Madu

Madu
Episode.44 (SEASON 2)


__ADS_3

"Sayang, kaya nya Mas tidak bisa mengantar kamu untuk USG hari ini. Soalnya ada pekerjaan yang sangat tidak bisa di tinggal, Maaf yah. Tadi Mas sudah coba ijin ke atasan. Tapi tidak dibolehkan. Kalau nggak kita USG lain hari saja bagaimana? ".


"Hmmm... begitu yah. Padahal Aisyah sudah ingin bertemu dengan calon adik nya Wawa".


" Maaf ya sayang. Tapi mau bagaimana lagi, Mas sudah usahakan untuk ijin ke atasan. Tapi malah tidak diberikan. Sekali lagi maaf".


"Mas, jika diijinkan. Aisyah ingin USG hari ini juga. Boleh? ".


" Tapi kan Oma sama Marwah sedang tidak bisa mengantar kamu sayang? ".


"Ngga papa Mas. Kan Aisyah bisa pakai taksi langganan keluarga kita. Bagaimana?. Aisyah sudah sangat ingin bertemu si dedek dalam perut".


" Bagaimana ya?, apa tidak di tunda dulu saja? ".


" Yasudahlah, kalau Mas Fahmi tidak mengijinkan ".


Padahal aku sudah sangat bersemangat untuk melakukan pemeriksaan USG. Bagi seluruh ibu hamil, USG adalah waktu yang selalu di tunggu-tunggu untuk bisa melihat dan mengetahui pertumbuhan calon buah hati yang masih didalam perut. Apalagi ini baru USG pertama untuk anak kedua yang sedang aku kandung. Kehamilan diriku saat ini sudah memasuki usia sebelas minggu. Biasanya di usia segini, jika dokter yang memeriksa nya memiliki banyak pengalaman sudah bisa melihat jenis kelamin si dedek. Tapi apa boleh buat, seperti nya Abin nya Wawa tidak akan mengijinkan diriku untuk pergi USG seorang diri.


"Hmmm... Yasudah. Mas ijinkan kamu untuk USG. Tapi ingat, hati-hati dan jangan pergi kemana-mana setelah selesai periksa. Kamu langsung pulang yah".


" Hah?!, serius Mas Fahmi mengijinkan Aisyah untuk pergi USG Mas? ".


" Iya sayang, Mas tidak bisa menahan kamu untuk bertemu dengan buah hati kita yang didalam perut ini".


Mas Fahmi mengelus lembut perutku. Bagian yang aku suka setiap hamil, adalah ketika Mas Fahmi suamiku mengelus dengan lembut perutku, mencium perutku yang semakin buncit, juga mengajak bicara bayi yang ada didalam perutku.


Senyum bahagia tergambar jelas di raut wajah suamiku. Mas Fahmi nampak sangat bahagia, akan memiliki bayi mungil yang menggemaskan lagi. Ah, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat senyum di wajah tampan suamiku.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Mas. Makasih sudah kasih ijin ke Aisyah untuk pergi USG".


" Iya sayang sama-sama. Sampaikan salam Mas pada calon anak Mas nanti yah. Minta kan maaf juga pada si dedek, maaf Abi nya tidak bisa ikut mengantar Umi nya untuk USG".


"Iya Mas, nanti Aisyah sampaikan salam nya yah".


" Oh iya, nanti Mas telepon kan Pak Herman ya. Biar beliau datang kerumah untuk menjemput kamu. Sekalian Mas mau nitip ke beliau".


"Hah?!, memang nya mau nitip apa Mas? ".


" Mau nitip ke Pak Herman, agar membawa bidadari Mas dan calon buah cinta Mas dengan hati-hati. Hehehe... ".


" Ah, Mas mah. Kirain Aisyah beneran mau nitip sesuatu. Ternyata.. ".


" Ternyata apa?, ternyata Mas malah membuat istri Mas jadi malu dan salah tingkah kan?. Hehehe".


"Iya deh iya, suami Aisyah memang paling bisa bikin Aisyah jadi menahan malu".


"Kapan berangkat periksa nya sayang? ".


" Nanti Mas, jam sepuluhan. Lagi pula jam segini. bu dokter Lina masih praktek di rumah sakit".

__ADS_1


"Sudah daftar kan? ".


" Sudah dong Mas".


"Alhamdulillah. Yasudah Mas Fahmi pamit berangkat ke kantor ya. Kamu jangan lupa memberikan kabar pada Ibu dan Marwah ya. Kalau kamu mau pergi periksa USG jam sepuluh nanti".


" Iya Mas sayang".


