Madu

Madu
Madu Ep.1 (SEASON 2)


__ADS_3

Empat November 2015 adalah waktu dimana pernikahanku dengan istriku Aisyah genap satu minggu. Aku yang kini jadi suami sah Aisyah merasakan bagaimana rasanya kesabaran harus diatas segala-galanya. Aku yang bingung dengan semuanya, dari yang mantan ibu mertua istriku dan Aisyah yang jatuh pingsan pada saat setelah akad pernikahanku, juga rapat tertutup antara keluarga Aisyah dengan mantan suaminya. Detik ini, Aisyah belum menceritakan apapun mengenai peristiwa itu, yang aku lihat istriku itu berusaha untuk tegar menghadapi hari-harinya setelah kejadian itu. Aku mengerti banyak sekali beban di hati dan pikirannya. Aisyah selalu menutupi air matanya di depanku. Di depanku, dia selalu menunjukkan wajah yang sumringah layaknya para pengantin baru pada umumnya, tanpa beban tanpa masalah. Tapi aku bukanlah laki-laki bodoh yang bisa dibohongi. Tanpa sengaja, aku sering memergoki Aisyah duduk termenung, bahkan tak jarang menitik kan air matanya. Sakit hati sudah tentu, bagaimana tidak?. Aku ingin perempuan yang menjadi pendamping hidupku bahagia tanpa luka, itu yang selalu aku tanamkan dan aku usahakan dalam hidupku.


"Aisyah,".


Hari ini, aku ingin mengajak Aisyah untuk pergi. Aku ada sebuah kejutan kecil untuknya, setidaknya aku benar-benar ingin mendapatkan senyum terindah yang keluar dari sudut bibirnya. Tentunya bukan senyum yang sengaja dibuat-buat seperti yang selama ini Asiyah tunjukkan padaku, melainkan senyum yang tulus dari hatinya.


"Iya mas Fahmi?, apa ada yang mas Fahmi butuhkan dari Aisyah?,".


"Oh tidak dik, apa kamu sedang sibuk sekarang?,".


"Tidak mas, ada apa mas Fahmi?,".


"Jika dik Aisyah tidak keberatan, mas ingin mengajak kamu jalan-jalan sebentar,".


"Ja-jalan?, kemana mas memang nya?,".


"Kamu kenapa dik?, kok kaget begitu?. Apa kamu sudah ada acara atau kegiatan?, jika memang ada, perginya gampang lain waktu saja tidak mengapa dik,".


Aku melihat ekspresi Aisyah yang sedikit kaget ketika aku mengajaknya untuk pergi jalan-jalan. Memang ini adalah kali pertama aku dan Aisyah pergi berdua. Setelah acara resepsi pernikahan aku dengannya, kami berdua sangat sibuk mengemasi segala macam perabotan, dan barang-barang yang sebegitu banyaknya.


"Oh, ti-tidak mas. Aisyah tidak ada acara atau kegiatan apapun hari ini,".


"Benarkah dik?,".


"Benar mas Fat..., emmh benar mas Fahmi,".


Aku mendengar Aisyah hampir memanggilku dengan nama mantan suaminya. Aku cemburu jelas, sakit hati pasti. Tapi aku selalu berusaha untuk berfikir positif, mungkin saja itu karena antara Fatih dan Fahmi memang mirip sekali namanya.


"Fat?, Fat?,".


"Ma-maaf mas Fahmi, A-Aisyah..,".


"Maksudnya mas gendut gitu?, kok di panggil Fat, Fat artinya kan gendut?,".


Aku melihat wajah Aisyah yang tadi sangat ketakutan dan tegang, berubah menjadi tenang, bahkan Aisyah membuang nafas nya perlahan dari hidungnya. Mungkin dia mengira bahwa aku akan memarahinya karena dia hampir memanggilku dengan nama mantan suaminya.


"Ti-tidak mas, mas Fahmi tidak gendut, Aisyah yang gendut mas,".


Ah, bagaimana tidak aku tidak mencintaimu Aisyah. Sikapmu yang seperti ini yang membuatku nyaman dan jatuh cinta. Selalu ada hal kecil selama satu Minggu ini yang bisa membuatku bersyukur memilikimu, meskipun belum seutuhnya. Ya, benar sekali, aku belum memilikimu seutuhnya Aisyah, meskipun saat ini, statusku adalah suamimu, dan kamu adalah istriku. Entahlah, aku merasa masih ada sesuatu yang menjadi sekat di antara aku denganmu. Aku tidak ingin menebak-nebak atau mengira-ngira hal yang belum tentu benar.


