
"Umi, hari ini Abi tidak bisa antar Wawa ke sekolah. Umi bisa kan antar Wawa?. Abi ada urusan di kantor yang sangat mendadak. Barusan di hubungi. Atau Wawa ikut sama putrinya pak Yusril saja? ".
" Jangan Abi, biar Umi saja yang antar Wawa ke sekolah. Nanti pakai taksi langganan kita. Lagi pula Umi sekalian mau ke pasar. Mau beli keperluan dapur sudah pada habis".
"Beneran?".
" Sama Oma saja sini".
Tiba-tiba Oma menawarkan diri untuk mengantar cucu kesayangan nya.
"Jangan! ".
Ucapku berbarengan dengan Aisyah.
"MasyaAllah, suami istri ini kompak amat ya. Semoga bahagia dunia akhirat ya kalian berdua. Aamiin".
" Aamiin". Jawab Aku dan Aisyah bebarengan lagi.
"Yasudah, besok biar Umi saja yang antar putri cantik Umi yah Abi".
"Yasudah, tapi hati-hati yah. Kalau sudah selesai berbelanja segera pulang yah".
" Iyah Abi".
"Oma, hanya ini saja kan daftar sayur dan kebutuhan dapur yang habis? ".
" Mana coba lihat".
"Menantu Oma memang terbaik dan pintar. Sampai detil banget mencatat nya. Betul, ini doang nak".
" Oma bisa saja".
Aisyah seperti nya tersipu dengan pujian Ibu.
"Iya dong, istri siapa dulu? ".
Canda ku menggoda Aisyah dan Ibu.
" Ye jelas istri Putra Ibu yang ganteng dong".
"Hehehehehe... ".
Kami bertiga tertawa bersama. Rasanya sangat bahagia memiliki seorang suami solih seperti Mas Fahmi dan seorang Ibu mertua sebaik ini. Keluarga memang harta yang paling berharga. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi keluarga di hati siapapun. Bahagia, duka lara, tangis pun keluarga lah yang ikut merasakan nya. Aku selalu bersyukur memiliki mereka dalam hidupku. Doa yang aku langit kan pada Nya, tidak lain dan tidak bukan adalah, agar aku di kumpulkan kembali di Jannah Nya. Surga Mas Fahmi setelah menikah tetap pada Ibu nya, maka dari itu, aku bersyukur sekali Allah memberikan Mas Fahmi kesempatan untuk selalu dekat dengan Ibu dan taat pada Ibu. Sedangkan diriku sendiri, Surga nya berpindah dari Umi kepada suamiku Mas Fahmi. Semoga aku bisa memudahkan Mas Fahmi untuk meraih Jannah melalui diriku, maksudku dari dukungan ku untuk membuat Mas Fahmi tetap taat pada wanita yang telah melahirkan dirinya. Mas Fahmi adalah laki-laki yang sangat baik. Rasulullah pernah bersabda bahwa “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”(HR. Muslim). Alhamdulillah, aku memiliki Mas Fahmi. Laki-laki yang bagiku adalah laki-laki yang solih. Mas Fahmi sangat sabar menghadapi diriku. Bahkan disaat aku sedang tidak baik-baik saja.
"Yasudah, ayok sarapan dulu".
Ibu mengajakku dan Mas Fahmi untuk sarapan.
" Wawa kemana? ".
Mas Fahmi bertanya padaku.
" Oh iya, spertinya dia dikamar nya. Sebentar Umi cek dulu. Abi ke ruang makan saja dulu sama Ibu. Nanti Aisyah nyusul sama Wawa".
"Okelah".
Aku berjalan menuju kamar Marwah. Benar saja, putriku yang cantik sedang bercermin sembari membaca doa bercermin. "Allahumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii". Artinya: "Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku." (HR Ahmad). Aku selalu membiasakan putriku untuk terus berdoa. Termasuk hal sekecil bercermin, Wawa tidak pernah lupa untuk berdoa.
"Took... tokk... ".
Aku mengetuk pintu kamar Wawa yang memang sebenarnya sudah terbuka. Tapi sudah menjadi adab yang baik, untuk mengetuk dan meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki rumah atau kamar orang lain.
