Madu

Madu
Episode 50


__ADS_3

Setelah resepsi pernikahan dengan Siska adik maduku, mas Fatih tidak pulang kerumah. Mungkin sedang menikmati malam pertama dan bulan madu dengan istri muda nya. Aku dirumah sendirian, dirumah sebesar ini. Aku rindu mas Fatih, biasanya sore-sore begini, mas Fatih sudah meledekiku dengan sangat manja, saling bercanda satu sama lain, saling menggoda satu sama lain. Aku benar-benar kesepian.


Aku mencoba untuk mengisi waktu dengan kesibukan, baca buku, masak, hingga mainan games di handphone, tapi masih saja belum bisa menggantikan rasa sepi karena tidak ada mas Fatih dirumah. Ya Allah ... Perih rasanya. Melihat kenyataan bahwa saat ini suamiku sedang berada dalam satu kamar dengan perempuan lain. Sungguh sangat menyakitkan.


"Non Aisyah, ada telepon non di nomor rumah. Katanya dari teman kuliah non dulu di Solo,".


"Siapa Bi?,". Jawabku di dalam kamar.


"Az... Az... siapa ya, maaf non, Bibi lupa namanya,".


"Iyah Bi, sebentar. Nanti Aisyah kesana,".


Aku bergegas menuju tempat telepon rumah yang terletak di ruang tv. Siapa yang meneleponku di nomor rumah?, padahal tidak ada yang tahu nomor rumahku sekalipun Azizah. Hanya keluargaku saja yang tahu.


"Hallo Assalamualaikum,". Ucapku dari pesawat telepon.


"Waallaikumussalam ukhty ku yang cantik,". Ah, aku sudah tau betul ini suara siapa.


"MasyaAlloh Azizah!, kok kamu bisa tau nomor telepon rumahku?,".


"Hahaha..., tau dong gue. Apa sing yang ngga gue tau dari elu,".


Kamu ngga tau Zah, kalau sahabatmu ini sedang hancur hatinya, oh bukan sedang hancur tapi memang sudah hancur. Kamu tidak tahu, kalau teman baikmu ini setiap hari menangis karena merasakan sakit hati yang teramat sakit, kamu tidak tau Zah, kalau sahabatmu ini dipaksa untuk membagi suaminya dengan perempuan lain oleh ibu mertuanya tanpa sepengetahuan suamiku, kamu tidak tau Azizah, kalau aku di ancam akan menjadi seorang janda jika menolak permintaan ibu mertuaku, kamu tidak tau Zah, saat ini suami temanmu ini sedang asyik berbulan madu dengan perempuan lain. Ucapku dalam hati dengan posisi tangan masih menggenggam telepon rumah yang menempel di telinga kananku.


"Halloo.... Syah?!, halooo..., haloo Syah...!?, kok diem sih??, haloooo,".

__ADS_1


"Astaghfirullah, oh iya Zah. Maaf-maaf. Tadi aku melamun,".


"Yaelah elu, masih ada aja kebiasaan melamun nya. Eh, kok nomor elu ngga aktif si?, gue padahal udah chatt banyak dan telepon berkali-kali,".


"Oh iya, maaf Zah, handphoneku lagi sedikit eror. Ngga tau kenapa,". Aku terpaksa berbohong kepada Azizah. Padahal sebenarnya handphoneku memang sengaja aku matikan dari beberapa hari yang lalu. Aku sedang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun dulu, sampai hatiku benar-benar stabil.


"Yaelah elu, handphone rusak masih di pelihara aja lu, buang lah beli yang baru. Ribet amat lu,".


"Ya sayang Zah, kan masih bisa di pakai. Gampang nanti di benerin dulu. Oh iya, kamu dapat telepon rumahku dari mana Zah?,".


"Dari mana lagi Syah kalau bukan dari Umi?, ya habis nomor elu beberapa hari ngga aktif. Jadi akhirnya aku minta saja nomor telepon rumah elu ke Umi. Hahaha... Untung yang angkat bukan pak Fatih ya Zah,". Kata Azizah dari seberang telepon.


"Ohalah dari Umi, ngga akan lah mas Fatih yang angkat Zah,". Jawabku dengan suara yang parau.


"Kenapa memang nya Syah?,". Tanya Azizah penasaran.


