Madu

Madu
Madu Ep.34 (SEASON 2)


__ADS_3

Semenjak mengantar Wawa ke sekolah, Aisyah istriku jadi lebih banyak diam dan melamun. Baru kali ini aku melihat Aisyah seperti ini. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku bertanya padanya, istriku selalu saja menjawab tidak apa-apa. Aku bahkan sampai bertanya pada putriku Wawa. Menanyakan dari pertama berangkat, di perjalanan, hingga sampai ke sekolah. Aku bertanya pada Wawa apa Umi nya mengucapkan sesuatu atau membicarakan sesuatu hal?. Wawa hanya bilang, katanya saat di perjalanan. Wawa hanya menanyakan kapan dirinya akan memiliki seorang adik bayi. Ah, aku yakin. Pasti pertanyaan Wawa yang bikin Aisyah ku menjadi sering murung. Sepertinya Aisyah masih sangat trauma setelah mengalami sakit sehebat itu. Jujur saja, itu mengapa aku tidak pernah membahas masalah menambah momongan pada nya. Aku ingin Aisyah yang lebih dulu membicarakan mengenai masalah anak kedua kami. Semenjak melihat Aisyah sakit separah itu, aku sangat tidak ingin melukai hatinya.


"Dek?. Kamu kenapa? ".


" Kenapa apanya mas?. Aisyah tidak apa-apa".


"Kamu sedang ada masalah?. Mas perhatikan beberapa hari setelah mengantar Wawa ke sekolah, kamu jadi sering murung".


" Ngga papa kok Mas Fahmi".


"Hmmmm... tadi Mas sempat tanya ke Wawa. Katanya dia bertanya padamu tentang kapan memiliki adik?".


" Sudahlah Dek. Mas juga tidak memaksa untuk secepatnya memiliki buah hati lagi. Melihat kamu sudah sehat saja mas sudah sangat bahagia sayang".


"Ohh... Iya Mas. Aisyah juga tahu kok. Mas Fahmi? ".


" Iya sayang?. Ada apa? ".


" Mas, bagaimana kalau... ".


" Kalau apa Aisyah?. Lanjutkan pertanyaan nya".


"Tapi apa Mas akan setuju? ".


" Jika memang itu yang terbaik, kenapa harus tidak setuju?. Memang ada apa? ".


" Mas Fahmi, Aisyah ingin memindahkan Wawa ke sekolah lain".


"Hah?!. Memang nya kenapa dengan sekolah nya yang sekarang?. Bukannya sekolah Marwah yang sekarang juga sekolah yang sangat bagus?".


" Aisyah hanya ingin Wawa sekolah di sekolahan yang basic agama nya lebih banyak Mas".


"Tapi, bukankah kesepakatan kita adalah, Wawa akan masuk pesantren ketika masuk sekolah dasar? ".


"Bukan pondok pesantren kok Mas. Ini hanya sekolah seperti biasanya. Tapi basic agama nya jauh lebih banyak. Dan juga, di sana khusus murid perempuan saja sekolah nya".


" Tapi kenapa dek?. Sekolah yang sekarang juga kamu yang memilihkan?. Kasian Wawa dong sayang, apalagi dia sudah punya banyak teman di sekolah nya yang sekarang".


"Iya Mas Fahmi, Aisyah tahu. Aisyah berubah pikiran mas. Ada baik nya putri kita pindah saja ke sekolah khusus putri".


" Ya coba nanti biar Mas tanyakan dulu ke Wawa nya yah. Semoga saja dia mau".


"Maaf yah Mas. Aisyah mengambil keputusan mendadak seperti ini".


" Tidak apa sayang. Selama itu perbuatan yang baik mas akan menyetujui nya kok. Jangan sedih lagi yah".


"Makasih Mas Fahmi".


" Koo berterima kasih sayang. Biasa saja atuh. Yasudah mas ke kamar Wawa dulu yah".


"Iya Mas".