" Nak, Umi boleh masuk? ".
__ADS_1
" Boleh Umi. Masuk saja. Ini Wawa sedang merapihkan jilbab Wawa".
Aku masuk kedalam kamar anakku, begitu setelah mendapat ijin dari nya.
"Sudah siap nak?. Ayok kita sarapan dulu. Itu Abi sama Oma sudah nunggu di ruang makan".
"Iyah Umi, sebentar lagi selesai".
" Nak, hari ini Umi yang antar Wawa ke sekolah ya sayang".
"Loh, memang Abi mau kemana Umi? ".
" Abi sibuk sayang. Tadi dikabari ada tugas mendadak di kantor. Lagi pula, sekalian Umi mau ke Pasar nak".
"Terus kita pakai apa Umi? ".
" Abi sudah pesanan taksi langganan buat nganterin Umi dan Wawa ke sekolah sayang".
"Oh, gitu. Ayo Umi. Wawa sudah selesai dan sudah siap".
" Ayok nak".
Aku menggandeng tangan Wawa dan berjalan menuju ruang makan. Marwah anak perempuan yang sangat mandiri. Dia tidak pernah banyak menuntut apapun pada Umi dan Abi nya. Dia selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki. Bahkan Wawa tidak pernah menyusahkan aku dan Mas Fahmi juga Oma nya.
"Waaahhh... ada ayam goreng. Alhamdulillah".
Wawa sangat girang mendapatkan ayam goreng tersaji di atas meja. Dia sangat suka dengan ayam goreng.
"Sini nak duduk".
Ucap Oma pada cucu nya.
Aku duduk di samping Mas Fahmi. Alhamdulillah, kebiasaan makan bersama di keluarga Umi dan Abiku, menurun juga di keluarga ku sekarang. Aku sangat menikmati momen makan bersama seperti ini. Hitung-hitung waktu nya untuk bercengkrama dan saling ngobrol satu sama lain. Aku merasakan sekali, saat aku tak sadarkan diri karena penyakit kanker yang menyerang ku, rasanya seperti di ambang ketidakpastian. Antara Allah akan memberikan diriku kesempatan untuk hidup kembali, atau waktuku telah habis di dunia. Dan setelah Allah memberikan diriku waktu tambahan untuk hidup, rasanya tidak ingin aku kehilangan momen berkumpul yang sederhana ini, sesederhana sarapan bersama di pagi hari.
Terdengar seseorang mengucapkan salam di pintu depan rumah. Mas Fahmi langsung beranjak ke depan dan membuka pintu nya.
" Siapa Mas? ".
" Mas Mamat, sopir taksi nya sudah datang. Umi sama Wawa sudah siap? ".
" Oh, Sudah kok".
Jawab ku singkat.
"Yasudah, Umi sama Wawa berangkat duluan saja. Biar nggak telat ke sekolah nya. Abi bentar lagi juga berangkat".
" Beneran nggak papa Abi? ".
" Iya ngga papa Umi".
Aku dan Wawa putriku bangun dari tempat duduk dan kemudian berpamitan pada Ibu dan Mas Fahmi. Tidak enak juga jika harus membuat Mas Mamat sopir taksi menunggu terlalu lama. Taksi berjalan meninggalkan pelataran rumah. Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Sangat cukup untuk belanja ke pasar setelah mengantarkan Wawa ke sekolah. Ke pasar jika terlalu siang, maka tidak akan kebagian ikan dan penghuni laut lainnya. Sayur-sayuran nya pun tinggal sisa saja. Biasanya pasar akan mulai tutup sekitar pukul sembilan. Kalaupun ada yang masih buka, yang di jajahkan hanya seadanya saja dan tidak komplit.
"Wawa sayang? ".
" Iyah Umi? ".
" Coba cek tas nya. Ada yang ketinggalan tidak? ".
" Nggak ada Umi. Semua nya sudah Wawa bawa dalam tas kok".
"Alhamdulillah kalau gitu nak. Oh iya, nanti kalau mau pulang suruh ibu guru menelepon Abi ya nak. Tadi Umi lupa menanyakan pada Abi, bisa jemput Wawa pulang dari sekolah atau tidak".
