Madu

Madu
Episode.52 (SEASON 2)


__ADS_3

"Ti-tidakkk!!. Aisyah!! ".


Aku terbangun dari tidur yang sangat panjang dan mengerikan. Mimpi itu sangat mengerikan. Bagaimana mungkin aku akan menceraikan Aisyah?!. Ini mimpi terburuk seumur-umur aku hidup di dunia. Ingin rasanya terbangun dari tidur tapi sangat sulit. Bahkan aku beneran menangis. Semua ini hanya mimpi, aku mimpi menceraikan Aisyah. Bahkan Ibu dan Marwah juga membenci diriku. Aku di usir oleh Ibu dari rumah ini?!. Keringat di badanku bercucuran. Padahal dikamar ini, aku menggunakan AC pendingin. Aku mengusap dahiku yang berkeringat, dan air mataku yang ternyata benar-benar basah. tapi yang barusan aku alami hanya mimpi. Aku yakin itu hanya mimpi. Astaghfirullah ya Allah. Kenapa aku mimpi seburuk itu ?. Nafasku masih tidak terkontrol. Detak jantungku masih sangat cepat. Aku yakin, mimpi yang sangat buruk ini terjadi, karena aku terlalu memikirkan perkataan Bunda Layla padaku.


"Jangan pernah tinggalkan Mas Fahmi, Aisyah. Mas sangat mencintai dirimu".


Aku langsung memeluk erat tubuh istriku yang sedang asyik memotong sayur di dapur. Aku bahkan sampai menitikkan air mata didalam dekapan Aisyah. Mimpi itu benar-benar seperti nyata. Mimpi terparah dan terburuk yang pernah mampir dalam tidurku. Nauzubillah, jangan sampai mimpi itu jadi kenyataan, aku tidak akan mampu dan kuat menghadapi kejadian seperti itu.


"Ma-mas, Fahmi?. Mas kenapa?. Kok bangun tidur berkeringat sampai semua baju basah begini. Apa Mas tidak menyalakan AC kamar? ".


" Sttt... diam sayang. Mas sedang ingin memeluk bidadari Mas ".


"Mas Fahmi menangis?. Mas ada apa?. Mas Mimpi buruk yah? ".


" Tidak hanya buruk, tapi teramat sangat buruk sayang".


"Astaghfirullah, Mas mimpi apa?. Makanya kalau mau tidur jangan lupa berdoa dan ambil wudhu sebelum tidur Mas".


" Aisyah, jangan pernah tinggalkan Mas. Maafkan Mas jika selama jadi suami Aisyah. Mas banyak kekurangan "


"Tidak Mas, Aisyah tidak akan meninggalkan Mas. Mas adalah laki-laki terbaik yang pernah ada di hidup Aisyah setelah Abi".


Aku melepas pelukanku dari tubuh Aisyah. Aku mengusap bekas air mata di pipiku. Mimpi itu masih terngiang dalam pikiran ku. Mungkin benar kata Aisyah. Aku lupa tidak wudhu dan berdoa sebelum tidur. Sampai-sampai aku mimpi yang sangat mengerikan seperti itu.


"Mas, memang nya mimpi apa sih?. Kok sampai berkeringat sebanyak ini. Dan langsung menangis memeluk Aisyah? ".


" Kan mimpi buruk tidak boleh diceritakan sayang. Mimpi buruk (ru’ya makruhah), mimpi ini datang dari setan. Mimpi buruk itu menggelisahkan. Salah satu terapi dari mimpi seperti buruk adalah membaca ta’awudz, yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Mimpi ini lebih baik tidak diceritakan kepada orang lain dan yang bermimpi harus bersabar dalam hal itu. Karena ingatlah bahwa setan itu musuh manusia dan berusaha menyakiti, juga membuat sedih manusia istriku. Karena mimpi buruk itu datang jua dari setan". Ucapku sembari mengelus lembut perut Aisyah. Perut yang saat ini sedang dihuni oleh makhluk mungil calon buah hatiku yang kedua.


"Hmmm.. iya sih Mas. Yasudah Mas Fahmi jangan kepikiran mimpi yang jelek itu yah. Banyak berdoa sama Allah yah Mas".


