Madu

Madu
Episode.54 (SEASON 2)


__ADS_3

"Hallo, bagaimana kejutan dari Bunda beberapa hari yang lalu?. Itu adalah peringatan buat kamu nak Fahmi. Bunda terpaksa melakukan semua itu. Karena sampai sekarang kamu selalu menghindar dan tidak mau membalas hutang nyawamu pada Bunda. Dan juga, jika kamu berpikir dengan pergi nya kamu dan Aisyah di acara syukuran itu, kamu salah besar. Karena semua tamu undangan yang hadir di acara itu adalah orang bayaran dan suruhan Bunda. Mereka sudah Bunda bayar untuk berpura-pura menjadi tamu undangan. Jujur, sebenarnya Bunda tidak tega melakukan ini padamu dan Aisyah. Tapi kamu semakin haris semakin menghindar. Akan ada peringatan yang lebih dari kemarin Fahmi, jika kamu juga terus menghindar dari Bunda. Maafkan Bunda nak, Bunda harus melakukan ini padamu. Kamu kan orang baik nak Fahmi, Bunda ingatkan lagi. Jangan mengambil apa yang seharusnya bukan milik dirimu".


Kira-kira itulah isi pesan dari Bunda Layla padaku. Aku tidak menyangka, ternyata semuanya sudah direncanakan dengan sangat rapih oleh Bunda Layla. Apa Fatih tidak mengetahui semua perilaku wani yang melahirkan dirinya itu. Atau yang sebenarnya adalah, Fatih tahu tapi pura-pura tidak tahu. Aisyah bahkan sampai sekarang masih sering menangis jika teringat kejadian itu. Aisyah trauma, karena di permalukan seperti itu didepan banyak orang yang ternyata mereka semua hanyalah tamu undangan bayaran. Aku harus segera bertemu dengan Fatih. Semuanya harus akun tanyakan padanya. Sebenarnya semua ini rencana dirinya atau murni rencana Bunda Layla saja.


"Tuuuut... tuuut... tuuut... ".


Aku menelepon nomor ponsel Fatih. Hari ini aku harus segera mengajak dia untuk bertemu. Aku ingin tahu, apa dia tidak tahu dengan semua yang dilakukan oleh Bunda nya. Fatih harus bisa menerima, bahwa wanita yang dia cintai adalah istri dari seorang laki-laki bernama Fahmi. Semua ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Rumah tangga ku harus diselamatkan dari gangguan orang-orang dimasa lalu istriku. Sudah cukup sabar aku selama ini memilih untuk diam dan meluaskan rasa sabar diriku pada mereka. Tapi setelah kejadian kemarin, aku sudah tidak bisa menerima dan tinggal diam saja.


"Hallo, siapa ya? ".


Ucap Fatih dari seberang telepon.


" Hallo. Assalamu'alaikum. Aku Fahmi, suami dari Aisyah Fatimatul Salwa"


Aku sengaja menjawab demikian pada Fatih. Agar dia semakin sadar, bahwa Aisyah adalah milikku sekarang. Sengaja aku menyebut nama Aisyah dengan lengkap.


"Oh. I-iya. Ada apa Fahmi? "


"Santai saja, tidak perlu gugup seperti itu. Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar saja untuk bisa bertemu denganku. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan dirimu. Bisa? "


"Bertemu?. Hal apa yang akan kamu bicarakan padaku Fahmi?".


" Kamu akan tahu nanti, kalau sudah bertemu denganku. Jadi aku tunggu dirimu datang ke restoran Ambarawa dekat jalan kemangi selatan".


"Ba-baiklah. Akan aku usahakan. Jam berapa? ".


" Lebih cepat lebih baik. Jadi sekarang saja. Aku langsung meluncur ke tempat yang tadi sudah aku bilang. Restoran Ambarawa ".


" Sekarang?. Kenapa mendadak?".


"Sudah tidak ada waktu lagi. Jadi akan lebih baik agar aku segera bertemu denganmu. Jadi aku tunggu kamu sekarang disana".


" Kenapa tidak lewat telepon saja, jika memang kamu sudah tidak sabar ingin bicara denganku".


