
"Sayang, maaf kan mas. Karena kemarin mas Fahmi sudah marah dan salah paham sama kamu. Tapi sungguh, mas sangat cemburu melihat Fatih mantan suami kamu dulu, tiba-tiba ada di rumah kita. Terlebih dia bahkan bisa melihat wajah cantik bidadari mas".
" Hmmm.. Aisyah tau kok. Kalau Mas cemburu. Aisyah hanya takut mas salah paham yang berlebihan dan tidak mau percaya sama Aisyah. Cemburu boleh, tapi kan tidak boleh cemburu buta Mas".
"Iya sayang, kalau saja Wawa tidak menceritakan nya pada Mas. Mungkin Mas masih kesal dan ngambek sama kamu. Jujur, Mas tidak ingin kehilangan kamu Aisyah. Kamu harta berharga setelah Ibu dalam hidup Mas".
" Mas tidak akan kehilangan Aisyah. Aisyah akan selalu menjadi milik Mas Fahmi. Aisyah tidak akan mungkin mengkhianati Mas".
"Aamiin, Aisyah boleh kok cinta sama laki-laki lain. Tapi kalau Mas sudah meninggal yah. Biar Mas tidak merasakan sakit hati. Bahkan Aisyah boleh menikah lagi dengan Fatih mantan suami Aisyah dulu. Tapi kalau Mas Fahmi sudah tidak ada di dunia".
" Astaghfirullah, Mas Fahmi ngomong apa sih?!. Aisyah nggak suka Mas ngomong kaya gitu. Mas harus selalu ada buat Aisyah, Wawa, dan Ibu. Lagi pula, kalau Allah akan memanggil salah satu dari kita, pastilah Aisyah dulu yang akan di panggil. Kan Aisyah yang kemarin terkena penyakit ganas. Dan Kanker itu bisa saja balik ke tubuh Aisyah lagi kan? ".
" Tidak sayang, kematian itu tidak memandang sehat atau sakit, tua atau muda, apalagi miskin atau kaya. Kematian itu sangat misterius Aisyah. Orang yang sehat hari ini, bisa saja satu detik kemudian meninggal. Tidak ada yang bisa menjamin kapan dan apa penyebab kematian, atau siapa yang akan lebih dahulu Allah panggil. Karena kematian mutlak hanya Allah yang tahu".
"Iya sih Mas. Kalaupun nanti salah satu dari kita ada yang Allah panggil lebih dulu, tolong jaga amanah Allah ya mas. Yaitu Marwah".
" Pastinya. Hmmm.. kita berdoa saja. Agar Allah memberikan umur yang panjang dan berkah untuk kita. Aamiin ".
" Aamiin".
Alhamdulillah, akhirnya Mas Fahmi tidak salah paham lagi karena kejadian itu. Rasanya aku hampir putus asa, saat Mas Fahmi mendiamkan dan cuek padaku. Untung saja, putriku Marwah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Jika tidak, aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada rumah tangga ku dan Mas Fahmi. Aku tidak akan mungkin berpindah hati pada laki-laki. Sekalipun laki-laki itu pernah sangat aku cintai dulu.
Masih ada satu yang mengganjal hati dan pikiranku. Apa lagi jika bukan kedatangan Bunda Layla padaku. Bunda datang sembari marah-marah padaku. Mengatakan semua Perkataan yang menyakitkan bagiku. Menuduh diriku melakukan perbuatan jahat, yang aku sendiri tidak pernah terpikirkan walau sekejap. Kenapa Bunda jadi malah menyalahkan diriku atas semua kejadian yang menerima putranya?. Diriku bahkan tidak tahu apa-apa tentang kehidupan mantan suamiku. Apa yang terjadi pada Mas Fatih, Bunda menjadikan aku tersangka nya. Lagi pula, siapa yang akan menggoda dan mendekati putra nya?. Kejadian kemarin pun aku tidak menyangka akan terjadi. Aku tidak pernah tahu, kalau Mas Fatih akan datang ke rumah. Semuanya terjadi begitu saja dan sangat cepat. Bahkan aku berusaha memindahkan sekolah putriku untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan Mas Fatih.
"Sayang?. Kenapa melamun. Apa ada perkataan Mas yang menyakiti kamu?. Atau adakah sesuatu hal yang sedang kamu pikirkan?. Jika ada berbagilah pada Mas".
