Madu

Madu
Madu Ep.24 (SEASON 2)


__ADS_3

Tidak ada yang namanya hidup yang selalu mulus tanpa musibah dan ujian. Bahkan jalan tol yang terkenal lancar tanpa kemacetan pun, terkadang sering terjadi masalah didalamnya. Beginilah kehidupan di dunia. Manusia mana yang tidak ingin bahagia dalam hari-harinya?. Siapa orangnya yang ingin kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan sangat di cinta dalam hidupnya?. Ada orang yang berkata, bahwa roda kehidupan itu berputar, tidak selamanya orang yang kaya akan tetap kaya, suatu saat akan merasakan yang namanya miskin. Pun tidak semua orang yang bahagia akan selalu bahagia dalam hidup nya, pasti suatu ketika atau suatu saat akan merasakan yang namanya kesedihan, tangis, dan kekecewaan. Beginilah rasanya, roll coaster hidup. Bagaimana pun Tuhan menghendaki takdir di hidup kita, pahit manis kita sebagai manusia biasa hanya bisa menerima, meksipun kadang penuh dengan luka dan air mata.


Belum genap satu tahun Marwah kecilku sekolah di taman kanak-kanak. Ujian kehidupan datang kembali menimpa keluargaku yang bahagia dan sangat sempurna. Badai itu kali ini benar-benar sangat mengerikan bagiku, bahkan mampu membunuh hatiku. Ujian yang mampu membuat tulang belulangku terasa tak berfungsi lagi, dan tiba-tiba hidupku lumpuh seketika. Benar, bukan kakiku yang lumpuh, tapi kehidupanku yang lumpuh. Bagaimana tidak?, suami dan istri ibarat satu tubuh, jika salah satunya ada yang sedang dalam kondisi terburuknya, maka yang lainnya harus mampu menopangnya, seberat apapun beban yang harus di topang, kita tidak boleh lari, tidak boleh menyerah, apalagi meninggalkannya seorang diri.


Hari ini, bidadariku yang sudah rela meninggalkan kedua orang tuanya, hanya demi mengabdi padaku, tiba-tiba merasakan sakit yang sangat tiba-tiba. Aku tidak pernah melihatnya merasa kesakitan sampai separah itu. Bahkan ketika berjuang untuk melahirkan Marwah, istriku benar-benar sangat kuat. Tapi kali ini, dia hanya tergeletak dikasur dan kemudian berteriak sambil menangis memanggil-manggil namaku. Aku sangat panik, Marwah juga menangis melihat Uminya yang tiba-tiba meraung dan menangis sangat kencang. Aku langsung membopong tubuh Aisyah dan membawanya ke salah satu rumah sakit. Sedang Marwah ku titipkan sementara pada Ibu. Aisyah kubaringkan di tempat duduk belakang. Sepanjang jalan, hatiku semakin tidak karuan. Aisyah terus memegangi perutnya. Wajahnya yang ayu sangat pucat, benar-benar pucat. Aku menyeka air mataku yang tidak mampu kubendung. Tidak kuat rasanya melihat istriku kesakitan sampai seperti itu. Aku memacu mobilku dengan sangat kencang. Yang dipikiranku, aku harus segera sampai rumah sakit. Bidadariku harus segera diberikan pertolongan, aku tidak mau semua ini terlambat. Aku benar-benar dalam kondisi yang kacau, badanku gemetar, keringat dingin mengucur deras di kemeja yang kugunakan. Benar-benar sangat panik, lebih panik dari saat membawa Aisyah ketika kontraksi.


"Sabar lah sayang, mas Fahmi sedang berusaha secepat mungkin. Agar kita cepat sampai di rumah sakit. Kamu yang kuat sayang. Kamu kuat. Hiks... hiks.... hiikkss,". Ucapku di sela-sela kepanikanku yang semakin tidak karuan.


