Madu

Madu
Madu Ep.38 (SEASON 2)


__ADS_3

Jika ada sebuah batu yang kokoh, kemudian di hancurkan begitu saja hingga terpecah belah dan jatuh berantakan. Begitulah kondisi hatiku. Siapa yang tidak hancur hatinya, laki-laki mana yang tidak sakit hatinya. Melihat bidadari nya bertemu dengan laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu adalah seseorang yang pernah memiliki bidadari itu di masa lalu. Cemburu?, bahkan lebih dari cemburu. Sudah sewajarnya aku cemburu melihat apa yang terpampang nyata di depan mataku. Disaat aku tidak ada di rumah, istriku menerima tamu laki-laki. Terlebih laki-laki itu adalah mantan suaminya dulu. Makhluk yang pernah sangat dicintainya dulu. Aku takut, Aisyah akan terjebak dengan cinta yang lama. Sudah susah payah, aku bersabar meskipun tersakiti. Menunggu sekian lamanya, agar Aisyah bisa mencintai ku dengan tulus sebagai suaminya. Bagaimana tidak?, di saat acara akad ku. Laki-laki yang sekarang berada di ruang tamu rumahku, datang bersama ibu nya dan membuat suasana acara akad ku dengan Aisyah menjadi sangat menyedihkan. Bahkan setelah itu, Aisyah sering menangis dan melamun. Disaat banyak pengantin baru sedang bahagia-bahagia nya dan menyiapkan acara bulan madu. Tapi itu tidak berlaku pada diriku, aku jatuh bangun menguatkan hatiku yang sebenarnya juga rapuh, aku sedikit demi sedikit berusaha membuat cinta nya Aisyah hanya untukku. Dan sungguh, itu tidaklah mudah. Aku menahan sakit hatiku seorang diri, menahan amarahku sendiri, hingga rasanya saat itu aku ingin sekali menyerah. Mataku rasanya panas, air mata dari dalam mataku memaksa untuk keluar. Kelopak mataku sebisa mungkin menahan mereka agar tidak jatuh. Aku tidak ingin menangis didepan mantan suami Aisyah. Aku harus terlihat tegar dan biasa saja karena kehadiran nya. Meksipun sejujurnya perasaan diriku sudah berantakan tak terelakkan. Hatiku seperti tertusuk pisau yang sangat tajam, menancap hebat hingga ke dasar hati. Kenapa takdir sering kali mempermainkan diriku, dan juga berulang kali menguji kesabaran ku?. Tidak boleh kah aku bahagia dengan apa yang aku punya sekarang?. Menikmati hasil perih usahaku sendiri?. Kenapa lagi-lagi ujian datang, dan kali ini lewat mantan suami istriku sendiri?.


"Mas Fahmi? ".


Aku tidak menjawab pertanyaan istriku. Aku. berbalik badan untuk menyeka air mataku yang tak mampu lagi di bendung oleh kedua kelopak mataku.


" Mas sudah pulang?. Ibu mana?. Kok Ibu tidak ikut pulang? ".


Aisyah menanyakan keberadaan Ibu padaku, sembari mencium punggung tanganku. Istriku mengambil seluruh belanjaan yang ada di tanganku, namun aku tahan.


" Tidak usah, biar Mas saja yang bawa ke dalam".


Ucapku sembari berjalan ke dalam rumah membawa oleh-oleh yang tadi sudah aku beli dengan Ibu di pasar. Sejujurnya aku tidak tega, melakukan hal seperti itu pada Aisyah. Apalagi nada bicara ku pada nya sangat lah ketus. Aku tidak bisa berbohong, aku kecewa pada Aisyah. Kenapa dia menerima tamu laki-laki tanpa memberi tahu ku. Biasanya dia akan izin kepadaku ketika ada tamu laki-laki, atau bahkan tidak mau membuka pintu sama sekali jika yang datang adalah tamu laki-laki dan tidak ada diriku di rumah seperti hari ini. Tapi kenapa kali ini dia melakukan nya?. Apa karena yang datang adalah mantan suami nya dulu?. Seseorang yang pernah di cintai nya di masa lalu?. Makanya dia berani membukakan pintu rumah. Entah sejak kapan laki-laki itu bertamu di rumahku. Dan ternyata, semua dugaan ku benar. Fatih yang disebutkan oleh anak kecil bermana Ilham itu adalah Fatih yang sama dengan masa lalu istriku. Aku tidak pernah menyangka, dugaan ku kala itu menjadi kenyataan. Berarti selama ini, Wawa putri kandung ku, di anjar jemput oleh laki-laki mantan suami Umi nya dulu, selama aku menjaga Aisyah di rumah sakit. Menyedihkan sekali jalan hidupku.