Aku membawakan tas kantor Mas Fahmi, mengantar nya hingga depan pintu, dan tidak lupa mencium punggung tangan laki-laki yang sangat aku cintai ini. Mas Fahmi mengelus lembut kepalaku yang tertutup jilbab berwarna abu dan kemudian mencium kening ku. Hal yang tidak pernah dilupakan oleh suamiku. Adalah mencium kening istrinya sebelum pergi keluar rumah.


"Assalamu'alaikum sayang".


" Wa'alaikumussalam ".


Aku melambaikan tanganku, dan memandangi mobil yang digunakan Mas Fahmi berjalan pelan meninggalkan halaman rumah.


" Ya Allah, jagalah suamiku. Mudahkanlah segala urusannya. Lancarkan rezekinya. Aamiin".


Doaku lirih sembari memandangi mobil Mas Fahmi yang semakin tidak terlihat dari depan pintu rumah.


Alhamdulillah, akhirnya Mas Fahmi memberikan ijin padaku untuk bertemu dengan calon anak kedua ku. Rasanya sudah sangat tidak sabar ingin melihat perkembangan janin yang kini ada didalam perutku. Andaikan waktu cepat berlalu, aku ingin segera merasakan tendangan yang menggemaskan dari dedek bayi yang ada di perutku. Alhamdulillah, hamil kedua ini aku juga tidak mual-mual parah. Sama seperti ketika hamil Marwah. Kalau kata orang ini namanya hamil ngebo. Dan ini adalah hamil yang paling diinginkan oleh banyak wanita di dunia. Bagaimana tidak, sebagian ibu hamil mengalami mual muntah yang parah. Bahkan terkadang ada yang sampai harus di rawat dan infus di rumah sakit. Karena memang tidak ada makanan yang bisa masuk kedalam perut, karena makan sedikit saja langsung muntah parah. Ini juga membahayakan bagi si janin. Karena janin tidak mendapat asupan makanan dari si Ibu.


"Kriiing... kriiing.. kring".


Aku terkejut dengan bunyi telepon rumah. Siapa yang pagi-pagi begini sudah menelepon ke nomor rumah ya?. Atau jangan-jangan ini telepon dari Ibu. Kebetulan Ibu sedang ada cara di sekolah Marwah yang baru. Mungkin Ibu membutuhkan sesuatu, makanya menelepon ke nomor rumah. Tapi kenapa Ibu tidak langsung menelepon ke ponsel ku saja ya?. Entahlah, aku berjalan sedikit lebih cepat menghampiri telepon rumah yang masih berdering nyaring.


"Hallo, Assalamu'alaikum".


" Aisyah, ini Aisyah kan? ".


"Iya ini saya, Aisyah. Siapa ya? "


"Aisyah nak. Ini Bunda Layla. Maaf bunda menelepon kerumah mu pagi-pagi begini. Ada yang mau bunda bicarakan dengan kamu".


Aku terkejut, ternyata Bunda Layla yang menelepon ke nomor rumah. Mau apa lagi sebenarnya?. Apa yang akan dibicarakan Bunda denganku?. Dan tentang apa?. Tidak puas kah Bunda dengan kejadian beberapa hari yang lalu, datang ke rumah secara tiba-tiba dan langsung menuduh diriku dengan berbagai macam tuduhan yang tidak benar. Menghina dan mengatai diriku dengan ucapan yang sangat menyakitkan hati. Kenapa sekarang datang kembali. Jika bukan karena menghormati orang yang lebih tua, mungkin saat ini juga sudah aku tutup sambungan telepon nya. Aku sudah tidak ingin ada masalah lagi dengan keluarga mantan suamiku. Terlebih lagi sekarang aku sedang hamil. Aku trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana aku banyak tekanan fisik dan batin. Yang akhirnya menyebabkan hilang nya janin yang sedang aku kandung. Keguguran adalah salah satu peristiwa paling menyakitkan didalam hidup seorang wanita.


"Aisyah?. Haloo.. kamu masih menerima telepon nya kan? ".


" Iyah, ada apa Bunda? ".


" Aisyah, Bunda mau minta maaf padamu. Karena kemarin Bunda sudah emosi dan marah-marah tanpa alasan yang jelas. Bunda mau kamu memaafkan Bunda. Maaf kalau Bunda menyakiti hatimu lagi".


"Oh, sudah Aisyah maafkan kok. Bahkan sebelum Bunda meminta maaf pada Aisyah. Jadi Bunda tidak perlu meminta maaf lagi".


" Ya bukannya begitu nak. Aisyah, boleh Bunda bertanya sesuatu? ".