"Ka-kamu gendut dik?, hahahaha... Kamu gendut kalo dilihat pake kaca pembesar. Hahaha...,". Aku tertawa puas, dan sangat lepas.


Mana mungkin Aisyah bisa dikatakan gendut?, berat badannya aja paling-paling hanya sekitar 55kg, atau maksimal 60kg. Itupun aku tidak yakin bisa sampai 60kg. Tubuh Aisyah sangat mungil, bahkan jika dipakaikan seragam anak SMA pun seperti nya masih pantas dan tidak terlihat sudah menikah dan menjadi istri.


"Dik.... yah kok pergi si?. Kamu marah ya sama mas?, jangan marah dong dik. Maafin mas ya kalau barusan tertawanya terlalu lepas,".


Aku melihat tubuh Aisyah meninggalkanku begitu saja. Apa aku sudah keterlaluan karena menertawakan nya barusan?. Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya Aisyah itu sangat menggemaskan. Dan aku sendiri juga tidak sadar jika ternyata tertawa sampe sebegitu renyah nya. Aku membuntuti Aisyah menuju ke kamar, tapi ternyata pintu kamar dikunci dari dalam.


"Yah, dia beneran ngambek, alamat gagal jalan-jalan dan tidur diluar dong aku. Bodohnya aku tertawa selepas itu, kamu ceroboh Fahmi,".

__ADS_1


Aku merutuki diriku sendiri, dan berbalik arah menuju teras belakang. Untung saja saat ini Umi dan Abi Aisyah sedang tidak dirumah. Jadi aku tidak ketahuan kalau barusan sudah membuat putrinya ngambek. Aku dan Aisyah masih tinggal satu rumah dengan keluarga Aisyah. Aisyah belum ingin aku ajak untuk tinggal di Jogja. Padahal aku sudah menyiapkan satu rumah untuknya di Jogja. Aku tidak tahu, kenapa Aisyah masih enggan pergi dari rumahnya. Padahal jarak antara Jogja dan Solo sangatlah dekat. Aku bahkan bersedia bolak-balik Jogja-Solo jika Aisyah mau. Tapi yasudahlah, aku mengalah saja dulu. Aisyah bilang, setidaknya satu atau dua Minggu dia ingin berada dekat dengan orang tuanya.


Sebagai anak sulung di keluarga, aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan. Meskipun keluargaku bukanlah tergolong keluarga yang kaya seperti mantan suami Aisyah, setidaknya keluargaku tidak pernah kekurangan dalam hal apapun. Kuncinya adalah bersabar dan bersyukur. Itu nasihat dari Ayah dan Bundaku, dua kata yang selalu berusaha aku terapkan dalam hari-hariku, dua kata yang selalu aku jadikan senjata untuk menghadapi lika-liku kehidupan dunia. Bersyukur dengan apapun yang aku punya, dan bersabar dengan segala ujian dan hal yang tidak mengenakan yang datang dalam kehidupanku.


"Ayok mas..,".


Lamunanku buyar begitu saja, ketika aku mendengar suara lembut dari arah belakang badanku. Suara Aisyah, aku tidak menengok beberapa detik, aku takut itu hanya halusinasiku saja. Karena tadi Aisyah benar-benar sedang ngambek dan marah padaku.


"Mas Fahmi, ayokk. Jadi pergi engga?, kalo engga Aisyah balik ke kamar lagi nih,".


Aku tidak sedang berhalusinasi. Itu benar suara dik Aisyah istriku. Aku sontak langsung berdiri dan menghadap ke arah suara. Aku termenung, Aisyah sangat cantik. Dia mengenakan setelah gamis dan jilbab dengan warna hijau tosca, pun dengan cadarnya dengan warna yang senada. Sorot matanya benar-benar sangat indah. Aku selalu tertegun dan terjebak dalam situasi seperti ini. Meskipun terkadang aku merasa kaku dan malu jika didepan Aisyah.


"Mas ?, iiih... mas Fahmi gimana?. Kok malah melongo diem aja si?,".


