
Jika ada sebuah kaca yang kemudian jatuh, mungkin kurang lebih seperti itulah keadaan hati dan pikiran ku sekarang. Aku sesenggukan begitu mendengar kabar dari ibu, bahwa putri kecilku Wawa pulang dengan orang tua teman baru nya di sekolah. Sebagai orang tua, aku merasa gagal. Gagal mendampingi Wawa di masa-masa pertumbuhannya. Aku sangat takut, putri cantik ku merasa kurang perhatian dan kasih sayang dari Umi dan juga Abinya. Keadaan menghendakinya seperti ini, aku kecewa pada diriku sendiri. Aku seharusnya bisa menjaga bidadariku yang kini sedang terbaring tak berdaya. Melawan sel-sel kanker ganas yang tiap detik dan tiap menit terus menerus mencoba menggerogoti tubuh nya. Adakah semua ini, Allah berikan karena dosa-dosa ku di masa lalu?. Jika memang iya, harus seperti apa lagi aku menebus segala kesalahan dan dosaku. Haruskah segala dosa-dosa ku dimasa lalu di tebus oleh orang-orang yang kucintai?. Rasanya tidak adil, jika memang semua itu akibat dosaku, harusnya akulah orang pertama yang merasakan akibatnya. Bukan istriku Aisyah, Ibuku, apalagi putri kecilku yang tidak berdosa. Harus bagaimana aku sekarang?, sebagai seorang suami?, sebagai seorang ayah, dan sebagai seorang anak?. Aku tidak ingin semuanya gagal. Sungguh, aku sangat menyesal jika sampai gagal mempertahankan ketiganya. Segala upaya, segala cara dan daya sudah kuusahakan. Sampai bahkan aku tidak mempedulikan bagaimana kondisi dan keadaan diriku sendiri. Fokusku adalah mendapatkan donor organ ginjal yang cocok untuk Aisyah, menemani masa-masa sulit Aisyah, dan kemudian kembali berkumpul dirumah dengan penuh rasa bahagia.
"Tuuut.... tuuutt,".
Bunyi dering telepon genggam yang sengaja aku keraskan. Aku harus berbicaralah dengan putriku Marwah. Setidaknya aku harus meminta maaf kepadanya. Karena belum bisa mengantar dan menjemput dirinya dari sekolah. Aku hanya ingin putriku tahu, bahwa aku dan Aisyah tetap ada dan memperhatikan nya, meskipun tidak berada di dekat fisiknya.
"Hallo... Assalamualaikum Ibu?,".
"Hallo, Waallaikumussalam nak. Ada apa?. Apa sudah ada kabar info mengenai orang yang akan mendonorkan ginjal untuk Aisyah?,".
Harapan besar jelas aku rasakan dari semua pertanyaan-pertanyaan Ibu padaku. Seandainya saja, aku bisa secepatnya memberikan kabar baik itu. Tapi faktanya?, sampai detik ini belum bisa mendapatkan pendonor ginjal yang pas dan cocok untuk Aisyah. Aku berusaha untuk menahan bulir air mataku. Dadaku sesak, sangat menyesakkan. Bahkan rasanya, seperti tidak bisa berkata sepatah kata pun pada Ibu.
"Nak Fahmi?, kok diam saja?. Ada apa nak?. Apa ada kabar tentang Aisyah?. Ha... Hallo?,".
"Ehh.... Be-belum Bu. Fahmi belum berhasil mendapatkan pendonor ginjal untuk Aisyah,". Jawabku terbata dengan sangat berat.
"Ohh...,". Terdengar suara sedih dan putus asa dari seberang telepon. Mau bagaimana lagi?, tidak mungkin aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku telah berhasil mendapatkan pendonor yang cocok untuk Aisyah pada Ibu.
"Ma-mafkan Fahmi Bu,". Ucapku pasrah.
"Tidak nak, tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah. Semua ini ujian untuk kita. Maaf jika respon Ibu membuat kamu sedih. Kamu sudah makan putraku?,".
"Fahmi sama sekali tidak sedih Bu,". Jawabku berbohong.
"Fahmi sudah makan, Alhamdulillah. Ibu jangan lupa makan yah. Ibu?, dimana Marwah?. Fahmi ingin bicara dengan nya,".
