Madu

Madu
Madu Ep.35 (SEASON 2)


__ADS_3

Sekolah Marwah hari ini cukup ramai. Hari ini aku berangkat bersama Mas Fahmi dan Marwah putriku, untuk mengurus kepindahan sekolah Wawa. Aku tidak memiliki pilihan lain selain memindahkan Marwah ke sekolah lain. Tujuannya agar Marwah tidak lagi dekat dengan Ilham, yang ternyata adalah putra dari Mas Fatih. Seseorang yang pernah hidup di dalam hatiku. Seseorang yang pernah memberikan penderitaan di masa lalu. Akan ada banyak hati yang tergores dan terluka, jika Mas Fatih datang kembali dalam hidupku yang sekarang. Terutama, aku sangat tidak ingin menyakiti laki-laki sebaik Mas Fahmi. Selama menjadi istrinya, Mas Fahmi bahkan tidak pernah berkata kasar padaku. Dia teramat sangat sabar untuk ukuran seorang laki-laki. Dia sangat tulus mencintai diriku. Abi tidak salah memilih kan pasangan hidup untuk putri nya. Mas Fahmi adalah orang yang Abi pilihkan untuk menghapus laraku, mengukir kisah cinta yang baru dan penuh kebahagiaan. Mas Fahmi, orang yang Abi tunjuk untuk mengganti Fatih menjadi Fahmi. Manusia terbaik yang pernah aku miliki. Persis seperti Abi ku, Abi sosok laki-laki yang sangat baik, penyayang, sabar, dan tidak pernah kasar pada Umi. Duka, susah, dan laraku, suamiku lah yang selalu pasang badan. Aku tidak ingin menyakiti Mas Fahmi untuk kedua kalinya. Kenangan masa lalu tidak boleh dan tidak akan aku ijin kan masuk dalam kehidupan ku yang baru. Apalagi orang yang pernah mengukir bahagia menjadi luka, tidak akan pernah dia aku ijinkan untuk hadir dalam cerita hidupku ku yang baru.


"Assalamu'alaikum Umi nya Wawa".


Aku tersentak kaget. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang mengucapkan salam padaku. Aku langsung memutar badan ke arah suara anak itu. Benar saja, seorang anak laki-laki yang tampan, dan kulit nya yang bersih berdiri tepat di belakang ku. Wajah nya sangat sendu, seperti ada rasa sedih yang menggebu dalam hatinya.


"Wa- Wa'alaikumussalam nak Ilham".


Ah, anak ini. Dia adalah putra dari mantan suami ku. Anak dari Mas Fatih. Dia yang tanpa aku sadar ternyata berteman baik dengan putri kandung ku sendiri Marwah. Bagaimana bisa aku membiarkan Wawa tetap berteman baik dengan anak dari mantan suami Umi nya. Akan ada banyak pertanyaan yang keluar dari putriku. Aku tidak mau, Marwah sampai tahu cerita kelam Umi nya dulu. Putriku harus bahagia, dan hanya tahu. Bahwa dia di lahirkan dan tumbuh di tengah-tengah keluarga yang harmonis.


"Umi nya Wawa. Kenapa Wawa tiba-tiba pindah sekolah? ".


" Emm.. eh iya nak. Wawa harus pindah sekolah. Karena Wawa akan masuk ke sekolah khusus anak perempuan ".


" Lalu bagaimana dengan Ilham, nanti Ilham tidak punya teman baik lagi disini".


"Nak, nak Ilham akan punya banyak teman baik di sini. Jadi jangan sedih yah".


" Tapi, Ilham ingin berteman terus dengan Wawa. Wawa teman Ilham yang sangat baik. Jika Wawa pindah sekolah, Ilham akan kehilangan teman. Umi nya Wawa, jangan pindahkan Wawa dari sekolah ini"


Rasanya tidak tega, melihat dan mendengar seorang anak kecil merengek dan memohon kepadaku. Seandainya saja Ilham, kamu bukan putra dari mantan suamiku. Pastilah nak, Marwah tidak akan pernah aku pindahkan sekolah nya. Nyatanya takdir memberikan pertolongan padaku, jika saja saat itu aku tidak mengantar Wawa ke sekolah nya. Aku tidak akan pernah tahu, bahwa seorang anak kecil yang berteman dekat dengan putriku adalah seorang anak dari mantan suamiku Mas Fatih. Mas Fahmi juga pasti akan sangat terluka, jika mengetahui bahwa Ilham adalah anak dari Fatih. Pria yang pernah menjadi bagian hidup istrinya. Egois memang, tapi ini demi kebahagiaan banyak orang.


