
Hari ini kota Yogyakarta lumayan mendung. Padahal jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Biasanya di jam-jam sekarang kota Yogyakarta lumayan terik. Dirumah aku sendirian. Mas Fahmi suamiku berangkat kerja sejak pagi, tepatnya sejak jam delapan pagi. Biasanya mas Fahmi akan pulang sekitar jam dua siang. Sedari tadi aku hanya duduk-duduk saja. Atau malah membaca buku-buku milik mas Fahmi. Suamiku termasuk yang sangat suka membaca. Banyak sekali koleksi buku miliknya. Aku tidak pernah bosan berada dalam rumah meskipun sendirian. Karena memang ini sudah menjadi kebiasaanku dulu, bahkan saat aku masih lajang. Aku tipe manusia yang malas keluar rumah, jika tidak penting-penting amat. Biarlah dikatakan kuper (kurang pergaulan), atau istilah lainnya. Yang jelas rumah adalah tempat paling aman bagi seorang wanita.
Usia pernikahanku dengan mas Fahmi hampir menginjak dua bulan. Meskipun baru kira-kira sekitar satu bulan lebih satu Minggu. Mas Fahmi sosok laki-laki yang humoris, sangat sabar, dewasa, dan banyak hal baik yang bisa aku rasakan darinya. Aku bersyukur, karena masih ada laki-laki lajang seperti mas Fahmi yang mau menikahi dan menerima seorang janda sepertiku. Kegagalan rumah tanggaku dengan mas Fatih, benar-benar sangat menghancurkanku. Apalagi setelah kedatangan mantan suamiku dan mantan Bunda mertuaku di acara akad pernikahanku dengan mas Fahmi. Saat itu aku dan mantan Bunda mertuaku bahkan hingga pingsan dan tak sadarkan diri. Jujur saja, dibelakang suamiku. Aku masih sering menangisi rumah tanggaku yang dulu. Aku dan mantan suamiku mas Fatih berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan. Aku dan mas Fatih adalah korban. Bukan keinginan kami untuk berpisah, pun bukan keinginan suamiku. Maksudku mantan suamiku mas Fatih. Sebegitu menyakitkan nya skenario Allah untuk menguji kesabaranku. Aku hanya mampu menangis dan kadang melamun. Akan lebih baik jika, mas Fatih benar-benar lebih memilih Siska dari pada aku. Dari pada harus menelan kenyataan, bahwa mas Fatih pun ternyata hanya korban sepertiku.
Bahkan sampai detik ini, mas Fahmi suamiku belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dia tidak tahu, apa yang terjadi antara aku dan mantan suamiku. Mas Fahmi sama sekali tidak mengerti, apa yang aku dan mantan Bunda serta mantan suamiku bersama keluargaku bicarakan ketika selepas akad saat itu. Aku mengerti, pasti banyak kebingungan yang saat ini mengganggu suamiku. Aku belum ingin membagi kisah perih dan pedih ini pada suamiku. Bahkan aku selalu berdoa kepada Allah, agar suamiku tidak pernah mengetahui atau memergoki diriku sedang menangis dan melamun dibelakangnya. Aku bukan perempuan yang munafik. Sampai detik ini, aku terkadang masih teringat kenangan bersama mas Fatih. Aku mengakui itu. Sangat manusiawi bagi perempuan yang notebene adalah makhluk yang perasa. Apalagi mas Fatih adalah laki-laki yang mampu meluluhkan hatiku, ketika aku berada dalam fase belum ingin merasakan jatuh cinta, belum ada niat untuk memikirkan masalah laki-laki selepas hijrahku. Dan satu lagi, perpisahanku dengan mantan suamiku mas Fatih, hanya karena kesalah pahaman dan kami adalah korban dari kejahatan mantan Ayah mertuaku yang serakah. Jadi, perpisahan ini begitu sangat menyakitkan. Terlebih lagi, aku adalah tipe orang yang tidak mudah melupakan. Aku masih berusaha hingga detik ini. Aku berusaha mengikhlaskan masa laluku, aku berusaha menerima, aku bekerja keras agar aku tidak lagi teringat dengan sosok mas Fatih dalam hati dan pikiranku.
