
Mobil yang kugunakan bersama suamiku berjalan menyusuri aspal kembali. Aku langsung menuju kerumah mantan suamiku. Ini harapan terakhir aku dan mas Fahmi. Jika ternyata mereka juga pindah rumah, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, selain pulang dan kembali ke Yogyakarta. Jalanan menuju rumah mas Fatih sangat macet. Bahkan lebih macet ketika menuju kerumah Bunda. Semakin siang, terik matahari semakin membara. Panas sekali rasanya, padahal aku sedang didalam mobil yang ber AC. Sepanjang perjalanan menuju kerumah mantan suamiku, antara aku dan mas Fahmi hanya diam saja. Tidak ada pembicaraan seperti sebelumnya. Aku juga tidak tahu, rasanya begitu kaku. Mungkin mas Fahmi sedang ingin fokus menyetir mobilnya.
"Mas?,". Panggilku, aku tidak tahan diam saja tanpa pembicaraan begini dengannya.
"Iya dik?,".
"Mas kok jadi diam saja?, ada apa mas?,". Aku akhirnya menanyakan yang membuat resah hatiku.
"Oh, ngga kok dik. Mas hanya sedang memikirkan sesuatu. Tapi tidak menjadi masalah kok. Tenang saja,".
"Beneran?,". Aku kembali meyakinkan.
"Iya sayang. Masih jauh tidak rumah Fatih?,".
"Sebentar lagi kok mas. Nanti Aisyah kaidah tahu, kalau sudah dekat yah,".
"Oh, oke dik,".
"Mas lapar ya?, makanya diam saja?,".
"Lapar si, tapi gampang nanti dik. Yang penting kita sampai dulu dirumah Fatih,".
"Hmmm..., yasudah deh mas. Ini sebentar lagi mas bakal nemuin jalan yang melingkar, nah mas ngikutin tapi nanti lurus ke arah utara,".
"Oh oke boss,". Ucap mas Fahmi seraya tersenyum padaku.
Kami terus melanjutkan perjalanan. Untung saja, setelah melewati jalan lingkar, jalanan tidak terlalu macet. Jadi aku dan suamiku tidak terlalu lama terkena macet. Sungguh tidak bisa dibayangkan jika jalanan terus padat merayap entahlah akan sampai jam berapa aku dan mas Fahmi suamiku akan sampai di rumah mantan suamiku mas Fatih. Dad dig dug, jantungku berdegup sangat kencang, semakin dekat mobil yang aku tumpangi dengan rumah yang pernah selama dua tahun lebih aku tinggali. Kala itu, aku kabur dari rumah yang awalnya penuh dengan bahagia, kemudian berubah dengan penuh, kecewa, luka, dan darah. Hari ini, aku akan menginjakkan kakiku kedalam rumah itu lagi. Aku yakin, otakku akan secara otomatis merekam ulang apa yang pernah terjadi didalam rumah itu. Ingin rasanya, aku lari dan kembali kerumah masa depanku dengan mas Fahmi di Yogyakarta. Aku berkeringat, perasaanku semakin tidak karuan. Sesekali aku melirik ke arah mas Fahmi. Dia tetap tenang seperti biasanya, seharusnya aku bertanya pada suamiku, bagaimana caranya menguasai diri sendiri disaat-saat sulit seperti sekarang. Bagaimana caranya agar tetap tenang dalam kondisi yang sempit sekalipun. Aku melihatnya begitu tenang, tidak terlihat gusar dan seperti tanpa beban. Apa rahasianya?, apa yang sedang berada dalam otak nya?.
"Dik, kita masih lurus?,". Suara mas Fahmi membuyarkan lamunanku.
"Oh, iya masih mas. Itu didepan ada tanda panah masuk ke perumahan. Mas Fahmi ambil kanan yah. Rumahnya tidak jauh dari gerbang utama,".
"Oh, baik dik. Kamu kenapa?. Terlihat gusar?,".
