
Kepercayaan dalam sebuah hubungan adalah salah satu pondasi terpenting. Agar sebuah hubungan yang sudah dibangun tidak mudah goyah dan roboh. Sekalipun diterpa dengan angin yang sangat kencang. Tapi pada kenyataannya, sekuat apapun pondasi nya, angin terkadang masih bisa saja menghancurkan bangunan tersebut hingga porak poranda. Seperti saat ini, hubungan pernikahan diriku dengan istriku Aisyah. Aku memupuk kepercayaan pada istriku, menjadikan kepercayaan itu sebagai pondasi hubungan ini. Tapi faktanya, ujian rumah tangga yang datang, seperti angin yang terus silih berganti. Akankah pondasi kepercayaan yang sudah aku buat mati-matian tidak akan kuat menopang pernikahan ini?. Akankah ujian yang seperti angin kencang ini mampu memporak-porandakan hubungan pernikahan diriku dengan Aisyah?. Pertemuan dengan mantan mertua istriku, lumayan mengusik hati juga pikiran diriku. Terngiang jelas bagaimana cerita masa lalu wanita yang kini mendampingi diriku. Menyakitkan sekali, rasanya benar-benar tidak menyangka, Bunda dari mantan suami istriku akan berkata demikian pada diriku.
"Mas?. Kok melamun?".
Aisyah istriku, menghampiri diriku yang sedang asyik duduk sembari memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu.
" Hmmm.. engga sayang. Duduk sini".
Aku memperhatikan tubuh Aisyah duduk disamping diriku. Wanita ini yang hampir tujuh tahun menemani hidupku, mengurusi segala keperluan diriku dan anak-anak ku. Akankah aku bisa melepas dirinya semudah itu, untuk kembali lagi dengan mantan suaminya?.
"Mas Fahmi sakit? ".
" Ngga papa, nanti juga sembuh sayang".
"Tapi wajah mas Fahmi sangat pucat. Mas kenapa?, mas ke dokter saja ya?! ".
Aku melihat wajah cemas dari Aisyah. Mana mungkin wanita sebaik ini mengkhianati diriku. Melihat wajahku yang pucat saja langsung sebegitu panik nya. Apa mungkin dia masih mencintai Fatih?.
" Nggak perlu Aisyah. Lagi pula, Mas Fahmi harus berangkat kerja. Masih banyak amanah yang belum selesai. Paling-paling ini hanya masuk angin biasa saja".
"Mas, ijin saja ke atasan. Jangan berangkat kerja. Aisyah tidak ridho kalau mas dalam keadaan begini masih saja bekerja".
" Ssstt... jangan bilang seperti itu sayang. Aisyah kan tahu, kita mau punya anak lagi. Jadi mas juga harus semangat mencari nafkah nya. Percaya yah, Mas Fahmi tidak apa-apa sayang".
"Tapi mas. Hiks... hikks... ".
" Aisyah?, apa kamu mencintai Mas?! ".
" Mas Fahmi?!. Lagi sakit begini malah bertanya pertanyaan yang tidak masuk akal".
"Jawab saja sayang".
" Mas, harus berapa kali Aisyah bilang. Kalau Aisyah sangat mencintai Mas Fahmi".
"Tidak ada laki-laki lain selain mas dihatimu kan?".
Tenggorokan ku rasanya tercekat menanyakan hal demikian pada Aisyah. Aku yakin, Aisyah juga kaget mendengar pertanyaanku barusan. Aku hanya ingin memastikan nya saja. Bahwa apa yang dikatakan oleh mantan mertua istriku tidaklah benar.
" Astaghfirullah Mas. Mas Fahmi kok bertanya begitu pada Aisyah?. Tidak ada Mas, Asiyah hanya mencintai Mas Fahmi. Tidak ada yang lain di hati Aisyah, selain Mas".
"Maaf ya sayang, kalau pertanyaan Mas padamu menyinggung dirimu".
" Aisyah tidak merasa tersinggung Mas. Karena memang Aisyah tidak pernah melakukan nya. Maksudnya, Aisyah tidak pernah menyimpan nama lain di hati Aisyah selain Mas Fahmi".
"Aisyah, kamu tahu?. Mas sangat takut kehilangan kamu sayang".
