
"Siska?,". Panggilku kepada Siska yang sedang asyik nonton tv dengan kaki yang di angkat seperti bos.
"Ya?!, ada apa?!,". Jawabnya ketus kepadaku, bahkan tanpa melirik ke arahku.
"Siska, bisakah kamu sedikit lebih sopan kepada mereka?, maksudku kepada Bi Inah, Bi Ijah, dan Bi Dar?,". Ucapku pelan, berharap Siska mau mengerti.
"Apa urusanmu?!, lagian mereka kan pembantu?, ngapain gue harus hormat kepada mereka segala?!, gue kan majikan?!,". Ucap Siska dengan kasar padaku, masih dengan mata tertuju pada televisi.
"Tapi Siska, mereka tetap lebih tua dari pada kamu. Kamu harus tetap bersikap baik dan menghormati mereka,".
"Kamu itu memang ga layak jadi ratu, pantas saja mas Fatih tergila-gila denganku. Lihat saja, istri pertamanya sok alim dan dungu begini, pembantu saja di baikin!, hah dasar ga guna?!,". Kali ini dia bersungut-sungut melototi diriku, dia sama sekali tidak ada sopan santun nya bahkan denganku yang kakak madunya.
"Astaghfirullah Siska?!, kamu tidak boleh berkata begitu. Aku ini kakak madumu?!,". Aku terbawa emosi.
"Apa kau bilang?!, kakak madu?!, bagiku kau sama saja kaya tiga pembantu tua itu?!, kau ngga guna?!, mas Fatih hanya sial saja mendapatkan istri seperti mu?!,".
"Astaghfirullah Siska, istighfar. Akan kuadukan sikap mu yang keterlaluan kepadaku dan three Bi pada mas Fatih,". Teriakku pada Siska yang telah pergi ke kamar meninggalkanku.
"Ngadu aja Sanah?!. Hahah..., mas Fatih tidak akan percaya padamu lagi?!,". Jawab Siska dengan angkuh nya.
Astaghfirullah. Berkali-kali aku hanya mampu beristighfar. Hanya dengan sabar aku bisa menghadapi sikap Siska. Aku hanya berharap mas Fatih bisa melihat sendiri bagaimana kelakuan istri muda nya ketika di depanku dan di belakang dia.
"Bi...., maafkan sikap Siska yah Bi,". Ucapku menghampiri mereka yang sedang duduk di dapur. Aku meminta maaf kepada three Bi karena sikap Siska yang kasar kepada mereka.
"Non Aisyah jangan minta maaf, kan non ga salah, harusnya non Siska yang jahat itu yang harus minta maaf ke kami non,". Ucap Bi Inah padaku.
"Iya non, harusnya non Siska yang minta maaf. Non Aisyah aja tidak pernah kasar kepada kita, dia kok bisa sekasar itu,". Ucap Bi Ijah.
__ADS_1
"Benar non,". Kali ini Bi Dar ikut angkat bicara.
"Hmmm..., ngga papa. Siska kan adik maduku, kalau ada salah karena sikapnya, Aisyah yang akan minta maaf Bi. Yasudah yuk kita siap-siap untuk makan siang. Sebentar lagi paling mas Fatih pulang dari kantor,".
"Iyah non, kami siapkan dulu makanan nya yah non,". Ucap three Bi kompak.
"Boleh Aisyah bantu Bi?,". Pintaku.
"Jangan non, non Aisyah duduk saja yah. Jangan sampai kecapean. Nanti non sakit lagi,".
"Ya sudah kalau gitu. Aisyah ke kamar dulu yah Bi,". Ucapku kepada mereka dan seraya berlalu menuju kamarku.
Ketika aku sedang berjalan menuju kamar, aku tanpa sengaja mendengar percakapan Siska dengan seorang laki-laki, yang jelas itu bukan suara suamiku mas Fatih. Itu suara laki-laki lain. Siska telepon dengan siapa?, pikirku dalam hati.
"Sayang, aku rindu kamu beb,". Suara Siska terdengar dari balik pintu.
"Tapi kapan yang?, aku sudah tidak tahan ingin di peluk kamu beb. Aku bosan dirumah terus seperti ini, apalagi istri tua suamiku itu sangat menyebalkan,". Ucap Siska pada laki-laki yang di telpon nya itu.
"Sabar beb, kan posisi kita memang harus sembunyi-sembunyi. Bahaya kalau kamu ketahuan suami mu kalau kamu sebenarnya punya selingkuhan,". Ucapan laki-laki yang mengobrol dengan Siska lewat pesawat telepon benar-benar mengejutkanku.