"Iya sayang, mungkin Mas lupa tidak membaca doa saat akan tidur. Makanya Mas mimpi mengerikan seperti itu. Marwah dimana? ".


"Ada di kamar nya. Seperti nya sedang asyik membaca buku".


" Oh, Mas ke kamar Wawa dulu yah sayang".


"Iyah Mas".


Aku berjalan meninggalkan Aisyah yang kembali asyik dengan sayur-sayuran yang ada didepannya. Aku harus bertemu dengan putri ku Marwah. Setidaknya untuk meyakinkan lagi, bahwa semua itu adalah mimpi. Gadis kecil ini, yang bahkan di mimpi tidak mau memeluk Abi nya.


"Tokkk ... tokkk... ".


Pintu kamar Wawa ku ketuk pelan.


" Marwah, ini Abi nak. Boleh Abi masuk?".


"Boleh Abi. Pintu kamar nya Wawa tidak dikunci".


Aku membuka pintu kamar Marwah pelan. Benar kata Aisyah. Putri ku yang cantik sedang asyik membaca buku cerita dimeja belajar dalam kamar nya.


" Wawa sedang apa nak? ".

__ADS_1


" Wawa lagi baca cerita, Abi. Abi habis menangis ya? ".


" Oh, tidak kok nak. Hanya tadi Abi sedih saja sebentar ".


" Memang nya Abi sedih kenapa?".


"Abi habis mimpi buruk nak".


" Nah kan, pasti Abi lupa tidak baca doa mau tidur yah? ".


" Sepertinya iya sayang. Boleh Abi minta di peluk sama putri Abi yang cantik ini? ".


" Boleh dong Abi".


Marwah langsung bangun dari kursi yang sedari tadi menopang tubuh kecil nya saat membaca buku. Putri ku langsung memeluk diriku sangat erat. Sekarang aku yakin, itu semua memang mimpi. Wawa bahkan sedang memeluk diriku sekarang. Sedang di mimpi yang buruk itu, putri kecilku sama sekali tidak mau memeluk Abi nya. Dia bahkan mengatakan bahwa dia tetap akan mencintai dan menyayangi Umi nya, meskipun aku tidak lagi mencintai Umi nya.


"Wawa sayang tidak sama Abi? ".


" Sangat sayang. Wawa sayang Abi, sayang Umi, sayang Oma, juga sayang calon adik Wawa. Wawa ingin selalu bersama dengan Abi dan Umi, Oma serta calon adik Wawa".


"Pasti sayang. Abi juga sangat sayang kalian semua. Yasudah, Abi tinggal dulu yah nak. Abi mau mandi".


" Iyah Abi".


Aku keluar dari kamar Wawa dan menutup pintu kamar nya kembali. Aku mengusap wajahku yang masih terngiang dengan mimpi mengerikan itu. Seharusnya aku tidak terus memikirkan ucapan Bunda nya Fatih padaku di telepon saat itu. Jadi aku tidak akan mimpi buruk seperti ini. Rasanya setelah mandi, badanku jauh lebih segar dibanding saat terbangun dari mimpi itu. Aku jauh lebih rileks, dan sudah sadar sepenuhnya. Bahwa aku memang hanya mimpi buruk. Semua itu tidak terjadi di dunia nyata. Aisyah masih bahagia dengan senyum manis nya, putri ku Wawa juga masih semangat seperti biasanya. Juga Ibuku yang sedari tadi menyuruh diriku untuk segera makan. Mereka semua masih bauk-baik saja. Tidak ada yang marah apalagi menangis. Mereka semua masih menjadi milikku. Aku tidak kehilangan satupun dari mereka. Syukurlah, semua itu hanya mimpi saja. Tidak akan mampu untuk hidup, jika semua mimpi itu adalah kenyataan. Lebih baik aku mati, dari pada harus menyakiti orang-orang yang aku cintai. Apalagi kehilangan mereka semua.


"Mas Fahmi?. Aisyah ingi bertanya pada Mas".


"Tentang apa yang ingin kamu tanyakan sayang? ".


" Kok tentang apa. Ya, tentang siapa yang sudah menolong Mas Fahmi. Katanya Mas kemarin sudah bertemu dengan orang nya".