Tidak habis pikir dengan Aisyah. Pertama dia yang sangat ingin putri nya Marwah masuk ke sekolah yang sekarang. Padahal dulu aku memberikan opsi untuk ke sekolah yang khusus putri. Dan sekarang, Aisyah malah putar balik dan berubah pikiran. Marwah akan di pindahkan sekolah nya. Bukan apa-apa, aku merasa heran dan aneh saja dengan sikap Aisyah. Memang nya ada apa dengan sekolah nya Marwah yang sekarang?. Toh selama ini, sekolahan nya sangat bagus. Marwah juga sudah banyak teman di sana. Guru-guru nya pun sangat ramah dan baik. Kasian Wawa, dia harus beradaptasi dan mencari teman baik lagi di sekolah nya yang baru. Padahal Wawa sudah punya teman baik, yaitu Ilham. Orang tua nak Ilham juga sangat baik pada Marwah. Entahlah, aku bingung. Kenapa perempuan sering plin-plan seperti ini.


"Tok... tokk... ".


Aku mengetuk pintu kamar putriku.

__ADS_1


" Wawa, nak ini Abi. Wawa boleh Abi masuk kamar? ".


" Iya Abi".


Marwah kecil membuka kan pintu kamar nya untukku. Marwah sudah di ajari untuk selalu menutup pintu kamar nya. Karena dia seorang perempuan, yang harus dijaga dan di hormati.


"Nak?. Wawa sedang belajar atau tidak? ".


" Tidak Abi, Wawa hanya sedang menyiapkan buku-buku untuk sekolah besok".


"Nak, Abi mau ngomong sama Wawa".


" Memang nya, Abi mau ngomong apa sama Wawa?".


"Nak, Wawa sayang sama Umi? ".


" Pasti dong Abi. Wawa sangaaat sayang sama Umi".


"Alhamdulillah. Nak, tadi Umi nya Wawa bilang ke Abi. Katanya Umi pengen Wawa pindah sekolah sayang".


" Pindah sekolah Abi?. Tapi kenapa?. Wawa sudah senang sekolah di sekolahan Wawa yang sekarang ".


Rasanya tidak tega melihat wajah sedih Marwah. Aku tahu, anak seusia Wawa tidak bisa mudah nyaman dengan lingkungan juga orang-orang nya. Apalagi Wawa tipe anak yang tidak mudah dekat dengan orang. Wawa akan bicara dengan yang memang menurut nya, orang itu adalah orang yang baik. Wawa sangat takut dengan orang asing.


"Iya nak. Abi tahu sayang. Abi juga kaget saat Umi ingin memindahkan Wawa ke sekolah lain. Tapi ini Umi sendiri yang minta sayang".


" Wawa sudah punya banyak teman di sekolah Wawa yang sekarang Abi. Mereka semua sangat baik. Dan Wawa juga kan udah punya teman baik, Ilham".


"Terus?, apa Wawa mau jika harus pindah sekolah sayang?".


" Wawa sebenarnya sangat sedih Abi. Wawa tidak ingin pindah sekolah. Tapi kalau Umi maunya Wawa pindah sekolah yasudah. Kan Wawa harus nurut sama orang tua".


" Hikks... hikkks... ".


Putriku Marwah menangis tersedu.


Rasanya sangat sakit melihat putri kecilku yang cantik harus menangis. Tangisan seorang anak yang tidak mau pergi dari teman-teman nya yang baik. Tangisan yang sangat natural. Apa boleh buat, tujuan istriku baik. Aku tidak mungkin tidak menyetujui keinginan nya. Ibu mana yang tidak ingin menjadikan anak nya menjadi anak yang solehah dan baik agama nya. Aku setuju dengan keputusan istriku, meskipun jujur aku masih merasa janggal dengan keputusan Aisyah yang sangat tiba-tiba. Menyetujui keinginan seorang istri, yang menginginkan anak nya lebih paham tentang agama Nya. Kematian itu akan datang, entah kapan itu waktunya. Yang jelas setiap yang hidup pasti akan merasakan mati. Kematian adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk-makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit. Seperti dalam firman Allah Ta’ala berikut ini (yang artinya), “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185). Setiap manusia memiliki ajal, dan kematian tidak bisa dihindari dan kita tidak ada yang bisa lari darinya.


