
Semenjak kejadian dua hari yang lalu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah mas Fatih. Aku sudah tidak memiliki harapan apapun lagi dirumah itu, pun dengan mas Fatih. Rasanya aku sudah cukup untuk berjuang mempertahankan cintaku dan taatku pada mas Fatih sebagai istri. Aku ingin menenangkan diri.
Sebenarnya tubuhku belum pulih betul, bahkan aku baru dua hari di opname karena kondisi yang tidak memungkinkan. Lagi-lagi three Bi yang membawaku dan membantuku. Jika tidak mungkin aku sudah meninggal dalam keadaan mengenaskan. Sedang mas Fatih, setelah pertengkaran hebat itu, dia pergi meninggalkanku begitu saja diteras belakang dan pergi menemui Siska yang sedang asyik belanja dengan teman-teman nya.
Sejujurnya aku bingung ingin pergi kemana. Bahkan aku hanya membawa dompet dan ponsel genggam serta beberapa lembar baju saja. Aku tidak mungkin pergi ke Solo dalam keadaan seperti ini, akan hancur perasaan Umi dan Abi melihat putrinya diperlakukan seperti ini oleh suaminya.
"Aisyah?!,". Sapa seorang perempuan, yang kulihat seumuran denganku. Dia mengenakan gamis dan jilbab panjang berwarna hitam. Dia menggandeng seorang laki-laki di samping nya.
"Salwa?!,". Aku terkejut melihat orang sekaligus teman yang selama ini aku cari-cari. Oh ternyata dia sudah menikah, batinku.
"Aisyah??, kamu mau kemana?, maaf yah aku menghilang tanpa kabar. Aku mendadak harus pindah ke Kairo Mesir. Jadi benar-benar aku tidak sempat mengabari kamu dan teman -teman yang lainnya,". Ucapnya dengan manis. Salwa masih sangat cantik seperti dulu.
"Oh iya Salwa, tidak apa-apa. Itu...?,".
"Hehehe... iya Aisyah, ini suamiku namanya Mas Farhan. Oh iya, bagaimana dengan suami kamu?, kok sendirian?, kemana mas Fatih?, kok tidak mengantarkan kamu?,". Aku bingung harus menjawab apa, seandainya kamu tau Salwa, laki-laki yang dulu pernah membuat mu jatuh cinta diam-diam sekarang telah mencintai wanita lain selain aku.
"Oh, mas Fatih sedang ada urusan kantor Salwa. Jadi aku milih pergi sendiri saja. Kamu mau kemana?, sejak kapan sudah balik ke Indonesia?,". Jawabku berbohong.
"Baru satu Minggu ini kok, ini juga kami disini hanya satu Minggu lagi, sebelum balik ke Kairo lagi. Karena kebetulan kami sudah memutuskan untuk tinggal menetap disana. Oh iya, bagaimana?, apa sudah ada dede bayi?, heheh,".
Ah pertanyaan yang sangat tidak ingin aku jawab. Aku melihat Salwa begitu sangat bahagia. Suaminya pun berkali-kali mencium kepalanya didepanku. Pasti suaminya sangat mencintai nya. Persis seperti mas Fatih dulu padaku.
"MasyaAlloh, jauh sekali jadi orang Mesir. Emm... belum Salwa. Allah belum menitipkan rezeki itu padaku,".
"Apa kamu sudah isi Salwa?,".
"Alhamdulillah sedang isi Aisyah. Sudah mau masuk usia kandungan tiga bulan,".
"MasyaAlloh Tabarakallah, selamat ya Salwa. Semoga selalu bahagia, sehat sekeluarga. Oh iya, aku pamit dulu yah, ada urusan,". Aku ingin segera pergi dari sini. Aku tidak kuat melihat kondisi diriku sendiri yang saat naas.
__ADS_1
"Oh iya, hati-hati ya Aisyah. Semoga Allah mempertemukan kita lagi dengan anak-anak yang lucu-lucu, titip salam ya untuk suami kamu dari aku dan suamiku mas Farhan,".
"Aamiin,".
Aku melihat Salwa di gandeng menuju mobil berwarna abu-abu. Suaminya membukakan pintu mobil itu untuk Salwa. Persis sekali dengan kebiasaan mas Fatihku dulu. Aku rindu bahagia seperti dulu, tapi rasanya sudah sangat tidak mungkin. Suamiku sudah berbeda, bukan mas Fatih yang aku kenal dulu.
To Azizah:
"Assalamualaikum Zah, sedang dirumah?,".
Aku mengirim pesan singkat kepada Azizah. Aku tidak tahu lagi harus pergi kemana. Hanya Azizah satu-satunya harapanku untuk bisa memenangkan diri untuk beberapa waktu.
Dari Azizah:
"Waallaikumussalam ukhtyku sayang. Aku dirumah terus ini. Ada apa?, kangen ya?, hehehe,".
To Azizah:
Dari Azizah:
"Hey!!, kamu ini ngomong apa Syah. Tak perlu lah bicara seperti itu. Kamu mau kapan pun kerumahku, akan selalu aku buka lebar untukmu. Kamu mau kesini kapan?, di antar sama pak Fatih?,".
To Azizah:
"Sekarang Zah, sendiri. Tunggu aku yah. Aku akan kesana,".
Aku menaruh ponselku dan kemudian menggunakan taksi menuju ke stasiun. Aku memilih menggunakan kereta api agar lebih cepat sampai dirumah Azizah. Fisikku masih benar-benar sangat lemah. Setidaknya di kereta aku bisa tidur beberapa jam untuk melepas lelah.