"Maaf ya nak. Tapi Wawa tetap harus pindah sekolah. Wawa harus masuk ke sekolah khusus perempuan".


" Umi nya Wawa, Ilham mohon. Jangan pindahkan Wawa".


"Nak Ilham".


Belum sempat aku menjawab seorang guru memanggil Ilham.


"Maaf sebentar yah Bu. Nak Ilham di cari sama Ayah nya. Tadi ada buku yang ketinggalan".


" Oh, iya silahkan ".


Aku memandangi tubuh Ilham pergi menjauh dariku. Jantungku kembali berdegup kencang. Mas Fatih datang lagi, jangan sampai mas Fahmi melihat dia disini. Atau bahkan jangan sampai Mas Fatih melihat diriku dengan Mas Fahmi disini. Aku sangat kacau. Berangsur-angsur mundur meninggalkan tempat dimana tadi aku berbicara dengan Ilham. Aku memilih masuk kedalam kantor bersama Mas Fahmi dan Marwah. Sepertinya mereka belum juga selesai mengurus berkas perpindahan nya. Sebenarnya Mas Fahmi menyuruh diriku untuk menunggu di luar saja. Tapi aku tidak bisa terus-terusan di luar. Takut sekali diriku bertemu dengan Mas Fatih. Sekarang bahkan, aku sudah berkeringat dingin. Entahlah, setiap mendengar nama mantan suamiku, rasanya detak jantung ku berdegup hebat. Apakah semua ini wajar?. Bukan karena aku masih memiliki perasaan pada nya, tapi perpisahan yang terjadi antara aku dan Mas Fatih yang membuatku takut akan terulang nya masa lalu. Kesalahpahaman yang membuat hancur nya sebuah pernikahan. Masih teringat jelas saat mantan suamiku datang bersama Bunda nya di acara akad pernikahan diriku dengan Mas Fahmi. Itu benar-benar sangat menyakitkan hatiku. Siapa yang harus di salahkan?, Aku yang terburu-buru menikah lagi?, Bunda mantan mertuaku yang sudah termakan omongan suaminya sendiri?, atau Mas Fatih mantan suamiku yang tidak bisa menjaga semuanya?. Tidak, tidak ada yang pantas untuk di salah kan. Semuanya telah terjadi, dan tidak akan pernah bisa terulang lagi. Allah telah memberikan hadiah terindah dari kelam nya masa laluku. Seorang suami sebaik Mas Fahmi, mertua sebaik Ibu, dan anak solihah seperti Marwah.


"Abi?".


"Loh?, ada apa Umi?. Kan tadi Abi suruh untuk menunggu di luar saja. Disini tidak ada tempat duduk nya. Nanti kamu capek".


"Nggak papa kok. Lagian di luar bingung mau ngapain".


" Umi, Umi duduk saja di kursi Wawa. Nanti biar Wawa duduk di pangkuan Abi".


"Boleh deh".


Ucapku sembari duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Wawa.


" Abi?, masih belum selesai kah? ".


Aku berbisik bertanya pada Abi nya Wawa.


" Sebentar lagi. Ini sedang di buatkan surat keterangan pindah sekolah".


"Ohh".


Jawab ku manggut-manggut.


Aku melihat ke sekeliling ruangan. Ada sebuah papan dengan nama donatur terpampang disana. Ada sekitar dua puluh nama donatur. Dan di urutan ketiga ada sebuah nama yang aku sangat tidak asing dengannya. Nama seseorang yang sudah merusak kebahagiaan yang pernah ada. Bunda Layla, mantan ibu mertuaku sendiri. Pantas saja, Ilham di sekolahkan di sekolah ini. Nenek nya saja donatur urutan ke tiga di yayasan ini. Rasanya memindahkan Wawa dari sekolah ini adalah keputusan yang sangat tepat. Bukan hanya tepat tapi juga benar.


"Umi ayo pulang".

__ADS_1


Rengek Wawa padaku.


" Hah?. Kok pulang?. Kan belum selesai nak".


"Sudah selesai dari tiga menit yang lalu Umi".


Kali ini Mas Fahmi yang menjelaskan padaku.