" Asiyah apa lagi Mas. Aisyah sangat tidak ingin jauh dan kehilangan Mas Fahmi dalam hidup Aisyah ".
"Syukurlah. Jaga anak-anak kita ya sayang. Besarkan mereka dengan penuh kasih sayang dan juga adab yang baik".
__ADS_1
" Mas kok bicaranya, kaya orang mau meninggalkan Aisyah saja. Mas mau pergi dari Aisyah ya?!. Atau mas sedang suka sama wanita lain?!. Hikks.. hikkks... ".
" Mana mungkin si sayang. Mas tidak akan mungkin menduakan bidadari seperti kamu sayang. Kan anak itu lebih dekat ke Umi nya dari pada Abi nya. Jadi Mas menitipkan buah hati kita ke wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan mereka dong".
"Hmmm... ".
" Tas kerja mas Fahmi sudah siap kan sayang?. Mas mau berangkat kerja. Kamu baik-baik dirumah yah".
"Mas, Aisyah mohon. Setidaknya ijin tidak masuk kerja untuk hari ini saja. Mas sangat pucat, dan keringat dingin keluar semua. Aisyah mana mungkin tenang melepas mas bekerja dengan kondisi yang seperti ini?! ".
" Ngga papa sayang. Aisyah, jangan pernah bertemu dengan mantan suami kamu lagi yah. Mas cemburu ".
Akun terpaksa mengatakan demikian pada Aisyah. Sehari setelah pertemuan diriku dengan Bunda Layla. Ada sebuah pesan masuk di ponselku. Sebuah pesan dari nomor baru yang aku sendiri tidak mengenalnya. Orang itu mengirim beberapa foto. Dan yang membuat aku hampir tidak bisa bernafas adalah, foto yang dikirim padaku ternyata foto Aisyah dan Fatih sedang bersama di depan klinik tempat Aisyah periksa kandungan. Hancur, ingin marah tapi aku menahannya. Bagaimana aku tidak hancur dan sakit hati, di foto itu jelas-jelas mantan suami Aisyah memegang tubuh Aisyah. Laki-laki mana yang ridho tubuh istrinya di pegang oleh laki-laki lain. Aku tidak bisa marah, karena Aisyah sedang mengandung buah hati ku. Biarlah semuanya aku tahan. Aku nikmati setiap goresan rasa sakit nya. Fatih, mungkin itu alasan, kenapa Aisyah ngotot ingin periksa USG meskipun aku tidak bisa mengantarnya saat itu. Maka dari itu, hari ini aku bertanya padanya, apa dia hanya mencintai diriku saja?. Atau dan hati lain yang sedang bersemayam dalam hatinya. Rasanya aku ingin menanyakan kenapa dia sampai berani berbohong padaku, untuk apa Aisyah bertemu dengan mantan suaminya?, kenapa Fatih sampai bisa menyentuh dirinya. Lagi-lagi aku urungkan. Aku tidak mau Aisyah stress dan kepikiran. Dia sedang hamil, aku tidak mau semua yang ingin akun tanyakan padanya. Akan berpengaruh pada janin yang sedang di kandung oleh Aisyah.
"Astaghfirullah Mas. Mas Fahmi itu kenapa si?. Lagi sakit begini malah suka ngomong ngelantur tidak jelas. Aisyah juga tidak mau berhubungan dengan masa lalu Mas. Untuk apa juga, ngga ada penting nya Mas. Sudahlah, Mas Fahmi jangan suka mikir yang aneh-aneh ya. Aisyah hanya milik Mas Fahmi. Oke ".
Aku tidak menjawab apapun. Hanya sebuah senyuman yang aku berikan pada Aisyah atas pernyataan nya barusan padaku. Entahlah aku harus percaya siapa?. Semampu diriku, aku sudah berusaha untuk terus percaya pada istriku. Tapi kenapa semakin banyak petunjuk kalau Aisyah memang masih sangat mencintai mantan suaminya Fatih?. Rasanya hancur sekali, bahkan mampu membuat kesehatan diriku juga tumbang. Siang dan malam aku selalu kepikiran tentang bagaimana nasib rumah tangga ku, bagaimana dengan anak-anak ku. Perih sekali, semoga aku bisa terus mampu bertahan dengan luka yang menganga ini. Aku akan tetap mencintai Aisyah, bagaimana pun kondisi diriku saat ini.
