Madu

Madu
Madu Ep.3 (SEASON 2)


__ADS_3

Sungguh malang nasib putraku satu-satunya. Semua ini akulah yang salah. Aku salah memilih keputusan dan langkah. Aku kira, langkah yang aku ambil sudah tepat, dan akan membuat bahagia Fatih putraku satu-satunya. Nyatanya, sebaliknya lah yang terjadi. Tiga hari sepulang dari rumah Aisyah mantan menantuku, dari semua kejadian yang sangat pahit itu. Putraku Fatih sering melamun. Ibu mana yang kuat melihat anaknya hanya melamun?. Apalagi, Fatih adalah putraku satu-satunya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hatiku melihat kondisinya saat ini. Saat itu, aku benar-benar dalam keadaan yang bimbang. Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin anakku satu-satunya bisa memiliki keluarga yang utuh, bisa merasakan kasih sayang dan kehangatan dari Ibu dan Bapaknya. Sungguh, hanya itu. Aku telah gagal menjadi seorang Ibu. Entah sudah berapa banyak tetes air mataku yang jatuh menangisi keadaan Fatih.


Selasa, lima November 2015. Adalah hari kedelapan pernikahan mantan menantuku Aisyah dengan suaminya yang baru. Dan delapan hari pula, aku menangisi keadaan putraku Fatih. Kondisinya semakin memprihatinkan. Kondisi psikologis nya mulai terganggu. Sehari-harinya dia hanya melamun, memeluk baju-baju Aisyah, memandangi foto pernikahannya dengan Aisyah, menangis dan memanggil-manggil nama Aisyah. Berat badannya semakin turun. Dia susah untuk disuruh makan. Pernah saat itu, aku mencoba membawa putraku Fatih untuk menghirup udara segar. Aku mengajak dirinya untuk sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat disalah satu mall yang ada di Jakarta. Saat itu, aku dan putraku Fatih sedang duduk disalah satu tempat makan. Tak banyak yang dilakukan oleh Fatih putraku selain melamun, sambil bibirnya menyebut-nyebut nama mantan istrinya itu. Tibalah saat itu, ada seorang mbak-mbak yang tingginya memang mirip dengan Aisyah, dan diapun juga mengenakan cadar seperti Aisyah. Tiba-tiba putraku langsung berdiri dan menghampiri wanita itu dengan menyebut nama Aisyah. Aku panik, karena Fatih langsung memegang tangan perempuan itu sangat erat sambil menangis sangat kencang. Aku melihat ekspresi ketakutan dari sorot mata perempuan itu, hingga datanglah kakak laki-laki dari si perempuan bercadar itu, dan langsung menghantam dengan keras wajah Fatih. Fatih terjungkal kelantai, tapi dia masih saja memanggil-manggil nama Aisyah. Aku langsung berteriak dan memeluk anakku Fatih. Hatiku sangat hancur sebagai seorang ibu. Dengan tangisan, aku hanya bisa membawa putraku kembali kerumah. Semenjak itu pula, aku belum berani membawa Fatih untuk pergi jauh lagi.


"Nak?, makan yuk sayang. Bunda sudah siapkan sayur sop kesukaan kamu,".


Aku menghampiri putraku yang tengah asyik melamun didalam kamarnya, sambil memandangi foto Aisyah.


"Aisyah?, dik?. Kamu masak sop kesukaan mas sayang?,". Ucap putraku sembari melihat kearahku.


"Astaghfirullah, nak. Ini Bunda, bukan Aisyah. Aisyah tidak ada disini, tidak ada dirumah ini nak. Hiks.... hiks... hiks...,". Aku benar-benar terpukul dengan keadaan putraku.


"Bunda?, lalu kemana Aisyahku Bun?, Fatih sangat rindu padanya. Kapan Aisyah akan pulang kerumah ini Bunda?. Hiks... hiks.. hiks..,".


"Sabar ya sayang, Aisyah sedang sibuk. Nanti kalau Aisyah sudah tidak sibuk. Dia akan menemui kamu. Sekarang Fatih makan yah sama Bunda?,".