Tiket kereta berangkat pukul 14:00 WIB sedang sekarang masih pukul 13:30 WIB. Aku memutuskan untuk menjamak shalat dzuhur dan ashar. Aku berjalan menuju ke mushola stasiun. Alhamdulillah disana cukup lengang. Aku bisa mengadu dan menangis pada Rabbku tanpa ada satu orang pun yang tahu.
__ADS_1
Setelah selesai shalat, aku duduk di kursi tunggu stasiun yang telah disediakan. Aku melihat beberapa penumpang lainnya dengan jurusan yang sama. Banyak lalu lalang orang-orang dengan berbagai macam jenis dan kesibukannya masing-masing.
Dari Azizah:
"Syah, serius elu ngga di antar pak Fatih?, berani lu?, kan elu baru pertama kali ke Cirebon. Jangan bikin gue khawatir dong. Elu ngga lagi ngerjain gue kan?!,".
Aku melihat handphoneku bergetar dan berkedip. Ada pesan masuk datang dari Azizah. Aku enggan membalas nya lagi. Nanti saja lah jika memang sudah sampai di stasiun tujuan terakhir di Cirebon baru aku memberi kabar Azizah lagi. Pengumuman datang nya kereta jurusan Cirebon terdengar, seluruh penumpang jurusan Jakarta-Cirebon di himbau agar berdiri dan menunggu di peron nomor tiga. Aku mengikuti arahan bersama para penumpang lain. Setelah kereta benar-benar berhenti, aku masuk sesuai gerbong kereta yang akan kunaiki. Aku melihat lagi informasi tempat dudukku di tiket, 4D23. Artinya gerbong Empat dengan nomor kursi duduk D23. Aku berjalan mencari nomor tempat dudukku. Dan alhamdulillah ternyata tempat dudukku dekat dengan jendela. Aku bisa leluasa untuk melihat pemandangan diluar selama perjalanan, setidak nya untuk mengusir rasa bosanku selama berada didalam kereta hingga berjam-jam.
Sepanjang perjalanan aku melihat ke arah jendela, aku menangis, aku harus bisa mengikhlaskan mas Fatih bahagia dengan istri muda nya. Perlakuan kasar mas Fatih benar-benar sangat menyakitkan dan sangat membuatku trauma. Kenapa hidup ujiannya seberat ini?, aku menangisi diriku sendiri yang malang dan naas. Aku melihat handphoneku berkedip berkali-kali, Azizah sudah limba belas kali meneleponku. Tapi aku enggan untuk mengangkat nya.
Aku memutuskan untuk mengirimkan beberapa gambar tangkap layar pada Azizah. Kira-kira ada sekitar 7 foto. Dan kemudian aku berdoa selama perjalanan, karena aku teringat salah satu waktu di ijabah nya doa adalah ketika sedang dalam perjalanan. Setelah berdoa, aku tertidur dengan sangat pulas. Fisikku sudah sangat lelah, bekas pukulan mas Fatih masih sangat sakit terasa. Dan hatiku benar-benar sudah hancur. Saat ini aku hanya perlu menghilang, untuk berusaha mengobati luka hati yang meskipun aku tau, tidak akan pernah terobati. Aku tidak membenci mas Fatih, aku masih mencintainya karena sampai detik ini dia masih menjadi suamiku. Aku hanya ingin belajar ikhlas, melepaskan apa yang sudah tidak mampu aku pertahankan lagi. Ya Allah... Aisyah lelah.
####
Cirebon, 17 Januari 2015. Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku menghubungi Azizah, bahwa aku sudah sampai di stasiun Prujakan-Cirebon. Ini pertama kalinya aku menginjak kan kakiku di kota Sego Jamblang ini.
"Tuuutt... tutt.. Hallo Assalamualaikum Zah, aku sudah sampai di stasiun Prujakan-Cirebon. Kamu jemput aku yah,". Aku menghubungi Azizah lewat telepon.
"Iya halo Syah, oke oke gue otw kesana sekarang. Sepuluh menit sampai sana. Tunggu yah. Elu jangan kemana-mana,".
"Oke makasih Azizah, kamu hati-hati,".
"Oke. Tuuuut... tuuttt,". Telepon terputus.
Aku membawa mobil mungilku yang kuberi nama berry untuk menjemput sahabat baikku Aisyah. Sejujurnya aku sangat shock melihat beberapa gambar yang dikirimkan oleh Aisyah kepadaku. Bahkan aku langsung menangis melihat nya. Aku benar-benar hancur, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Aisyah. Sepanjang jalan aku menangisi nasib sahabatku itu. Kenapa orang baik selalu diberikan ujian yang begitu berat. Aku sedih, kecewa, marah, kesal, bahkan benci melihat apa yang sudah diterima oleh Aisyah.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya aku sampai juga di stasiun. Aku melihat Aisyah terduduk dengan kedua lutut yang dia peluk, sedang kepalanya dia benamkan disana. Hatiku hancur melihat sahabatku seperti itu. Aku langsung lari dan memeluk Aisyah erat. Aku tidak perduli dengan banyak pasang mata yang melihatku menangis sangat keras sambil memeluk Aisyah erat. Aisyah semakin kurus, dia benar-benar dalam keadaan yang sangat buruk. Bahkan Aisyah sama sekali tidak menangis, mungkin air matanya sudah habis kering karena terlalu sering menangis.
Aku membawa Aisyah kerumahku, karena kebetulan keluargaku sedang berada di luar kota untuk waktu yang agak lama. Lagi pula keluargaku sudah mengenal Aisyah, meskipun tidak pernah bertemu. Kamu orang baik Aisyah, kamu harus bahagia, ucapku dalam hati. Sepanjang jalan Aisyah hanya diam dan melihat ke arah jendela. Tidak berkata apapun padaku. Hatiku benar-benar hancur melihat kondisi Aisyah.
__ADS_1