"Oh, eh... i-iya dik. Maafkan mas yah. Ma-mau pake mo-motor atau mobil dik?,".


Ini bukan sekali atau dua kali aku terlihat seperti orang yang habis kepergok mencuri. Kata terbata, keringat bercucuran, dan badan yang dingin seperti orang yang tertuduh. Akhir-akhir ini aku sering mengalami gejala ini, setiap kali memandang Aisyah. Aisyah masih sering lupa tidak membuka cadarnya didepanku, dan lagi-lagi aku yang harus selalu mengingatkannya bahwa aku adalah suaminya yang berhak memandang wajahnya, barulah setelah kuingat kan, Aisyah akan membuka cadarnya didepanku.


"Aisyah, ngikut mas saja,".


"Pake motor saja deh ya, lagi pula kita belum pernah pergi berdua pakai motor,".


"Memangnya pakai mobil kita pernah?, kan belum pernah juga mas?,".


"Hah?, oh hehehe... iya ya, benar juga ya dik, yasudah mas ambil motor nya dulu ya. Kirain nggak jadi, habisnya tadi kamu kaya nya ngambek,".


"Engga kok, Aisyah tunggu ya mas,".


Aku beranjak pergi meninggalkan Aisyah. Bergegas menuju garasi dan mengambil motor. Rasanya sangat membahagiakan sekali, akan jalan berdua setelah satu Minggu menikah. Aku masih malu dan kaku didepan Umi dan Abi mertuaku. Seandainya Aisyah mau aku ajak pindah dan tinggal dirumah sendiri di Jogja. Pastilah aku bisa bebas PDKT dengan Aisyah tanpa harus kaku dan malu-malu.


"Ayok sayang, mas gojek sudah siap. Hehe,".


"Apaan si mas,".


Aisyah naik ke jok motor belakang, aku kira dia akan tertawa. Apa gurauanku kurang lucu?. Aisyah hanya menjawab apaan si mas?. Baiklah, aku gagal lagi untuk bisa berhasil membuat istriku tertawa. Aku membawa motorku pelan-pelan.


"Dik, pegangan dong,".


"Aisyah sudah pegangan mas,".


"Hah?, mana dik?. Kok nggak ada tangan yang meluk mas?,".


"Iih, apaan si mas. Kan malu dijalan banyak orang,".


"Hehe... oh iya juga ya. Yaudahlah, terserah Aisyah deh mau Pegangan apa,".


Gagal lagi, niatku pengen romantis-romantisan. Tapi partnerku sepertinya masih malu-malu, atau malah emang tidak mau. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Dan sesekali memanggil Aisyah. Hanya untuk mengecek keberadaan nya saja. Takut kalau-kalau dia mengantuk atau gimana-gimana. Aku tidak pernah sekalipun menganggap Aisyah dengan pandangan seorang janda. Bagiku, Aisyah adalah perempuan terhormat. Aku tidak pernah memperdulikan status dan masa lalunya. Pun ketika pertama kali bertaaruf dengannya. Ketika Abinya memberitahukan padaku, tentang status putrinya yang seorang janda. Aku sama sekali tidak ragu, dan tidak mempermasalahkan status Aisyah itu. Bagiku, aku menikah dengan Aisyah, itu artinya saat akad itulah kehidupan baruku dengannya dimulai.


"Mas Fahmi?, mas mau ajak Aisyah kemana?,".

__ADS_1


Tiba-tiba istriku Aisyah membuyarkan lamunanku.


"Ada deh, nanti dik Aisyah juga tahu kita akan kemana. Mas harap si, kamu akan suka dik,".


"Aisyah ngga boleh tahu ya?,".


"Bukannya ngga boleh tau dik, namanya juga kejutan. Masa dikasih tau si?,".


"Begitu ya?, Yasudah deh,".


Cieeeee kepo, hehehe,".


"Iih, apaan si mas,".


Okelah, sudah tiga kali aku mendengar kata-kata "iiihh apaan si mas". Nampaknya aku harus terbiasa dengan kata-kata itu. Atau dengan kata lain, itu akan menjadi kata yang akan rutin di ucapkan oleh bidadariku ini.


"Oh ya dik, kamu sudah kasih kabar ke Umi dan Abi kan?, kalo kita sedang pergi sebentar?,".


"Astaghfirullah mas, Aisyah lupa kasih kabar ke Umi Abi. Gimana dong ini mas?,".