Aku terkadang sedih, aku merasa berdosa pada suamiku. Mas Fahmi begitu sabar padaku, cintanya untukku begitu tulus. Terlebih setelah pembicaraanku dengannya kala hujan disore hari itu. Aku merasakan cinta, kasih sayang, dan pengorbanan yang besar dari seorang Fahmi untuk Aisyah. Aku yakin, tidak mudah bagi laki-laki lajang seperti mas Fahmi untuk mau menikahi seorang janda. Pasalnya, jika mau pun. Mas Fahmi bisa mencari akhwat (kata ganti perempuan dalam bahasa Arab) yang masih lajang dan tentunya lebih baik dalam segalanya dari pada seorang Aisyah sepertiku. Sedikit demi sedikit, yang aku harapkan akan menjadi bukit. Pun begitu saat ini, aku sedikit demi sedikit berusaha untuk mencintai mas Fahmi sepenuhnya. Aku berdosa, karena dibelakang suamiku, aku masih sering teringat laki-laki lain maksudku laki-laki lain itu adalah mantan suamiku sendiri. Aku yakin, tidak semua perempuan bisa melewati ujian ini. Sungguh ya Allah, tidaklah mudah bagi Aisyah untuk secepat itu mencintai dan berpindah hati. Apalagi sudah dua tahun lebih aku bersama dengan mas Fatih dulu. Yang jelas, saat ini aku sudah berusaha untuk melupakan segala hal tentang mantan suamiku itu. Aku bahkan meminta pada Umi dan Abiku untuk mengganti nomor telepon rumah, dan handphone mereka. Agar dari pihak mas Fatih tidak ada yang bisa menghubungi lagi. Aku ingin mencintai mas Fahmi yang kini telah sah menjadi suamiku dengan sepenuhnya. Bahkan aku ingin, cintaku yang dulu pernah ada untuk mas Fatih akan jauh lebih besar cintaku yang akan kuberikan pada suamiku mas Fahmi.
Barang-barang, semua hal kecil yang membuatku jadi teringat mas Fatih sudah kusingkirkan. Sungguh, aku sedang tertatih, jatuh bangun diriku berusaha menghapus segalanya tentang mas Fatih dalam hati dan hidupku. Mas Fahmi laki-laki yang baik, aku harus bisa memberikan segalanya padanya. Aku tidak ingin mengecewakan dan menyakiti laki-laki yang telah ikhlas menerima seorang janda sepertiku. Aku tidak pernah putus berdoa, agar Allah segera menolongku untuk menghapus mas Fatih dari hatiku. Aku tidak ingin mencintai dua manusia. Jahat sekali aku jika sampai hal tersebut terus terjadi. Yah, aku yaki. Aisyah kuat dan mampu mencintai mas Fahmi dengan sebaik-baiknya cinta.
Selama dua bulan ini, aku berusaha terlihat hebat. Terlihat tegar, dan bahagia didepan mas Fahmi. Mana mungkin aku menangisi laki-laki lain di hadapan suamiku sendiri?. Akan seperti apa hancurnya jika mas Fahmi mengetahui bahwa istrinya masih belum bisa melupakan sepenuhnya laki-laki yang ada di masa lalunya?, laki-laki yang kini hanya berstatus sebagai mantan suaminya?. Aku ingin mas Fahmi bahagia denganku. Seperti dirinya yang berusaha membahagiakan diriku. Aku tahu, usaha mas Fahmi untuk terus membuatku jatuh cinta padanya. Tanpa lelah, mas Fahmi selalu menanam benih-benih cinta dan kasih dalam hatiku untuknya. Menikah bukan berarti sudah tumbuh cinta. Aku menerima mas Fahmi dalam hidupku, bukanlah untuk pelampiasanku karena nasibku yang dihancurkan oleh mas Fatih dulu. Sungguh, aku tidaklah sekejam itu. Aku menerima mas Fahmi, karena aku ridho dengan akhlak dan agama yang ada padanya. Allah yang mempertemukan aku dengan mas Fahmi. Allah pula yang akan menumbuhkan benih-benih cinta antara aku dan mas Fahmi, aku yakin itu. Menumbuhkan benih cinta dalam ikatan pernikahan, akan jauh lebih mudah dan indah dibandingkan hubungan yang tidak jelas dan tidak halal. Tentunya Allah tidak ridho.
