
"Mas Fahmi?. Apa mas marah pada Aisyah? ".
" Maafkan Aisyah mas. Aisyah bisa jelaskan semuanya pada Mas Fahmi. Tanpa ada yang dirubah sedikit pun. Allah yang akan jadi saksi nya Mas. Jadi Aisyah Mohon. Beri Aisyah kesempatan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya ".
Aisyah datang menghampiri diriku yang sedang duduk melamun di teras depan rumah. Semenjak kejadian kemarin, aku lebih memilih untuk mendiamkan Aisyah. Hanya itu yang bisa aku lakukan ketika emosiku sedang tidak stabil. Selama bertahun-tahun lamanya aku menjadi suami dari Aisyah. Aku tidak pernah membentak dirinya. Atau bahkan sampai berbuat kasar padanya. Paling-paling aku hanya ngambek sedikit, itupun aku tidak mengatakan perkataan yang menyakitkan. Tapi lebih ke menasehati nya. Untuk kali ini, permasalahan nya sangat berbeda. Ini melibatkan orang lain dalam rumah tangga ku. Bukannya aku tidak sabaran dan emosian. Kurasa, semua laki-laki akan merasakan hal yang sama jika mereka berada di posisiku. Dan kesabaran diriku sudah sering kali teruji. Entahlah, untuk masalah ini aku benar-benar tidak bisa menahan diri. Rasanya benar-benar menyakiti hatiku. Aku seperti merasa di khianati oleh istriku sendiri. Penjelasan apa lagi yang sebenarnya akan Aisyah jelaskan padaku. Sudah jelas-jelas mantan suami nya datang bertamu disaat tidak ada aku di rumah. Sudah jelas-jelas anak dari mantan suaminya menyekolahkan disekolah yang sama dengan putrinya. Dan bahkan dia membuka cadar nya didepan mantan suaminya saat tidak ada diriku. Lalu apa yang kurang jelas sehingga dia ingin menjelaskan lagi padaku?. Aku sangat tersakiti hatinya. Sejujurnya bahkan aku sering meneteskan air mata tanpa Aisyah ketahui.
"Tinggalkan mas sendiri. Mas sedang tidak ingin di ganggu".
" Tapi Mas. Aisyah tidak mau ada kesalah pahaman di antara kita Mas. Apa yang Mas Fahmi lihat kemarin lusa tidak seperti yang Mas bayangkan ".
" Aisyah dengarkan?. Apa yang tadi Mas bilang?. Mas ingin sendiri, dan tidak mau di ganggu".
"Mas, Aisyah mohon Mas. Hikks... hikks.. ".
Aisyah masih berada di samping diriku. Kali ini di tambah dengan isak tangisnya. Sejujurnya aku tidak tega melihat wanita yang sangat aku cintai mengeluarkan air matanya. Tapi sungguh, akun sudah berusaha untuk biasa saja. Namun pada fakta nya, rasa cemburu dan rasa perih di hatiku tidaklah seperih saat pertama menikah dengan Aisyah dulu. Saat ini, sakit hatiku adalah karena Aisyah yang sudah mencintai diriku, tiba-tiba terjebak kembali dengan masa lalu nya. Seorang laki-laki yang membuat ku harus berkorban dan bekerja keras agar cinta untuk nya dulu berpindah untuk diriku. Laki-laki mana yang bisa sabar, saat pertama menjadi pengantin baru, ternyata wanita yang dicintai nya masih memliki perasaan dengan mantan suaminya yang dulu. Sejujurnya saat itu aku juga ingin menyerah. Ibarat tiang kayu yang sudah lapuk tapi di paksa untuk tetap tegak menahan beban berat yang ada. Jika tidak karena ada seorang Ibu yang terus memberikan dukungan dan meyakinkan diriku bahwa kelak Aisyah akan mencintai ku mungkin aku sudah memilih untuk mundur. Saat mengetahui Aisyah hamil, saat itu aku merasakan menjadi manusia yang paling bahagia di muka bumi. Tidak bisa digambarkan bagaimana bahagia nya aku saat tiu. Kebahagiaan yang membuncah, hingga berkali-kali aku melakukan sujud syukur kepada Nya.