"Masalah sebesar ini tidak bisa dibicarakan melalui peswat telepon".


" Masalah? ".


" Iya. Jangan banyak menunda waktu. Jika kamu bisa, temui aku sekarang juga di restoran Ambarawa. Assalamu'alaikum ".


Aku mematikan sambungan telepon nya, dan bergegas menuju mobil. Aku harus datang lebih dulu ke restoran Ambarawa sebelum Fatih. Semua pertanyaan sudah aku siapkan. Jawabannya harus aku dapatkan hari ini juga dari Fatih langsung. Perjalanan menuju restoran Ambarawa tidak terlalu ramai, itu artinya aku akan lebih cepat sampai. Hanya butuh waktu kurang dari tujuh menit saja. Kini mobil yang digunakan oleh diriku sudah memasuki area parkir restoran Ambarawa. Aku memiliki restoran ini, karena menang suasananya tidak terlalu ramai. Jadi aku bisa berbicara dengan leluasa dengan Fatih tanpa takut terganggu orang lain. Aku turun dari mobil dan langsung melakukan reservasi. Aku memilih pojok yang dekat dengan taman buatan. Setidaknya taman mini ini bisa memberikan energi positif. Semenjak menikah dengan Aisyah, yang juga sangat suka dengan taman penuh tanaman. Aku jadi ikut ketularan. Tapi benar adanya, rasanya sedikit tenang melihat banyak tanaman apalagi jika berbunga.


"Tuuttt... tuuutt".


Aku sengaja menghubungi Fatih kembali. Sudah sampai mana dia.


" Hallo, kamu sudah sampai mana? ".


" Iya hallo, aku sudah sampai di restoran Ambarawa ".

__ADS_1


"Oke, aku di meja nomor tujuh belas, pojok. Dekat taman mini".


" Oh, ya".


Syukurlah ternyata Fatih mau menemui diriku. Aku kira dia akan menolak dan mencari banyak alasan agar tidak berbicara dengan diriku langsung. Jika pun dia tidak mau datang menemui diriku. Maka aku yang akan datang untuk menemui dirinya. Masalah ini harus secepatnya selesai. Aku harus bisa bahagia dan hidup tenang dalam rumah tangga ku. Aku melihat seseorang mengenakan jas abu-abu dan hem berwarna putih berjalan menuju kearah tempat aku duduk sekarang. Meskipun sejujurnya, setiap melihat Fatih aku cemburu karena teringan cerita dan kenangan dia di masa lalu dengan wanita yang kini menjadi istriku. Karena dialah, di awal pernikahan diriku dengan Aisyah. Akun tidak langsung mendapatkan dah merasakan apa itu yang dinamakan berbunga-bunga saat menjadi pengantin baru. Saat itu, yang ada adalah aku yang harus bersabar dan menunggu, hingga Aisyah melupakan mantan suaminya dan kemudian menyadari hadirnya diriku yang saat itu sudah sah menjadi imam mya. Bahkan, rasanya aku tidak mau mengingat lagi kenangan itu. Awal perjalanan rumah tangga ku, diriku sudah di uji. Dan sekarang, badai rumah tangga ini semakin besar dan hampir tidak bisa terbendung.


"Assalamu'alaikum Fatih. Duduklah".


" Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku?!. Kenapa kita harus bertemu seperti ini?! ".


Fatih tidak mau duduk dan langsung bertanya padaku, tentang alasan akun mengajak dia untuk bertemu.


" Sabar, duduklah ".


" Oke baik, aku sudah duduk. Sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan padaku?! ".


" Kenapa kamu sepertinya sangat emosi padaku. Dari nada bicaramu, kamu seperti tidak suka padaku".


"Bagaimana aku tidak kesal. Sekarang aku harus berhadapan dengan laki-laki yang kini menjadi suami sah dari wanita yang sangat aku cintai".


" Baguslah, kalau kamu langsung membuka percakapan kita langsung pada intinya".


"Maksudnya?! ".


" Memang tentang Aisyah, aku, kamu, dan Bunda dirimu yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang. Terutama tentang Aisyah. Sejujurnya ada banyak pertanyaan yang ingin akun tanyakan padamu. Tapi intinya, aku ingin tahu. Kenapa kamu terus menerus mencintai seorang wanita yang kamu tahu, wanita itu adalah seorang istri dari laki-laki lain. Tidak bisakah kamu mencari wanita lain saja? ".