Aku ingin, ketika aku dan Istriku menemui kematian. Akan selalu ada doa dari anak yang solih, yang doa nya akan selalu mengalir menyejukkan aku dan Aisyah kelak. Sebagaimana dalam salah satu sabda nya, Rasulullah pernah berkata bahwa  “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim). Tidak hanya itu saja. Baik Aisyah maupun aku, ingin putri kami Marwah mendapatkan seluruh kebaikan. Aku jadi teringat salah satu hadist yang berbunyi “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).Yang dimaksud memahamkan dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan paham adalah jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21). 


"Abi?".


" Iya putriku sayang. Ada apa nak? ".


" Dimana Umi, Abi?. Wawa ingin bertanya pada Umi. Kenapa Wawa harus pindah sekolah ".


" Umi ada di taman belakang Nak".


"Wawa pamit mau ke Umi ya Abi".


" Iyah nak. Bertanya nya yang sopan ya sayang".


"Iyah Abi".


Aku memperhatikan putriku yang mengusap air matanya. Gadis kecil yang sikap nya sudah sangat dewasa. Sepertinya Wawa memang sudah pantas untuk memiliki adik. Ah, entahlah. Sekarang Aisyah saja sedang sering murung. Aku masih penasaran, apa sebenarnya yang terjadi pada istriku. Seingatku, saat akan mengantar Wawa ke sekolah. Bidadari ku masih biasa saja. Masih riang dan bahagia, wajah nya penuh dengan senyuman. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Aisyah?. Sungguh, aku tidak ingin melihat ada kesedihan di wajah Aisyah. Cukup, cukup sekali aku melihat Aisyah murung dan melamun seperti itu, yaitu saat awal-awal menikah dengan diriku dulu. Rasanya seperti daun yang terjatuh dari ranting nya, lemah tak berdaya, begitulah kondisi ku saat melihat Aisyah murung mengenang sosok laki-laki yang pernah mengisi hati dan hidupnya.


"Nak? ".

__ADS_1


" Iyah Ibu? "


Tiba-tiba Ibu datang dari arah kamar nya dan menghampiri diriku yang baru saja keluar dari kamar putriku Marwah.


"Tadi ibu tidak sengaja mendengar percakapan kamu dengan cucu Oma".


" Oh, iya Oma".


"Benar Aisyah ingin memindahkan Wawa ke sekolah lain nak? ".


" Iyah Bu, Benar. Aisyah sendiri yang meminta ijin pada Fahmi Bu".


"Maaf nak, bukannya Ibu mau ikut campur urusan kalian. Apa tidak sebaiknya di pikirkan lagi nak?. Kasian Cucu Oma. Sampai menangis seperti itu".


" Sejujurnya juga Fahmi tidak tega Bu. Tapi mau bagaimana lagi Bu?. Aisyah sangat ingin putri nya masuk ke sekolah yang belajar tentang agama nya jauh lebih banyak dari sekolah yang sekarang ".


" Lalu?, Wawa mau di pindahkan? ".


" Entahlah Bu, Wawa tadi bilang pada Fahmi. Katanya sejujurnya tidak ingin pindah sekolah. Karena sudah banyak teman baik dan guru yang baik di sekolah nya yang sekarang".


"Kemana Wawa nak? ".


" Tadi pamit mau menemui Umi nya di taman belakang Bu".


"Ooh, Kalau memang jadi. Kapan Cucu Oma akan mulai pindah sekolah? ".


" Besok akan Fahmi urus untuk kepindahan nya Bu".


"Kenapa sangat buru-buru nak?. Bukannya cucu Oma juga belum mendaftarkan diri ke sekolah yang baru? ".