Haruskah aku menceritakan kejadian datang nya Ibunda dari mantan suamiku ke rumah?. Apa mas Fahmi tidak akan salah paham lagi jika aku menceritakan kedatangan Bunda Mas Fatih ke rumah?. Aku takut, Mas Fahmi tidak percaya dan salah paham lagi. Baiti jannati, aku ingin rumahku menjadi surga. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kesalahpahaman, yang ada hanyalah cinta dan kasih sayang. Jika suami istri terus bertikai. Bagaimana rumahku surgaku bisa terbangun?. Yang ada adalah rumah tangga seperti dalam neraka. Penuh kesedihan dan penderitaan. Tapi jika aku tidak berbagi dengan Mas Fahmi, dengan siapa aku harus berbagi segala duka lara yang aku rasa. Aku membutuhkan nasihat dan jalan keluar.
"Mas? ".
"Iya sayang. Ada apa? ".
" Pindah rumah yuk".
"Hah?!. Pindah kemana Aisyah?. Dan kenapa harus pindah rumah? ".
" Aisyah tidak mau kejadian kemarin akan terulang dan semakin buruk mas. Aisyah hanya ingin hidup tenang. Bahagia bersama suami, anak, dan ibu mertua Aisyah. Aisyah tidak mau ada perpecahan lagi di antara kita".
"Sayang, tidak perlu sampai pindah rumah. Kasian sama Wawa. Dia bahkan sudah pindah sekolah. Kalau harus pindah rumah juga. Wawa akan butuh adaptasi lagi Aisyah. Kasian Marwah".
" Iya mas Aisyah tahu. Tapi ini demi keluarga kita Mas. Aisyah tidak mau ada masalah seperti kemarin lagi dengan Mas Fahmi. Bertahun-tahun Aisyah menikah dan menjadi istri Mas Fahmi, baru kemarin kita bertengkar yang lumayan lama Mas. Aisyah tidak mau terjadi lagi Mas ".
" Aisyah, Mas Fahmi yang salah. Mas yang terlalu cemburu berlebihan. Jadi kamu tidak perlu khawatir ya sayang. InsyaAllah, Allah juga akan menjaga rumah tangga kita kok".
"Tapi Mas.. ".
" Sudah, percaya ya sayang. Semuanya akan baik-baik saja tanpa harus pindah rumah".
Ah, bagaimana lagi caranya membujuk Mas Fahmi agar mau pindah rumah, jika perlu pindah kota sekalian. Aku tidak mau di teror terus menerus oleh Mas Fatih dan Bunda Layla. Mereka tidak lebih dari masa lalu ku. Belum apa-apa saja, Bunda Mas Fatih sudah menghina dan menjadikan aku kambing hitam atas segala masalah anak nya sendiri.
"Mas? ".
" Iya? ".
" Aisyah ingin menceritakan sesuatu ".
" Apa itu?".
"Tapi Mas Fahmi janji ya, jangan salah paham lagi. Aisyah ga mau suami Aisyah salah paham lagi".
" Engga kok sayang".
"Mas, sebenarnya. Kemarin Bunda Layla mantan mertua Aisyah datang menemui Aisyah Mas kerumah. Dia marah-marah pada Aisyah. Dan menuduh Aisyah yang tidak-tidak. Aisyah tidak mengerti, kenapa aisyah yang disalahkan atas semua yang terjadi pada putranya. Aisyah dituduh menggoda putranya Mas. Rasanya sangat menyakitkan sekali. Bahkan Bunda Layla mengancam Aisyah, kalau dia tidak akan tinggal diam jika putra satu-satunya terjadi sesuatu. Bunda Layla tidak main tahu Mas. Dia begitu dendam pada Aisyah, terutama karena Aisyah tidak mau membantu dan datang ke Jakarta saat putranya sedang sakit. Aisyah tidak mau dituduh atas hal yang tidak Aisyah lakukan Mas. Aisyah ingin pindah rumah saja. Jika perlu kita pindah kota saja Mas Fahmi. Hikks... hikkks... ".
Mas Fahmi memeluk tubuhku. Aku sudah tidak kuasa menahan tangis. Aku memutuskan untuk menceritakan kejadian kemarin lusa. Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku dengan kebahagiaan bersama orang-orang yang kucintai dan mencintai diriku. Entah kenapa, takdir selalu memberikan ujian pada diriku. Dosa apa yang sebenarnya aku lakukan?. Tidak cukup kah kehancuran rumah tangga ku dengan Mas Fatih dulu?. Aku menerima hancurnya hati juga fisik ku karena harus berbagi suami dan menerima perlakuan yang tidak semestinya. Kenapa, takdir lagi-lagi menyeret orang-orang yang ada di masa lalu ku, kembali masuk dalam kehidupanku yang sekarang?.
__ADS_1
"Mas mengerti apa yang kamu rasakan. Tuhan tidak pernah tidur istriku. Allah tahu segala yang kita lakukan. Jangan bersedih, Mas percaya dengan kamu. Kemarahan tak beralasan dari ibu mantan suami kamu, hanya karena perasaan kasih sayang pada anak nya. Meskipun diekspresikan dengan cara yang salah, dan menyalahkan orang lain yaitu kamu. Bersabarlah dengan kesabaran yang luas ya sayang".