Kali ini, semua terbalik. Detik ini aku bahkan merasa, bahwa akulah manusia yang paling malang hidup nya. Bagaimana tidak, seorang istri yang dengan berdarah-darah aku buat untuk bisa menerima diriku dan mencintai ku dengan tulus. Tiba-tiba bertemu kembali dengan mantan suaminya, bahkan memperlihatkan wajah cantik nya didepan laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Suami mana yang tidak rapuh dan hancur melihat istrinya melakukan itu?.
"Mas bilang, jangan ganggu mas dulu. Mas sedang tidak ingin bicara dengan mu".
" Aisyah tidak mau masuk kedalam. Kalau belum menjelaskan semuanya pada Mas. Hikkss... hikkkss... ".
" Yasudah, biar Mas saja yang masuk kedalam kalau begitu".
Aku berdiri dan beranjak dari teras. Tapi Aisyah memegang tanganku dan menahan diriku agar tidak masuk ke dalam rumah. Kali ini, aku benar-benar sedang tidak ingin bicara dengan Aisyah. Aku takut kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku lakukan padanya.
"Kamu yang masuk, atau mas saja yang masuk?!".
Ucapku sembari melepas tangan Aisyah pada tanganku. Tentu dengan pelan, dan tidak kasar.
" Ba-baiklah. Biar Aisyah saja yang masuk. Hiks.. hikks.. ".
" Bagus".
Jawabku pendek.
__ADS_1
Aisyah pergi meninggalkan diriku yang kembali duduk di teras depan. Kenapa semuanya begitu menyesakkan jiwa. Meninggalkan bekas lara yang begitu menganga. Aku tidak mengerti. Harus bagaimana lagi, akan kah Aisyah ku kembali dengan Fatih mantan suaminya dulu. Teka-teki takdir yang membuat diriku hampir ingin mati saja rasanya. Akan berakhir seperti apa semua ujian ini. Rumah tanggaku dan diriku kenapa harus di uji dengan hadirnya orang ketiga?. Aku mungkin akan sanggup menerima banyak ujian pernikahan, entah itu ekonomi, kesehatan. Tapi tidak dengan mantan. Mantan adalah seseorang yang seharusnya di tinggalkan bersama kenangannya. Bukan malah di persilahkan datang seperti yang dilakukan istriku. Jika aku mau, aku bisa saja membuat sakit hati Aisyah. Karena sejujurnya, banyak perempuan yang bahkan mau menjadi madu Aisyah. Bahkan Aisyah mengetahui itu. Tapi untuk apa?. Aisyah sudah sangat lebih dari cukup bagiku. Dan tidak pernah sedikit pun aku ingin memiliki dua istri, apalagi menyakiti dan mengkhianati Aisyah.
"Abi?. Kenapa Umi menangis? ".
Tiba-tiba putri ku yang cantik datang dari dalam rumah dan menanyakan Umi nya yang menangis.
" Oh itu, mungkin Umi sedang kelilipan saja nak matanya".
Terpaksa berbohong, meskipun ini tidak benar. Marwah tidak boleh tahu jika Umi dan Abi nya sedang tidak baik-baik saja.
"Kasian Umi. Abi kenapa tidak menolong Umi?. Kenapa Abi malah duduk melamun disini? ".
" Abi sedang pusing nak. Abi takut malah bikin repot Umi. Jadi tadi Abi suruh Umi masuk kedalam ".
" Hmmm... Semoga saja Umi nya Wawa baik-baik saja ya Abi".
"Iya nak. Wawa masuk sanah kedalam. Diluar dingin nak".
" Iyah Abi".
Langit nampak nya akan menangis. Seperti tahu dengan kondisi ku. Langit seperti mengerti bahwa ada seorang suami yang terduduk penuh luka karena sakit hati. Luka karena merasa sangat di khianati oleh wanita yang sangat di cintai. Mendung, semakin gelap dan sangat gelap. Semesta mungkin pun juga merasa, bahwa laki-laki bernama Fahmi sedang tidak baik-baik saja. Sepoi angin membawa bau khas tanah yang pertama kali terkena gerimis. Dilanda dilema memang tidak mengenakan. Antara mendengar penjelasan Aisyah atau rasa kecewa yang sudah menancap didasar jiwa. Tapi, jika memang aku harus mendengar penjelasan istriku, akan kah dia bener menceritakan kejadian yang sebenarnya?. Atau kah hanya untuk sekedar membahagiakan diriku saja.