Rupa-rupanya suamiku memperhatikanku sedari tadi. Dia bahkan melihat gerak-gerikku yang aneh. Benar sekali apa yang barusan kamu bilang mas. Istrimu sedang sangat gusar saat ini. Hatinya meronta-ronta untuk tidak datang karena pahitnya masa lalu yang tercipta dirumah itu. Tapi sisi kemanusiaan nya berkata lain, dan memaksaku untuk tetap datang dan membantu mereka. Aku tipe orang yang ketika sedang tidak tenang pasti akan terlihat, entah itu dari badan yang gemetaran, ataupun keringat dingin dari kedua telapak tanganku.
"I-i-iya mas. Aisyah sedang gusar dan tidak enak hatinya mas. Tiba-tiba Aisyah enggan untuk menginjakkan kaki dirumah itu mas. Aisyah trauma, jujur saja,".
"Istighfar saja yang banyak sayang. Kita sudah niat, dan sudah jauh-jauh dari Jogja datang ke Jakarta untuk membantu mereka. Ayok, luruskan niat sayang,".
__ADS_1
"Astaghfirullah, iya mas. Aisyah harus kembali ke niat awal kita ya mas. Niat kita baik mau menolong saudara seiman kita. Astaghfirullah, Aisyah harus kuat kamu Syah. Jangan mau kalah dengan bayang-bayang masa lalu,".
"Nah, MasyaAlloh Tabarakallah, ini baru istri mas Fahmi yang ganteng,".
Aku melihat mas Fahmi tertawa sangat renyah ketika menyebut dirinya sendiri ganteng. Apa itu kode, kalau dirinya ingin dibilang ganteng oleh istrinya. Aku emang belum pernah sebelumnya mengatakan secara langsung pada mas Fahmi kalau dirinya memang tampan dan ganteng.
"Hehehe... iya suami Aisyah memang ganteng dan sangat tampan. MasyaAlloh,". Ucapku dengan tulus.
Aku kaget, tangan kiri mas Fahmi langsung diletakkan di atas dahiku. Apa yang sedang dua lakukan sebenarnya?. Sangat aneh. Dibilang ganteng malah megang dahiku. Nggak dibilang ganteng, ngomongin diri sendiri ganteng terus. Laki-laki memang aneh.
"Ngga panas kok yah,".
"Apa si mas?, kok megang dahi Aisyah?, dan apalagi tadi barusan. Nggak panas apanya?. Ya iyalah mas, Aisyah nggak panas. Orang Aisyah sehat gini,". Ucapku cemberut.
"Hahahaha..., ya Allah dik. Kamu tau tidak?,". Tanya mas Fahmi dengan wajah yang sangat tidak biasa.
"Tahu apa mas?,".
"Mas sangat bahagia dibilang tampan sama istri mas sendiri. MasyaAlloh, rasanya bahkan sampe pengen nangis terharu. Kan kamu baru pertama kalinya jujur dan mengakui kalo suami kamu tampan kan. Hehehe...,".
Suamiku sedari tadi cengar-cengir terus setelah aku mengakui bahwa dirinya memang memiliki wajah yang tampan dan ganteng. Dia bahagia sekali, karena ini kali pertamanya aku sebagai istrinya berani jujur apa adanya. Bahagia nya mas Fahmi sangat sederhana sekali. MasyaAlloh, dia bahkan tidak banyak menuntut ini itu padaku. Mas Fahmi lah yang selalu berusaha, bagaimana caranya agar Aku bisa terus bahagia disisinya. Apalagi setelah aku buka-bukaan dan jujur mengenai hidupku di masa lalu. Mas Fahmi semakin berusaha penuh, agar luka dan rasa sakit yang pernah ada di masa laluku tidak dilakukan nya di masa depanku dengannya kini. Luar biasa sekali memang, usahanya untuk dapat menaklukkan hatiku. Benar janji Allah dalam salah satu ayat Nya, yang artinya "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Diriku telah membuktikannya sendiri, setelah masa-masa sulitku dulu dengan mas Fatih, kemudian Allah berikan kemudahan dan mempertemukan aku dengan seorang laki-laki hebat yaitu mas Fahmi.
"Dik, kita sudah masuk gerbang depan perumahan nya. Rumah nya yang mana?,". Mas Fahmi bertanya padaku di sela-sela kebingungan nya.