Aku mencoba membujuk putraku untuk makan. Badannya sangat kurus, dia susah sekali untuk diajak makan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Semua asisten rumah tangga benar-benar sudah tidak ada, mereka memilih untuk berhenti bekerja.


"Bunda?, apa kalau Fatih makan. Aisyahnya Fatih akan datang?,". Ucap putraku Fatih dengan sorot mata yang penuh harap.


"Iya, Aisyah akan datang. Kamu harus sabar, harus kuat, harus sehat. Jadi, Fatih harus makan ya nak. Kita hadapi segalanya bersama,".


"Oke siap Bun, ayok kita makan Bunda. Fatih ingin segera bertemu dengan bidadari Fatih,". Aku melihat putraku Fatih berjalan dengan semangat menuju ruang makan.


Aku hancur sebagai seorang ibu. Putraku satu-satunya mengalami pukulan psikis yang begitu berat. Semua ini gara-gara aku. Seandainya saat itu, aku tidak mengikuti perintah laki-laki jahat itu. Mungkin saat ini, aku masih bisa memiliki menantu secantik, dan sebaik Aisyah. Mungkin, putraku pun tidak akan mengalami stress seperti saat ini. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan untuk putraku?. Haruskah aku meminta tolong pada Aisyah agar sekali saja datang bertemu dengan Fatih?. Tapi, terlalu jahat rasanya jika aku menyuruh Aisyah untuk menemui Fatih. Saat ini, status Aisyah adalah istri sah dari seorang laki-laki. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan nak Aisyah untuk kedua kalinya. Nak Aisyah adalah perempuan luar biasa dan sangat cantik. Dia berhak bahagia dengan pasangannya dan kehidupannya yang baru. Tapi bagaimana dengan nasib putraku satu-satunya Fatih?. Aku tidak akan membiarkan dia dalam keadaan seperti ingin terus menerus.


"Maafkan Bunda, Fatih,". Ucapku sembari duduk di meja makan. Persis didepan Fatih berada.

__ADS_1


"Bunda untuk apa minta maaf?, ayok makan Bunda. Agar Bunda juga sehat, jadi bisa secepatnya bertemu dengan menantu Bunda yang sangat cantik itu,".


"I-iya putraku. Ini Bunda juga akan makan. Kamu yang kuat ya sayang. Fatih harus banyak inget sama Allah yah,". Ucapku sambil menyeka air mataku yang hampir jatuh menetes.


Putraku Fatih makan sangat lahap. Ada banyak harapan besar dari wajahnya untuk bisa bertemu dengan Aisyah. Nafsu makanku seketik hilang. Ingin rasanya menangis yang sangat kencang. Tapi aku seorang ibu, aku harus kuat didepan anakku. Akan seperti apa Fatih, jika Bunda nya ikut lemah dan drop?. Putraku sudah tidak memiliki siapa-siapa selain aku. Aku harus menghadapi segalanya meskipun hanya berdua dengan putraku.


"Fatih?, habis ini kita shalat bersama ya. Bunda ingin berjamaah bareng sama kamu,". Semoga saja Fatih mau, jujur saja. Ini kali pertama aku meminta Fatih untuk berjamaah bersama. Karena sudah bertahun-tahun aku dan Fatih memang sering LDR (Long Destance Relationship).


"Nak?, Fatih?,".


Aku kembali memanggil nama putraku. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum dan kemudian menangis. Setelahnya dia masih seperti orang yang tidak sadarkan diri, terus dan terus memanggil nama mantan istrinya, bahkan disela-sela dirinya sedang makan. Sedalam itukah cintamu yang sesungguhnya untuk Aisyah?, hingga mampu mempengaruhi kondisi psikismu nak?. Sepedih itukah kehilangan sosok Aisyah nak?.


"Bunda, Fatih ingin tidur. Fatih capek, nanti kalo istriku pulang. Bilang saja suruh langsung ke kamar ya Bun. Bye Bunda,". Ucap Fatih putraku, seraya beranjak dari meja makan dan pergi menuju kamarnya.


