Madu

Madu
Episode 46


__ADS_3

"Bibi, tolong buatkan jamuan untuk tamu Aisyah dan mas Fatih ya Bi. nanti sekitar jam 9 nan ada tamu Aisyah dan mas Fatih akan datang kerumah,".


"Baik non, nanti Bi Dar siapkan semuanya,".


"Mas, kamu sudah siap-siap?,". Tanyaku kepada mas Fatih yang masih duduk di ranjang tempat tidur kami.


"Sudah dik,".


"Syukurlah,". Jawabku datar.


"Aisyah....,". Mas Fatih memanggilku ketika aku akan beranjak pergi keluar dari kamar.


"Iya mas?,".


"Dik, kita batalkan semuanya yah. Mas tidak ingin menikah lagi dik. Mas mohon ke kamu. Jangan ya sayang. Kita harus bahagia seperti dulu yah,". Aku mencoba melunakkan hati Aisyah, tapi nyatanya aku malah di tinggal begitu saja tanpa mendapatkan respon apapun.


Dari Ibu Mertua:


"Bagus Aisyah, tepat jam 9 Siska akan sampai di rumah kalian. Kamu harus secepatnya menentukan tanggal lamaran dan pernikahan untuk Fatih dan adik madu mu, Bunda tunggu penentuan tanggalnya,". Pesan Bunda padaku.


Aku menahan air mataku agar tak jatuh. Bunda benar-benar sangat kejam. Baru kali ini aku menemui perempuan sekejam Bunda. Apa yang akan mas Fatih pikirkan lagi tentang ku?, setelah aku memaksa nya untuk menikah lagi?, apalagi calonya adalah Siska, perempuan yang sangat jauh dari kriteria mas Fatih, meskipun yang memilih Siska adalah Bunda bukan aku, tapi dihadapan mas Fatih akulah yang seolah-olah memilihkan Siska untuk menjadi istri mudanya. Dan sekarang apa?, belum juga aku dan mas Fatih bertemu dengan Siska, Bunda sudah memintaku untuk segera menentukan tanggal lamaran dan pernikahan suamiku dengan perempuan itu. Aku benar-benar sangat down dan terpuruk. Aku sudah banyak berdosa kepada mas Fatih. Maafkan Aisyah mas, ucapku dalam hati.


"Non..., tamunya sudah datang,". Bi Inah tergopoh-gopoh memberikan kabar padaku yang duduk di teras belakang rumah, tempat favoritku.


"Iya Bi makasih,". Jawabku seadanya.

__ADS_1


"Maaf non, tapi kok baru kali ini ada teman non Aisyah dan mas Fatih dengan pakaian yang sangat tidak sopan ya non?, maafkan Bi Ijah jika bibi lancang,".


"Dia bukan teman Aisyah Bi, tapi dia calon istri muda mas Fatih,". Aku meninggalkan Bi Ijah yang shock dan kaget mendengar perkataanku barusan.


Aku berjalan meninggalkan dapur dan menuju ke kamar untuk memanggil mas Fatih. Tapi ternyata mas Fatih sudah keluar sebelum aku mengetuk pintu kamar.


"Sudah siap?,".


"Udah dik,".


Aku dan mas Fatih berjalan beriringan menuju ruang tamu. Disana Siska sudah duduk dengan kaki yang di tumpangan layaknya para model. Hari ini dia mengenakan dress yang sangat mini dan ketat. Aku merasakan mas Fatih memandangiku dengan tatapan bingung dan marah. Aku berusaha mengabaikan nya dan menggandeng suamiku untuk duduk disampingku.


"Maaf ya Siska, jika menunggu kami terlalu lama,". Ucapku padanya.


"Ga papa santai saja,". Jawab Siska yang sedari tadi memandangi mas Fatih dengan tatapan yang tajam.


Belum sempat aku memperkenalkan dirinya, tiba-tiba Siska langsung menjabat tangan mas Fatih dan memperkenalkan diri sendiri dengan sangat pede.


"Saya siksa mas, calon istri muda mas fatih, semoga Siska bisa jadi istri yang baik yah buat kamu mas,". Ucap siksa sambil tersenyum sangat memuakkan.