"Yasudah, Mas berangkat yah sayang. Assalamu'alaikum".
" Mas Fahmi. Hati Aisyah tidak tenang Mas".
Aisyah terus merengek dengan terus memeluk tubuhku. Apa iya, wanita yang memiliki perasaan untuk laki-laki lain selain suaminya akan melakukan hal yang seperti Aisyah lakukan padaku. Tidak, istriku adalah wanita terbaik. Dia tidak akan pernah mengkhianati diriku. Semoga kepercayaan diriku pada Aisyah tidak akan menggores kecewa lagi dalam hidupku.
"Percayalah, tidak mengapa sayang. Mas berangkat yah. Assalamu'alaikum".
" Wa'alaikumussalam.. hikks... hikks".
"Bagimana?. Apa kamu masih mau bertahan dengan wanita yang bahkan mau disentuh oleh laki-laki lain? ".
Sebuah pesan masuk pada ponselku. Ini nomor yang sama dengan yang mengirim foto Aisyah dan Fatih padaku. Siapa sebenarnya dia, kenapa dia bisa memiliki foto istriku dengan Fatih. Kenapa dia mengetahui nomor ponselku. Sebaiknya aku telepon saja nomor ini. Isi pesannya sudah kurang ajar. Aku tidak bisa tinggal diam, Aisyah masih istriku. Aku harus menjaga kehormatan dia. Tidak boleh ada satu orang pun yang menghina Aisyah ku. Meskipun isi pesan itu benar, tapi aku tidak terima.
"Tuuut.... tuuutt... tuuut... ".
Telepon bedering, aku menunggu si pemilik nomor ini mau mengangkat telepon nya. Tapi malah dimatikan. Siapa sebenarnya yang berani mengirim diriku foto itu.
" Tuuut... tuuut... tuuutt... "
Aku kembali mencoba menghubungi ulang. Akhirnya di angkat juga.
"Hallo!. Hey, kamu siapa!. Apa maksud kamu mengirim foto itu padaku!! ".
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Tapi yang jelas aku tahu kamu. Kamu adalah Fahmi, suami dari wanita bernama Aisyah! ".
" Jelas aku perlu tahu siapa kamu!!. Kamu sudah mengusik rumah tanggaku!! ".
" Fahmi, harusnya kamu berterimakasih padaku. Karena aku, kamu akhirnya mengetahui bagaimana perilaku istri yang sangat kamu cintai itu!!. Malang sekali nasibmu, kamu capek-capek kerja, tapi istrimu asyik berselingkuh dengan laki-laki yang bahkan laki-laki itu adalah mantan suami dari istrimu sendiri".
"Diam!!. Jangan pernah hina istriku!!. Dimana kamu sekarang!!. Aku ingin bertemu denganmu!! ".
__ADS_1
" Eitts.. sabar. Tidak perlu kamu bentak saya seperti ini. Bukannya berterimakasih malah marah. Pantas saja, laki-laki seperti dirimu mudah sekali dibohongi oleh istrimu sendiri!! ".
" Jangan pernah sekali lagi kamu merendahkan istri saya!!. Saya akan cari kamu sampai ketemu!! ".
" Cari saja kalau kamu bisa!!. Jangan ambil resiko dengan menantang diriku. Kamu bukan lawan yang sebanding denganku. Aku hanya ingin kamu sadar, istrimu bukanlah wanita baik-baik dan hanya mencintai satu pria, dan pria itu bukanlah kamu yang sekarang berstatus suaminya. Tapi pria itu adalah mantan suami dari istrimu sendiri, Fatih!! ".
" Dari mana kamu tahu semua tentang urusan keluarga ku!!. Siapa kamu sebenarnya!!!. Jangan jadi pecundang, aku tidak akan takut dengan siapapun yang berani merendahkan istriku! ".
"Dasar pria bodoh!!. Masih saja membela istrinya!! ".