Aku hanya menangis, dan memandangi tubuh anakku yang semakin hari semakin kurus dari arah belakang. Aku menyeka air mataku. Mana mungkin Aisyah akan datang kerumah ini?. Aisyah sudah bukan lagi istrimu nak. Aisyah sudah menjadi milik orang lain. Bahkan kamu menyaksikan sendiri acara akad pernikahan mantan istrimu. Kenapa kamu masih berfikiran bahwa Aisyah masih saja menjadi istrimu nak?, tak bisakah kau berusaha untuk mengikhlaskan Aisyah untuk orang lain?.


Aku langsung terbangun dan lari dari tempat tidur. Aku benar-benar sangat takut kehilangan putraku satu-satunya. Putra yang sangat aku cintai. Aku membuka pintu kamar Fatih, aku melihat dia sedang terduduk disalah satu sudut kamar nya. Dia menghadap tembok sambil memukul-mukul kan tangannya. Aku kaget, bingung. Aku menarik dan menahan tangan putraku agar tidak lagi menyakiti diri sendiri. Dibeberapa sela jarinya sudah terlihat lecet-lecet.


"Bundaaaaaa!!!!, Fatih benci Siska Bun, karena wanita itu Fatih kehilangan Aisyah Bun. Hiks... Hiks... Hiks...,". Fatih meraung-raung padaku. Aku hanya bisa menangis. Aku benar-benar tidak tahu, harus bagaimana lagi?. Saat ini Aisyah sudah menjadi istri seorang pemuda lain. Aisyah telah menjadi menantu dari orang lain.


"Fatih, anakku. Kamu harus kuat ya sayang. Kamu harus bisa ikhlas melepaskan Aisyah. Aisyah sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru nak. Fatih putra Bunda juga harus bisa melanjutkan hidup, Fatih harus semangat dan bahagia ya nak,". Aku menyeka air mataku. Aku memeluk erat tubuh putraku yang semakin hari semakin tak berisi.


"Apa maksudnya Aisyah sudah punya kehidupan yang baru Bun?!!,". Sorot mata Fatih sangat tajam. Dia bahkan belum bisa menerima jika mantan istrinya kini sudah sah menjadi istri dari laki-laki lain. Begitu besar beban yang diterima oleh putraku. Mengapa kamu di uji dengan ujian yang sedemikian berat nya putraku?.


"Nak, Fatih ingat tidak?. Waktu kamu dan Bunda berangkat ke Solo?. Saat itu Aisyah yang dulu pernah jadi istri kamu, kemudian menikah lagi?,". Ucapku pada putraku yang masih menangis.


"Tidaaaaaakkk!!!!, Bunda jangan bohong!!. Aisyah itu milik Fatih Bun, Aisyah tidak mungkin mengkhianati Fatih!!,".

__ADS_1


"Nak, Aisyah memang milik kamu, tapi itu dulu sayang. Dulu kamu pernah sempat memiliki Aisyah. Aisyah kini sudah sah jadi istri dari suaminya yang baru nak. Hiks... hiks... hiks...,". Tangisku pecah. Hatiku sebagai seorang ibu benar-benar hancur. Kondisi anakku makin tidak karuan.


"Bunda, tidak Bun!. Aisyah itu milik Fatih Bun. Hiks.. hiks.. hikss. Bundaa...!?, tolong bawa Aisyah nya Fatih kembali Bun!,".


"Nak, Ikhlaskan Aisyah putraku. Ikhlaskan,".


"Bundaa?!, lihat ini Bun. Ini foto pernikahan Fatih putra bunda dengan Aisyah. Aisyah tidak mungkin menikah lagi Bun!. Aisyah masih jadi milik Fatih Bunda!. Bunda lupa ya?!,".


Fatih menunjukan foto pernikahannya dengan Aisyah dulu. Dia masih menyimpan segalanya tentang mantan istrinya. Cinta Fatih untuk Aisyah begitu sangat dalam. Aisyah memang perempuan luar biasa, Aisyah pantas mendapatkan cinta yang dalam dari putraku. Tapi saat ini, bukan keadaan begini yang aku inginkan. Aku seorang ibu, aku menginginkan putraku satu-satunya bisa terus melanjutkan hidup. Meskipun kehilangan cintanya, meksipun kehilangan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.