Ah, malunya diriku. Aku bahkan melamun di depan salah seorang guru di sekolah ini.


" Umi makanya jangan melamun".


Tegur Wawa padaku.


"Hehehe... ".


Hanya tawa kecil yang aku lakukan.


Aku, Mas Fahmi dan Wawa berjalan menuju parkiran mobil. Setelah ini, kami berencana akan makan di luar bersama. Sudah lumayan lama semenjak aku sakit, kami bertiga tidak pernah pergi makan di luar.


"Wawa tunggu! ".


Aku melihat Ilham berteriak memanggil Marwah. Anak itu berjalan menghampiri Mas Fahmi dan Marwah. Entahlah, apa Mas Fatih sudah pergi dari sini?. Semoga saja, aku tidak siap jika harus bertemu dengan dia. Aku tidak ingin menyakiti Mas Fahmi. Tidak tidak, lebih cepat pergi dari sini adalah jalan yang terbaik.


"Ada apa Ilham?".


" Wawa, kamu tidak ingin berpamitan dengan Ayah ku?. Ayah ku sedang di kamar mandi dulu".


"Tapi aku harus segera pulang Ilham".


" Wawa, tunggulah sebentar. Ayah ku tidak lama akan keluar dari kamar mandi ".


Aku dan Mas Fahmi yang sudah masuk kedalam mobil seketika bingung, dengan apa yang di bicarakan oleh Ilham dan Wawa di depan mobil.


Aku melihat Wawa masuk ke dalam mobil, tapi kenapa nak Ilham masih saja berdiri di depan mobil kami.


"Umi Abi, Ilham ingin aku berpamitan dengan Ayah nya dahulu. Katanya Ayah nya Ilham sedang di kamar mandi dulu sebentar. Kita di suruh menunggu ".


" Oh, jadi Ayah nya nak Ilham ada disini. Baguslah nak. Sekalian Abi ingin bertemu dengan Ayah nya Ilham".


"Abi?!. Nanti ngga keburu waktu nya. Kan kita mau makan bersama. Umi tadi udah pesan. Dan barusan di kabari, kalau makanan nya sudah siap. Ngga enak loh, sama pihak restorannya. Nanti di kira kita kabur. Lain waktu saja bertemu dengan Ayah nya nak Ilham nya".


Aku tidak akan membiarkan Mas Fahmi bertemu dengan mantan suamiku Mas Fatih. Moment ini tidak boleh terjadi, apalagi secepat ini. Akan hancur semua kebahagiaan yang sudah susah payah aku dan Mas Fahmi bangun. Lima tahun lebih, aku bahkan tidak pernah ada komunikasi dalam bentuk apapun dengan mantan suamiku ataupun mantan ibu mertuaku. Aku ingin meninggalkan semua hal yang menyeret ku dalam pusaran masa lalu yang pilu.


"Tapi kasihan nak Ilham. Dia begitu ingin Wawa berpamitan dengan Ayah nya".


" Abi?!. Dari pada nanti kita di kira kabur dan tidak bertanggung jawab sama pihak restoran, bagaimana?. Sudah biar Umi yang turun dan bicara dengan nak Ilham ya? ".


" Benar juga sih, yasudahlah. Tolong sampaikan pada nak Ilham ya Umi".


Pinta Mas Fahmi padaku.


"Wawa disini saja ya nak. Biar Umi yang turun ya sayang".


" Iyah Umi".


Jawab putriku lembut.


Pintu mobil ku buka, aku turun dan berjalan menuju depan mobil. Rasanya ingin menangis melihat ekspresi wajah nak Ilham. Dia terlihat sangat sedih di tinggal oleh Wawa. Kenapa anak laki-laki ini bisa sesedih ini di tinggal oleh teman baik nya. Adakah trauma di masa lalu, tapi bukankah dia terlahir dari orang tua dan keluarga yang harmonis. Kenapa dia merasa sangat kesepian seperti ini.


"Nak Ilham yang baik. Umi nya Wawa mau minta maaf. Maaf banget ya nak. Kami tidak bisa menunggu Ayah nya nak Ilham. Bukan nya ngga mau bertemu dan berpamitan dengan Ayah nya nak Ilham. Tapi kami harus segera pergi nak. Ada acara lagi, dan sudah di tunggu dari tadi".

__ADS_1


" Sebentar saja Umi nya Wawa".