"Maaaaasssss......??!!!. Sakiittttt....!!!, tolong Asiyah mas Fahmiiii....!!, Aisyah tidak kuaaattt......!!!,".


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hanya itu yang keluar dari mulut istriku. Aisyah semakin tidak terkontrol. Wajahnya semakin pucat. Aku terus memacu kecepatan mobilku. Ini darurat, aku tidak bisa untuk stabil dalam mengemudikan mobilnya. Istriku harus segera mendapatkan pertolongan. Jalanan Yogyakarta hari ini lumayan padat, tapi aku bersyukur tidak sampai terjadi kemacetan yang sangat parah. Lima belas menit lagi, aku dan Aisyah akan sampai di rumah sakitnya. Aku percaya, Allah akan menolongku dan menolong istriku. Bidadariku kuat, aku percaya Aisyah kuat. Aku bingung, kenapa tiba-tiba Aisyah menjerit kesakitan seperti itu. Aisyah tidak pernah menceritakan apapun, termasuk tentang sakit yang pernah dia alami dulu. Dia bahkan termasuk orang yang menjalani hari-hari nya dengan pola hidup sehat. Ini benar-benar membuat aku shock dan sangat panik tak terkontrol.


Mobil yang kugunakan terus kupacu, aku tidak perduli. Fokusku saat ini harus segera mungkin sampai di rumah sakit. Aku memarkirkan mobilku tepat di depan pintu ruang IGD. Aku langsung turun dan kemudian memanggil-manggil petugas kesehatan yang ada.


"Toolooong....!!, suster!!. Tolong istriku, ini benar-benar darurat!!,".


Beberapa staf kesehatan yang sedang jaga di IGD langsung dengan sigap dan membawa tempat tidur dorong untuk menolong istriku. Aku langsung membopong tubuh Aisyah yang sangat dingin dan meletakkan nya di tempat tidur dorong yang sudah di siapkan. Aku terus mendampingi istriku, aku tidak ingin melihatnya melewati semua rasa sakit itu seorang diri. Tangganya terus kugenggam erat, lisanku tidak pernah berhenti berdoa untuk nya.


"Kuatlah istriku. Mas Fahmi disini sayang. Mas mohon, Aisyah yang kuat. Aisyah harus bisa melawan rasa sakitnya. Mas Fahmi mencintaimu dik,". Ucapku dalam hati.


"Mohon maaf, bapak bisa keluar dan tunggu di ruang tunggu saja yah. Kami akan melakukan tindakan untuk istri bapak,". Ucap salah seorang tenaga medis.


"Tidak bisakah saya menemani istriku disini?. Saya ingin di samping dia,". Lobiku pada tenaga medis yang tadi menyuruhku.

__ADS_1


"Mohon maaf pak, ini sudah prosedur di rumah sakit. Mohon segera keluar, agar kami segera memberikan tindakan untuk istri bapak,".


"Ba-baiklah,". Aku hanya bisa pasrah.


Aku keluar dari ruang tindakan, dan kemudian terduduk di ruang tunggu. Aku tidak perduli, dengan banyak pasang mata yang terus melihat diriku yang sibuk menyeka air mata. Istriku sedang berjuang didalam sana. Aku bahkan bisa merasakan perjuangan dirinya untuk melawan rasa sakit yang beberapa jam telah menyiksanya. Aku masih memikirkan, ada apa sebenarnya yang terjadi pada Aisyah?. Bahkan selama ini dia tidak pernah mengeluh apapun padaku atau pada ibu. Kenapa dia tiba-tiba jatuh sakit hingga sedemikian parah nya?. Ini salahku, Aisyah sakit karena aku kurang perhatian padanya. Aku lalai padanya, harusnya aku tahu apa yang sedang dirasakan oleh istriku. Tapi faktanya, aku bahkan tidak pernah tahu. Hingga saat ini, istriku masih melawan rasa sakitnya. Semoga hasilnya tidak terlalu buruk, semoga itu hanya nyeri yang biasa. Semoga istriku bisa secepatnya pulang dan bisa kembali bersama, bercanda dan bersama-sama mengurusi putri kita Marwah. Aku yakin dirumah saat ini, Wawa sedang dalam kebingungan dengan Oma nya. Wawa pasti sangat takut melihat Uminya yang tiba-tiba berteriak dengan sangat kencang dan benar-benar seperti orang yang sedang mendapatkan siksaan. Aku baru pertama kali melihat ada sakit yang bisa membuat orang sampai berteriak separah itu.