Kaget sekali rasanya, aku kira Aisyah sudah lupa akan hal itu. Ternyata dia masih ingat dan sekarang menanyakan nya padaku. Haruskah aku menceritakan semuanya pada Aisyah?. Apa jadinya jika Aisyah mengetahui siapa orang yang sudah menolong nyawa suami nya. Rasanya akan lebih baik jika aku tidak menceritakan pada Aisyah. Aisyah butuh suasana hati yang tenang dan bahagia. Pastilah, dia akan kepikiran jika aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Aisyah. Biarlah, biar aku saja yang menanggung beban ini. Aku akan mencari solusi terbaik untuk masalah ini. Aisyah dan calon anak kedua ku harus tetap bahagia. Hamil sudah cukup membuat letih dan menguras banyak energi. Meskipun aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hamil. Tapi aku berusaha mengerti kondisi istriku yang sedang susah payah harus menjaga buah hatiku dalam perut nya.


"Itu dia masalah nya sayang".


" Maksudnya? ".


" Mas tidak berhasil bertemu dengan orang nya sayang. Padahal mas sudah mendatangi tempat yang sudah di sepakati untuk tempat bertemu. Tapi setelah sampai sana, tidak ada orang yang mas temui. Atau mungkin saja itu orang iseng yang sengaja mengerjai Mas saja".


"Kok bisa begitu Mas. Kenapa Mas Fahmi tidak ajak video call saja. Kan jadinya tahu bagaimana wajah orang yang sudah mengaku-ngaku telah menyelamatkan nyawa Mas itu".


" Tidak mungkin dong sayang. Mas telepon balik sana sudah tidak mau mengangkat. Apalagi jika mas menghubungi lewat video call. Pastilah semakin tidak mau mengangkat nya. Namanya juga orang iseng".


"Lalu bagaimana Mas? ".


"Bagaimana apanya sayang?. Ya sudah, mungkin Allah belum menghendaki kita untuk bertemu dengan orang yang sudah menolong Mas".


" Padahal Aisyah sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa orang nya. Dan mau berterimakasih.


"Hmmm.. Mas Fahmi juga sama dek. Apalagi ini orang yang sudah menolong nyawa Mas".

__ADS_1


" Mas, Aisyah benar tidak boleh tahu apa yang terjadi di mimpi Mas? ".


" Iya sayang. Kalau mimpinya tidak seburuk itu. Pastilah Mas akan ceritakan padamu. Kalau mimpi. baik datang nya dari Allah, Aisyah. Sedang kalau mimpi buruk datang nya dari setan. Makanya kita tidak boleh menceritakan mimpi buruk kita pada siapapun. Itu jauh belih baik".


"Yasudahlah".


"Sayang? ".


" Iyah Mas? ".


" Misalkan, orang yang menolong Mas adalah seseorang yang kita kenal dimasa lalu bagaimana?. Dan orang itu meminta kita membalas apa yang dia lakukan pada kita dengan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita. Kalau kamu jadi Mas, apa kamu akan memberikan pada orang itu?".


"Kenapa Mas Fahmi bertanya demikian?".


" Kan ini hanya permisalan sayang".


"Permisalan atau permisalan?. Jangan-jangan Mas sudah tahu ya siapa orang yang sudah menolong dan menyelamatkan nyawa Mas Fahmi. Dan orang itu, jangan-jangan Aisyah juga mengenal dirinya? ".


" Tentu tidak Aisyah. Untuk apa juga Mas menutupi darimu, jika memang Mas sudah tahu siapa orang nya ".


" Ya kalau Aisyah si, Aisyah tidak akan menyerahkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup Aisyah Mas. Pastilah ada jalan keluar nya, tidak harus mengorbankan apa yang sangat berharga dan berarti dalam hidup Aisyah. Begitu sih kira-kira kalau Aisyah ".


" Ohh begitu".


"Mas kok aneh. Tadi mimpi buruk sampai mandi keringat. Sekarang bertanya sesuatu yang aneh pada Aisyah. Ada apa sebenarnya Mas? ".


