
"Aisyah? ".
" Iyah Ibu".
"Nak, bisa tidak berhenti dulu bikin kue nya. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu sayang".
" Oh, baik Bu. Sebentar Aisyah cuci tangan dulu. Nanti Aisyah menyusul yah".
Aku mencuci tanganku, entahlah. Biasanya Ibu tidak seperti ini. Jika pun ada yang harus dibicarakan denganku. Ibu langsung menyampaikan nya padaku. Tidak seperti hari ini, rasanya Ibu seperti sangat kaku dan juga lebih serius dari biasanya. Jujur saja, tadi adonan kue nya sangat nanggung jika harus di tinggalkan. Tapi yasudahlah, aku tidak bisa menolak jika Ibu sudah menyuruh diriku. Bagiku, Ibu mertuaku sama seperti Ibu kandung untukku. Apalagi sekarang Mas Fahmi sudah meninggal dunia. Diriku harus bisa menggantikan posisi Mas Fahmi untuk mengurus dan menghormati Ibu. Bergegas aku mencuci tangan ku yang kotor karena mengolah adonan kue. Kakiku berjalan sedikit cepat, agar Ibu tidak menunggu diriku terlalu lama.
"Sudah selesai nak? ".
" Sudah Ibu".
Ucap diriku yang kemudian duduk di samping Ibu. Sepenting apakah hal yang akan Ibu bicarakan denganku. Kenapa sampai begitu serius sekali seperti ini.
"Nak, ada hal penting yang mau Ibu sampaikan padamu".
" Hal penting?. Tapi tentang apa Bu?. Bukankah biasanya Ibu langsung menyampaikan pada Aisyah, tanpa harus seserius ini? ".
" Iyah nak, masalah ini sangat serius. Hal ini sangat penting. Makanya Ibu juga harus membicarakan empat mata denganmu, di suasana yang juga kondusif".
"Hmm.. Baiklah Bu".
" Aisyah, beberapa hari yang lalu. Saat Ibu pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayur dan buah. Dengan tidak sengaja, belanjaan Ibu yang Ibu taruh di pinggir jalan terserempet mobil. Meskipun mobil nya tidak melaju terlalu cepat. Karena jalanan depan pasar saat itu memang lumayan padat".
"Apa?!. Siapa yang menyerempet Bu?!. Ibu tidak apa-apa kan?. Atau ada yang luka?! ".
Aku sangat panik, mendengar bahwa belanjaan Ibu terserempet sebuah mobil. Takut sekali, Ibu Kenapa-kenapa. Entahlah, orang seperti apa yang tidak bisa hati-hati membawa mobil nya. Sampai-sampai belanjaan yang sudah ditaruh di pinggir jalan saja sampai di serempet begitu.
" Tidak nak, Ibu tidak apa-apa. Karena memang hanya belanjaan milik Ibu saya jang terserempet nak. Saat itu, Ibu sedang memilih beberapa buah lagi. Kamu tau Aisyah?, siapa yang menyerempet Ibu?! ".
" Siapa orang nya Bu?!. Orang seperti apa dia. Bahkan tidak bisa hati-hati saat menyetir mobil. Sampai belanjaan di pinggir jalan saja di tabrak oleh nya. Terus, apa orang itu bertanggung jawab dan mengganti belanjaan Ibu yang rusak?. Aisyah kan sudah bilang pada Ibu, biar Aisyah saja yang belanja".
__ADS_1
"Orang nya bahkan meminta maaf berkali-kali pada Ibu nak. Dia juga bertanggung jawab dengan memungut belanjaan Ibu yang jatuh berserakan. Dia bahkan memberikan Ibu beberapa lembar uang untuk mengganti belanjaan Ibu yang rusak. Tapi Ibu menolak nya nak".
"Tapi kenapa Ibu menolak uang ganti rugi Itu Bu?! ".
" Tidak apa nak. Bagi Ibu, orang nya sudah mau meminta maaf dan berniat baik untuk mengganti saja sudah lebih dari cukup Aisyah".
"Hmmm... yasudah Ibu".
" Nak, kamu ingin tahu siapa orang nya? ".
" Siapa Bu?. Apa itu tetangga kita? ".
" Bukan nak. Orang yang menabrak belanjaan Umi adalah nak Fatih. Mantan suami kamu Aisyah".