"Lain waktu saja ya nak. Nanti kalau ada kesempatan lagi yah. Ngga papa ya nak?. Ilham mengerti kan? ".


" Baiklah, Ilham tidak mau membuat susah Wawa dan keluarga nya Wawa. Hikkks... hikkks... ".


Hatiku rasanya hancur. Laki-laki sekecil ini menangis karena diriku. Dia kecewa karena keluarga dari teman baik nya tidak berpamitan dengan Ayah nya, ketika akan pindah sekolah. Apa boleh buat, aku sangat terpaksa melakukan ini semua padanya. Sungguh bukan karena aku jahat, tapi ada banyak hati yang harus aku jaga dan pertahankan.


" Jangan menangis anak soleh".


Aku mengusap air mata yang jatuh di pipi nak Ilham. Saat ini, aku tidak melihat dia anak siapa. Tapi aku melihat Ilham hanya lah anak kecil, tidak lebih dari itu.


"Iya Umi nya Wawa. Ilham hanya sedih saja di tinggal sama Wawa pindah sekolah".


" Suatu saat nanti juga bisa ketemu lagi kok".


"Iya Umi nya Wawa".


" Yasudah, Umi nya Wawa pamit ya nak. Nak Ilham belajar yang pintar yah. Biar bisa jadi dokter kaya nenek nya nak Ilham".


"Memang nya Nenek nya Ilham seorang dokter ya Umi nya Wawa? ".


" Emm.. Maksud Umi nya Wawa. Biar nak Ilham bisa jadi dokter dan bisa mengobati banyak orang, termasuk nenek".


Payah nya diriku, bahkan sampai keceplosan menyebut nenek nya Ilham seorang dokter. Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Suasana nya semakin tidak enak. Aku terburu-buru, sangat takut sosok itu muncul lagi di hadapanku.


"Baiklah Umi nya Wawa. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam ".


Ilham berpamitan dan bersalaman denganku. Kemudian berjalan meninggalkan mobil yang ku gunakan. Tubuh anak kecil ini berangsur-angsur menjauh. Aku langsung kembali masuk kedalam mobil. Benar saja perasaan ku barusan, begitu Mas Fahmi membelokkan mobil. Sosok itu muncul menghampiri putra nya. Untung saja, Ilham mau mengerti dan tidak membuat aku dan Mas Fahmi terlalu lama berada di parkiran sekolah ini. Syukurlah, Mas Fahmi tidak melihat orang itu. Rasanya himpitan tali yang sedari tadi membuat sesak dadaku, tiba-tiba langsung terlepas begitu saja, dan membuat aku bisa bernafas dengan sangat lega. Aku menarik nafas dalam-dalam sembari menutup mata, dan menghembuskan nya keras-keras.


"Kenapa kamu menarik dan membuang napas sayang? ".


Mas Fahmi rupanya memperhatikan diriku.


" Nggak papa Mas. Hanya saja sebenarnya tadi tidak tega dengan nak Ilham. Kasihan saja gitu melihat anak kecil menangis seperti itu. Hmmm.. ".


" Iyah juga sih. Yasudahlah. Semoga kapan-kapan kita bisa bersilaturahmi ke rumah orang tua nak Ilham yah sayang".


Kaget rasanya mendengar ucapan Mas Fahmi. Semoga saja, apa yang Mas Fahmi semogakan tadi semoga tidak terjadi. Dan jangan sampai terjadi.


"Sayang?. Kok diam saja? ".


" Ohhh-ehh... maaf Mas Fahmi. Aisyah mengantuk. Jadi ngga fokus. Heheh... ".


" Yasudah kamu tidur saja. Tuh putri kita malah langsung tidur. Nanti Mas bangunkan jika sudah sampai restoran nya yah".


"Alhamdulillah. Makasih suamiku sayang. Mas hati-hati yah nyetir mobil nya".


" Iyah cantik".


Jawab Mas Fahmi menggodaku.


Aku menyenderkan tubuhku pada jok mobil yang sengaja aku landaikan. Memiringkan kepalaku menghadap kaca.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”(Qs Ar-Ruum : 21). “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (Qs Az-Zariyat :49).


Ya Allah, Engkau yang menjadikan diriku dan Mas Fahmi berpasangan. Maka jagalah hubungan kami berdua. Aamiin".


Aku tertidur setelah mengingat dua ayat di Al-Qur'an dan kemudian berdoa pada Nya.

__ADS_1


__ADS_2