"Alhamdulillah kalau sudah makan nak. Jaga kesehatan yah. Kamu harus tetap sehat ya nak. Biar selalu didamping istrimu. Marwah ada nak, dia sedang bermain di teras belakang. Sebentar, ibu panggilkan,".
"Marwah....?!, cucu Oma?. Abi mau ngobrol nak. Abi menelepon ini,".
Aku mendengar suara Ibu yang berteriak memanggil-manggil cucu kesayangan nya itu. Aku terdiam beberapa saat, menantikan suara imut dari putriku terdengar. Aku tidak boleh sedih, suaraku tidak boleh terdengar seperti orang yang sedang putus asa oleh anakku. Aku harus terlihat seperti tidak ada apa-apa. Marwah harus tau, bahwa Abi dan Uminya sedang tidak ada apa-apa, kalau Abi dan Uminya hanya sedang ada urusan penting sehingga belum juga bisa pulang kerumah.
__ADS_1
"Hallo, Assalamualaikum Abi. Ini Marwah putri Abi,". Suara kecil dan imut milik putriku terdengar dari seberang telepon.
"Oh hallo sayang. Apa kabar putri Abi yang cantik?. Sehat kan sayang?,". Jawabku dengan suara yang di buat-buat agar tidak terdengar ada nada sedih selama percakapan dengan Marwah di telepon.
"Sehat Abi, Abi apa Wawa sudah bisa bicara dengan Umi?. Wawa kangen sekali sama Umi. Wawa bahkan belum pernah mendengar suara Umi lagi. Dan Marwah juga belum cerita ke Umi, kalau Marwah punya teman baru yang sangat baik di sekolah,".
Laki-laki, ya aku tau. Laki-laki bisa dikatakan haram hukumnya untuk menangis bagi sebagian orang. Tapi aku juga manusia biasa. Apalagi berhubungan dengan seorang anak. Aku kuat, fisik ku kuat. Tapi tidak dengan hatiku sekarang. Aku tidak mampu menahan air mataku, begitu mendengar putriku satu-satunya terus mencari-cari dan ingin mendengar suara Uminya. Ingin mendengar suara seorang ibu yang telah melahirkan nya ke dunia. Tangan kiriku kugunakan untuk menyeka tetesan air mataku. Aku menjauhkan ponsel genggam milikku, untuk kemudian menarik nafas dalam dan panjang.
"Astaghfirullah...,". Ucapku lirih.
"Alhamdulillah, putri Abi sehat. Semangat terus ya sayang. Umi masih belum bisa di ganggu sayang. Tapi tenang, Abi sudah bicara dengan Umi nya Marwah. Abi sudah cerita, kalau Wawa punya teman yang saangaaat baik di sekolah. Wawa tau tidak apa yang di katakan Umi setelah Abi bercerita?,".
"Waaahhh...!!, sungguh Abi sudah menceritakan semuanya pada Umi?. Umi bilang apa Abi?,". Suara putriku terdengar begitu sangat girang dan bahagia.
"Umi bilang, Umi ikut bahagia dan senang. Karena putri Umi yang cantik punya teman baru yang baik. Umi juga bilang, kalau Marwah juga harus baik sama semua teman-teman Wawa. Oh iya sayang, Umi bilang Wawa harus semangat sekolah nya, jaga kesehatan, nurut sama Oma, shalat nya yang semangat, dan satu lagi. Umi bilang ke Abi, katanya Umi pengen terus di doakan sama putrinya yang cantik dan pintar. Biar selalu diberikan kesehatan,".
Aku terpaksa banyak berbohong pada putriku. Aku tau ini salah, tapi aku tidak ada cara lain selain ini. Aku ingin Marwah tau, bahwa Uminya juga sangat menyayangi dirinya. Biarlah, biar putriku tetap tidak mengetahui apa hal yang sebenarnya terjadi. Biarkan dia tetap berfikir, bahwa Umi dan Abinya sehat dan hanya sedang ada kepentingan yang mendadak.
"Akan Abi usahakan ya sayang. Nanti Abi sampaikan pada Umi. Lagi pula Umi juga sudah sangat rindu pada Marwah sayang. Oh iya, Oma cerita, katanya Wawa sudah main kerumah teman baru Marwah ya?,".
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan di telepon, agar Wawa tidak terus menerus membahas Uminya. Aku takut tidak mampu menahan kesedihan dan sesak yang sedari tadi aku tahan.