Merahasiakan dari Aisyah adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Wanita yang sangat aku cintai ini tidak boleh ikut menanggung beban apa yang sedang aku rasakan. Jika saja Aisyah sedang tidak dalam keadaan hamil, mungkin aku akan memilih jujur dari pada harus menutupi masalah sebesar ini dari nya. Terlebih lagi, aku harus memikul masalah ini seorang diri. Bercerita pada Ibu juga sangat tidak mungkin, di usia Ibu yang semakin tua, mana mungkin aku akan tega membagi masalah rumah tangga ku dengan nya. Saat ini, yang Ibu butuhkan hanya hidup bahagia, tenang bersama anak, mantu dan cucu nya.


"Mas Fahmi?!. Kok malah melamun? ".


" Oh tidak dek. Maaf tadi mas kepikiran kerjaan kantor mana yang harus di selesaikan dulu. Yasudah, mas mau siap-siap dulu yah. Ada beberapa berkas yang harus mas bawa".


"Teh nya belum di minum Mas".


" Nanti sayang, sekalian sarapan yah. Maaf, nanti pasti akan Mas minum kok. Apalagi teh nya buatan bidadari secantik kamu".


"Bisa aja Mas mah kalau merayu. Yasudah".


Aku berjalan meninggalkan Aisyah yang masih duduk di kursi depan rumah. Sebenarnya memang ada beberapa berkas yang harus aku bawa ke kantor hari ini. Alasan lainnya, aku tidak mau Aisyah masih membahas masalah orang yang telah menyelematkan diriku. Aku yakin, Aisyah masih sangat penasaran. Sama seperti diriku saat belum mengetahui kenyataan, bahwa mantan mertua istriku lah yang ternyata telah menolong nyawaku.


"Derrtt... derrrttt".


Baru saja aku duduk dan akan bersiap membereskan dokumen penting yang akan aku bawa. Ponselku sudah berkedip, ada pesan masuk.


Aku tidak langsung membuka pesan itu. Karena memang prioritas ku adalah agar berkas segera selesai. Tapi lagi-lagi ponselku bergetar dan menyala. Berkali-kali pesan masuk dari nomor yang sama. Sebenarnya siapa, yang pagi-pagi begini sudah mengirimi diriku banyak pesan.


"Selamat pagi nak Fahmi. Bagaimana?. Kapan sekiranya kamu akan membayar hutang budi kamu pada Bunda. Ingat yah, kalau tidak Bunda tolong. Mungkin sekarang kamu sudah tinggal nama nak. Bunda mohon yah sama kamu. Tolong pikirkan bauk-baik apa yang sudah kita bicarakan kemarin-kemarin. Bunda yakin kok, nak Fahmi orang yang berpendidikan. Pasti tahu betul, bagaimana tidak etis nya lari dari hutang. Apalagi ini hutang nyawa".


Kurang lebih itu isi pesan yang berkali-kali masuk pada ponsel genggam ku. Sebuah pesan dari seseorang yang meminta balas budi, mungkin aku bisa langsung membalas hutang nyawaku, jika tidak istriku yang diminta sebagai ganti untuk membayar hutang nyawaku. Aku tidak menyangka, mantan mertua Aisyah akan meminta itu dariku. Aku jujur saja, sangat curiga. Jangan-jangan semua ini adalah rencana Fatih.


"Pesan dihapus"

__ADS_1


Aku tidak membalas pesan itu. Pesan yang baru saja aku baca, langsung aku hapus saat itu juga. Aisyah tidak boleh membaca dan mengetahui pesan ini. Ponselku langsung sengaja aku matikan. Agar Bunda Layla tidak lagi mengirimi diriku pesan seperti tadi. Bagaimana aku bisa dengan tenang menjalani hari-hariku. Kalau belum apa-apa Bunda dari mantan suami istriku, sudah seperti rentenir yang menagih hutang tanpa henti. Nanti aku akan bicara dengan Bunda Layla. Masalah ini harus segera di bicarakan lagi. Aku yakin, ada cara lain selain memasrahkan istriku untuk kembali dengan mantan suaminya dulu. Aku tidak mau. Aisyah terlalu berharga untuk disakiti dan direlakan. Kalaupun Bunda Layla tetap tidak mau dengan cara lain. Biarlah nyawaku saja yang menjadi bayaran hutang nyawaku pada Bunda mantan mertua istriku Aisyah.


__ADS_2