Aku bergegas menuju ke kamar. Aku tidak mau ketahuan Siska, jika dari tadi aku tanpa sengaja mendengar kan pembicaraan nya dengan laki-laki yang di sebut selingkuhannya itu. Kejam sekali Siska, berani-beraninya menikah dengan mas Fatih, tapi dia sendiri sudah punya laki-laki lain. Apa motifnya?, mengapa dia rela menikah dengan mas Fatih?, kalau dia sendiri telah memiliki pria yang dicintainya?. Mataku panas, air mataku menetes. Aku benar-benar menyesal telah meminta mas Fatih untuk menikahi Siska. Walaupun sebenarnya ini bukanlah keinginanku dan permintaanku. Apa Bunda mertuaku tidak tahu?, jika putra satu-satunya sedang di permainkan oleh wanita yang dipilihkan nya untuk menjadi istri muda putra satu-satunya itu?. Ya Allah, Maha Baik Engkau ya Rabb. Bahkan belum seminggu Siska berada di rumah ini, Engkau telah menunjukkan kepadaku seperti apa sosok adik maduku itu. Aku bersyukur karena Allah begitu baik.
"Non, den Fatih pulang,". Ucap Bi Ijah kepadaku.
"Iya Bi, terimakasih. Nanti Aisyah keluar,".
Aku berjalan menuju pintu depan dan menyambut mas Fatih. Aku mencium tangan mas Fatih, dan ketika mas Fatih hendak mencium keningku, tiba-tiba Siska datang sambil berlari dengan tangis yang pecah. Dia memeluk mas Fatih di depanku.
__ADS_1
"Sayang...., hiks.. hiks...,". Ucap Siska sambil merengek di pelukan mas Fatih. Aku hanya mampu diam dan bersabar, meksipun menyakitkan melihat mas Fatih di peluk-peluk oleh Siska.
"Ada apa siska?, kamu kenapa,? kok menangis?,". Tanya mas Fatih bingung.
"Sayang..., hiks.. hiks.. Kakak maduku jahat mas. Masa aku di bentak-bentak hanya karena aku menyuruh asisten rumah tangga kita untuk membuatkanku jus dan membantuku memebereskan baju-bajuku. Hiks.. hiks,".
Ya Allah, itu tidak benar. Aku tidak pernah membentak Siska. Bahkan aku mengingat kan nya dengan baik-baik. Bukan aku yang membentak Siska. Tapi Siska yang membentakku dan mengataiku dengan ucapan yang sangat pedas. Ucapku dalam hati.
"Apa benar dik?, kamu membentak dan memarahi Siska adikmu hanya karena dia menyuruh three Bi?,". Tanya mas Fatih padaku dengan tatapan tajam. Tatapan yang baru pertama kali aku mendapat kan nya dari mas Fatih.
"Ti... tidak mas. Apa yang dikatakan Siska tidak benar mas. Aisyah sama sekali tidak membentak Siska mas. Aisyah Han...,".
"Sudah cukup Aisyah?!, kamu tidak boleh membentak adik madumu seenaknya. Siska juga istriku. Kalau kamu Sampai membentak nya lagi, mas tidak akan tinggal diam Aisyah!,". Belum selesai aku menjelaskan, mas Fatih langsung membentakku dan memotong pembicaraanku. Dan aku melihat Siska dengan jahat tersenyum mengejekku.
Mas Fatih benar-benar sudah berubah. Dia sangat kasar padaku. Ya Allah kemana suamiku yang dulu?, suami yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan padaku?, kenapa sikap nya berubah ya Allah. Ucapku dalam hati. Aku menangis di hadapan mas Fatih, aku sudah tidak kuat menahan air mataku. Bentakkan kasar mas Fatih padaku sudah sangat menyakitkan untukku, bahkan mas Fatih membentakku di depan istri muda nya yang jahat.
Aku berlari dan berlalu menuju kamar. Aku menangis, hatiku benar-benar sakit di perlakukan sekasar itu oleh suamiku sendiri.
"Dik...., maafkan mas Fatih,". Aku mendengar mas Fatih mengetuk pintu dan meminta maaf. Aku tidak membuka kan pintu untuknya. Karena sengaja aku mengunci pintu kamarku.
"Sudah lah mas, biarkan saja istri pertama mas itu. Lagian mas sudah benar, membentak dia. Karena dia emang jahat,". Aku mendengar Siska terus mempengaruhi mas Fatih. Kenapa ada perempuan sejahat Siska?.
Aku dibentak didepan istri muda mas Fatih, istri muda yang sekarang mampu memberikan pengaruh negatif padanya, istri muda yang dibelakang mas Fatih berkhianat dengan laki-laki lain. Kenapa ya Allah?, kenapa ujianku begitu berat?, sangat menyakitkan sekali. Ucapku di sela tangisku.
Bunda...., hiks.. hiks, tak tau kah Bunda?, Aisyah sangat menderita dengan semua ini Bunda. Aisyah hancur, Aisyah benar-benar terasa tersakiti Bun.. hiks.. hiks. Ucapku lagi di sela tangisku yang begitu menyayat.
Kapan semua penderitaan ini berakhir ya Rabb?, ucapku dalam hati.
__ADS_1