"Oh iya, sudah Abi. Teman barunya Wawa sangat baik. Namanya Ilham, Ilham juga punya Abi yang sangat baik. Dirumah nya Ilham, Wawa juga berkenalan dengan nenek nya Ilham,".
"Oh iya?,". Responku dengan pura-pura tidak ada masalah apapun.
"Abi tau tidak, Wawa juga diberikan sepotong roti isi coklat. Rasanya sangat enak. Wawa juga ikut makan bersama Ayah dan nenek nya Ilham. Nenek nya Ilham sangat baik sama Wawa. Nanti kalau Umi sudah pulang, kita bertiga main yah Abi kerumah Ilham,". Lanjut putriku lagi, yang begitu semangat menceritakan teman baru dan keluarga nya.
"Oke siap nak, salam ya untuk nenek dan ayah nya nak Ilham. Oh iya, apa Wawa tau siapa nama ayahnya Ilham?,".
Aku bertanya-tanya siapa nama ayah dari teman putriku. Biar bagaimanapun aku harus mengucapkan terimakasih karena telah baik pada Marwah.
__ADS_1
"Aduuh, maaf Abi. Wawa tidak tahu siapa nama ayah Ilham. Nanti jika Wawa bertemu lagi. Wawa akan tanya namanya deh. Hehehehe,".
Aku geleng-geleng kepala mendengar celoteh putriku. Lebih dari itu, aku sangat bahagia mendengar tawa nya. Setidaknya putriku terus bisa tertawa.
"Oke, kapan-kapan Abi akan menemui Ayah nya Ilham. Dan Ayah akan mengucapkan terimakasih, karena telah sangat baik pada putri Abi yang cantik ini,".
"Sungguh Abi?, nanti akan Wawa sampaikan ke Ilham. Makasih banyak Abi,". Suara Marwah terlihat sangat gembira.
"Sama-sama putriku sayang. Mana Oma nak?, bisa berikan telepon nya pada Oma?,". Pintaku pada Marwah.
"Hallo nak, ini Ibu,".
"Hallo ibu. Bu, tolong kalau Ibu sudah tahu siapa nama ayah teman nya Wawa, kasih tau Fahmi yah Bu. Fahmi ingin bertemu dan berterimakasih padanya,". Pintaku pada ibu dari seberang telepon.
"Iya nak, nanti kalau Ibu sudah tahu, akan Ibu kabari kamu. Semoga secepatnya menantu ibu mendapatkan donor yang cocok ya nak. Aamiin,".
"Aamiin, doakan kami yah Bu,".
"Selalu putraku. Kamu jaga kesehatan yah. Jangan pernah putus berdoa pada Allah yah nak,".
"In syaaAlloh Bu. Yasudah Fahmi matikan dulu telepon nya yah Bu. Ibu sehat-sehat dirumah. Kami titip Wawa yah Bu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,".
"Iyah nak, Waallaikumussalam Warahmatullahi wabarokatuh,". Jawab Ibu.
"Tuuut.... tuuutt....," Sambungan telepon terputus.
Aku duduk di teras masjid, sebentar lagi waktu ashar akan datang. Ada baiknya aku menunggu disini saja. Sepanjang menunggu adzan shalat ashar berkumandang, otakku terus berfikir, lisanku tidak henti-hentinya beristighfar kepada Allah. Semoga ada jalan keluar dari semua ini, aku percaya Allah akan menolong hamba Nya, selagi hamba Nya memohon ampun dan pertolongan pada Nya.
“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307). Kurang lebih begitulah salah satu hadist yang pernah aku dengar, jika Rasulullah yang sudah dijamin masuk kedalam surga saja masih terus beristighfar (memohon ampun) pada Allah. Apalagi aku manusia biasa yang penuh dengan khilaf dan dosa. Semoga dengan banyak nya istighfar yang aku ucapkan ada jalan keluar dari semua ini.
"Allahuakbar.... Allahuakbar....!!,". .
__ADS_1
"Alhamdulillah...,". Gumamku lirih, begitu suara adzan ashar terdengar, tepat di pukul tiga sore lebih sepuluh menit. Aku beranjak dari teras masjid dan kemudian menuju tempat wudhu untuk bersiap melaksanakan shalat wajib berjamaah.