"Yap, Aisyah memang wanita terbaik. Dan dia sekarang adalah milikku. Aku rasa kamu juga tahu, kalau Aisyah tidak pernah ada lagi perasaan untuk dirimu".


" Ya, aku tahu itu. Bahkan Aisyah sudah mengatakan nya padaku secara langsung. Saat tidak sengaja aku bertemu dengannya didepan klinik kehamilan. Tapi semua itu, tidak akan membuat diriku berhenti untuk mencintai dirinya".


"Tapi, apa kamu meminta bantuan pada Bunda Layla untuk bisa mendapatkan Aisyah kembali?!".


" Apa maksudmu!!. Aku tidak pernah meminta bantuan pada Bundaku. Jadi tolong jangan bawa-bawa orang tua dalam urusan ini! ".


Fatih nampak nya tidak terima, ketika aku menyebut nama Bunda nya. Dia bahkan seperti marah padaku, tangannya mengepal di atas meja. Mungkin tangan itu bisa saja tiba-tiba mendarat di wajahku. Aku berusaha untuk tetap tenang. Semua ini tidak akan selesai jika sama-sama menggunakan kekuatan otot dan bukan akal pikiran.


"Tenanglah, aku tidak ada maksud untuk membawa-bawa nama Bunda mu dalam masalah ini. Aku heran, apa sebenarnya kamu tidak tahu?. Apa yang sudah dilakukan oleh Bunda mu pada diriku dan Aisyah? ".


" Sudahlah, jangan terlalu banyak bertele-tele. Apa maksud kamu Fahmi"


"Bacalah semua chatt ini".


Aku menyerahkan ponselku pada Fatih. Biarlah dia membaca sendiri isi pesan-pesan Bunda nya pada diriku. Agar dia tidak menuduh diriku mengarang cerita jika sudah melihat dan membaca nya langsung.


" Apa maksud semua pesan ini?!. Hutang nyawa?!. Aku tidak mengerti".


"Sungguh kamu tidak mengerti sama sekali tentang hal ini??! ".


" Untuk apa aku berbohong Fahmi!. Aku tidak tahu semua itu".

__ADS_1


"Baiklah, aku paksakan untuk percaya padamu. Jadi, itu adalah bukti dari bagaimana Bunda Layla padaku. Saat itu, aku sedang tidak enak badan. Aku bahkan sampai tidak sadarkan diri didalam mobil dengan kondisi mobil yang mati dadan entahlah. Tiba-tiba aku sudah dibawa ke rumah sakit dan biaya rumah sakit sudah di bayarkan semuanya. Ternyata Bunda Layla adalah orang dibalik semua ini. Entahlah, laki-laki yang membawa diriku kerumah sakit adalah orang yang dikenal oleh Bunda mu, atau memang orang lain yang tidak sengaja disuruh untuk membawa diriku ke rumah sakit. Dan itulah faktanya sekarang, Bunda mu meminta aku membalas hutang nyawa padanya. Bunda Layla meminta aku membalas nya dengan melepas Aisyah untuk kembali padamu. Apa kamu juga bahkan tidak tahu tentang hal ini Fatih?! ".


" Tidak. Bunda tidak mungkin melakukan hal sekotor itu Fahmi!. Kamu jangan mengarang cerita! ".


Fatih masih saja tidak percaya, tentang fakta yang baru saja aku buka di depan matanya. Bahkan dia sangat emosi begitu aku menceritakan semua padanya. Nampaknya, Fatih memang tidak mengetahui semua ini. Tentang semua Bunda nya lakukan padaku juga Aisyah.