"Gila, pak Fatih ternyata orang yang luar biasa ya Syah. Selain setia dia juga sangat berkerja keras. Beruntung sekali lu Syah dapat suami seperti pak Fatih,". Ucap Azizah dari seberang telepon.


"Iya Zah. Alhamdulillah. Hehehe,". Jawabku datar.


"Syah, main lah sini ke Cirebon. Gue kangen banget sama elu,".


"In syaaAlloh ya Zah. Kapan-kapan kalau aku bisa dan ada waktu aku main kesana,".


"Syah, elu pasti bahagia ya disana?, dapat suami yang setia, ibu bapak mertua yang baik. Pantas aja lu betah disana Syah. Gue jadi pengen kaya elu Syah,". Oceh Azizah dari seberang telepon.

__ADS_1


Suamiku sebenarnya setia Zah, tapi semua tidak seperti yang kamu pikirkan Azizah. Bunda mertuaku kejam Zah, Bunda mertuaku membunuhku perlahan, Bunda mertuaku tidak sebaik yang kamu kira Azizah. Aku di dzolimi oleh ibu mertuaku sendiri Azizah, bahkan sekarang, suamiku sudah sering menyakiti hatiku dan mengabaikanku, ucapku dalam hati. Tak terasa air mataku menetes.


"Jaa.. jangan ingin seperti aku Azizah,". Suaraku parau.


"Loh?, kenapa Syah?,".


"Karena sahabatku harus bisa lebih bahagia dari pada aku Zah,". Ucapku kepada Azizah lewat telepon.


"Kok elu nangis Syah?, elu ngga papa kan?, elu kenapa woy?!, jangan bikin gue khawatir. Elu baik-baik aja disana kan Syah?!,".


"Aku hanya kangen sampai terbawa suasana, akhirnya nangis deh. Hehe,". Lagi-lagi aku berbohong kepada Azizah.


"Dasar lebay lu. Yaudah deh, gue cuman mau mastiin kalau sahabat gue baik-baik saja dan bahagia disana. Udah dulu ya, gue mau melakukan sesuatu. Hahahaha. Assalamualaikum,". Ucap Azizah mengakhiri pembicaraan nya denganku lewat telepon.


"Yasudah sanah. Waallaikumussalam,". Jawabku, dan tuuut.... tuutt.... terdengar suara sambungan telepon yang terputus.


Aku menyeka air mataku, dan memilih untuk mandi. Aku melirik ke arah jam dinding di ruang tv, masih pukul setengah lima sore. Mungkin mandi bisa sedikit membuat rileks dan menenangkan saraf-sarafku. Aku mengucurkan shower dingin ke tubuhku. Aku pejamkan mataku, lagi-lagi yang terlintas adalah wajah mas Fatih dan Siska yang sedang asyik bermesraan. Hatiku sakit, benar-benar menyakitkan rasanya. Seharian tidak ada suara mas Fatih, setelah bertahun-tahun selalu ada kecerewetan darinya. Aku rindu suamiku.


"Non, mau Bibi bikinkan apa?,". Terdengar suara Bi Dar dari luar kamar mandi.


"Bikinkan Aisyah teh susu dingin saja ya Bi. Sama Aisyah ingin makan mie rebus,". Jawabku dari balik pintu.


"Iya non, baik Bibi siapkan,".


Aku bersyukur, saat seperti ini, aku memiliki three Bi yang dengan sabar melayaniku, yang dengan sabar selalu ada bahkan selalu menghapus air mataku, mereka yang selalu berusaha menghibur diriku, bahkan mereka pula yang selalu mengingatkanku untuk selalu mengingat Allah. Three Bi bahkan sering menceritakan hal-hal perjalan dari hidup mereka dari yang pahit sekali hingga saat ini. Jelas sekali banyak pelajaran hidup yang sangat penting yang bisa aku ambil dari mereka. Mereka sudah seperti ibuku sendiri. Bahkan tanpa aku minta, three Bi berjanji dengan sendiri nya akan selalu ada untukku.

__ADS_1


Lagi-lagi aku hanya bisa membalas mereka dengan doa-doa yang kulangit kan kepada Rabbku, agar Allah membalas segala kebaikan mereka, dan mengampuni segala dosa dan khilaf mereka. Aku percaya, aku bisa kuat menghadapi badai rumah tangga yang mulai hancur ini. Kuatkan Aisyah ya Allah, doaku lirih.


__ADS_2