"Assalamualaikum,". Ucapan salam terdengar dari pintu depan. Bergegas aku mengenakan cadar dan kaos kakiku, lalu berjalan menuju ke ruangan depan.
"Toookkk.... tokk... tokkk,". Suara pintu diketuk terdengar oleh telingaku.
"Assalamualaikum,". Ucap seseorang dari luar pintu. Aku melirik kearah jam dinding yang terpasang di salah satu sudut ruang tamu. Baru jam satu siang.
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Ucapku sembari membuka kunci pintu.
"Dik,".
"Iyah mas. Kok tumben sudah pulang?,". Ucapku sembari menyalami mas Fahmi dan mencium punggung tangannya.
Aku masih belum hafal suara mas Fahmi. Mungkin butuh waktu. Pernah saat itu, tetangga samping rumah datang kerumah untuk memberikanku oleh-oleh. Karena saudaranya habis ada yang pulang ibadah umroh. Aku kira itu mas Fahmi suamiku, dan langsung mengucapkan "Hallo sayang". Ternyata yang didepanku bukanlah mas Fahmi suamiku. Malu sudah pasti, makanya sekarang jika ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam aku langsung membuka pintu dan melihat dulu siapa yang datang.
__ADS_1
"Iyah, mas kangen sama kamu. Jadi mas pulang cepat. Hehehe,". Masih Fahmi mulai usil padaku.
"Iiih, apaan si mas,". Ucapku sembari mebawakan tas yang tadi di gendong oleh mas Fahmi.
"Kamu seharian ngapain aja dik?,". Tanya mas Fahmi sembari melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Ya seperti biasanya mas. Masak, nyuci, beres-beres, terus tadi mandi, terus tadi sambil baca-baca buku punya mas Fahmi, terakhir nungguin mas pulang deh,". Ucapku menjelaskan pada suamiku.
"Kamu bosan tidak dik?, kalau kamu jenuh bilang saja ya. Nanti kita agendakan untuk refreshing, jalan-jalan dan liburan singkat,".
"Ngga kok mas. Aisyah seneng. Lagi pula kan mas kerja. Dan libur hanya hari Ahad saja. Itu juga buat istirahat nya mas,".
"Loh, kan mas bisa ijin dek. Ngga papa kok,". Ucap mas Fahmi padaku.
"Ya gampang lah mas. Aisyah belum pengen jalan-jalan kok. Mas ganti baju dulu yah, itu bajunya sudah Aisyah siapkan di kamar. Habis itu, nanti mas nyusul kedapur yah mas. Aisyah sudah masak buat mas,". Aku tersenyum pada mas Fahmi dan berlalu menuju ke dapur.
"Iyah mas?,". Jawabku seraya melirik kearah mas Fahmi. Mas Fahmi tersenyum padaku.
"Jazakillahkhoyr (semoga Allah memberikan kebaikan padamu, untuk perempuan) ya dik untuk segalanya,". Tiba-tiba mata mas Fahmi berkaca-kaca ketika melihatku.
"Wa antum Jazakallahkhoyr (semoga Allah juga memberikan kebaikan padamu, untuk laki-laki) mas suami,". Jawabku sembari tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahku menuju kedapur.
Hari ini aku memasak tumis kubis dan wortel, sambal terasi, dan beberapa lauk seperti ikan bandeng goreng, dan kerupuk udang. Aku juga membuatkan jus kesukaan mas Fahmi. Jus wortel. Suamiku sangat suka dengan jus wortel. Berbeda denganku, aku suka wortel tapi tidak untuk jus. Jika jus, aku sangat suka dengan jus durian atau jambu merah. Suamiku juga membiasakan diri untuk memperbanyak minum air putih. Oh iya, aku juga tidak lupa menyiapkan beberapa buah-buahan untuk mengawali sebelum aku dan mas Fahmi makan berat.
Aku melirik ke arah mas Fahmi. Mas Fahmi sangat tampan. Kulitnya bersih dan putih, hidungnya mancung, perawakan tinggi, dengan alis yang tebal. Sambil berjalan, dia tersenyum kearahku. Aku pun membalas senyumannya. Aku menarik kursi, dan mempersilahkan mas Fahmi untuk duduk. Sepiring nasi yang lengkap dengan sayur dan lauk pauknya kuberikan pada suamiku.