" Permintaan Aisyah begitu Ibu. Fahmi hanya bisa meridhoi selama itu benar dan baik Bu. Untuk masalah pendaftaran nya, nanti akan Fahmi daftarkan melalui Online Bu. Sedangkan berkas fisik nya menyusul".


"Hmmm... jujur saja nak. Ibu agak kurang setuju. Cucu Oma bahkan sudah punya teman baik, yaitu nak Ilham. Yang orang tua nya juga sangat baik pada Wawa".


" Fahmi mengerti Ibu. Fahmi juga berpikir yang sama dengan Ibu. Nak Ilham dan orang tua nya sangat baik. Mereka orang baik Bu. Bahkan nenek nya Ilham juga sangat sayang pada Wawa seperti Cucu sendiri".


"Nah, belum tentu juga kan Cucu Ibu akan mendapatkan teman sekaligus orang tuanya yang sebaik nak Ilham dan orang tua nya".


"Aisyah menginginkan itu Bu. Fahmi hanya menghindari pertengkaran saja. Apalagi Aisyah habis sakit Parah. Fahmi tidak ingin membuat Aisyah drop lagi Bu".


"Yasudahlah, jika itu memang keputusan terbaik menurut kalian berdua. Ibu hanya bisa support dan mendoakan untuk kebaikan cucu Ibu yang cantik". .


" Makasih Ibu, Do'akan yang terbaik untuk Wawa yah Bu".


"Pasti nak. Doa Ibu akan selalu mengalir untuk Bapak kamu rahimahullah, untuk kamu putra Ibu, dan untuk semua orang yang Ibu sayang".


" Alhamdulillah. Fahmi pamit menyusul Wawa dan Aisyah di belakang yah Bu".


"Iyah nak, bicarakan lah bertiga. Dan ingat, berikan pemahaman pada Cucu Ibu dengan pelan-pelan. Marwah masih sangat kecil untuk bisa menerima tujuan dan maksud kalian berdua".


" Baik Ibu. Akan Fahmi lakukan".


Aku tersenyum pada Ibu, dan berjalan menyusuri koridor rumah. Aisyah sangat suka duduk di belakang rumah meskipun hanya untuk sekedar memandang tanaman-tanaman yang berjejer hijau. Dia pernah mengatakan nya padaku, bahwa hati dan pikirannya menjadi lebih tenang, ketika melihat tanaman-tanaman subur dengan bunga-bunga beraneka jenis dan warna. Bahkan, Aisyah istriku sangat telaten merawat semua bunga dan tanaman yang ada. Dia selalu bilang padaku, bahwa jika kita menyirami tanaman. Maka tanaman-tanaman itu akan selalu mendoakan kita pada Allah. Memohon kan ampunan untuk orang yang telah menyiram dirinya (tanaman). Bahkan bisa menjadi sedekah jariah bagi yang menanam dan merawat dengan baik. Apa yang dikatakan oleh Aisyah memang benar adanya, aku pernah membaca sebuah hadist


Dari Sahabat Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan kalimat “dan buah-buahan yang dicuri dari pohon tersebut, maka hal itu adalah sedekah baginya” dan juga tambahan “maka hal tersebut adalah sedekah baginya sampai hari kiamat” (HR Muslim).


Aku memandang dari jendela, Istriku dan putriku Marwah sedang berbincang sembari menyiram tanaman-tanaman dan bunga-bunga. Aisyah tersenyum sangat manis. Apa mungkin Wawa mengatakan pada nya, bahwa dia bahagia karena akan pindah sekolah?. Mereka berdua tertawa kecil bersama, saling tersenyum.

__ADS_1


"Ya Allah, jagalah dan cintailah Wanita-wanita yang ku cintai. Ibu yang telah melahirkan diriku, Aisyah istriku, dan Marwah putriku". Doaku lirih, sembari menyeka air mata haru.


__ADS_2