"Itu mas, yang cat nya berwarna putih dan cream,". Aku mengangkat tanganku, dan menunjuk ke rumah itu.
"Oh iya-iya dik,".
Mobil yang kami gunakan masuk kedalam pelataran rumah. Aku hanya bisa mengucapkan basmalah dan istighfar didalam hatiku. Sudah lama rasanya aku baru menginjakkan kaki dirumah ini lagi, semenjak kaburnya aku ke kita Cirebon, dirumahnya Azizah. Mas Fahmi turun dan membukakan pintu mobilku. Aku enggan untuk turun, sungguh aku sangat takut teringat segalanya Dirumah ini, laki-laki yang dulu sangat kucintai mengabaikanku, bahkan menghajar fisikku hingga hampir mati. Rasanya sangat mengenaskan sekali Aisyah yang dulu. Cintanya terbagi, fisiknya pun tersakiti. Benar-benar menyakitkan. Aku masih duduk dikursi mobil, aku menyeka air mataku dan melihat kearah suamiku. Mas Fahmi menggenggam erat tanganku seraya menganggukkan kepalanya seakan-akan meyakinkanku, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan suamiku ikut menghapus air mataku. Aku mencoba untuk tersenyum, tanganku menggenggam tangan mas Fahmi dengan sangat kuat. Aku yakin aku bisa melewati ini. Semangat Aisyah, hanya satu hari saja. Tidak lebih.
Mas Fahmi dan aku berjalan menuju pintu depan. Kami berdua memencet bel dan mengetuk pintu berkali-kali. Salam yang bergantian aku dan mas Fahmi ucapkan pun tidak mendapatkan jawaban apapun. Apakah mereka juga sudah menjual rumah ini?, lalu kemana rumah nya yang baru?. Kenapa sangat sepi sekali. Tidak ada siapapun. Mas Fahmi melirik ke arahku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Tapi aku melihat mobil mantan suamiku terparkir di garasi samping rumah. Tapi aku tidak seratus persen yakin, bahwa itu mobil milik mas Fatih. Lagi pula, di kota metropolitan seperti Jakarta, banyak sekali orang-orang yang memiliki mobil-mobil mewah. Karena rata-rata bagi mereka, membeli mobil mewah seperti semudah membeli kacang goreng.
"Dik sayang?, rumah nya sepi sekali. Apa kamu tidak ada nomor mereka?,". Tanya mas Fahmi cemas dan bingung.
"Tidak mas,". Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku.
"Apa mereka sudah pindah dari rumah ini juga yah dik?. Tidak ada satupun orang yang menjawa salam kita sedari tadi. Benar-benar tidak berpenghuni. Pakai bell pun tidak ada respon,".
"Aisyah juga tidak tahu mas. Aisyah juga punya pikiran yang sama. Bahwa mereka juga sudah menjual rumah ini, dan pindah ke lain rumah. Tapi dimana?, kita harus tanya kesiapa?. Orang-orang diperumahan elit seperti ini jarang sekali ada dirumah. Mereka cenderung sangat sibuk, dan kurang berkomunikasi dengan tetangga samping kiri rumah mereka,".
__ADS_1
"Begini saja dik, sekarang kan jam setengah tiga. Kalau sampai adzan ashar juga tidak ada respon apapun, kita pulang saja yah dik?,". Mas Fahmi memberikan solusi sekaligus keputusan.
"Baiklah mas, Aisyah ikut dengan saran dan keputusan mas saja. Kita tunggu sampe adzan ashar ya mas. Kalau memang tetap tidak ada jawaban yasudah kita balik Yogyakarta saja mas,". Ucapku pasrah.
"Iya sayang, yang penting Allah sudah melihat dan tahu. Bagaimana niat kita, dan bagaimana usaha kita untuk bisa membantu Bunda mantan mertua kamu dan Mantan suami kamu,". Mas Fahmi menenangkan diriku yang masih melamun.