" Apa itu? ".


" Nak, apa kamu masih memiliki sedikit cinta untuk Fatih, putra Bunda? ".

__ADS_1


Pertanyaan apa yang sebenarnya Bunda ajukan padaku. Bagaimana mungkin Bunda akan bertanya hal demikian pada seorang wanita yang bahkan sudah memiliki suami. Harusnya tanpa di tanya pun, Bunda sudah tahu. Kalau aku hanya akan mencintai laki-laki yang kini telah menjadi suamiku.


"Apa Aisyah tidak salah dengar?. Aisyah rasa, Bunda sudah tahu. Kalau Aisyah sudah memiliki suami. Dan Bunda juga harusnya mengerti, bahwa cinta Asiyah hanya untuk Mas Fahmi saja".


" Maksudnya, kamu bahkan tidak ada sedikit pun rasa dengan putra Bunda? ".


"Iya Bunda, kalaupun Aisyah memiliki perasaan untuk Mas Fatih, itu dulu Bunda. Dulu sekali, saat Aisyah di sakiti batin dan fisik nya. Tapi sekarang tidak Bunda. Seluruh perasaan Aisyah hanya untuk Mas Fahmi".


" Tega sekali kamu berbicara seperti itu pada Bunda, Aisyah. Padahal Bunda mau memberi tahu kamu. Kalau Fatih masih sangat mencintai dirimu. Bahkan dia telah rela menduda dari pada mencari pengganti dirimu. Tidak kah kamu kasihan?".


"Tidak ada yang bisa Aisyah lakukan Bunda. Mas Fatih bukan tanggung jawab Aisyah lagi. Aisyah sudah tidak ada kaitannya dengan putra Bunda".


" Apa kamu juga tidak mau memberi kesempatan pada Fatih?. Dia sangat ingin kembali padamu Aisyah. Bahkan Fatih ingin memperbaiki. kesalahan dirinya di masa lalu".


"Bunda?!. Harus seperti apa lagi Aisyah bilang pada Bunda. Aisyah sudah memiliki suami. Jadi tolong Bunda, biarkan Aisyah menjalani kehidupan Aisyah yang sekarang dengan suami Aisyah".


"Bunda mohon Aisyah. Berikan satu kesempatan untuk Fatih memiliki kamu lagi dalam hidup nya. Bunda tahu, Bunda dan putra Bunda pernah menghancurkan hidupmu. Tapi bukankah kami sudah meminta maaf padamu langsung, juga didepan kedua orang tuamu?".


"Aisyah sudah memaafkan kalian semua. Sekarang Aisyah hanya ingin hidup bahagia dengan pasangan hidup Aisyah yang sekarang mendampingi Aisyah. Bunda bisa mencarikan Mas Fatih perempuan yang lebih dari Aisyah. Seperti saat dulu, Bunda mencarikan Siska untuk Mas Fatih. Aisyah yakin, itu tidak sulit untuk seorang Bunda Layla".


"Tapi kali ini situasi nya berbeda nak. Bunda sudah mencoba berkali-kali bicara dengan Fatih. Tapi dia menolak untuk menikah lagi. Bahkan dia bilang, sampai matipun. Fatih akan tetap menduda, jika tidak bisa kembali menikah denganmu. Hikks.. hikkks... ".


"Untuk apa Bunda menangis?. Tidak perlu Bunda. Jika memang putra Bunda tidak lagi mau menikah biarkan saja. Lagi pula, putra Bunda sudah cukup dewasa. Dia berhak menentukan jalan hidup nya".


" Bagaimana Bunda tidak menangis Aisyah?. Fatih adalah anak Bunda Satu-satunya. Bunda tidak tahan setiap hari melihat dia kesepian tanpa seorang pendamping. Bunda juga ingin punya cucu kandung dari putra Bunda sendiri ".


" Yasudahlah Bunda, mungkin ini sudah menjadi takdir dari Tuhan. Seandainya dulu Bunda tidak memaksa Aisyah untuk membagi Mas Fatih dengan perempuan lain. Mungkin Bunda saat ini sudah menimang cucu yang lahir dari garis keturunan putra kandung bunda sendiri. Masih terngiang jelas, saat Mas Fatih mengatai Aisyah dengan sebutan perempuan yang mandul. Bunda tahu?, bagaimana rasanya Aisyah saat itu. Hancur!".