"Apa?!. Mas Fatih?! ".
"Iya nak, Ibu bertemu dengan Fatih. Dia yang tanpa sengaja menabrak belanjaan Ibu, Aisyah".
" Oh yasudah".
" Lalu Aisyah harus merespon apa Ibu? ".
" Nak, seperti nya Fatih pemuda yang baik. Dia bahkan sampai detik ini masih menduda. Sejujurnya Ibu sangat kaget Aisyah. Saat Ibu tahu, Fatih menjadi duda selama hampir delapan tahun lamanya, hanya karena tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu putriku".
"Itu sudah menjadi keputusan hidup Mas Fatih, Bu. Bahkan saat Mas Fahmi masih hidup, Aisyah sudah menyuruh Mas Fatih untuk mencari perempuan lain dan meminta Mas Fatih agar secepatnya menikah lagi".
" Nak, maaf jika Ibu lancang. Jika Ibu boleh memberikan saran padamu. Ada baiknya, menikahlah dengan nak Fatih, Aisyah. Ibu yakin, cinta nya untuk dirimu sangat lah tulus. Menduda selama hampir delapan tahun bukanlah hal yang mudah bagi seorang laki-laki Aisyah. Itu hanya akan dilakukan oleh laki-laki yang memang memiliki hati yang tulus untuk seseorang yang sangat dicintai nya".
"Ibu, Aisyah sudah mempunyai suami. Dan suami Aisyah adalah putra Ibu sendiri. Bagaimana mungkin, Ibu menyuruh Aisyah untuk menikah dengan mantan suami Aisyah?! ".
" Astaghfirullah, putriku. Sadarlah nak Aisyah. Putra Ibu sudah hampir satu tahun meninggal dunia Aisyah. Status kamu saat ini adalah seorang single parent putriku. Lagi pula, masa iddah dirimu juga sudah lewat lumayan lama. Ibu tidak mempunyai hak untuk memaksa kamu agar tidak menikah lagi. Karena Ibu sadar. Putra Ibu sudah meninggal dunia nak. Jangan khawatir pada nasib Ibu. Jika setelah menikah nanti, Fatih ingin membawa dirimu dengan cucu-cucu Ibu. Ikutlah dengan nya, Ibu bisa hidup sendiri nak".
"Tidak Bu, Aisyah sudah berjanji dengan Mas Fahmi. Akan menjaga Ibu dengan baik. Aisyah tidak mau meninggalkan Ibu. Lagi pula, Aisyah sudah tidak mencintai Mas Fatih Bu. Mas Fahmi sudah membawa cinta Aisyah seluruh nya. Aisyah tidak mau Ibu".
__ADS_1
" Aisyah, mau sampai kapan kamu akan menyandang status janda nak. Aisyah, Ibu yakin. Kamu tahu, menyandang status itu apalagi di usia kamu yang masih terbilang muda sangatlah berat nak. Fitnah mudah datang dari mana saja Aisyah. Jika kamu menikah, itu akan lebih menjaga kehormatan dirimu nak".
Aku masih diam, mendengarkan Ibu berbicara. Meskipun apa yang dikatakan Ibu barusan adalah benar adanya. Diriku sering mendapatkan ujian berupa fitnah gara-gara diriku adalah seorang janda. Tapi aku percaya, Allah tahu segalanya apa yang aku perbuat dan apa yang tidak aku perbuat. Berusaha masa bodoh dengan ucapan orang lain adalah benteng penting bagi diriku saat ini. Tidak mudah memang menjadi seorang perempuan dengan menyandang status janda. Dituntut untuk menjadi orang tua sekaligus tulang punggung keluarga. Bukankah semua rezeki sudah Allah atur, yang penting adalah kita sudah mau berusaha untuk meraih rezeki itu. Urusan banyak atau sedikit nya, itu mutlak terserah Allah yang akan menentukan.
"Dan juga nak. Tolong pikirkan masa depan Marwah dan Yusril putra putri mu nak. Jangkauan mereka masih sangat panjang. Mereka membutuhkan sosok Ayah dalam pertumbuhan mereka. Terutama anak kedua kamu, Yusril. Dia bahkan tidak pernah sedikit pun merasakan kasih sayang seorang Ayah dalam hidup nya, Aisyah. Tidak kah kamu kasian dengan Yusril. Mungkin, untuk Marwah dia sempat merasakan kasih sayang dari Abi nya. Tapi Yusril?, saat masih di dalam kandungan pun, dia sudah tidak memiliki seorang Ayah. Tolong Aisyah, pertimbangkan lagi apa yang Ibu sampaikan. Ibu serahkan semua keputusan nya padamu. Aisyah Ibu yakin, Fahmi juga akan merestui jika kamu menikah lagi dengan Fatih nak. Ibu mohon, jangan egois nak Aisyah".