Sambungan telepon dimatikan begitu saja. Emosiku sudah tidak terkontrol. Siapa manusia kurang ajar itu!. Berani-berani nya dia menghina dan merendahkan Aisyah didepan diriku!. Dan kenapa orang itu mengetahui segalanya. Ada apa dengan semua ini?. Fatih, Aisyah dan Aku!!.
" Aaarrghhhhh...!! ".
Aku berteriak penuh dengan kekesalan. Tidak pernah aku seemosi ini dengan seseorang. Gara-gara orang tidak jelas itu, aku hampir saja menabrak orang yang sedang menyebrang. Kacau, semuanya sangat kacau. Aku bahkan sudah tidak memikirkan lagi, tubuhku yang sudah lemas dan tidak kuat. Rasa sakit jasmani diriku, ku abaikan begitu saja. Rasanya lebih sakit mendengar semua ucapan orang aneh itu. Apa mungkin, dia adalah orang suruhan Fatih?. Untuk membuat diriku cemburu dan hancur secara perlahan. Tapi untuk apa Fatih sampai menyuruh orang untuk menghancurkan diriku. Kenapa kejadian janggal terjadi terus menerus. Pertanda apa semua ini?.
"Dertt... derttt".
Ponselku berbunyi.
" Hallo, Assalamu'alaikum Mas. Mas bagaimana?. Sudah sampai kantor?! ".
" Wa'alaikumussalam. Belum".
"Mas dimana?. Mas tidak apa-apa kan?!. Aisyah khawatir".
" Doa kan saja, Mas selamat dan tidak terjadi apapun".
"Mas, kabari ya kalau ada apa-apa. Aisyah kepikiran Mas terus dari tadi. Pulang dari kantor kita berobat yah mas".
" Lihat nanti saja. Kalau mas tidak capek".
"Mas?!. Ini mas Fahmi kan?! "
"Iya terus kamu pikir siapa kalau bukan Fahmi, Aisyah?. Fatih gitu maksudnya kamu? ".
" Astaghfirullah Mas Fahmi. Mas Fahmi kok bicaranya begitu?. Maaf kalau Aisyah salah. Aisyah hanya tidak mengenali suami Aisyah disaat seperti ini. Yasudah, Aisyah matikan dulu telepon nya. Assalamu'alaikum, Maaf sudah mengganggu waktunya".
Telepon dimatikan oleh Aisyah. Aku mencoba untuk menghubungi Aisyah kembali. Tapi tidak mau di jawab. Apa mungkin aku sudah keterlaluan dengan istriku. Aku lepas kontrol, aku sedang tidak baik-baik saja. Maksudku, hatiku sedang tidak karuan. Pikiranku kacau. Semua ini gara-gara nomor tidak dikenal itu. Ada baiknya aku memblokir nomor itu saja. Agar tidak lagi mengganggu diriku juga keluargaku.
"Tuuut... tuuutt".
Aisyah masih juga tidak mau mengangkat telepon dariku. Rasanya aku memang sudah terlalu jahat pada istriku. Tapi sungguh, aku lepas kontrol. Terlalu banyak beban dan pikiran. Kenapa rumah tanggaku menjadi semakin tidak karuan semenjak hadirnya keluarga mantan suami Aisyah. Apa semua ini sudah direncanakan oleh mereka?. Aku mengusap wajahku, dan memijat sedikit kepalaku yang semakin pusing tidak terkontrol.
"Ya Allah, kenapa ujian dari-Mu begitu berat?. Fahmi hanya ingin hidup tenang. Jangan berikan ujian yang Fahmi sendiri tidak mampu untuk menjalani nya ya Rabb. Fahmi hanya manusia biasa, tidak akan mampu jika terus menerus harus berdiri di tengah badai yang dahsyat. Jika ujian ini akan bisa Fahmi lewati, Fahmi mohon. Berikan kekuatan dan kesabaran yang luas untuk Fahmi. Fahmi sudah sangat lelah".
Doaku lirih.
Aku meminggirkan mobil yang aku gunakan ke tepi jalan. Aku tidak mungkin memaksa untuk terus menyetir dalam keadaan seperti ini. Biarlah, sedikit tekat dan kena tegur. Aku masih ingin hidup dan melihat kelahiran anak keduaku.
__ADS_1
"Aisyah, Maafkan Mas Fahmi".
Gumamku lirih.