Aku menyeka air mataku. Rasanya mata ini sangat panas mengingat semua kejadian di masa lalu. Dimana aku di perlakuan seperti binatang oleh mantan suamiku dan mantan Ibu mertua ku sendiri. Bukan, bukan maksud diriku pendendam. Tapi nyatanya, hingga detik ini. Kenangan itu mampu membuat aku sulit untuk bernafas jika teringat. Dan saat ini, Bunda malah dengan tanpa malu, memohon pada diriku untuk kembali dengan putra nya. Mereka sangat egois, bahkan tidak memikirkan bagaimana trauma nya diriku hingga sekarang, gara-gara peristiwa di masa lalu. Tidak kah Bunda terlalu jahat?. Apa maksudnya meminta padaku untuk memberikan kesempatan pada putra nya agar kembali lagi padaku. Secara tidak langsung, Bunda meminta padaku agar berpisah dan meninggalkan Mas Fahmi. Bagaimana mungkin itu semua tidak di sebut sebuah kejahatan. Pernikahan yang bagi diriku sangat sakral dan juga merupakan perjanjian yang besar di hadapan Nya, di mata mantan Bunda mertua ku tidak lebih dari cerai dan rujuk.


"Maafkan Bunda Aisyah. Bunda mohon padamu. Setidaknya ingatlah bagaimana Fatih dulu padamu. Jauh sebelum peristiwa pahit itu menimpa kita semua. Fatih sangat mencintai dirimu, bahkan memperlakukan dirimu seperti ratu dan berlian. Apa hanya kejelekan putra Bunda saja yang terekam dalam memori hidupmu?. Kemana semua kebaikan Fatih saat peristiwa itu belum terjadi Aisyah?. Bukan kah bukan hanya kamu yang menjadi korban?. Tapi Fatih juga Bunda adalah korban dari kejahatan laki-laki tua itu, Aisyah".


"Maaf Bunda. Aisyah tidak bisa. Bagi Aisyah, kesetiaan adalah nomor satu. Aisyah tidak bisa Bunda. Maafkan Aisyah".


" Nak, Bunda mohon padamu. Berikan secercah harapan pada Fatih nak. Dia sangat mencintaimu".


"Aisyah sudah memiliki Mas Fahmi, Bunda. Cinta mas Fahmi untuk Aisyah juga sangat besar. Aisyah tidak mau kehilangan mas Fahmi dalam hidup Aisyah".


"Tunggu Aisyah sayang. Kamu jangan buru-buru mengambil keputusan. Tolong pertimbangkan lagi. Kamu pikir matang-matang ya nak. Bunda mohon padamu, apa perlu Bunda datang dan memohon nya langsung padamu?. Tolong terima Fatih kembali dalam hidupmu".


" Bunda?!. Aisyah bukan seorang janda, yang bisa sesuka Bunda di suruh untuk bersama dengan putra Bunda!. Aisyah memiliki suami dan juga seorang putri!!. Tidak kah Bunda mau mengerti?!! ".


Aku sudah tidak bisa menahan amarah dan sakit hatiku. Nada bicaraku bahkan cenderung membentak. Aku tahu, ini tidak sopan. Tapi aku terpaksa melakukan semua ini. Agar Bunda mau mengerti.


"Nak, jika nanti kamu menikah dengan Fatih. Marwah akan di anggap seperti putra kandung nya sendiri. Kamu tidak perlu khawatir".


" Maaf Bunda, Aisyah harus pergi. Aisyah harus mematikan sambungan telepon nya".


"Aisyah, tolong Bunda. Fatih sangat ingin kembali padamu. Bunda akan menunggu kabar, kalau kamu mau akan kembali lagi dengan putra Bunda".

__ADS_1


" Assalamu'alaikum".


Aku mengucapkan salam dan kemudian menutup sambungan telepon nya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya keras. Aku menghapus sisa air mata yang masih menempel pada kelopak mataku. Menyesakkan sekali. Kenapa aku jadi seperti barang, yang sesuka Bunda di buang dan di ambil kembali. Aku tidak akan mau, tidak akan. Mas Fahmi terlalu berharga untuk disakiti dan di khianati. Allah sudah sangat baik padaku, memberikan ganti dengan laki-laki sebaik mas Fahmi. Aku menenangkan diriku sendiri, aku sedang hamil. Aku tidak boleh stress, kasian bayiku. Dia berhak bahagia, meskipun sekarang masih berada dalam kandungan. Stress sangat berbahaya bagi janin. Aku harus terus bahagia, agar anak yang sedang aku kandung juga bahagia. Bayi ini tidak boleh bernasib sama seperti calon kakak nya dulu yang akhirnya memilih untuk menyerah karena diriku yang stress dan tertekan hebat. Aku mengelus lembut perutku. Dan menyeka air mataku.


__ADS_2