__ADS_1
"Makan buah dulu ya dik,". Mas Fahmi mengingatkanku. Benar saja, aku hampir kelupaan untuk terlebih dahulu makan buah, sebelum akhirnya makan makanan berat.
"Oh iya, Aisyah lupa. Astaghfirullah, maaf ya mas. Makasih udah ngingetin Aisyah mas. Hehe...,".
"Iyah ngga papa,".
Aku dan mas Fahmi menghabiskan makan siang kami dengan berdiskusi dan mengobrol ringan. Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika makan, kita sama sekali tidak boleh berbicara. Padahal, bercakap-cakap ketika sedang makan itu adalah sunah. Islam agama yang indah, mengajarkan kemudahan dan paling sesuai dengan fitrah manusia yaitu disunnahkan berbincang-bincang atau ngobrol ketika makan bersama. Hal ini membuat suasana makan lebih nyaman dan lebih akrab. Rasulullah saat itu bertanya pada keluarganya, tentang lauk apa yang tersedia. Lalu keluarga Rasulullah menjawab “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,” maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata: “Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka”. [HR Muslim]. An-Nawawi menjelaskan berdasarkan hadits ini, terdapat sunnah berbincang-bincang ketika makan. Jadi tidak benar, jika ketika makan itu harus diam dan tidak bersuara sedikitpun.
"Dik, kapan siap jadi Ummah (ibu)?,". Tanya mas Fahmi yang tetap fokus dengan piring nya.
"Hah?, maksudnya mas?,". Tanyaku kaget.
"Ya, maksudnya mas kapan Aisyah siap jadi ibu?,".
Aku terdiam. Tidak ingin menjawab pertanyaan dari suamiku barusan. Aku pernah mengalami yang namanya keguguran. Aku kehilangan calon buah hatiku dengan mantan suamiku mas Fahmi. Jujur saja, aku masih trauma karena tragedi dan peristiwa itu. Mas Fahmi sampai sekarang belum tahu, bahwa aku pernah sempat hamil, namun akhirnya Allah takdirkan aku kehilangan janin itu dalam usia kandunganku yang kedua bulan. Aku bingung harus menjawab apa pada mas Fahmi. Untuk saat ini, aku masih takut untuk hamil lagi. Mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang ada dihati dan pikiranku pada suamiku itulah yang paling penting. Aku tidak ingin membuat mas Fahmi kecewa jika aku sampai salah memilih kata dalam menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan kepadaku.
"Emmh, entahlah mas. Aisyah masih takut,". Jawabku pasrah.
"Takut?, ya nggak apa sih dik. Mas hanya tanya saja. Jangan dipikirkan yah. Wajar saja, untuk perempuan yang belum pernah hamil sebelumnya memang sedikit membuat parno. Baiklah, mas akan tunggu kamu siap menjadi seorang ibu dik,". Mas Fahmi melirik kearahku dan tersenyum.
"Ma-makasih mas. Sudah mau mengerti kondisi dan posisi Aisyah. Maaf jika Aisyah membuat mas kecewa,". Aku tertunduk, aku bingung harus bagaimana. Jika memang kenyataannya yang ada memang seperti itu.
"Ngapain minta maaf si dik?, santai saja. Lagian kan mas hanya tanya kok. Maaf ya, kalo pertanyaan mas membuat dik Aisyah jadi tidak nyaman,". Aku meminta maaf pada istriku.
"Ngga papa mas. Namanya orang rumah tangga. Pasti ingin kehadiran seorang anak. Semoga saja Allah segera menitipkan amanah itu pada kita ya mas,". Ucapku meyakinkan mas Fahmi.
__ADS_1
Seusai makan siang, aku dan mas Fahmi melanjutkan untuk tidur siang yang juga termasuk sunnah. Jujur, aku sedikit terpukul dengan ucapan mas Fahmi barusan. Yang mengatakan bahwa aku belum pernah hamil. Ingin rasanya menangis dan meminta maaf padanya. Karena belum sempat jujur dan menceritakan segalanya. Maafkan Aisyah mas Fahmi, ucapku dalam hati.