"Mas Fahmi? ".


Aisyah menghampiri diriku yang masih berdiri mematung menghadap jendela ruang belakang.


" Mas Fahmi?, Abi sayang. Mas? ".


Aku diam tidak menjawab apapun. Aku sedang tidak ingin bicara dengan Aisyah sekarang. Aku tidak mau rasa sakit hatiku dan amarahku tidak terkontrol dan akan melukai bidadari ku. Aku tidak menghiraukan Aisyah, dan berjalan dengan menguatkan hati. Aku berjalan menuju ruang tamu depan. Biar bagaimanapun, Fatih adalah tamu di rumahku. Suka atau tidak suka. Aku harus tetap memuliakan tamu. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda bahwa "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Meski sakit hatiku, meski kecewa diriku, aku harus tetap sopan terhadap mantan suami istriku yang hari ini datang bertamu.


" Ayah nya Ilham. Ini Abi nya Wawa yang ganteng".


Wawa putriku dengan senang dan bersemangat mengenalkan diriku pada Ayah temannya, yang tidak lain adalah mantan suami Umi nya sendiri.


"Assalamu'alaikum, sudah lama menunggu yah?. Saya Fahmi, Abi nya nak Wawa".


Aku mengucapkan salam dan memaksakan senyum di depan Fatih. Tidak lupa menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.


"Wa'alaikumussalam, Saya Fatih. Ayah nya Ilham. Oh, tidak apa-apa Pak. Sebetulnya tadi juga sudah mau pamit pulang. Tapi nak Ilham menolak".


Nada bicara Fatih terlihat sangat gugup ketika berhadapan denganku. Apa dia gerogi, atau merasa kalah. Karena akulah yang sekarang memiliki Aisyah, wanita yang pernah menjadi bidadari nya dulu. Entahlah, aku laki-laki. Aku tidak boleh menunjukkan ketidaksukaan diriku karena kehadiran dirinya.

__ADS_1


"Gimana, tadi sudah berkenalan dengan istri saya? ".


" Oh... Eh, I-iya sudah Pak Fahmi". Fatih terkejut ketika aku bertanya demikian padanya.


"Sudah kenalan Abi. Malah Ayah nya Ilham tau nama panjang Umi loh".


Putriku Wawa menyeletuk di tengah pembicaraan ku dengan Fatih.


Oh, ternyata laki-laki ini masih sangat hafal nama panjang mantan istirnya yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. Untuk apa dia menyebutkan nama Aisyah selengkap itu didepan istriku. Mungkinkah, Fatih masih memiliki perasaan untuk Aisyah?. Tapi bukankah dia sudah memiliki istri dan seorang anak yaitu nak Ilham?. Ternyata Aisyah sudah mengetahui semua ini. Aisyah sudah tahu, bahwa nak Ilham adalah anak dari Fatih mantan suaminya. Dari mana dia tahu kalau Ilham adalah anak dari mantan suami nya?. Sejak kapan mereka berdua berhubungan kembali?. Dan, bukannya Fatih harusnya tinggal di Jakarta. Kenapa tiba-tiba dia menetap di Yogyakarta. Kota yang sama seperti Aisyah. Apa maksud dari semua ini?. Adakah hubungan spesial antara Aisyah dan Fatih di belakang ku?. Kenapa semua ini rasanya begitu sangat-sangat menyakitkan hatiku. Rasanya di dadaku terbakar hebat. Menyesakkan sekali, bahkan hampir rasanya tidak bisa bernapas lega. Semuanya yang terjadi, kenapa seperti sudah terencana?. Aisyah yang memaksa putrinya Wawa untuk masuk di sekolah yang sama dengan Ilham. Padahal dia tahu, kalau Ilham adalah anak dari mantan kekasih nya dulu. Apa ini cara istriku agar tetap bisa dekat dengan Fatih mantan suaminya?. Dengan cara menjadikan putri nya Wawa satu sekolah dengan anak mantan suaminya, agar mereka bisa berteman dekat dan Aisyah bisa dengan mudah bertemu dengan Fatih?.