"Astaghfirullah, untuk apa aku mengarang cerita Fatih. Apa untung nya bagiku. Dan juga kamu lihat ini. Sepertinya ada seseorang suruhan Bunda mu yang sengaja mengambil gambar saat kamu tidak sengaja bertemu dengan Aisyah. Di gambar ini, seolah-olah kamu sedang bermesraan dengan istriku. Jujur saja, saat melihat foto ini. Aku sangat emosi dan cemburu. Tapi aku yakin, Aisyah ku tidak akan melakukan hal seperti itu. Dan hari ini, semua prasangka diriku pada Aisyah adalah salah. Kamu sendiri yang baru saja memberi tahu diriku. Bahwa kamu tidak sengaja bertemu dengan istriku di depan klinik kehamilan, bahkan Aisyah langsung mengatakan nya padamu, bahwa tidak ada lagi cinta untukmu. Aku kira, Aisyah sengaja bertemu dengan mu Fatih! ".


Aku menghela nafas panjang dan dalam. Dan kemudian melanjutkan ucapanku pada Fatih yang masih termenung seolah tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia lihat dan dengar dari ku. Apalagi setelah aku menunjukkan foto yang entah diri kirim oleh siapa ke nomor ku. Foto dimana Aisyah seolah-olah sedang bermesraan dengan mantan suaminya dibelakang diriku.


" Dan terakhir, kemana dirimu pergi saat acara syukuran itu?!. Disaat Bunda mu mengenalkan Aisyah sebagai calon istrimu di depan semua tamu undangan yang datang?!".


"A-apa!!. Itu tidak mungkin Fahmi. Bunda tidak akan berbuat nekat seperti itu! ".


"Apalagi diriku Fatih. Aku dan Aisyah sengaja datang demi menghormati undangan dari Bunda Layla. Padahal sebenarnya Aisyah sudah menolak untuk datang ke acara syukuran itu. Tapi karena kami sudah diberikan undangan. Akhirnya kita datang ke acara itu. Tidak lama setelah kamu mengajak pergi Bunda mu masuk kedalam rumah. Bunda Layla mengambil alih mikrofon dan langsung mengenalkan pada semua orang bahwa Aisyah adalah calon istrimu. Apa semua yang dilakukan Bunda Layla padaku dan Aisyah itu sopan?!. Tidak sama sekali Fatih!. Saat itu ada aku, suami sah Aisyah. Bagaimana bisa, Bunda mu melakukan itu semua pada kami!!. Aisyah bahkan sampai menangis karena kejadian itu. Baiklah, aku memang berhutang nyawa dengan Bunda Layla, meskipun jujur aku tidak tahu. Itu semua sudah direncanakan atau belum. Tapi tidak seharusnya Bunda mu itu meminta balasannya dengan menghancurkan rumah tangga diriku dengan Aisyah. Kurasa, kamu juga sudah membaca pesan terakhir dari wanita yang sudah melahirkan dirimu. Bunda Layla bilang, itu adalah peringatan kecil untukku karena belum juga memberikan Aisyah untuk dirimu. Tidak hanya itu Fatih, bahkan Bunda Layla pernah menemui diriku dan memohon-mohon langsung padaku, agar aku melepaskan Aisyah untuk dirimu! ".


Wajah kecewa seperti tergambar jelas pada raut wajah Fatih. Saat ini pasti dia sangat kecewa dengan Bunda nya sendiri. Ternyata Fatih tidak mengetahui semua yang dilakukan oleh ibu kandung nya sendiri.


"Aku tahu, kamu putra satu-satu nya. Tapi apakah dengan menghalalkan segala cara itu dibenarkan?. Fatih!, aku menikahi Aisyah di saat dia berstatus janda. Aku sama sekali tidak pernah merebut Aisyah dari dirimu. Tapi kamulah yang sudah membuang Aisyah. Dan kamu pikir, begitu aku menikah. Aku langsung menikmati rumah tangga bahagia, seperti saat kamu dengan Aisyah dulu?!. Tidak!, aku jatuh bangun bersabar. Agar Aisyah bisa move on dan melupakan semua masa lalunya. Dan itu sangat menyakitkan bagiku. Tapi Allah itu Maha Baik Fatih. Alhamdulillah, hampir tujuh tahun aku menikah dengan Aisyah. Aisyah sangat mencintai diriku. Bukan apa-apa, aku menceritakan ini semua padamu. Sama sekali bukan untuk membuat dirimu cemburu. Tapi agar kamu tahu dan mengerti, bagaimana perjalanan diriku, pengorbanan diriku sampai Aisyah bisa jatuh cinta dan menerima diriku hadir dalam hidup nya. Jika kamu ada di posisi diriku sekarang. Apa kamu akan melepas Aisyah begitu saja untuk kembali dengan mantan suaminya?!. Kurasa jawaban kamu tidak!".