" Iyah Umi. Umi?. Boleh Wawa tanya sesuatu? ".
__ADS_1
" Boleh sayang. Ada apa nak? ".
" Umi, kapan Wawa punya adik?. Teman-teman Wawa sudah banyak yang punya adik bayi. Sepertinya seneng deh kalo ada adik bayi ".
Rasanya aku sangat kaget mendengar pertanyaan polos yang keluar dari putriku. Aku bahkan belum berpikir untuk menambah momongan lagi, apalagi setelah sempat jatuh sakit hingga dua minggu lamanya. Tapi apa yang Wawa tanyakan padaku itu hal yang sangat wajar. Lagi pula Wawa sudah lumayan besar, kurasa pertanyaan Wawa bisa di pertimbangkan.
"Umi??... Umi kok malah melamun? ".
" I-iyah nak. Nanti juga Wawa akan punya adik sayang. Tapi harus sabar yah".
"Sungguh Umi?. Wawa akan punya adik?. Kapan Umi? ".
" Kalau Allah sudah memberikan nya nak. Kalau Wawa ingin punya adik. Wawa harus banyak-banyak berdoa sama Allah yah. Minta sama Allah, biar Wawa segera di kasih adik".
"Baiklah Umi. Kalau begitu, setiap hari Wawa akan selalu berdoa sama Allah. Agar Allah cepat kasih Wawa adik bayi yah Umi. Asyiikkk".
" Iya sayang. Wawa sekolah nya yang pintar yah. Biar nanti kalau sudah punya adik. Wawa bisa ajarin deh".
"Siap Umi".
" Anak Solehah".
Ucapku sembari mencium kening Wawa.
Tidak terasa mobil taksi yang kunaiki bersama Wawa sudah masuk kedalam tempat parkir sekolah nya Wawa. Aku turun dan mengantar Wawa ke depan gerbang sekolah nya.
"Makasih yah Umi, sudah antar Wawa. Wawa masuk ke kelas dulu yah Umi. Assalamu'alaikum".
" Iyah nak. Sama-sama. Belajar yang pintar yah nak. Waalaikumsalam ". Wawa pergi meninggalkan ku setelah berpamitan dan mencium tanganku.
Waktu rasanya berhenti. Jantungku berdegup sangat kencang. Apa yang baru aku lihat?. Sosok yang sangat aku kenal, bahkan walaupun hanya melihat dari kejauhan. Aku tidak mungkin salah melihat. Itu benar dia, aku masih sangat paham, bahkan meskipun bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Seseorang yang sangat tidak ingin aku lihat, tiba-tiba muncul di hadapanku tanpa permisi.
Kaki ku rasanya hampir tidak bisa di gerakan. Lemas dan gemetar hebat. Kenapa takdir begitu sangat lucu, menghadirkan kembali kepingan masa lalu yang bahkan sudah jauh tertinggal. Buku yang sudah usang, dan berdebu tebal di paksa kembali untuk terbaca. Ada sesuatu yang aneh dalam hatiku, semua rasanya bercampur aduk menjadi satu. Tapi, untuk apa dia berada di Yogyakarta. Dan ada kepentingan apa dia datang ke sekolah Marwah?. Mungkinkah dia tinggal di Yogyakarta dan menikah dan kemudian memiliki seorang anak, dan anak itu di sekolah kan di sekolah yang sama dengan putriku Marwah?. Rasanya itu semua tidak akan mungkin. Bunda mantan mertuaku, tidak akan pernah setuju jika harus pindah ke kota yang dekat dengan kota. kelahiran ku. Apalagi setelah aku tidak pernah membalas surat-surat nya dulu, ku yakin sekali. Bunda sangat membenci diriku sekarang.
"Maaf Bu guru, mau tanya. Bapak yang tadi pakai Jas warna coklat dan hem warna putih siapa ya?. Apa beliau salah satu wali murid? ".
Aku terpaksa memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang guru yang sedang berjaga di depan sekolah. Hanya untuk memastikan saja, bahwa mataku memang benar, dan tidak salah melihat atau bukan hanya sekedar halusinasi diriku saja. Karena aku tidak mungkin berhalusinasi tentang hal ini, sama sekali tidak pernah.