Ya Allah, kenapa rasanya hamba ingin berhenti bernapas saja. Bukan maksud diriku berpikir buruk tentang istriku sendiri. Tapi semua kejadian nya saling berhubungan satu sama lain. Atau mungkinkah ini bukan kali pertama Fatih berkunjung kerumah?. Lalu, untuk apa Aisyah memaksa Wawa untuk pindah sekolah?. Atau ini dilakukan agar tidak membuat diriku curiga?. Entahlah, aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Semuanya sangat membuat batinku tersiksa hebat.


"Abi nya Wawa, Umi nya Wawa sangat cantik. Iya kan Ayah? ". Ucap Ilham polos pada ku, sembari meminta pernyataan dari Ayah nya.


"Hustt.. tidak sopan berkata begitu Ilham. Lagi pula Umi nya Wawa kan pakai cadar nak".


"Kan tadi Ayah lihat Umi nya Wawa saat belum pakai cadar". Ucap Ilham lagi pada Ayah nya.


"Iyah, makanya Wawa juga cantik. Karena ngikut Umi nya".


Jawabku untuk mencairkan suasana. Dua bocah lugu ini, tidak boleh tersakiti karena permasalahan orang dewasa. Mereka tidak tahu apa-apa, yang mereka tahu hanya mengenalkan orang tua pada keluarga teman baik nya.


" Abi, Umi kemana?. Kok ngga kesini lagi? ".


Marwah bertanya padaku. Karena memang sedari tadi, Aisyah tidak muncul ke ruang tamu lagi.


" Umi?, oh mungkin sedang membereskan belanjaan yang tadi Abi bawa nak".


"Abi?. Kalo nenek kemana?. Kan tadi Abi berangkat bareng bersama nenek. Kok pulang nya jadi sendirian? ".


" Kalau nenek, tadi minta main kerumah nya Oma Resti nak. Nanti pakde Johan yang antar nenek pulang kerumah".


"Ohh". Jawab putriku Wawa manggut-manggut.

__ADS_1


Untung saja, Ibu sedang ingin main ke rumah Bude. Jadi ibu tidak ikut sakit hati, melihat laki-laki mantan suami menantu kesayangan nya tiba-tiba datang kerumah di saat tidak ada aku dan Ibu di rumah. Pastilah, Ibu juga akan merasakan sakit seperti yang aku rasakan sekarang. Setidaknya Aisyah tidak terlihat jelek di mata Ibuku. Aku tidak ingin, keharmonisan antara istriku dengan ibu kandung ku harus hancur karena kehadiran Fatih di tengah-tengah kebahagiaan keluargaku. Biarlah, cukup hatiku saja yang akan ku korbankan untuk kesekian kalinya. Mungkin juga, Aisyah melakukan ini semua, karena aku belum bisa menjadi suami seperti yang di inginkan nya. Atau bahkan Fahmi tidak lah sebaik Fatih. Allah lah yang menjadi saksi nya, bahwa aku selalu berusaha menjadi suami yang terbaik untuk wanita yang paling aku cintai setelah Ibu. Wanita yang aku harapkan akan membalas cintaku sama besar nya seperti cinta yang aku berikan padanya. Wanita yang sangat ingin aku bahagiakan setelah Ibuku. Wanita yang sangat ingin aku ajak berkumpul kembali di Jannah Nya.


"Loh, ini kok belum ada minuman? ".


" Oh tidak usah Pak. Ini kami akan pulang kok".


Jawab Fatih gugup.