Aku melihat ekspresi wajah mas Fatih yang sangat tidak suka pada siksa, dan berkali-kali menoleh ke arahku. Dan lagi-lagi aku berpura-pura untuk tidak melihatnya. Sejujurnya hatiku sangat hancur, benar-benar sangat menyakitkan.


"Jadi karena suamiku dan kamu sudah bertemu, kita sekarang tentukan saja sekalian tanggal lamaran dan pernikahan nya,". Aku shock mendengar apa yang barusan istriku ucapkan. Aku benar-benar sangat marah. Maksud Aisyah apa, membicarakan masalah tanggal lamaran dan pernikahan?, sedang aku sendiri belum tentu mau menerima Siska. Mana mungkin aku menikah dengan Siska, dia sama sekali jauh dari kriteriaku. Aku semakin benci dengan Aisyah. Dia begitu kejam padaku.


"Oh iya bagus, lebih cepat lebih baik, ya kan kakak maduku?,". Rasanya hatiku hancur mendengar kata kakak madu. Perih sekali.

__ADS_1


"Iyah benar,".


"Bagaimana kalau acara nikah nya di adakan satu Minggu lagi, dan anggap saja hari ini adalah hari lamaranku dengan mas Fatih,". Aku muak mendengar ucapan perempuan ini, apa-apaan Aisyah memilihkan perempuan seperti ini untuk menjadi istri mudaku.


"Boleh tidak apa-apa. Lagi pula suamiku ga akan menolak nya,". Kali ini aku memaksa kan diri untuk melihatnya. Matanya sangat merah, tangannya mengepal seperti nya mas Fatih benar-benar marah besar kepadaku. Maafkan Aisyah mas, batinku.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, nanti aku akan kabarkan berita bahagia ini dengan orang-orang terdekatku, bye calon suami dan kakak maduku,". Ucap Siska seraya berlalu dari aku dan mas Fatih.


Aku melihat mas Fatih tiba-tiba pergi membawa mobil tanpa bertanya apapun kepadaku. Aku sendiri tidak tahu, akan kemana suamiku. Aku terjatuh, hatiku sakit sekali, rumah tanggaku yang berusaha aku jaga rusak begitu saja karena keserakahan Bunda mertuaku sendiri. Aku menangis sesenggukan.


"Ssttt... liat, kasian sekali non Aisyah ini. Pasti hatinya sangat hancur ya Nah,".


"Iya Dar, mana ada perempuan yang mau di madu?,".


"Iya lah, aku aja ga mau di madu Dar. Kasian juga non Aisyah. Beberapa hari ini tidak pernah makan, jika makan pun hanya sedikit sekali, pantas saja kemarin-kemarin sampai jatuh pingsan di kamar mandi,".


"Nah benar sekali apa kata Ijah. Aku jadi kangen saat lihat den Fatih dan non Aisyah baik-baik saja. Memang cobaan hidup itu sangat luar biasa ya Nah, Dar,".


"Hemm... benar Jah,".


Aku berlalu menuju kamar. Aku membanting tubuhku dikasur. Aku membekap mulutku rapat, dan aku menjerit, aku meronta, aku menangis sekencang-kencangnya.


"Ya Allah, semua ini sangat menyakitkan untuk Aisyah....!!!, Aisyah hancur ya Allah, Aisyah hancur....!!!, Aisyah tidak kuat ya Allah. Sakit sekali.... hiks .... hiks.. hiks...,". Aku berteriak di tengah tangisku yang semakin kencang.


Sebentar lagi aku harus membagi mas Fatih dengan perempuan lain. Perempuan yang sangat berbanding terbalik denganku. Apa yang mas Fatih pikirkan tentang Aisyah mas?, aku masih menangis. Malang sekali nasibku ini. Aku tidak ada pilihan lain selain mau di madu, sunggu ini teramat sangat menyakitkan. Aku tidak ingin kehilanganmu mas Fatih, Aisyah tidak ingin jadi janda. Aisyah juga tidak mampu membantah perintah Bunda mertuaku.

__ADS_1


"Mas Fatih....!!!!, Aisyah sangat mencintaimu mas. Aisyah tidak rela membagi mu dengan wanita manapun mas. Mas... !!!!, Aisyah telah di hancurkan hidup nya dan hatinya oleh perempuan yang telah melahirkan mu mas!!!!,". Aku berteriak dan terus menjerit. Benar-benar seperti sudah mati rasanya.


__ADS_2