Ibu melanjutkan ucapan nya lagi, setelah menghela nafas panjang dan dalam. Entah apa yang harus aku jawab. Mencintai Mas Fahmi adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Meskipun saat ini, Mas Fahmi telah meninggal dunia dan tidak lagi bisa aku lihat senyum nya. Tapi rasanya, Mas Fahmi selalu dekat denganku, seperti masih berada di sampingku. Bagaimana bisa aku mencoba mencintai laki-laki lain, sedangkan cintaku untuk Mas Fahmi masih begitu sangat besar. Apa yang Ibu sampaikan padaku, aku tidak menyalahkan nya. Semua itu benar adanya, jujur saja. Aku bahkan tidak pernah tidak menangis jika memandang anak laki-laki kecil berusia hampir satu tahun itu. Putra kedua ku dengan Mas Fahmi, Yusril tidak pernah tahu dimana Abi nya. Mungkin, saat ini dia belum mengerti dan juga belum mencari-cari dimana Abi nya berada. Kenapa dia tidak bisa bermain dengan Abi nya seperti teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, Yusril akan semakin besar. Cepat atau lambat, dia pasti akan bertanya padaku tentang sosok Abi nya. Entah apakah aku akan bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dari mulut Yusril, atau aku hanya mampu terdiam dan menangis sembari memeluk nya.
"Entah Bu, Aisyah tidak tahu harus menjawab apa. Memang faktanya, Aisyah masih sangat mencintai putra Ibu. Bahkan meskipun kami sudah berbeda alam Bu. Lagi pula, Aisyah masih sanggup untuk membiayai kedua anak Aisyah Bu. Jadi Aisyah belum terlalu membutuhkan pendamping hidup. Masalah Yusril, bukankah semuanya sudah Allah takdir kan Bu?. Mungkin, dengan begitu. Allah akan menjadikan Yusril seorang anak laki-laki yang kuat dan juga sukses kelak".
"Semuanya terserah kamu Aisyah. Ibu hanya memberi pandangan juga solusi saja. Lagi pula, Fatih begitu sangat setia dan juga sangat mencintai dirimu Aisyah. Dia juga seperti nya laki-laki yang baik. Mungkin, dia banyak belajar dari masa lalu nya yang buruk saat masih bersama denganmu dulu nak. Walaupun saat kemarin bertemu dengan Ibu, Fatih tidak langsung menawarkan dirinya untuk menjadi pengganti Fahmi. Malah justru, Fatih bertanya mengapa kamu tidak juga menikah lagi? ".
" Bu, lalu bagaimana dengan Mas Fahmi?. Aisyah tidak bisa menduakan cinta Aisyah untuk Mas Fahmi Bu".
"Aisyah, sudah Ibu bilang. Ketika seorang suami meninggal dunia. Maka istri yang di tinggalkan nya berhak untuk menikah lagi ataupun tidak. Maka dari itu, semua keputusan ada pada dirimu nak. Pikirkan lah masa depan putra putri mu. Bukankah mereka berdua juga buah cinta kamu dengan Fahmi. Mereka sudah cukup menjadi bukti, bahwa kamu sangat mencintai putra Ibu yang sudah tenang di sisi Nya. Bukan apa-apa Aisyah, Ibu hanya ingin cucu-cucu Ibu merasakan kebahagiaan meski bukan dari Abi kandung mereka sendiri".
"Tapi kenapa harus Mas Fatih, Bu?!".
" Aisyah, memang nya mau dengan siapa lagi nak?. Fatih bahkan kamu sudah tahu, bagaimana orang nya saat dulu menjadi suamimu Aisyah. Kamu tidak perlu belajar mengenal dari awal bagaimana karakter dan sifat dari laki-laki yang akan menjadi pendamping dirimu. Apalagi, Fatih begitu sangat mencintai dirimu putriku. Bayangkan saja, dia menduda hanya demi cinta nya padamu Aisyah. Apa kamu tidak kasihan? ".