"Aisyah, maafkan mas Fahmi. Jika mas Fahmi kurang perhatian padamu. Jika mas Fahmi tidak pernah menyadari keluhan yang sedang kamu rasakan sayang. Maafkan mas Fahmi, mas janji. Mas tidak akan pernah membiarkan kamu merasakan sakit yang seperti tadi. Cukup, cukuplah hari ini saja mas Fahmi melihat dirimu menangis dan meraung kesalku istriku,". Ucapku dalam hati.


Sudah satu jam, Belum ada satu tenaga medis pun yang keluar dan memberikan kabar hasil pemeriksaan Aisyah. Kenapa sampai sangat lama sekali, aku bahkan rasanya sampai ingin memaksa masuk dan menerobos keruang tindakan. Aku ingin melihat Aisyahku. Bagaimana keadaan dia sekarang?. Kenapa sangat lama?. Tindakan apa yang sebenarnya sedang Aisyah terima dari para tenaga medis. Apa parah sekali?. Ya Allah, selamatkanlah istriku.


"Halooo....!!, hallooo...!!. Fahmi nak, ini ibu nak. Gimana hasil pemeriksaan nya nak?. Aisyah kenapa?,". Suara dari seberang telepon begitu terdengar sangat panik dan gugup. Ibu meneleponku ternyata, sudah ada beberapa kali panggilan yang tidak terdengar.


"Ha-halo Ibu, Fahmi belum tahu bagaimana keadaan Aisyah Bu. Sudah dari tadi belum ada informasi mengenai keadaan Aisyah. Fahmi masih menunggu hasil tindakannya,".


"Sudah satu jam Bu. Sudah satu jam Aisyah diberikan tindakan. Tapi belum ada hasil atau informasi apapun mengenai keadaan Aisyah. Fahmi harus bagaimana Bu?. Fahmi takut. Hikss.. hiks.. hiks..,". Tangisku sudah tak bisa tertahankan lagi. Kubagi dukaku dengan wanita terhebat pertamaku sebelum Aisyah.


"Kamu banyak-banyak istighfar nak. Jangan pernah putus berdoa untuk istrimu. Apapun hasilnya nanti, Ibu minta. Putra ibu harus jadi laki-laki yang kuat. Kamu harus kuat nak. Kamu punya tiga perempuan yang harus kamu jaga,".


"Bu, Fahmi tidak ingin kehilangan Aisyah Bu. Fahmi sangat takut,".


"Istighfar saja nak. Kamu fokus dengan Aisyah disana yah. Jangan lupa shalat dan makan. Tolong kalau ada apa-apa kamu kabari ibu yah nak. Ibu masih tunggu informasi nya,".


"Bu, Fahmi dan Aisyah nitip Marwah dulu yah Bu. Maaf Fahmi jadi merepotkan Ibu,".

__ADS_1


"Sudah tidak mengapa. Ibu senang-senang aja, apalagi punya cucu secerdas dan secantik Marwah. Yasudah kamu sabar ya nak. Doa ibu selalu menyertai untuk kalian anak-anakku,".


"Terimakasih banyak Ibu. Ibu hati-hati dirumah yah Bu. Jangan terlalu capek. Nanti Fahmi kabari lagi kalau sudah ada info yang jelas tentang Aisyah yah Bu,".


"Yasudah nak, ibu matikan dulu telepon nya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,".