"Mas Fahmi, masuk Mas. Hujan nya semakin besar. Anginnya sangat kencang".
Aku tidak menghiraukan ucapan Aisyah padaku. Diterpa hujan besar dan angin kencang jauh lebih mengenakan dari pada diterpa cemburu karena orang ketiga. Biarlah aku sakit jasmaninya, itu jauh lebih mending dibandingkan dengan sakit hati nya. Sakit hati bisa merusak segala nya, jasmani juga pikiran ikut terkena imbasnya. Saat ini, memandang langit yang menangis deras jauh lebih menenangkan dibandingkan dengan melihat wajah Aisyah. Biasanya, wajah Aisyah lah yang selalu membuat hatiku tenang. Sekalipun aku sedang diterpa dengan masalah yang besar. Saat ini, bagaimana bisa Aisyah membuat hatiku tenang. Sedang dialah yang menyebabkan ketidaktenangan dalam hatiku.
"Mas, Aisyah mohon. Masuk kedalam mas. Mas Fahmi. Aisyah minta maaf mas. Maaf kalau Aisyah salah".
" Mas tolong, Aisyah bisa bicarakan semua ini pada Mas Fahmi. Hikss... hikks... ".
"Masuk lah dik. Nanti kamu sakit. Mas sedang ingin disini".
Ucapku pada Aisyah meskipun tidak menoleh sedikit pun. Sekecewa apapun aku padanya. Aku tidak ingin melihat Aisyah sakit.
" Hikks... hikks... Aisyah mencinta mas Fahmi. Sungguh, tolong percaya mas".
__ADS_1
"Masuk kedalam, Aisyah".
" Mas, apa yang Mas Fahmi lihat kemarin itu tidak benar mas. Tolong percaya pada Aisyah. Hiks... ".
" Sudahlah, mas sudah tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Jadi kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku Aisyah. Masuk lah kedalam. Aku tidak ingin kamu sakit".
"Aisyah tidak mau masuk. Kalau mas Fahmi juga ga masuk ke dalam".
" Sejak kapan kamu jadi tidak taat pada Mas?!. Apa semenjak laki-laki itu datang kembali dalam hidup mu? ".
" Astaghfirullah, tidak Mas Fahmi. Aisyah tidak ada maksud untuk tidak taat pada Mas. Aisyah hanya... ".
" Hanya apa?. Hanya merasa bahagia karena setelah bertahun-tahun akhirnya bertemu dengan cinta kamu yang lama? ".
" Istighfar Mas Fahmi. Hikks... hikks.. Aisyah tidak seperti itu. Aisyah hanya mencintai suami Aisyah saja".
"Mas sadar diri dek. Mas mengerti bahwa Fahmi tidak lah sebaik Fatih. Fahmi itu tidak ada apa-apa nya dibanding dengan Fatih yang tampan, kaya, juga lulusan Madinah".
" Sejak awal, harusnya mas Fahmi tahu dan sadar diri. Bahwa Aisyah terlalu berharga untuk dimiliki oleh seorang laki-laki seperti mas Fahmi. Aisyah wanita yang terlalu sempurna untuk orang seperti diriku. Tidak apa-apa, mas akan tetap disini untuk mu. Sama seperti saat enam tahun yang lalu. Seorang Fahmi yang sabar harus menunggu seorang Aisyah mencintai dirinya seperti Aisyah mencintai mantan suaminya. Mas sudah terbiasa tersakiti. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Sekarang, masuklah dan istirahat lah di kamar. Cuaca sangat dingin, angin nya sangat kencang. Hujan juga sangat deras. Temani Wawa".