"Oh, Bapak yang itu".
" Iyah Bu. Siapa ya? ".
" Itu memang salah satu wali murid siswa kami Bu".
"Apa Ibu tau siapa namanya? ".
" Jika tidak salah itu namanya Pak Fatih. Dia wali dari siswa yang bernama Ilham. Nak Ilham yang menjadi teman dekat nak Wawa di sekolah Bu".
"Oh. Terimakasih infonya Bu. Assalamu'alaikum".
" Wa'alaikumussalam ".
Sudah ku pastikan, aku tidak salah melihat. Dia adalah kepingan masa lalu yang sudah lama aku kubur dalam hidupku. Kepingan yang mungkin tidak akan pernah lagi aku cari. Kepingan yang sudah diganti dengan yang lebih baik. Rasanya hati ini kembali tersayat-sayat. Layaknya sebuah film yang dengan sekejap bisa di putar ulang. Beginilah orang itu kembali mengingatkan diriku dengan segala cerita di masa lalu. Masa lalu, yang sudah ku bakar habis menjadi abu. Semua cerita yang pernah singgah dan sudah tidak ada lagi tempat di hatiku atau bahkan hidupku. Kenapa takdir begitu menyakiti diriku, menyeret kembali orang itu kedalam kehidupan diriku yang baru. Mengembalikan segala cerita lama dalam sekejap. Rentetan cerita yang sudah susah payah aku hapus dalam ingatanku. Kenangan usang yang sudah aku buang. Dan dengan mudah nya, semua itu kembali.
"Mas Fatih?, Orang tuanya nak Ilham?. Sedangkan nak Ilham adalah teman dekat putriku?. Ja-jadi, kemarin aku sudah bicara dengannya lewat telepon?. Bahkan suamiku Mas Fahmi sudah berbicara dengannya. Juga memberikan bungkusan parcel untuk nya".
Ya Allah, kenapa harus Engkau hadirkan dia lagi?. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya aku sudah berusaha untuk menghancurkan kenangan di masa lalu. Menghadirkan dirinya kembali lagi dan lagi. Apa jadinya, jika Mas Fahmi tahu?. Bahwa orang tua nak Ilham adalah Mas Fatih mantan suami istrinya sendiri?. Mas Fatih yang bahkan menjaga putri kandung nya selama aku tak sadarkan diri di rumah sakit?. Bagaimana mungkin ini terjadi?. Hancur pasti, aku yakin. Mas Fahmi akan sangat sakit hati jika mengetahui ini semua. Mengetahui bahwa mantan suami istrinya lah yang ternyata telah sangat baik dan menjaga putri nya. Mas Fahmi sudah sangat sabar menungguku, betapapun sakit hatinya. Dia tidak pernah memaksaku untuk secepatnya melupakan masa laluku. Mas Fahmi bahkan bersabar menunggu cintaku utuh untuk nya. Kenapa ya Allah, kenapa laki-laki sebaik suamiku, harus kembali mendapatkan cobaan berkali-kali. Setelah Engkau coba dengan diriku yang sakit kanker dan tak sadarkan diri selama dua minggu. Haruskah aku menceritakan semua yang aku lihat hari ini pada Mas Fahmi?. Atau aku diam saja, dan pura-pura tidak tahu. Agar Mas Fahmi yang mengetahui nya sendiri. Aku takut, Mas Fahmi salah paham lagi padaku. Sungguh, aku sangat mencintai Mas Fahmi. Aku tidak ingin mengecewakan dirinya. Aku tidak mau membuat suamiku sakit hati dan bersedih. Bagaimana aku harus melewati semua ini?.
"Mas Fatih, kenapa kamu harus muncul kembali di kehidupan ku dan Mas Fahmi yang sudah hampir sempurna. Kenapa takdir membawa mu kembali masuk dalam cerita kehidupan ku yang baru". Ucapku dalam hati.
"Hikks... hikkkss".
Aku menyeka air mataku yang tidak terasa jatuh menetes. Semoga apa yang aku lihat hari ini bukan lah pertanda buruk untuk kehidupan ku.
__ADS_1