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, ibu,".


Aku memegang erat telepon genggamku, jarum jam tanganku masih menunjukkan pukul satu siang. Aku bahkan sampai lupa belum melaksanakan shalat Dzuhur. Aku memutuskan untuk beranjak dan menuju masjid terdekat yang ada di rumah sakit ini. Ingin pasrah atas segala hal yang sedang aku rasakan dan aku pikul. Aku percaya, Allah tidak akan pernah memberikan aku cobaan melebihi batas kemampuan dari diriku sendiri sebagai hamba Nya. Ini jelas janji yang Allah berikan pada manusia, agar tidak pernah berputus asa dari Rahmat dan pertolongan Allah. Sebagai mana dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya :


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”


Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dan ini merupakan janji Allah, jadi sesungguhnya tidak mungkin Allah membebani kita dengan ujian yang tidak kita sanggup. Kemudian Allah akan memberikan pahala kebaikan jika seseorang yang sedang diuji tersebut bersabar dan melakukan kebaikan dan mencari jalan keluar dengan cara yang diridhai Allah, dan sebaliknya Allah akan memberikan dosa jika ia tidak bersabar dan mencari jalan keluar dengan cara yang tidak diridhai Allah.


Aku harus sabar, harus semangat. Meskipun rasa takut begitu bergemuruh membuat perih dan sakit dihati. Belum siap, bukan belum siap, tapi aku tidak akan pernah siap kehilangan seseorang yang sangat kucintai. Apalagi dia telah menerimaku dan menemaniku dengan begitu telaten dan sangat sabar. Jika ada manusia yang ingin kehilangan seseorang yang dicintai nya, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, orang itu gila atau tidak waras serta memang sudah tidak mencintai dan menyayangi lagi.


Aku berjalan dan mengambil air wudhu, rasanya begitu nikmat sekali, ketika wajahku kubasuh dengan air wudhu. Sangat adem dan nyaman. Rasanya segala beban dan rasa sakit ikut hilang dengan air wudhu yang jatuh mengalir. Aku masuk kedalam masjid dan kemudian menunaikan empat rokaat shalat dzuhur. Setelah shalat, aku mengangkat kedua tanganku dan memohon dengan segala kerendahan kepada Allah, agar istriku diberikan kekuatan, diberikan kesehatan. Manusia harus berdoa, memohon, dan merendahkan diri di hadapan Rabb nya. Manusia tidak boleh sombong, manusia yang sombong adalah yang tidak mau mengangkat kedua tangannya dan memohon serta berdoa meminta kepada Dzat yang telah menjadikannya ada di dunia.


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)


Jika ada laki-laki yang cengeng. Mungkin orang itu adalah aku. Entah sudah berapa kali aku menangis, sudah berapa banyak tetes air mata yang berulang kali jatuh. Aku tidak ingin apapun untuk saat ini ya Allah, selain Aisyah bisa sembuh dan kembali bersama dengan keluarga. Marwah masih sangat kecil, dia masih sangat butuh kasih sayang dan bimbingan dari Uminya. Apa yang harus aku jawab ketika Wawa kecil menannyakan Uminya?. Aku tidak ingin putriku tahu, bahwa Uminya sedang sakit. Sedang berusaha untuk bangkit dan kuat. Psikis Marwah tidak boleh terganggu, apalagi dalam masa pertumbuhan dirinya. Dia harus tetap bahagia dan ceria sesulit apapun keadaannya.


Setelah selesai bermunajat pada Nya, aku kemudian berjalan meninggalkan masjid dan menuju kedepan ruang UGD. Semakin siang rumah sakit semakin ramai, seperti nya banyak pasien lain yang baru masuk dan datang. Aku mempercepat langkahku, semoga saja sudah ada kabar dan informasi mengenai Aisyah. Semoga tidak ada kabar buruk yang akan aku terima. Semoga.

__ADS_1


__ADS_2