" Tapi kenapa Mas?, mereka harus kembali datang di tengah-tengah kehidupan kita yang sekarang?. Hikks.. hikks... ".
" Sebenarnya pertanyaan itu juga yang Mas belum mendapatkan jawaban Aisyah. Mas juga sangat takut kehilangan kamu, karena hadirnya masa lalu kamu di tengah-tengah kehidupan rumah tangga kita. Tapi apalah daya Aisyah, kita hanya seorang makhluk bernama manusia. Suka atau tidak, apa yang Allah gariskan dalam perjalanan hidup kita adalah sudah menjadi ketentuan dari Nya. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima dan menjalani ujian dan tantangan yang datang dari Allah. Jadi, bukan hanya kamu yang sebenarnya kecewa. Mas juga sayang, dan mungkin juga orang-orang disekitar kita".
"Jadi?, apa yang harus Aisyah lakukan Mas? ".
" Tidak ada yang harus kamu lakukan sayang. Karena kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Kamu hanya perlu banyak-banyak berdoa dan memohon ampunan sama Allah. Tenanglah bidadari ku sayang. Akan ada pelangi setelah hujan, meskipun terkadang datang nya sangat lama. Begitu pula dengan ujian yang kita jalani sekarang, pasti Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita, jika berhasil sabar dan ikhlas".
"Makasih Mas Fahmi, karena selalu percaya dan mencintai Aisyah apa adanya. Makasih telah mau menerima seorang janda seperti Aisyah".
Aku memeluk erat tubuh laki-laki yang kini ada di depanku. Laki-laki yang bahkan selama bertahun-tahun ini tidak pernah berkata kasar sekalipun dalam amarah nya. Laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan super sabar. Rasanya selalu bersyukur memiliki Mas Fahmi dalam hidupku. Bertahun-tahun menikah, Mas Fahmi tidak pernah menyinggung perasaan ku dengan menyebut kata janda atau lain sebagai nya sekalipun dia sedang dalam amarah.
"Sstttt... bagi Mas Fahmi, meskipun kamu sudah memiliki Marwah. Aisyah nya Mas Fahmi masih tampak seperti gadis 17tahun".
" Iiihh.. Mas Fahmi apaan. Jangan bikin Aisyah malu".
Aku refleks menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Entah kenapa, saat Mas Fahmi menggoda ku seperti ini. Aku langsung menciut karena malu. Padahal, sudah lebih dari lima tahun berumah tangga dengannya. Rasanya masih sangat berbunga-bunga saja ketika suamiku sendiri menggodaku dengan kata-kata manis.
"Mas Fahmi? ".
" Iya sayang? ".
" Tutup mata dong ".
" Kenapa harus tutup mata Aisyah?".
"Ayok Mas, tutup mata nya".
Aku mengangkat kedua tangan Mas Fahmi agar mau menutup kedua matanya.
" Iya-iya. Ini Mas tutup kok matanya".
"Tunggu sebentar yah".
" Aisyah?. Sudah belum?. Kok lama amat? ".
" Iya sabar Mas. Ini Aisyah sudah selesai kok. Nanti hitungan ketiga buka mata yah? ".
" Hmm.. iya. Ayok cepat hitung dong. Mas sudah penasaran ".
" Satuuu... satu... satu... satu... ".
Aku meledek Mas Fahmi. Rasanya sangat bahagia sekali melihat wajah Mas Fahmi cemberut, gemas sekali.
"Sayang, kok dari tadi satu terus sih. Mas buka mata yah. Kamu malah meledek, sudah tahu Mas sangat penasaran".
" Jangan dong Mas. Oke-oke, Aisyah hitung ulang yah. Satu.. dua.. ti.. tigaaaa.... ".
Aku melihat Mas Fahmi membuka matanya. Dan langsung mengambil hadiah yang ada di tanganku. Nampaknya suamiku sangat tidak sabar ingin melihat isi kotak kado yang aku berikan tadi.
" Wahhh.. tumben nih. Isinya apaan sayang?. Kecil amat kado nya. Ringan lagi".
"Emang kenapa kalau kado nya kecil dan ringan?. Mas nggak suka ya?".
" Loh, engga dong. Bukan begitu maksudnya Mas. Kan Mas hanya tanya saja. Aduhh... istri Mas baperan nih. Hahaha... ".
"Yeeee".
" Yaudah, sudah boleh Mas buka belum kado nya? ".
" Boleh dong Mas. Ayok buka, tapi baca Basmalah dulu yah".
"Oke Sayang. Bismillahirrahmanirrahim".
__ADS_1
Aku memperhatikan tangan Mas Fahmi yang asyik membuka kado dariku. Kadonya memang sengaja aku bungkus dengan sangat rapat, dan susah untuk di buka.