"Tadi Wawa sudah bilang ke Umi. Tapi Ayah nya Ilham malah mau pulang. Jadilah Umi tidak jadi bikin air minum nya Abi". Ucap Wawa padaku.


" Iyah, sebenarnya tadi hanya mau mengantar Ilham untuk bertemu dengan Wawa. Katanya Wawa belum menceritakan dimana dia pindah sekolah".


Mantan suami istriku menjelaskan maksud kedatangan nya di rumahku. Entahlah, mungkin itu hanyalah basa-basi saja. Untuk mencairkan suasana agar tidak tegang di depan kedua anak kecil ini.


"Yah, seperti ini lah keluarga kami pak Fatih. Keluarga yang sederhana saja. Di rumah ini hanya ada kami berempat saja.


" Oh, iya Pak Fahmi".


Sepertinya Fatih makin gugup ketika berbicara denganku. Atau sebenarnya dia memang berkunjung tidak untuk bertemu denganku, tapi dengan istriku Aisyah?. Mungkin akan sedikit berbeda cerita, jika dia juga membawa istrinya main ke rumah ku. Tidak seperti ini, dan setidaknya dia seharusnya membuat janji dulu, atau seenggaknya mengabari diriku. Bukankah dia sudah memiliki nomor ponselku. Kenapa dia langsung asal main saja ke rumah?. Dan kemana istrinya?, kenapa tidak ikut datang berkunjung?.


"Ma-maaf pak Fahmi, seperti nya kami akan langsung pamit pulang saja. Kebetulan masih ada acara dirumah".


" Oh, iya silahkan Pak Fatih. Tidak mau bertemu dahulu dengan Istri saya?. Untuk berpamitan? ".


Aku mencoba menawarkan padanya untuk berpamitan pada Aisyah.


" Hah?, Maaf. Ehh.. tidak perlu Pak Fahmi. Maaf menggangu waktunya. Assalamu'alaikum ".


" Waalaikumsalam ".


Fatih terlihat sangat kikuk, ketika aku tawari untuk berpamitan dengan mantan istrinya. Gerak-gerik nya menunjukkan seperti dia masih memiliki rasa pada istriku. Aku seorang laki-laki, aku paham betul bagaimana laki-laki jika masih mencintai seorang wanita. Dan aku melihat semua itu dari Fatih. Mungkinkah Fatih dan istriku Aisyah, masih sama-sama memiliki perasaan yang tertinggal meskipun mereka berdua sudah memiliki pasangan masing-masing. Aku dan Wawa mengantarkan mereka ke depan rumah, hingga mobil nya tak lagi terlihat didepan halaman rumah ku. Entahlah, harus bagaimana aku bersikap pada Aisyah. Rasanya aku masih sangat kecewa dan sakit hati sekali. Sejujurnya, aku sangat takut sekali kehilangan Aisyah dalam hidupku. Aku menerima dia apa adanya, bahkan meskipun dia seorang janda dan aku seorang bujangan saat menikah dulu. Tidak pernah sekalipun, diriku menghina status nya dulu. Atau bahkan, selama aku berumah tangga dengannya, aku tidak pernah bertanya tentang masa lalu nya dengan mantan suaminya dulu. Aku lebih memilih fokus dengan kehidupan ku dan Aisyah sekarang.


Aku menutup pintu depan rumahku, dan duduk di kursi ruang tamu tadi. Memikirkan segala pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban. Salah kah diriku jika aku cemburu?. Rasa cemburu atau al-Ghirah merupakan fitrah manusia yang bisa datang kapan saja. Dalam sebuah rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan bisa dikatakan wajar bukan?. Bukankah rasa cemburu akan muncul karena adanya rasa cinta. Semakin kuat rasa cinta seorang suami kepada istrinya maka semakin kuat pula rasa cemburu dalam hatinya. Sangat berat rasanya menahan gejolak rasa sakit di hati ini. Aku manusia biasa, aku juga punya perasaan. Haruskah perasaan yang aku punya berkali-kali di korbankan. Ya Allah, tidak layak kah aku untuk hidup bahagia?.

__ADS_1


__ADS_2