"Hah ?, yasudah kita berhenti dulu dik. Kamu telepon Umi atau Abi ya. Kasih kabar ke mereka, takutnya mereka nyariin kita,".


"Iya boleh mas,".


Aku menepikan motorku. Dan membiarkan Aisyah untuk memberikan kabar kepada Umi dan Abi nya. Aku melihat mimik wajah bersalah dari Aisyah. Sepertinya dia merasa bersalah karena lupa tidak mengabari Umi dan Abi. Apalagi sampai aku yang mengingatkan nya.


"Jangan panik dik sayang,".


"I-iya mas, ini Umi sama Abi susah banget dihubungi nya mas. Nggak ada yang angkat-angkat telepon dari Aisyah,".


"Iya sabar ya dik. Nanti juga....,".


Belum selesai aku melanjutkan ucapanku tiba-tiba Aisyah berbicara lewat telepon.


"Ha-hallo Umi. Ini Aisyah, Umi maaf Aisyah lupa kasih kabar ke Umi dan Abi. Sekarang Aisyah sedang tidak dirumah mi, Aisyah lagi pergi dengan mas Fahmi. Oh iya, kunci rumah nya Umi bawa kan serepnya?, oh iya Syukurlah kalau Umi bawa. Yasudah mi, Aisyah lanjut perjalanan dulu ya mi. Assalamualaikum".


Aku mendengarkan percakapan Aisyah dari seberang telepon. Mimik wajahnya terlihat tenang kembali setelah memberikan kabar kepada Umi dan Abinya. Aku jadi ikut tenang.


"Sudah dik?,".


"Sudah mas, ayok lanjut lagi,".


Aku kembali melanjutkan perjalanan dengan wanita yang aku nikahi seminggu yang lalu. Wanita yang sedang menyembunyikan beban dihatinya yang sebesar gunung. Wanita sederhana, solihah dan anggun yang mampu buatku jatuh cinta berkali-kali tanpa lelah. Wanita yang mampu memunculkan kesabaranku lebih banyak dari sebelumnya. Aku tidak pernah tahu, bagaimana perasaan Aisyah yang sebenarnya padaku. Yang kutahu kini, dia telah menjadi penyempurna agamaku, dia telah menjadi partner dalam segala hal untukku. Dia wanita yang sangat ingin aku bahagiakan setelah bundaku. Perempuan ini, yang bisa membuatku bergetar, gagu, dan berkeringat dingin berkali-kali.


"Mas Fahmi?, apa masih lama mas?,".


Ah rasanya aku bahagia sekali, ketika Aisyah menyebut namaku dengan sangat tenang. Aku yakin, ini adalah karena aku telah jatuh cinta terlalu dalam, bahkan saat proses ta'aruf dan nadzor dengannya.


"Oh, nggak dik. Pertigaan itu, nanti tinggal belok kiri, jalan dikit sampai deh,".

__ADS_1


Aku menjelaskan tempat yang aku dan dirinya tuju, meskipun aku yakin Aisyah tidak akan mengerti meskipun sudah aku jelaskan detil tentang belokan-belokan yang akan membawaku dan dirinya ke tempat yang dituju. Tentulah Aisyah tidak mengerti, wanita yang kini menjadi istriku ini, hampir dibilang jarang atau bahkan tidak pernah pergi kesana kemari seperti wanita pada umumnya. Itupun yang membuatku bersyukur karena Allah pertemukan aku dengan dirinya, perempuan yang pandai menjaga kehormatannya di jaman yang sudah semakin carut marut tanpa aturan. Oh, bukan tanpa aturan. Tetapi aturan yang tidak lagi memiliki harga diri. Seperti banyak orang yang bilang, aturan dibuat untuk di langgar. Orang-orang macam apa ini?, yang ingin hidup tanpa kaidah-kaidah yang ada?. Pastilah mereka tidak ingin disamakan dengan makhluk lainnya yang tak memiliki akal sesempurna manusia. Padahal, sangat mudah bagi manusia untuk dapat bahagia. Cukup mengikuti aturan dan kaidah yang ada saja itu sudah membuat hidup bisa bahagia. Karena aturan dibuat tidak lain dan tidak bukan, untuk dapat menjadikan manusia hidup dengan semestinya.


__ADS_2