Bingung, antara perasaan atau pengorbanan. Haruskah aku kembali pada laki-laki yang bahkan sudah tidak aku cintai lagi?. Laki-laki yang bagiku sudah mati bersama kenangan yang dulu. Mungkinkah, kenangan yang sudah bertahun-tahun aku kubur dalam-dalam, akan aku gali kembali?. Jika teringat masa laluku dengan Mas Fatih, rasanya begitu sangat menyakitkan sekali. Semua kepingan tragedi di masa lalu langsung melintas di pikiranku. Dicampakkan, dihina, diberikan kekerasan fisik. Semua itu tidak mudah untuk dilupakan. Meksipun aku sudah memaafkan Mas Fatih. Tapi tetap saja, rada takut dan rasa trauma nya masih menancap hebat dalam ingatan. Jika pun aku menikah dengannya, apakah dirinya dan Bunda akan menerima Marwah juga Yusril seperti anak sendiri?, seperti cucu sendiri?.
"Entahlah Ibu. Aisyah tidak bisa menjawab apapun. Atau memberikan kepastian apapun pada Ibu. Aisyah mengerti, Ibu menyampaikan ini semua karena Ibu sangat sayang pada Aisyah. Aisyah sangat berterimakasih pada Ibu, karena sudah sangat tulus menyayangi Aisyah seperti putri sendiri".
" Iya nak, Ibu tidak akan memaksa kamu dalam hal ini. Tugas Ibu sudah selesai sampai disini sebagai orang tua. Memberikan saran, dukungan, juga informasi yang mungkin kamu butuhkan. Selebihnya Ibu tidak mau ikut campur, terserah dirimu saja. Lagi pula, kelak kamu yang akan menjalani pernikahan nya. Kamu pula yang akan merasakan suka duka nya. Doa, hanya itu yang bisa Ibu berikan pada kamu dan kedua cucu-cucu Ibu, serta pada putra Ibu yang sudah lebih dulu mendahului Ibu".
"Makasih banyak Ibu. Aisyah sangat menyayangi Ibu. Melihat Ibu, rasanya seperti Aisyah melihat Mas Fahmi. Aisyah selalu berdoa, agar Ibu selalu sehat dan juga bahagia". Aku langsung memeluk erat tubuh Ibu.
" Iyah putriku sayang. Coba kamu pikirkan matang-matang yah. Jika bisa, shalat istikharah lah Aisyah. Minta petunjuk pada Allah, agar kamu diberi jalan keluar yang terbaik untuk hidup mu".
"Baiklah Bu, akan Aisyah pikirkan jika sudah ada waktu yang tepat. Entah kapan, yang jelas untuk saat ini, Aisyah sedang di fase bahagia menjadi seorang janda, meskipun dengan anak dua yang masih kecil". Ucap diriku melepas pelukan dari tubuh Ibu.
" Umi, adik Yusril tadi menyebut kata papah berkali-kali. Hebat yah, Yusril sudah bisa bilang papah. Padahal, Yusril dan Marwah tidak memiliki Papah lagi".
__ADS_1
Tiba-tiba Marwah datang dengan menggendong adik laki-laki nya. Dia begitu sangat bahagia, karena adik kesayangan nya sudah mulai bisa, mengucapkan banyak kosa kata baru. Tapi apa yang barusan Marwah ucapkan padaku, rasanya sangat menyakitkan bagiku. Rasa sakitnya bahkan menembus hingga ke tulang-tulang. Baru saja aku merasa bahagia karena memiliki seorang Ibu mertua sebaik Ibu nya Mas Fahmi. Detik itu juga, aku di sadarkan langsung dengan perkataan putriku Marwah. Aku bahkan tidak bisa menahan air mataku, melihat kedua anakku yang masih kecil. Mereka harus kehilangan sosok Abi dalam hidup mereka. Mereka harus menahan rindu yang dalam pada Abi nya yang telah tiada. Aku langsung menghambur dan memeluk Marwah serta Yusril. Aku menangis sesenggukan.
"Meskipun kalian berdua tidak memiliki seorang Abi. Tapi kalian berdua masih memiliki Umi. Umi yang akan merangkap menjadi Abi untuk kalian anak-anak ku. Hiks... hiks... ".