"Bunda kenapa diam saja?!. Bun, lihat baik-baik Bunda. Bunda lihat baik-baik ini kan Fatih Bun, ini Aisyah menantu Bunda,". Ucap Fatih sambil memaksaku untuk memperhatikan foto pernikahan itu.


"Fatih!!, sadarlah nak!. Aisyah sudah menjadi bagian dari masa lalu kamu!. Tolong jangan seperti ini nak!. Kamu putra Bunda satu-satunya. Bunda masih membutuhkan kamu, Bunda sudah tidak punya siapa-siapa selain kamu!, tolong yang kuat nak. Terimalah segala takdir yang ada. Terima dengan ikhlas segala yang sudah terjadi dimasa lalu. Bangun dan bangkitlah nak!. Hiks... hiks... hiks...,". Aku benar-benar tidak tahan. Tidak kuat melihat kondisi psikologis putraku yang semakin hari semakin tidak terkontrol. Perasaanku seperti di iris-iris dengan pisau yang tajam.


Aku melihat Fatih tidak bereaksi apapun. Dia hanya tersenyum dan kembali melihat foto pernikahan nya dengan Aisyah dulu. Dia sama sekali tidak mau menerima apa yang barusan Bundanya ucapkan. Dia masih terus menyangkal, bahwa mantan istrinya masih menjadi miliknya.


"Ya Allah, kenapa Engkau berikan ujian yang begitu berat untuk putraku satu-satunya. Kembalikan lah kesehatan jasmani dan psikisnya nya seperti dulu ya Rabb,". Doaku dalam hati.


"Putraku, sudah yah. Fotonya ditaruh dulu. Sekarang Fatih istirahat ya nak. Biar tetap sehat yah. Kemarikan fotonya pada bunda nak,". Ucapku pada Fatih yang masih asyik memandangi foto pernikahannya dulu. Fatih bahkan jarang sekali tidur. Dia hanya tertidur jika benar-benar fisiknya sudah tidak kuat lagi. Dia tidur dimana pun tempatnya. Pernah saat itu, aku mencarinya. Setelah lima belas menit, barulah aku bisa menemui anakku tertidur pulas diteras belakang, tepatnya disamping kursi gantung sambil memeluk baju gamis milik Aisyah. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat keadaan seperti itu?, apalagi dia adalah putra satu-satunya dalam hidupnya?. Naasnya lagi hanya putranya lah yang sekarang ia miliki?.


"Bunda, Fatih nitip fotonya ya Bun. Fatih mau tidur,". Ucap putraku Fatih, sembari menyerahkan foto yang berada dalam pelukannya padaku.


"Iya nak, tidurlah. Biar badannya tetap sehat ya nak. Fotonya bunda simpan dulu yah,". Ucapku pada Fatih, sembari membantu menyelimuti badannya.


Aku beranjak dari kamar putraku. Dan membawa keluar foto pernikahan Fatih dengan Aisyah dari kamar Fatih. Sebaiknya foto ini, aku simpan saja dulu di salah satu tempat. Semoga bisa membantu Fatih putraku, sedikit demi sedikit untuk bisa move on dari masa lalunya. Aku menyeka air mataku, dan kembali kedalam kamar.


Besok, aku sudah memutuskan untuk membawa putraku berobat ke salah satu teman sejawat dokter spesialis yang menangani tentang kejiwaan dan psikis. Aku sudah tidak tahan jika membiarkan putraku dalam kondisi tertekan berat seperti itu. Setidaknya, Fatih bisa sedikit demi sedikit diberikan terapi pengobatan. Dan tentunya untuk daya tahan tubuhnya. Agar dia bisa tidur dan makan dengan teratur sehingga jasmaninya bisa sehat, dan psikisnya pun bisa kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


__ADS_2