Aku masih di posisi yang sama. Berbicara tanpa melihat wajah Aisyah. Melihat ribuan tetes air yang turun dari langit ke bumi, jauh lebih indah sekarang. Melihat mereka setidaknya aku banyak belajar, bahwa air hujan yang di jatuhkan begitu saja tetap sabar dan menerima nasib nya. Mungkin aku juga harus seperti mereka, sabar dengan keadaan yang ada dan harus legowo menerima nasibku yang malang. Sepoi angin menerpa wajahku dengan sangat kencang, seolah memaksaku untuk bisa sadar. Bahwa mantan suami istriku adalah laki-laki yang jauh lebih baik dibanding diriku.
"Kenapa masih disini?. Masuk Aisyah?!".
Aku tahu, Aisyah masih dibelakang diriku. Meskipun aku tidak menoleh pada nya barang sedikit pun. Kehadiran Aisyah sangat aku rasakan. Meskipun tanpa aku melihat ke arah nya. Sepertinya Aisyah telah pergi dan masuk kedalam rumah. Isak tangis nya sudah tidak lagi terdengar oleh kedua telingaku. Hatiku seperti diiris oleh pisau tajam, ketika melihat Aisyah menangis. Tapi apa boleh buat, aku berhak kecewa dan marah padanya. Apa yang Aisyah lakukan kemarin, benar-benar diluar batas. Mungkin jika laki-laki lain, akan habis kesabaran sudah. Akan ada pertengkaran hebat, melebihi pertengkaran seorang musuh bebuyutan yang saling memendam dendam. Tapi sampai detik ini, aku masih berusaha menahan emosiku, masih sedikit mengabaikan luka menganga di hatiku, meskipun itu sangat lah sulit.
"Allahumma shayyiban nafi’an."
Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat. (HR Bukhari).
Aku membaca doa ketika turun hujan. Salah satu waktu dikabulkan nya sebuah doa adalah ketika turun hujan. Aku banyak berdoa untuk kebahagiaan orang-orang yang aku cintai, meskipun untuk membuat mereka bahagia aku harus merasakan perih dan sakit hati.
Haruskah aku bertemu dengan Fatih?. Menanyakan semua pertanyaan yang berjubel di kepalaku. Pertanyaan tentang kenapa dan bagaimana bisa semuanya terjadi. Sepahit apapun kenyataan yang aku dapatkan nanti. Aku siap untuk menerima nya. Ada banyak bersliweran pertanyaan yang belum aku dapatkan jawabannya. Jika memang takdir menghendaki diriku memiliki Aisyah hanya untuk sementara dan kemudian Aisyah akan dikembalikan lagi pada Fatih mantan suaminya, apa yang harus aku perbuat?. Aku hanya seorang laki-laki biasa, sangat berbanding terbalik jika harus di sejaharkan dengan mantan suami istriku. Aku hanya seorang pekerja kantor biasa. Kuliah pun aku jatuh bangun untuk mencari biaya sendiri. Karena Bapak telah meninggal disaat aku masih berusia tujuh tahun. Saat kecil, saat aku tidak tahu apa itu artinya kehilangan. Ketika Bapak meninggal kan aku dan Ibu untuk selamanya, aku hanya menangis. Konsep yang aku ketahui saat itu hanyalah, orang meninggal tidak akan hidup kembali. Ternyata setelah mulai dewasa, aku baru merasakan dampak yang begitu dahsyat kerena kehilangan seorang figur ayah dalam perjalanan hidupku. Aku tidak mungkin membebankan semua biaya kuliah pada Ibu. Sedang Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga saja. Jatuh bangun, Ibu berusaha menghidupi anak-anak nya. Aku anak pertama, di benakku saat itu adalah. Bagaimana caranya aku bisa kuliah dan kerja. Bagaimana caranya aku harus bisa hidup dan menghidupi Ibu dan adik-adikku.
"Ya Allah, jika ternyata Aisyah akan Engkau kembalikan lagi pada mantan suaminya. Kenapa harus aku orang yang Engkau pilihkan untuk menjaga nya sementara? ".
__ADS_1
Ucapku sembari menyeka air mata, air mata yang tidak lagi bisa aku paksa untuk tidak keluar menetes dan bercampur bersama rintik hujan yang jatuh.