Fatih masih diam saja. Entah apa yang dipikirkan oleh nya. Tapi ada air mata di sudut matanya. Mungkin sedari tadi dia berusaha untuk menahan buliran air matanya agar tidak jatuh, apalagi ini di depan diriku.


"Fatih, Aisyah sudah melewati begitu banyak rasa sakit dan pahit nya kehidupan. Bahkan belum lama dia habis terkena sakit parah".


Ucapku yang sudah tidak bisa menahan air mata. Aku menyeka air mataku. Rasanya menyakitkan jika mengingat istriku yang sempat koma karena kanker ginjal yang pernah hinggap di tubuh nya.


"Aisyah sakit Parah?! ".


Kali ini Fatih merespon dan sama seperti diriku. Dia juga akhirnya meneteskan air mata.


" Iyah Fatih. Istriku baru saja sembuh setelah berjuang dan sempat koma melawan kanker ginjal selama dua minggu lebih Fatih. Kamu tahu bagaimana rasanya aku saat itu. Duniaku seperti berhenti berputar, aku bahkan kehilangan semangat untuk hidup".


"Lalu?! ".


" Akhirnya, setelah hampir menyerah mencari pendonor ginjal yang pas untuk Aisyah. Aisyah mendapatkan donor organ ginjal nya juga. Dan sembuh, mungkin saja sel kanker itu bisa saja menyerang Aisyah untuk kedua kalinya. Tapi aku selalu berdoa pada Nya, agar Aisyah ku tidak lagi diberikan ujian seberat itu".


"Fahmi, satu hal yang harus kamu tahu. Aku tidak pernah memaksa Aisyah untuk kembali padaku. Aku bahkan rela menduda karena memang aku tidak bisa menemukan wanita seperti istrimu. Aku tahu, cintaku tidak akan terbalas. Dan jika ada laki-laki malang di dunia ini, mungkin itulah aku. Aku menjadi laki-laki yang sangat malang, karena telah Bodoh mensia-siakan wanita sebaik Aisyah. Dan itu kesalahan diriku yang tidak akan pernah aku maafkan dan aku lupakan seumur hidupku. Meskipun aku harus merasakan sakit hati, setiap melihat Aisyah bahagia dengan dirimu. Tidak mengapa, semampu diriku aku akan menahan perih dan sakit nya. Dan masalah Bunda ku, jangan khawatir. Biarlah aku yang mengatasi nya. Aku mohon padamu Fahmi, jagalah bidadari itu. Jangan pernah sakiti hatinya. Aku percaya, Aisyah akan jauh lebih bahagia jika hidup denganmu. Tidak perlu memikirkan bagaimana diriku. Aku akan merawat luka ini sendiri, dan seumur hidupku. Aku titipkan Aisyah padamu. Aku pergi dulu".


"Tunggu! ".


Aku menahan Fatih. Aku berdiri dan mendatangi dirinya yang terpaksa menghentikan langkah nya. Aku merangkul pundak laki-laki yang pernah mengisi hidup Aisyah.


" Maaf, jika ada perkataan diriku yang menyakitimu. Aku hanya ingin menjalani rumah tangga yang sakinah penuh dengan ketentraman, mawaddah penuh cinta kasih, dan warahmah penuh rasa sayang. Lebih dari itu, aku ingin membahagiakan Aisyah di sisa umurku. Juga membahagiakan buah hatiku bersama Aisyah. Sekali lagi maaf dan terimakasih Fatih".


"Tidak mengapa. Aku mengerti. Baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih karena sudah menceritakan semuanya padaku. Semoga sakinah, mawadah, dan warahmah selalu menghiasi rumah tanggamu dan Aisyah. Aamin. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam ".


Fatih menyeka air matanya. Dan kemudian melangkah pergi meninggalkan diriku yang masih terus berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2