolahnya yang semangat yah sayang,".


"Oh iya Abi, di kelas Wawa ada teman baru. Namanya Ilham, dia sangat baik sama Wawa. Dia selalu bantuin Wawa,".


"Waaahh... senengnya yang udah punya temen baru. Baik-baik ya nak sama temen-temen nya. Yang nurut sama Oma. Jangan lupa makan sholat nya. Yasudah, Abi matikan dulu telepon nya yah nak,".


"Iya Abi, siap. Oke Abi. Bye bye Abi sayang. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,".


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh putriku,".


"Tuuutt.... tuuutt...,". Sambungan telepon terputus. Aku mengusap wajahku, dan kemudian beranjak meninggalkan teras masjid. Aku harus stand by di depan ruangan, barangkali ada yang di butuhkan, atau ada informasi mengenai kondisi istriku,".

__ADS_1


Semakin siang, rumah sakit semakin penuh. Untung saja, sirkulasi udara disekitar rumah sakit sangat baik. Banyak pohon-pohon besar yang sengaja di tanam, agar tidak panas dan udara jadi sedikit segar.


__ADS_2