Aku duduk diteras depan rumah bersama dengan mas Fahmi. Aku bersender di bahu suamiku. Mas Fahmi memelukku erat. Dia mengerti posisiku. Menunggu tiga puluh menit lebih tidaklah mudah bagiku. Apalagi dalam kondisi tidak ada kepastian seperti ini. Aku terus memandangi pelataran rumah megah ini. Rumah yang dulu pernah aku tinggali dan aku tempati. Rumah inilah yang menjadi saksi bisu, bagaimana seorang Aisyah dulu berjuang dan akhirnya memilik kalah dengan keadaan yang ada. Seandainya rumah ini bisa bergerak dan berbicara, mungkin saat ini dia juga akan menangis dan memelukku dengan erat.
Ah, aku jadi sangat rindu Three Bi. Mereka adalah orang tua yang sangat aku cintai selama di Jakarta. Orang-orang baik yang Allah kirimkan di sela-sela badai dan ujian yang menghantam hidupku. Entah kemana mereka sekarang. Bi Ijah?, Bi Dar?, dan Bi Inah?. Aisyah datang lagi Bi dirumah ini, kalau kalian lihat. Sekarang Aisyah sudah memiliki laki-laki yang sangat baik. Aisyah sudah memiliki mas Fahmi, untuk menggantikan dan mengobati luka yang mas Fatih beri. Aisyah sangat rindu Bi. Semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah yah Bi.
"Hikkks... hiks... hikss,". Tangisku sudah tak tertahankan. Tangisku pecah disela heningnya menunggu.
"Sayang?, Aisyah teringat yah dik. Kalau Aisyah sudah tidak kuat untuk menunggu. Ayok kita pulang sekarang saja yah. Mas tidak tega melihat kamu menangis seperti ini dik,".
"Nggak papa mas. Aisyah hanya teringat dan sangat rindu dengan mereka,". Jawabku disela isak tangisku..
"Mereka?, mereka siapa dik?,". Mas Fahmi penasaran dengan kata mereka yang baru saja aku ucapkan.
"Three Bi mas. Mereka adalah asisten rumah tangga Aisyah dulu sewaktu tinggal dirumah ini. Bagi Aisyah mereka sudah seperti orang tua Aisyah sendiri. Mereka sangat baik sekali dengan Aisyah mas. Aisyah rindu dengan mereka,". Jelasku pada mas Fahmi.
"Namanya memang Three Bi yah dik?,". Mas Fahmi bingung dengan istilah yang aku buat sendiri untuk menyingkat mereka bertiga.
"Bukan mas, Three Bi itu nama yang Aisyah buat untuk mereka. Karena mereka terdiri dari tiga orang. Ada Bi Ijah, Bi Dar, dan Bi Inah. Sekarang Aisyah sangat kehilangan mereka mas,". Aku menyeka air mataku.
"Doakan saja yah sayang. Semoga mereka selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dari Allah. Aamiin,".
"Aamiin ya Allah ya Rabb,".
Mas Fahmi menyeka air mataku dan kemudian menggenggam erat tanganku. Cadarku basah karena air mataku. Biar sajalah. Lagi pula aku juga membawa ganti.
"Allah hu Akbar Allah hu Akbar.....!!,".
Ah, tidak terasa. Adzan ashar sudah dikumandangkan. Sedangkan sampai sekarang tidak ada satupun orang yang keluar atau setidaknya merespon kami. Aku dan mas Fahmi sudah mengetuk pintu, memencet tombol bell, dan mengucapkan salam berkali-kali selama kami menunggu didepan rumah. Mungkin memang rumah ini sudah dijual, dan Bunda serta mas Fatih mantan suamiku telah pindah ke tempat tinggal lain.
"Dik, sudah adzan ashar. Belum ada respon apapun. Kita pulang saja yah?, atau kamu mau menunggu lagi?,".
"Tidak mas, kita pulang saja mas. Sepertinya Bunda dan mantan suami Aisyah telah pindah rumah mas. Ayok masuk mobil mas,".
Aku berdiri dan menggandeng mas Fahmi menuju ke mobil. Aku menengok kebelakang melihat rumah ini. Dan kemudian berjalan memasuki mobil. Mobil kami meninggalkan pelataran rumahku dulu. Entahlah, kemana Bunda dan mantan suamiku pindah rumah. Badanku dan mas Fahmi juga rasanya lemas sekali. Belum sempat makan dan beristirahat.
__ADS_1