"Aisyah, ambilkan Mas gunting yah, tolong".
" Gunting?. Untuk apa Mas? ".
" Buat buka kado dari kamu. Susah amat dibuka nya. Kamu bungkus nya pakai lem apa sih. Mana tebal banget kertas nya ".
" Hehehe... ngga boleh pakai gunting buka nya. Mas pokoknya harus bisa buka kado itu dengan tangan kosong. Tenang, isi kado nya ngga mengecewakan kok. Mas tidak akan menyesal walaupun harus dengan susah payah buka kadonya. Hahaha... ".
Aku sebenarnya kasian, lihat Mas Fahmi kesusahan membuka kadonya. Tapi asyik juga sih, Mas Fahmi sangat semangat membuka semua lapisan kado nya.
" Kamu sedang ngerjain Mas yah? ".
Ucap Mas Fahmi yang masih asyik membuka kado nya.
" Engga kok, mana berani Aisyah ngerjain Mas. Aisyah hanya ingin lihat usaha Mas kok".
"Alhamdulillah, akhirnya ini kado kebuka juga. Tinggal lihat isinya nih".
Mas Fahmi tersenyum puas. Setelah susah payah membuka pembungkus kadonya, akhirnya berhasil juga.
" Tunggu sayang, baca basmalah lagi".
"Oke iya. Bismillahirrahmanirrahim".
Aku memperhatikan wajah Mas Fahmi yang kaget. Wajah nya sangat bahagia melihat isi kado dariku. Mas Fahmi langsung tersungkur sujud syukur dan menangis. Aku langsung ditarik dalam dekapannya. Tangisnya pecah dalam pelukan ku. Tangis bahagia dari laki-laki yang sangat aku cintai.
" Dua garis merah sayang?. Kamu hamil adiknya Wawa?. hikks.. hikss.. ".
Aku hanya menganggukkan kepalaku mantap. Mataku berkaca-kaca, rasanya bahagia sekali. Melihat suamiku menangis haru. Aku sendiri tidak menyangka, Allah memberikan kepercayaan padaku dan Mas Fahmi. Bahkan setelah aku terkena kanker ginjal. Aku kira, kesempatan diriku untuk bisa memiliki buah hati lagi sangat kecil. Karena biar bagaimana pun, pengaruh obat kanker di tubuhku memiliki efek samping yang besar termasuk pada kesuburan diriku.
"Ya Allah... terimakasih ya Rabb. Telah memberikan calon anak kedua hamba dalam rahim wanita cantik ini".
Ucap Mas Fahmi yang menyeka air matanya dan mengelus lembut perutku. Air mataku jatuh menetes. Rasanya sangat bahagia sekali.
" Ternyata benar Mas. Dibalik semua ujian yang Allah berikan. Allah beri juga kebahagiaan nya. Aisyah tidak menyangka Mas. Aisyah masih bisa hamil lagi setelah terkena kanker. Hikks... hikks.. ".
" Iya sayang. Mas sangat bahagia. Mas mencintai dirimu Aisyah".
Ucap Mas Fahmi sembari mencium kening ku lumayan lama.
"Cieee.. cieee.. Abi sama Umi".
Tiba-tiba suara Marwah mengagetkan diriku dan Mas Fahmi. Ternyata dia sudah pulang setelah diajak pergi dengan Oma nya. Baik Mas Fahmi maupun aku langsung gugup, kami tidak biasa bermesraan di depan anak sendiri.
"Kak Wawa, sini sayang".
Mas Fahmi memanggil Wawa dengan sebutan Kak.
" Abi kok manggil Wawa Kak? ".
Marwah putriku protes pada Abi nya. Karena memang ini pertama kali Abi nya memanggil dirinya dengan sebutan Kak.
" Iya, Kak Wawa. Karena sebentar lagi, Wawa akan menjadi seorang Kakak sayang". Ucap Mas Fahmi pada Wawa.
"Maksudnya?, Wawa akan punya adik Abi?".
"Iya sayang, Alhamdulillah. Allah kasih Wawa seorang adik dalam perut Umi". Mas Fahmi menyeka air matanya yang tak mampu terbendung.
" Alhamdulillah, yeaaayyy.... akhirnya Wawa akan punya adik juga".
Wawa terlihat sangat bahagia. Bahkan dia menciumi perutku berkali-kali. Rasanya menggemaskan sekali melihat tingkah polos nya. Bahkan Wawa langsung mengajak ngobrol calon adiknya didalam perut Umi nya.
"Ya Allah, Aisyah Mohon. Jangan renggut kebahagiaan seperti ini dari kami. Jadikan keluargaku keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Aamiin".
__ADS_1
Doaku dalam hati.